Utusan Tuhan, Missi Langit & Bait Suci

50 %
50 %
Information about Utusan Tuhan, Missi Langit & Bait Suci

Published on December 30, 2016

Author: yonahuzi

Source: slideshare.net

1. Utusan Tuhan, Missi Langit & Bait Suci Prolog “Aku akan menggoncangkan segala bangsa, dan Himda untuk semua bangsa ini akan datang, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman Tuhan semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman Tuhan semesta alam. Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman Tuhan semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi Syalom, demikianlah firman Tuhan semesta alam." (Haggai 2:7-9) Prof. David Benjamin Keldani menguraikan ayat Perjanjian Lama di atas: Himda. Ungkapan dalam bahasa ibraninya berbunyi “……ûb ā’u hemədat kālhagōwyim….” Yang secara harfiah berubah ke dalam bahasa inggris menjadi “ and will come the Himda of all nations” (dan akan datang Himda untuk semua bangsa). Akhiran hi dalam bahasa Ibrani, sebagaimana dalam bahasa Arab, diubah menjadi th, atau t apabila dalam kasus genitif. Kata “himda” berasal dari kata Ibrani –atau malah Arami- yang tidak dipakai lagi, yaitu hmd (konsonan-konsonan yang diucapkan hamad). Dalam bahasa Ibrani, hamad umumnya digunakan dalam arti keinginan, kerinduan, selera, dan hasrat yang besar. Perintah kesembilan dari Decalogue (Sepuluh perintah) adalah : “Lo tahmod ish reikha” (janganlah engkau merindukan istri tetanggamu) dalam bahasa Arab kata kerja hamida, dari konsonan yang sama hmd, artinya terpuji, dan seterusnya. Apa yang lebih terpuji dan terkenal dan paling diharapkan, dirindukan dan diinginkan? Yang mana, dari 2 makna itu, kenyataan bahwa Ahmad dalam bentuk bahasa Arab dan Himda tetap tak terbantahkan dan meyakinkan. “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan member khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff [61]:6) Adapun mengenai etimologi dan pengertian dari kata Syalom, Syalam¸ dan kata arab Salam, Islam, saya tidak perlu menghambat pembaca dengan membawa-bawa kedalam uraian-uraian lingustik. Setiap sarjana bahasa Semit mengetahui bahwa Syalom dan Islam berasal dari satu kata yang sama dan bahwa keduanya berarti "kedamaian, ketundukan, dan penyerahan diri". +++"Menguak Misteri Muhammad SAW", Benjamin Keldani+++

