Science of love

50 %
50 %
Information about Science of love

Published on February 17, 2014

Author: nissavibra

Source: slideshare.net

SCIENCE OF LOVE By : AVL Cuaca cukup cerah. Matahari tanpa malu-malu memancarkan sinarnya di bumi pagi itu. Kamarku masih seperti biasa, berantakan. ‘kriiiing’ jam weker mulai bernyanyi. Tanpa sadar tanganku mengambil jam weker itu lalu melemparnya. Pecah! Dan saat itu pula diriku terbangun. Segera kuambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Dua menit, tiga menit, lima menit dan akhirnya kulangkahkan kaki dari kamar mandi. Menyiapkan buku pelajaran ala kadarnya selanjutnya berangkat sekolah. Tak lupa memberi salam pamit pada kedua orang tua agar dianggap anak berbakti. Terlihat sesosok lelaki tampan berseragam putih abu-abu menunggu di dalam mobil sembari berteriak “Aldooooo!!! Al.....,” Aku berlari kecil menghampirinya. Aldo? Yeah its me! Aku Renaldo Raya. Anak tunggal sekaligus keturunan ketiga dari keluarga besar ‘RAYA’. Suku blasteran, jawa tengah dan palembang. Nggak heran kalau mereka bilang aku produk non gagal. Pasalnya selain wajahku yang tampan, senyumanku yang tak kalah manis, pesonaku pun tak pernah lepas dari aura tubuhku. Sebagai kapten basket dan ketua KIR, kepopuleran sudah tak diragukan. Setiap langkahku menuai ribuan puja-puji. Satu hal yang wajib diingat dari seorang Aldo. Yaitu segala sesuatu yang aku ingin pasti bakal aku dapatkan, termasuk urusan wanita. “Al...? hellooooo,” Ibnu melambaikan tangannya di depan wajahku. “Eh, sorry sorry Nu! Yuk cabut.” Hari ini terpaksa aku nebeng sama Ibnu karena motor lagi di bengkel. Ibnu memasukkan cd-player lalu memutar musik pop lagu ADERA-lebih indah yang sangat enak untuk dinikmati. “Al, gimana sama gebetan lu anak kelas sepuluh itu?” Ibnu membuka pembicaraan. “Ya ini juga masih gue pikirin caranya buat pdkt sama dia,”. Ibnu mengangguk-angguk menikmati musik. Mobil memasuki pelataran sekolah. Kami turun lalu beranjak ke kelas XI IPS1. Saat melewati koridor, terlihat sesosok wanita berkacamata full frame berjalan sembari menguncir rambutnya yang lurus panjang tergerai indah. Adalah Rena, cewek kelas sepuluh yang membuat jantungku berdegup kecang. Membuat fikiran dan hatiku tak menentu karenanya. Tingkahnya yang beda

