Putriberdarahungu thehalfbloodprincess

50 %
50 %
Information about Putriberdarahungu thehalfbloodprincess

Published on March 11, 2014

Author: amirharun902

Source: slideshare.net

Putri Berdarah Ungu (The Half Blood Princess) Apa artinya segala sesuatu jika kamu tak mendapatkan cinta ibumu? Apa artinya segala sesuatu jika kamu tak tahu siapa jati dirimu? Ini tentang Ghie ;tentang tangisnya,lukanya, deritanya, tentang kisah cinta dan mungkinkah juga terdapat bahagia untuknya? Citra Rizcha Maya

SATU “…….dan pertanyaannya apa tujuanmu jadi siswi SMA?menjadi Prom Queen?memanjat tangga sosial sekolah hingga menjadi seorang Queen Bee?aku rasa pikiran kalian tidak akan sedangkal itu, aku tau setiap siswi yang berhasil terseleksi masuk ke SMA ini adalah mereka yang datang dengan membawa cita-cita mulia, mereka yang bertekad mengukir prestasi, mereka yang mempunyai loyalitas tinggi untuk melayani nama sekolah dengan segenap kemampuan dan semangat mereka, mereka gadis-gadis hebat yang mempunyai harga diri tinggi, mereka gadis yang merhargai hasil kerja keras Kartini, katakan selamat tinggal buat pikiran menjadi cewek keren itu berarti kamu harus menjadi seorang putri plastik, kalian hidup di dunia nyata, kalian tau siapa kalian, kalian bukanlah Barbie idiot yang tanpa otak, sudah saatnya untuk bangkit, sudah saatnya untuk kita menjadi diri sendiri dan melawan streotif gender, jadi selamat datang semuanya…”dan tepukan tangan membahana di seluruh ruangan, dengan senyum anggun dan dagu terangkat aku meninggalkan podium. “Wow, pidato yang berapi-api Ghie” komentar Dante sambil mengikuti langkahku ”gue suka di bagian saatnya menjadi diri sendiri dan melawan stereotif gender”aku melirik dengan malas ke tampang jail menyebalkannya, dia adalah rivalku di pemilihan OSIS nanti. “Cuma yang gue heran sebenarnya apa yang loe omongin di depan sana? pidato penyambutan siswa baru dan sekalian penarikan massa untuk mendukung loe jadi ketua OSIS nanti? Atau itu adalah pidato dari ketua feminis radikal?”aku melangkah cepat dan Dante juga melebarkan langkah kakinya yang panjang “Ghie…loe punya kans gede buat jadi ketua OSIS, di banding calon lainnya, termasuk gue, cewek-cewek tentunya terpesona dengan pidato loe, dan loe role mode yang baik buat mereka, cantik, pinter, berprestasi itu keunggulan yang loe punya, yang gue nggak suka adalah kenapa loe ngambil kesempatan saat cowok-cowok pergi jumaatan loe malah nyuci otak cewek-cewek itu dengan membahas stereotif gender, itu sama aja kayak mendoktrin cewek- cewek buat jadi ratu kutub anti cowok, hey apa jadinya kalo cewek-cewek itu kayak loe semua yang nggak bisa menikmati cinta SMA yang menyenangkan” “…apa yang loe lakuin saat cowok-cowok lain jumaatan? nguping pidato gue? btw loe lagi mens ya? Calon ketua OSIS bolos jumaatan, menarik”sindirku pedas dan meninggalkannya yang kehilangan kata.

*** Aku bergabung di kantin dengan “dayang-dayangku” Eve dan Niken, dan langsung menyantap makan siangku, aku sangat lapar. “Nasi Cap Cay seperti pesenan loe kan?”Tanya Niken “Yups, thanks Nik ini favorit” “Gue suka pidato loe”komen Eve “Tapi Dante nggak suka” aku menyudahi makanku di suapan ke limaku “gue licik karena mendoktrin cewek untuk membenci cowok atau itu yang dtangkap oleh otak tololnya” “Sampe kapan sih Loe dan dia musuhan? Ghie, open your eyes, Dante suka sama loe! Aku mengabaikan analisis Eve yang sok tau dengan sibuk minum lemon tea dan mengambil sepotong kiwi, dari mangkuk salad Niken. “Dante …cowok favorit cewek-cewek satu sekolahan…” “Tapi itu nggak termasuk gue” potongku cepat “Kapten Tim Basket, dia kayak Troy Bolton di dunia nyata” “Gue lebih suka cowok punya otak daripada yang cuma punya otot” Aku bangkit dari bangku kantin menuju toilet, menarik nafas panjang sebelum akhirnya memasukan jari tengahku ke tenggorokan, memancing perutku untuk memuntahakan nasi cap cay, kiwi dan lemon tea ke wastafel, rasanya selalu menyiksa tapi itu melegakanku, shit! Seorang cewek, anak kelas sepuluh baru dan kepangan konyolnya sepertinya melihat apa yang kulakukan, kubuka keran, berkumur, menarik tissue, menarik nafas, dan membalikan badan, memberikan senyum termanisku. “Gue keselek” Si cewek kelas sepuluh dengan kepangan konyolnya menyodorkan air mineral ke arahku “Belom saya minum kok kak”