2. Sekilas Sejarah Bait Suci Nabi Haggai adalah seorang Utusan Allah dari Bani Israil yang berdakwah pada masa raja Darius (± 500 SM). Dalam kitab Haggai disebutkan perintah Tuhan kepada Zerobabel untuk membangun kembali Bait Suci yang telah runtuh dan ditinggalkan Bani Israil. Konteks ayat Haggai 2:1b – 10 (sebagiannya tertulis di atas) adalah pengambaran kemegahan Bait Suci yang akan dibangun. Pendahulu Bait Suci adalah Kemah Suci, kemah yang didirikan orang Israil atas perintah Allah sementara berkemah di Gunung Sinai. Setelah memasuki tanah perjanjian di Kanaan, mereka tetap memakai tempat kudus yang dapat dipindah-pindah ini hingga masa pemerintahan Raja Salomo (Sulaiman as). Sepanjang awal masa pemerintahannya, Salomo menugaskan ribuan orang untuk ikut ambil bagian di dalam pembangunan Bait Suci ini. Pada tahun keempat pemerintahannya, dasar sudah diletakkan; tujuh tahun kemudian seluruh bangunan itu selesai. Penyembahan kepada Tuhan, khususnya korban-korban yang dipersembahkan kepada-Nya, kini memiliki tempat yang tetap di kota Yerusalem. Sepanjang masa kerajaan, Bait Suci mengalami beberapa siklus pencemaran dan pemulihan. Bait Suci dirampok oleh Raja Sisak dari Mesir pada masa pemerintahan Raja Rehabeam, dan diperbaiki oleh Raja Asa. Setelah periode penyembahan berhala dan kemerosotan rohani lainnya, Raja Yoas memperbaiki kembali rumah Tuhan ini. Kemudian Raja Ahas mengambil beberapa perabotan Bait Suci untuk dikirim kepada raja Asyur sebagai penenangan politis, dan menutup pintu-pintu Bait Suci. Putranya Hizkia membukanya kembali, memperbaiki serta membersihkan Bait Suci itu kembali, hanya untuk dicemarkan lagi oleh anaknya, Manasye. Cucu Manasye, Yosia adalah raja Yehuda terakhir yang memperbaiki kembali Bait Suci itu. Penyembahan berhala dilanjutkan para penerusnya, dan Allah akhirnya mengizinkan Raja Nebukadnezar dari Babel pada tahun 586 SM untuk membinasakan sama sekali Bait Suci itu. Lima puluh tahun kemudian, Raja Koresy mengizinkan orang Yahudi kembali dari Babel ke Palestina dan mendirikan kembali Bait Suci. Zerubabel memimpin usaha pembangunan kembali itu, sekalipun bukan tanpa perlawanan dari penduduk lain di negeri itu. Setelah tertunda selama sekitar sepuluh tahun, orang Yahudi diizinkan meneruskan proyek itu, dan diselesaikan dan ditahbiskan tahun 516 sebelum Masehi. Pada permulaan zaman Perjanjian Baru, Raja Herodes menghabiskan banyak waktu dan uang untuk memperbaiki dan memperindah Bait Allah yang kedua; inilah Bait Allah yang dibersihkan Yesus sebanyak dua kali. Bait Zerubabel direnovasi/dibangun kembali oleh Herodes Yang Agung. Tetapi setidaknya harus diakui, bahwa kitab-kitab Injil yang merekam kunjungan-kunjungan Yesus ke bait ini dan pengajaran-pengajaran dia di dalamnya tidak menyebutkan satu pun percakapan di antara pendengarnya. Semua kunjungannya ke bait itu konon berakhir dalam pertengkaran sengit dengan para pendeta dan Pharisee yang tidak beriman. Bahkan Yesus juga meramalkan kehancuran total bait itu dalam Matius pasal 24, yang terpenuhi sekitar 40 tahun kemudian oleh bangsa Romawi.

3. Yaitu pada tahun 70 M, setelah pemberontakan berkali-kali terhadap pemerintah Roma oleh orang Yahudi, Bait Suci dan seluruh kota Yerusalem dihancurkan kembali sehingga tidak dapat dihuni. Sejak itu orang Yahudi terus berdoa agar Allah mengizinkan mereka membangunnya kembali. Doa ini adalah bagian resmi dari doa-doa Yahudi tiga kali sehari. Tidak ada data sejarah yang bisa dikonfirmasi untuk mengetahui apa yang terjadi setelah penghancuran Bait pada 70 M. Sampai kemudian Al Qur’an mengisahkan perjalanan Seorang Hamba Allah dari Bait Suci yang lain menuju Bait Suci yang ada di Yerussalem. Peristiwa ini direkam dalam Surat Al Isra [17] ayat 1. Yang pada intinya memberikan informasi tentang masih adanya Bait Suci di Yerussalem, terlepas dari kondisi dan oleh penguasaan pihak siapa Bait itu berada. Umat Muslim membangun Kubah Shakhrah dan Mesjid Al-Aqsa di lokasi dari Bait Allah Yerusalem yang telah dihancurkan dulu. Tahun 15 H saat penaklukan Yerusalem, Khalifah Umar bin Khattab-lah Rhadiyallahu ’Anhu yang menemukan lokasi Batu As Sakhrah dengan bantuan Kaab Al-Ahbar, seorang Imam Tabi’in yang awalnya adalah seorang Rabbi Yahudi. Saat mengunjungi lokasi Bait Allah yang berantakan dan tak terurus, beliau berkata kepada Kaab; ”Dimana letak Sakhrah wahai Ka’ab?”, lantas Ka’ab menjawab; ”Ukurlah beberapa depa dari Wadi Jahannam (Oase Gehenna) Ya Amirul Mu’minin...” Lantas beliau menemukannya, beliau lalu masuk dari pintu dahulu Rasulullah pernah memasukinya yaitu Babul Magharibah (Bab Ha Mugharabim) dan membersihkan tempat itu dengan selendangnya diikuti oleh umat muslim yang lain. Beliau lalu salat di sana bersama umat muslim yang lain dengan membaca surat Shaad dan surat Al Isra’a. Kunjugan Sang Adon ke Bait Suci Dalam Perjanjian Lama kitab Maleakhi 3:1 disebutkan: “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu! Dengan mendadak Tuan (Adon) yang kamu cari itu akan masuk ke baitNya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan Semesta Alam.” Kemudian bandingkan dengan kearifan Al-Qur’an berikut: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari (bait Allah) Masjid Haram (di Mekkah) ke (bait Allah) Masjid Aqsha (di Yerusalem) yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS Al Isra’ [17] :1) Bahwa yang dimaksud orang yang datang mendadak/ tiba-tiba ke bait Allah, seperti yang didokumentasikan oleh 2 kitab suci diatas adalah Muhammad! Bait Suci Al Aqsha (saat itu adalah Bait Zerubabel yang sudah dipulihkan) adalah bait suci pada masanya, hingga suatu saat di sana terjadi puncak peribadatan dari seluruh orang Suci (Para