dari cewek lain membuatku didera rasa penasaran. Perlahan Rena berjalan berpapasan denganku juga Ibnu. Tepat saat Rena berada di hadapanku, tak ragu-ragu kukeluarkan pesona yang luar biasa. “Renaaaa, mau kemana sih buru-buru amat?” Godaku. Rena masih terus berjalan tanpa memperdulikanku. Aku hanya tersenyum geli. I believe that Rena akan menoleh sebentar lagi. And that’s right! Rena balik badan but she said “Mau tau aja sih lo! Dasar playboy cap kucing.” ***** “Kak Aldo, acara pelantikan anggota KIR baru kapan ya?” Tanya Shelena adik kelasku. “Aduh...masalah itu yaa? ehmm gue belum tau dek pastinya. Yang jelas minggu depan. Tolong lo data siapa aja anak kelas sepuluh yang ikut KIR ya! Gue ada rapat tim basket hari ini,” Aku mengelus kepalanya. Shelena tersenyum nggak jelas. padahal aku melakukannya tanpa maksud apa pun. Shelena berlalu, aku berjalan keluar kelas menuju ke lapangan basket. Ketika aku tepat berada di depan kelas, terlihat shelena sedang bercerita tentang kejadian tadi kepada teman-temannya. Aku hanya cengar-cengir. Selintas teringat perkataan Rena tentang aku yang dianggapnya sebagai playboy cap kucing. Mungkin Rena beranggapan seperti itu karena ia sering melihatku dekat dengan banyak wanita. Padahal sesungguhnya aku hanya berbuat baik pada semua orang dengan memberikan perhatian tanpa maksud apa pun. Diantara mereka tak ada satupun yang aku pacari selama ini termasuk Airin (teman dekat), kecuali Nesya. Nesya adalah teman sekelasku waktu aku masih duduk di kelas sepuluh. Saat itu Nesya yang menjabat sebagai ketua KIR berhasil memikat hatiku. Lalu aku menyatakan cinta padanya dan kami pun jadian. Tiga bulan berjalan, Nesya mengalami kecelakaan tunggal ketika mengemudi mobil. Aku begitu terpukul. Sampai-sampai nilai pelajaranku menurun. Aku susah konsentrasi dan alhasil saat penjurusan aku masuk IPS karena nilai matematikaku turun drastis. Namun sejak kedatangan Rena, aku punya semangat hidup baru. Lalu aku menjabat sebagai ketua KIR menggantikan Nesya. Satu kejadian indah dan berkesan saat aku menyatakan cinta padanya. Cara yang klasik, i just say ‘will you be my girlfriend’. Saat itu Nesya membalas pengakuanku dengan tawa. Sedikit tersinggung tapi tak lama Nesya menjelaskan semuanya. “Kalau mau nembak itu pakai ilmu dong Al! Science of love. Kerenan dikit kenapa?” Nesya tersenyum kecil kala itu.

Lalu Nesya mengambil sebuah kertas putih bersih tanpa tulisan apapun. Nesya menyuruhku menyemprotkan cairan yang ada dalam sebuah botol yang entah apa namanya. Kuturuti perintahnya, kusemprotkan cairan itu. And surprise! Kertas putih itu berubah menjadi kertas yang bertuliskan ‘yes i will’ berwarna merah jambu. Kata Nesya, itu ilmu dari KIR. Dimana larutan PP di oleskan lalu disemprot dengan NaOH. Brilliant! Nesya sungguh Brilliant. “Al, lomba basket diundur dua minggu lagi. So, lo bisa santai ngurusin diklat KIR sob,” Arjun menepuk bahuku sekaligus menyadarkan lamunanku tentang Nesya. “Oke, thanks ya sob! By the way playmate kita sama sma tetangga besok sore jadi nggak?” Tanyaku. “Jadi kok. Eh, gue duluan yaa, biasa...ada perlu,” Arjun berlalu. Besok sore ada playmate atau yang biasa disebut pertandigan persahabatan melawan sma adiguna. Ini kali pertama aku mengikuti kompetisi tanpa Nesya di sisiku. Aku berharap ada yang memberiku spirit esok sore. Aku berjalan menyusuri koridor yang lumayan sepi. “Aldo!” Sapa Airin lalu menghampiriku. “Kenapa Rin?” Balasku. “Besok setelah playmate ada acara nggak?” Ucap Airin gugup. Aku menggeleng. Airin bernafas lega “Bagus deh. Anterin gue ke toko buku bentar ya? Mau kan?”. Berfikir sejenak lalu aku mengangguk pasti. Senyuman cerah tergores di bibir Airin. Dan perlu dipertegas sekali lagi, aku menyetujui ajakkannya bukan karena aku suka dia melainkan tak ingin membuatnya kecewa. Saat aku masih asik bercengkrama bersama Airin, suddenly Rena lewat di hadapanku dengan manisnya. “Renaaa, sombong amat sih,” Godaku untuk kesekian kali. “Emangnya kita pernah kenal?” Jawab Rena ketus. Rena berlalu dan kembali ke Airin. Airin yang kebingungan dan tampak jealous memanyunkan bibirnya. “Lo kenapa Rin?” Pancingku. “Oh nggak apa-apa. Rena itu siapa lo? Pacar?” Tanya Airin penuh Telisik. “Rena? Pacar? Ya kalau pacar sih belum,” Jelasku apa adanya. “Jadi maksud lo dia gebetan? Ah bertele-tele deh lo, basi!” Airin pergi. “Loh Airin, Rin!.” ***** “Kak, ini daftar calon anggota KIR kelas sepuluh. Ini namanya dan ini asal kelasnya. Kakak mau tanding ya? Good luck ya!” Shelena tersenyum. “Iya, do’ain ya. Eh makasih juga loh udah dibantuin. Yaudah gue duluan yaa” Kutepuk bahu Shelena