4. Utusan Allah) yang menjadi saksi akan sebuah perubahan besar dunia menuju syalom (perdamaian). Yang hadir pada saat itu adalah benih agung dari sang Patriarch Ibrahim as dari Klan Ismail as, dialah Muhammad SAW. Inilah peristiwa Isra menjelang Mi’raj, dimana beliau saw bertemu dengan sekalian para utusan ‘alaihimussalam. Kisah perjalanan malam dan “bertamunya” Muhammad saw ini dikonfirmasi oleh Uskup Yerussalem di masa Kaisar Heraklius (Romawi Timur) berkuasa di sana. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengomentari ayat dari surat Al Isra di atas meriwayatkan sebuah hadis berikut. Al Hafizh Abu Na’im al Ashbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Umar al Qaqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Abur Rijal, dari Umar ibnu Abdullah, dari Muhammad ibnu Ka’ab al Qurazhi yang mengatakan bahwa Rasulullah saw mengutus Dahiyyah ibnu Khalifah kepada Kaisar. Lalu disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam teksnya terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan berfikir Kaisar Heraklius. Kaisar memanggil para pedagang (Arab) yang ada di negeri Syam, maka dihadapkanlah Abu Sufyan Ibn Syakhr ibnu Harb beserta teman-temannya kepada Kaisar. Kaisar menanyai mereka pertanyaan-pertanyaan yang terkenal itu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti yang akan dijelaskan kemudian. Kemudian Abu Sufyan berupaya semaksimal mungkin untuk menghina Nabi saw dan menganggap kecil perkaranya di hadapan Kaisar. Dalam konteks ini disebutkan kata-kata Abu Sufyan yang mengatakan, “Demi Allah, tiada sesuatupun yang menghalang-halangi diriku untuk mengata-ngatai Muhammad dengan kata-kata yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar kecuali karena aku tidak suka melakukan kedustaan di hadapan Kaisar, yang akibatnya justru akan berbalik terhadap diriku dan Kaisar tidak percaya lagi dengan kata-kata yang aku ucapkan padanya.” Abu Sufyan mengatakan, “Sampai aku teringat ucapannya tentang malam hari dia menjalani Isra,” Abu Sufyan mengatakan pula, “Aku berkata, wahai Raja! Maukah aku ceritakan kepadamu suatu berita, agar engkau mengetahui ia seorang pendusta?” Raja menjawab, “Berita apakah itu?” Abu Sufyan mengatakan, “Sesungguhnya dia (Nabi saw) megaku kepada kami bahwa dirinya pergi dari tanah kami –Tanah Suci– dalam suatu malam, lalu datang ke masjid kalian yang di Iliya ini (Yerussalem), lalu ia kembali kepada kami dalam malam yang sama sebelum subuh.” Saat itu Uskup Iliya berada di belakang Kaisar. Ia berkata, “Sesungguhnya saya mengetahui kejadian malam itu.” Kaisar menoleh ke arah uskup dan bertanya, “Bagaimana engkau mengetahui kejadiannya?” Uskup menjawab, “Sesungguhnya saya tidak pernah tidur dalam suatu malam pun sebelum menutup semua pintu masjid. Dan pada malam itu saya menutup semua pintu masjid selain sebuah pintu yang tidak kuat saya tutup. Maka saya meminta bantuan kepada para pekerja (pembantu) saya dan semua orang yang hadir pada saat itu untuk menutup pintu tersebut, tetapi pintu itu tidak

5. bergeming sedikitpun. Kami tidak mampu menggerakkannya, seakan-akan kami sedang menggeser sebuah bukit. Maka saya memanggil tukang-tukang kayu untuk memeriksa pintu itu. Mereka datang dan mengatakan. “Sesunggunya pintu ini terkena oleh tekanan tembok bangunan yang menurun, juga oleh kusennya. Kami tidak mampu menggerakkanya, nanti saja pagi hari kami akan melihat penyebabnya.” Uskup melanjutkan kisahnya, bahwa ia masuk ke dalam dan membiarkan pintu itu terbuka lebar, “Kemudian pada pagi harinya saya kembali memeriksa pintu itu. Tiba-tiba batu yang ada di sudut masjid dalam keadaan berlubang, dan ternyata pada lubang itu terdapat bekas tali kendali hewan kendaraan yang ditambatkan. Maka saya berkata kepada teman-teman saya, ‘Tiada lain pintu ini tertahan tadi malam melainkan karena ada seorang nabi dan dia telah melakukan shalat di masjid kita ini’.” Abu Nai’im al Ashbahani melanjutkan hadisnya hingga selesai. Masa peralihan kepemimpinan dunia dari masa kenabian bani Israil kepada masa kepemimpinan akhir zaman yang dipimpin Nabi Muhammad saw. Keadaan bani Israil yang sudah tidak layak lagi mengemban missi ilahi, karena kemaksiatan yang mereka lakukan dan mengakibatkan dikucilkannya mereka dari kancah kehidupan dunia. Fakta membuktikan bagaimana mereka selalu menjadi bangsa terjajah sejak jaman Musa as hingga Isa as. Kepemimpinan Muhammad saw secara pribadi telah diakui oleh para nabi dan rasul yang diutus sebelum beliau. Ini tercermin dalam shalat dimana beliau saw menjadi imam dari sekalian para nabi dan rasul. Setelah saat itu beliau akan menerima tampuk kepemimpinan dunia dan menjaga agama Islam hingga menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini seperti diberitakan dalam kitabnya bani Israil sendiri, yaitu kitab (Taurat) Kejadian 17:20 “Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu (Ibrahim); ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.” Rasul saw bersabda: “Agama Islam akan senantiasa tegak hingga terjadi Hari Kiamat atau ada di antara kalian dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy”. (HR Muslim dan Ahmad). Rangkaian yang Tidak Terpisahkan Dari petikan nubuwat Nabi Haggai tersebu di atas dapat dimaknai sebagai kabar mesianistik akan datangnya sebuah jaman baru yang ditandai dengan hadirnya sang Himda untuk semua bangsa, yang dengan missi ilahiyahnya mendatangkan Syalom bagi semesta. Terkait dengan konteks awal pembangunan bait suci dalam petikan tadi, untuk menggenapi nubuwat - jika dilihat pada kenyataan jaman ini - harus dapat dibuktikan keberadaanya. Singkatnya bangunanfisik dari bait suci tersebut.