dan berlalu. Sembari menuju ke lapangan kubaca daftar calon anggota KIR. Ternyata peminatnya masih banyak. Nggak kalah banyak sama tahun sebelumnya. Tanpa sadar kaki ini telah memasuki GOR yang sudah dipenuhi penonton. Sorak-sorai bergema disana-sini. Permainan dimulai. Satu menit, lima menit sampai menit ke tujuh aku mengalami cidera. “Lo nggak apa-apa Al?” Tanya Ibnu. Aku meringis kesakitan. Dasar Ibnu bodoh! Bagaimana bisa cidera dibilang nggak apa-apa. “Woy PMR junior!” Arjun memanggil anggota eskul PMR. Aku yang hampir pingsan karena kekurangan oksigen diantara kerumunan para pemain basket, akhirnya dapat bernafas lega. Pandanganku yang hampir menjadi hitam kelam, tiba-tiba terlihat sinar dan bayangan seorang cewek yang menghampiriku lalu mengobatiku. “Ren, kenapa Aldo nggak dibawa ke UKS aja?” Tanya Arjun. Dalam sayup-sayup aku mendengar kata ‘Ren’. Ren? Apa itu Rena? Tapi mata ini masih tak mampu untuk melihat dengan jelas. ketika kerumunan bubar, barulah aku dapat melihat wajah malaikat penolong itu. Amazing! Ternyata cewek itu memang Rena. Rena menutup lukaku dengan perban. “Ren, makasih ya lo udah nolong gue,” Ucapku. “Iya sama-sama. Sorry gue nggak mau bawa lo ke UKS sekarang, soalnya nanti sekolah kita bakal kalah. Karena gue percaya tim basket kita ada di tangan lo. Ini pertolongan pertama aja. Kalau lo menang, abis pertandingan kita ketemu di UKS,” Rena kembali ke pinggir lapangan. Sumpah, kata-kata itu bener-bener buatku termotivasi. Tanpa merasa terluka dan sugesti menang aku melanjutkan pertandingan. Permainan berlangsung cukup baik. Kami berhasil mengejar score yang tertinggal. Dari tempat penonton terdengar sorak-sorai “Aldo....Aldo...! go go go Aldo.” Yuhuuu, kemenangan ada di team kami. Sesuai janji, jika aku menang maka aku akan bertemu Rena di UKS. Aku berjalan menuju UKS. “Selamat ya kapten masbro!” Ucap Ibnu sembari melempar botol yang berisi air mineral. Aku mengacungkan jempol. Saat aku mau memasuki ruang UKS, seseorang menepuk bahuku “Al, selamat ya! Jadi kan kita ke toko buku sekarang?” Airin meyakinkanku. “Ee...ee..iya, tapi........,” Jariku menunjuk kemana-mana tak tentu arah saking bingungnya. “Aaahhh, lo mau batalin ya? Kok gitu sih?” Airin menunduk sedih. Ekspresi kecewa tampak di wajahnya. “Eh jadi kok! Siapa bilang nggak jadi? Yuk...,” Ajakku karena tak ingin membuatnya kecewa. Tak apalah kubatalkan pertemuan pertamaku dengan Rena hari ini. Di toko buku, Airin