6. Para ahli tafsir Yahudi dan Kristen sama-sama memberikan perhatian yang sangat besar terhadap dua janji yang terkandung dalam nubuat di atas, tanpa mengaitkan dengan bait suci. Mereka memahami prediksi mesias dalam kata Himda. Sebenarnya, disinilah nubuat yang sangat hebat, ditegaskan melalui sumpah Tuhan yang biasa dalam alkitab, “kata Tuhan Sabaoth” diulang-ulang 4 kali. Jika nubuat ini dipahami dari pengertian abstrak kata himda dan Syalom sebagai desire dan peace, maka nubuat menjadi tak lebih dari sebuah aspirasi yang tidak dapat kita pahami. Tetapi, jika kita memahami istilah himda sebagai sebuah gagasan konkrit, sebuah gagasan pribadi dan realitas, dan kata syalom, bukan suatu kondisi, melainkan suatu kekuatan yang hidup dan aktif dan sebuah agama yang pasti tidak dipungkiri adanya, maka nubuat ini pasti benar dan terpenuhi pada sosok Ahmad dan tegaknya Islam. Karena himda dan Syalom-atau Sylama- persis memiliki pengertian yang sama dengan, berturut-turut, Ahmad dan Islam. Terkait dengan Bait Suci, setelah perpindahan kepemimpinan dunia saat ini, maka tidak ada bait suci yang agung selain bait suci dalam naungan nabi agung akhir jaman, Muhammad saw. Sangat logis ketika satu umat dipercaya oleh Tuhan maka semua simbol sebagai penguat bukti keotentikan missinya berada di tangannya. Umat Islam saat ini telah menjadi penerus missi ilahiyah pemimpin besarnya untuk terus menyebarkan Islam sebagai rahmat untuk segala bangsa. Dengan demikian Bait Suci yang agung itu telah berpindah ke Makkah sejak peralihan kepemimpinan dunia terjadi. Kitab Idris (Enoch) 40:28-29 28. Dan aku berdiri, melihat hingga mereka melipat bait yang lama; dan membawa semua pilarnya, dan semua tiangnya dan semua hiasannya dari bait dalam waktu yang bersamaan ia terlipat bersamanya, dan kemudian mereka membawanya serta meletakannya di suatu tempat di sebelah selatan negeri. 29. Dan aku berdiri hingga Tuan daripada domba membawakan sebuah bait baru yang lebih luas dan megah dari kali yang pertama, dan meletakannya di tempat yang pertama tadi dilipat: segala pilarnya baru, hiasan-hiasannya baru, lebih luas daripada yang pertama, (bait) lama yang telah Dia bawa, dan segala domba berada di dalamnya. Sophee atau ahli ramal dalam penglihatan gaib ini menceritakan bagaimana Yerusalem di bumi diangkat dan dipindahkan ke sebuah negeri di selatan, tetapi sebuah Bait yang baru, lebih luas dan lebih tinggi dari Bait pertama, dibangun di atas puing-puing bangunan lama! Ya Allah! Sungguh hebat semua ini yang semuanya telah diselesaikan oleh Muhammad hamba-Mu yang paling termasyhur dan kudus! Yerusalem Baru tidak lain adalah Mekkah, karena ia berada dinegeri sebelah selatan, dua bukit di Mekkah yakni Marwa dan Safa, menyandang nama yang sama dengan nama Moriah dan Zion , memiliki sumber dan signifikansi yang sama, tetapi bermula lebih awal. “Irushalem” atau “Urshalem” Lama menjadi kota “Cahaya danKedamaian”. Karena alasan ini jugalah Mekkah sebagai tempat Ka'bah yang suci dan menjadi kiblat (arah) kemana kaum Muslim menghadap ketika shalat. Di Mekkah inilah setiap tahun (yakni pada hari Idul Adha) puluhan ribu peziarah dari semua negeri tempat kaum muslim berkumpul untuk mengunjungi Ka'bah yang suci dan melaksanakan korban.

7. Tidak hanya Mekkah, tetapi juga Madinah dan wilayah disekeliling kedua kota itu telah menjadi suci dan tidak dapat diganggu gugat, dan terlarang bagi kaum non- Muslim! Dalam penglihatan Enoch juga lah bahwa Khalifah kedua, Umar bin Khattab membangun kembali Bait suci di atas puing-puing Bait Sulaiman di Yerusalem. Kesimpulan Tidak diragukan bahwa kenyataan menunjukan kepada manusia adanya penggenapan nubuwat oleh Islam. Dengan pemimpin dunia yang agung Ahmad, disebutjuga Muhammad telah meletakkan pondasi bangunaniman. Dengan imanini manusia menjadi agen pembawa keselamatan, makna Islam itu sendiri. Bait Allah di Makkah yangjuga adalah bangunan pertama untuk peribadatan manusia menjadi monumen yang abadi hingga akhir jaman. Tercantum di dalam Al-Qur'an, surah ke-3 yang menyebutkan: “Sesungguhnya Rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia.” (Surat Ali Imran: 96-97) Doa Ibrahim kepada Allah SWT “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat Rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, makajadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Surah 14:37) Jika nubuwat para nabi terdahulu telah digenapi hari ini, bagaimanakah dengan nubuwat nabi akhir zaman itu sendiri? Masih banyak peristiwa yang belum tergenapi, masih harus menunggu usaha umatnya. Ingatlah janji Allah SWT bahwa ummat ini akan mewarisi dan menguasai bumi-Nya. Bisyarah Rasulullah saw bahwa ummat ini akan menaklukan Roma. Pada akhirnya jangan jadikan catatan ini polemik, namun ambillah manfaat jika ada, pelajaran yang utama adalah “Ummat sebelum kita rela berjuang untuk menggenapi janji Allah pada mereka dengan segala upaya. Hingga mereka rela membajak firman Allah agar janji itu tetap milik mereka. Maka bagaimana dengan ummatini, yang menjadi penerus dakwah Nabinya, membawa Islam ke seluruh penjuru alam, menjadikannya rahmat serta membangun bangunan sebuah peradaban agung yang khas?!” Allahu a’lam bishawab [yonah]

Add a comment