sibuk memilih buku sementara aku masih memikirkan Rena. Bagaimana jika Rena masih menungguku disana? Bagaimana jika Rena kecewa dan marah padaku. “Al, lo kenapa ngelamun aja? mikirin si Rena itu ya? Kenapa sih lo nggak mikirin orang yang jelas udah suka sama lo,” Airin menatapku tajam. “Loh emangnya siapa?” Tanyaku polos. Airin tercengang “Selama ini lo memang nggak pernah peka yaa” Ucap Airin lalu pergi. “Tapi Rin...” Jelasku tapi terlambat. Selama ini tak pernah terbayang kalau Airin punya rasa juga padaku. maafin aku Airin... Setelah menenangkan diri , aku bersama motorku yang sudah kembali dari bengkel berpacu bersama menyusuri jalanan ibu kota walau berpayung hujan. Ketika melintasi halte dekat sekolah terlihat sosok Rena di sana. Segera kupinggirkan motorku lalu turun. Rena yang sudah melihatku sontak berbalik arah tak menganggapku ada. “Ren, gue anter pulang yuk!” Ajakku. “Nggak butuh. Paling juga Cuma omong kosong,” Rena menjawab dengan ketus. “Lo masih marah ya sama gue masalah tadi?” Tanyaku. “Yah, bodohnya gue udah mulai percaya sama lo tadinya. Tapi untungnya gue udah menyadari kebodohan gue,” Rena tersenyum sinis. “Lo kalau ngambek tambah cantik deh” Godaku. “Ih, ngerayu aja bisanya! Dasar playboy cap kucing. Hatsimmm,” Rena bersin-bersin. Kulihat Rena begitu kedinginan. Segera kubuka jaketku lalu kutelungkupkan di tubuhnya. Rena terlihat shock tapi untungnya ia menerima jaketku. “Kata anak ipa sih, kalau kita kedinginan dan ingin menghangatkan tubuh itu ada caranya. Coba lo gosok-gosok kedua telapak tangan lo terus lo tempelin deh di pipi lo atau lompat-lompat. Katanya dengan pergerakan itu akan timbul kalor atau panas . Coba dong!”. “Masa sih? Terus gue harus percaya sama teori science lo itu? Lo kan anak ips,” Rena terus bersikap sinis. Hujan mulai reda. “Eitss jangan salah! Gini-gini gue paling hobi loh sama science. Because science is my life! Wah udah reda, gue duluan yaa,” Aku pergi meninggalkan jaket itu dengan sengaja agar aku punya kesempatan untuk bertemu Rena lagi. “Aldo......! Aldo gila, ini jaket lo.” ***** Dua minggu kemudian...

“Pak, ini surat dispensasi untuk calon anggota KIR selama dua hari satu malam karena kami ingin mengadakan pelantikan,” Jelasku. “Oh iya, saya percayakan semua sama kamu dan alumni ya, Al!” Balas Pak Abdi. Setelah mendapat izin aku keluar ruangan kepsek dan langsung memberi instruksi pada siswa-siswi yang mengikuti pelantikan. Semua sudah siap, kami pun berangkat ke lokasi. Tak jauh dari sekolah. Sesampainya di lokasi, semua calon anggota mendirikan tenda, beres-beres, pengenalan senior, materi dan sampai pada acara api unggun. Disini panitia membuat acara seruseruan. Game pertama, senior nembak junior. Apesnya aku mendapat giliran terakhir. Kuambil undian kertas dan saat dibuka keluarlah nama ‘Sharena Putri’. “Oke, kepada Sharena silakan maju,” MC memberi instruksi. Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya. Harap-harap cemas menunggu cewek yang bernama sharena itu. “Rena?,” Ucapku spontan. Seperti biasa, Rena melemparkan senyuman sinisnya. “Ayo dong kakak Aldo, mana tembakan mautnyaa?” Teriak MC. “Ehm..ehm..oke, dengerin semuanya! Rena, gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?” Tanyaku. Semua anggota bereteriak histeris. Tapi Rena justru berkata “Gue nggak mau, gue nggak suka sama lo.” Apa? Dia nolak? Apa nggak salah denger nih kuping? Ah entahlah. Harusnya telah kusadari sebelum aku menembaknya di muka umum. Rena kan berbeda dari cewek-cewek lainnya. Pesonaku dan ketenaranku tak berarti apa-apa di matanya. Pelik! Walaupun hanya permainan, tapi aku mengungkapkannya dengan sungguh-sungguh. Ya, tapi semuanya sudah terjadi. Terima tak terima Rena sudah menolakku mentahmentah. Aku kembali ke tenda dengan muka tertekuk. Seseorang duduk di sampingku lalu tersenyum “Konyol banget sih acara tadi,” Ucapnya. “Menurut gue itu sama sekali nggak konyol. Justru gue berterima kasih karena melalui game tadi gue bisa mengungkapkan apa yang ingin gue ungkapin dan juga gue bisa tau apa yang lo rasa ke gue selama ini,” Jelasku pada Rena. Ya, seseorang yang sedang duduk di sampingku saat ini adalah Rena, wanita yang baru saja menolakku. “Hah! Pasti ini salah satu taktik lo kan? Biar lo bisa meluluhkan hati gue and setelah gue luluh, lo bebas nyakitin hati gue semau lo deh,” Rena tertawa. “Lo kenapa sih? Lo ada dendam sama gue?” Tanyaku penasaran. Rena tersenyum lalu merebahkan kepalanya di bahuku. Entah ada angin dari mana Rena bersikap seperti ini padaku. Suasana hening sejenak. Hembusan angin yang

sejuk menyelimuti kami. “Gue rasa gue nggak punya kewajiban untuk cerita masalah pribadi gue ke elo,” Ucapnya. ‘Bummmmm!!!!’ tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ternyata ada pertunjukkan bom rakitan dan kembang api. Rena mengangkat kepalanya dari bahuku lalu berdiri tersenyum cerah “Waww! Bagus banget ya kombinasi bom rakitan dan kembang apinya. Teknologi ilmiah bener-bener ajaib!”. “Baru tau lo kalau science is amazing? Bahkan Gue bisa buat yang lebih dari itu,”. Rena mengangguk sembari terus memperhatikan pertunjukan malam itu. ***** “Al, surat rahasia ini kayak mana ya maksudnya?” Tanya Rena sembari melihat buku KIR. Sejak malam itu, hubunganku dan Rena makin membaik. Rena sudah tak menunjukkan sikap juteknya padaku. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Hampir seminggu tiga kali kami pergi traveling mencari bahan untuk percobaan KIR. Terkadang aku menunggunya saat kumpul eskul PMR. Chemistry yang terjalin antara kami sudah cukup dalam. Aku berniat besok akan menyatakan perasaanku pada Rena untuk yang kedua kalinya. “Woy, Kak Aldo....?” Rena menyadarkan lamunanku. “Eh iya, sorry. Kenapa dengan surat rahasia? Lo penasaran? Entar gue tunjukkin. Tunggu aja yaaa,” Alisku naik turun dengan refleksnya. Rena memegang lehernya menandakan kalau ia salting berat. Aku hanya cengar-cengir. Hari sudah sore. Aku berjalan menuju ke lapangan basket dengan gagahnya. Seluruh pemain sudah berkumpul di lapangan. Setelah toss dengan team, kulirik pojokkan tempat Rena biasa duduk. Rena mengangkat jempolnya seraya berkata “Pray to God! Kamu pasti bisa.” Permainan dimulai. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Lagi-lagi kemenangan ada di team kami. Setelah permainan usai, aku menuju ke tempat Rena. Rena tersenyum padaku. Saat aku berjalan ke tampat Rena berada, di luar kendali, seseorang berlari ke arahku lalu mencium pipiku. Sontak aku menoleh dan wanita itu memelukku. Kulihat Rena tertunduk lalu pergi meninggalkan GOR. Tak ada yang dapat kuperbuat. Yang bisa kulakukan hanya menenangkan hati wanita yang sedang memelukku. Airin, dialah wanita itu. “Selamat ya Al! lo hebat. Nggak salah kalau gue bisa suka sama lo dan nggak salah kalau lo ingin yang lebih baik dari gue,” Airin

menangis. “Ini nggak ada hubungannya sama yang lebih baik atau buruk. Semua ini masalah hati. Sayangnya aja hati gue udah terlanjur termiliki. Maafin gue Airin! Jangan nangis lagi yaa” Kuhapus air mata Airin lalu pergi. Aku berlari mengejar Rena. Unlucky, Rena sudah tak terlihat. Saat menuju parkiran, terlihat Rena berjalan menuju halte. Segera aku mengubah rencana penembakan yang seharusnya dilaksanakan esok hari. Ibnu yang sedang makan siomay kupanggil untuk melaksanakan rencana itu. sementara Ibnu sibuk membujuk Rena agar mau pergi ke ruang ava (audio visual), aku menyiapkan bahan. Sesuai saran Nesya, nembak pakai ilmu atau say love with science. Karton putih kutulis menggunakan pp lalu kusiapkan larutan NaOH juga korek api. Setelah semua siap, aku menunggu di dalam ruang ava. Semua lampu on. ‘ckrikkk, kreeeekkkk’ suara pintu terbuka mulai terdengar. Melalui cctv yang ada, aku mengamati gerak-gerik Rena. Dengan benang yang kukaitkan di pintu, perlahan kutarik dan pintu tertutup. Tampak raut panik di wajah Rena. Aku memasuki ruang ava dari pintu belakang. Ibnu mematikan semua lampu. Rena berteriak histeris. Its show time... ‘(Chisss)’ kuhidupkan korek api. Dengan cahaya ala kadarnya kuungkapkan semuanya. “Lo jangan takut, ada gue disini yang selalu jagain lo" Ucapku. Rena tampak bingung. Kuraih tangan Rena lalu kuletakkan botol yang berisi cairan NaOH dan dua buah kertas berisi jawaban yang nantinya akan dipilih oleh Rena. “Maksudnya apa nih?!” Tanya Rena sinis. “Sekarang coba lo semprot cairan itu ke karton ini dan lo akan tau apa yang dimaksud pesan rahasia itu,”. Perlahan Rena menyemprotkan NaOH ke karton putih yang telah kulumasi PP. Tulisan ‘Will you be my girlfriend’ terasa kian sempurna terlihat. Suddenly Rena melempar botol NaOH itu seraya berkata “Percuma lo lakukan semua ini. Gue udah terlanjur kecewa sama lo” Rena pergi. Segera kuluncurkan rencana B. Roket air yang sudah kupersiapkan dengan berbalut kertas yang bertuliskan ‘please dont go’ meluncur ke arah Rena. Rena mengambil lalu membacanya. Rena berbalik, menatapku. Aku mengangguk menandakan kalau aku berharap Rena tidak pergi. Setelah Rena masuk, rencana C dimulai. Setengah lampu yang ada di ava menyala. LCD proyektor menyala menampilkan video aku dan Rena dan apa yang terjadi diantara kami selama ini. Dimulai saat Rena masih jutek-juteknya

sampai sedekat ini. Juga dalam video itu menjelaskan kehidupanku yang sebenarnya. Tentang perhatianku terhadap banyak wanita, tentang Airin juga Nesya. Sesekali Rena mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Film berakhir. Rena menatapku sebentar lalu beranjak pergi lagi. Segera kutahan lengannya lalu kutarik sehingga kami berhadapan. Jari-jari tangan Rena kubentuk menjadi sebentuk huruf ‘C’ tapi sedikit runcing. Rena melihatku heran “Ini apa artinya?” Tanya Rena. “Ini memang nggak ada artinya kalau nggak gue lengkapi sama sebelahnya” Kusatukan sebentuk huruf ‘C’ punyaku ke tangan Rena. Terbentuklah sebuah hati, cinta or love. Sepertinya kali ini Rena benar-benar terkesima. “Masih butuh jawaban nggak?” Tanya Rena memberi harapan. Aku tersenyum lebar seraya mengangguk yakin. “Oh ya, ini kan kertasnya? Gue pilih yang ini” Rena menunjukkan salah satu kertas yang kuberikan tadi. Kuambil botol NaOH yang Rena buang. Saat ingin kusemprotkan, Rena mencegahnya “Eittsss, siapa yang nyuruh disemprot?”. “Terus gimana dong?”. “Bakar! Ambil korek, bakar sekarang,” Rena menyalakan korek apinya. Aku melongo nggak jelas. sebenarnya apa sih maunya Rena? Mengapa ia selalu membuatku bingung. “Ayo bakar!” Gretak Rena. Perlahan kubolakbalikkan kertas itu di atas api. And wow! Lama-lama di atas kertas itu terbentuk sebuah tulisan berwarna hitam. ‘Yes I will’ itulah tulisannya. Ternyata Rena membuat surat rahasia juga tapi dengan bahan yang berbeda yaitu jeruk nipis. Dimana Air jeruk nipis mengandung senyawa hidrokarbon yang mempunyai sifat khas yaitu akan berubah warna menjadi hitam apabila dipanaskan. Aku geleng-geleng tak percaya. Rena tertawa geli. Ternyata ada rahasia di balik rahasia. Ibnu yang seharusnya jadi pihakku berubah menjadi pihak Rena. Ide jahilnya diberikan pada Rena saat Rena dibujuk untuk ke ruang ava. “Jadi kalian bersekongkol untuk menghancurkan rencana gue?” Tanyaku. Rena dan Ibnu lirik-lirikan.. Kali ini aku yang dibuat surprise oleh Rena dan Ibnu. Hari ini akan menjadi lembaran baru yang akan kujalani bersama Rena. Nes, kamu tetap punya tempat tersendiri di hati ini. Ada satu kesimpulan yang dapat kupetik dari kejadiankejadian yang kualami. Yaitu science is our life, science is very important dan with science we can get amazing love. Dan cinta mengagumkan itu adalah kamu, Rena!.

Add a comment

Related presentations

Related pages

The science of love - Your Amazing Brain

The science of love . When do you know if you fancy someone? What does love do to your brain chemicals, and is falling in love just nature's way to keep ...
Read more

BBC Science | Human Body & Mind | Science of Love

The Science of Love. There are three phases to falling in love and different hormones are involved at each stage. Events occurring in the brain ...
Read more

Living the Single Life | The Science of Love - YouTube

Did you know that over 40% of Americans live single lives? But how do we all really feel about it? This season on The Science of Love, we'll be ...
Read more

The Science of Love | HowStuffWorks

Love isn't just warm and fuzzy feelings. Learn about the science of love at HowStuffWorks.
Read more

Science of Love - The Huffington Post

One of the most prevalent and least understood of human emotions, love has intrigued poets, philosophers, scientists, artists, and historians ...
Read more

The Science of Love | World of Psychology - Psych Central

What Exactly Can Science Tell Us? Studies show that women find symmetrical facial features attractive. In particular, women like masculine ...
Read more

The Science of Love - Scientific American

The Science of Love. Just in time for Valentine's Day: Pheromones, romantic illusions, and staying green while demonstrating your feelings for your sweetheart
Read more

Donna Summer - Science Of Love Lyrics | MetroLyrics

Lyrics to 'Science of Love' by Donna Summer. Chemistry look what you've done to me / Chemistry brought me near gravity / Chemistry look what you've done to ...
Read more

Science of love: It really is all in the mind, say experts ...

What is this thing called love? Cole Porter wasn’t the first to ask. From mystified poets to angst-ridden teens, the question of what exactly love is has ...
Read more