“Thanks”

DUA Aku benci pulang ke rumah dan melihat pemandangan yang membuatku marah, aku tak tau sejak kapan aku mulai marah, karena sepertinya itu sudah lama sekali. Seorang pria, keluar dari kamar mamaku dengan senyum memuakannya menyapaku yang tak pernah balas menyapa, malah masuk kamar dan membanting pintu dengan keras, aku menangis, selalu seperti itu. Aku benci pria itu, aku benci mamaku, dan aku benci diriku sendiri yang tak bisa menerima kenyataan. Seharusnya aku terbiasa, tapi yang kutau ternyata aku takkan pernah bisa. Sejak dulu pertanyaan-pertanyaan bodoh ini meneror otakku Siapa pria itu? Apa yang dilakukannya dengan mama? Apa dia papaku? Kalau dia papaku, kenapa dia tak mengatakannya, kenapa dia hanya melemparkan senyum tanpa pernah berbagi sepatah kata. Kenapa mama hanya mengurung diri di kamarnya? Kenapa ia tak pernah mau melihat mukaku?menatap mataku? Kenapa ia tak pernah memberikan ciuman selamat pagi atau menyelimutiku di malam hari? Kenapa mama tak pernah menjadi ibu bagiku? Kenapa mama tak pernah mencintaiku? Aku selalu berusaha menjadi sosok anak sempurna, aku menciptakan prestasi yang membanggakan, aku menjadi anak manis, tapi itu takkan pernah membuatnya mencintaiku, dia

memberikan segala sesuatu, barang-barang mahal, segala fasilitas mewah, kehidupanku seperti seorang putri, tapi apa gunanya bila ia mencintaiku? Aku sampai pada suatu kesimpulan bahwa aku anak yang tak diinginkan, mamaku bukan perempuan baik, dia perempuan simpanan pria kaya, dia nggak lebih dari seorang munafik matrealistis memuakan, dia menjijikan, aku membencinya, dia memberiku makanan haram yang didapat dari menjual pesona dan kecantikannya, itu sebabnya aku selalu memuntahkan semuanya. Mungkin semuanya adalah kesalahanku, dia takkan bisa mencintaiku karena aku tak berusaha begitu keras untuk membuat dia mencintaiku, kadang aku sangat membenci diriku yang sangat payah, kuambil pisau disisi mangkuk buah, kusayat telapak kakiku, membentuk pusaran, ada rasa sakit tak tertahan yang anehnya sangat menyenangkan, kulihat wajahku di cermin, aku begitu mirip mama, sangat, ada air mata di wajah itu tapi ada seringai jahat di bibirnya aku seperti monster yang sangat cantik. “Lupakan semuanya!!!!!!!!!”terdengar teriakan dari dalam kepalaku Aku tau cara mengobati luka ini, dan luka hatiku, kulepas seragam sekolahku dan menggantinya dengan dress favoritku, kukenakan ballet flats shoes, kusambar tas Hermes baruku, saatnya menggesek kartu kreditku.Yeah aku adalah satu dari bagian 8% populasi dunia pengidap shopaholic, well, bukankah belanja adalah terapi terbaik ketika sedang depresi??

Tiga Bahkan dua pasang Manolo Blahnik, sebuah tas Birkin, dan tiga dress Nina Ricci, belum bisa membuatku cukup bahagia dan melupakan kesedihanku. Rasanya aku ingin kembali ke saat umurku 5 tahun, hanya dengan sepotong coklat dan kartun Disney aku bisa tertawa kembali. Aku lupa kapan terakhir kali aku tertawa lepas, tertawa yang benar-benar tertawa, Aku memandang sekitarku dan kulihat semua orang dengan wajah yang sedang tersenyum, berseri-seri, gembira, bersuka cita, bersemangat, bahkan di depan mataku, Eve dan Niken sedang menertawakan entah apa, dan sayangnya mereka bahkan tak bisa menularkan apa yang bisa membuat mereka tertawa denga begitu mudahnya. Hidupku seperti putaran kesedihan.Aku tau ini berlebihan, tapi apa gunanya kamu bisa mendapatkan segala hal dengan mudah tapi apa yang kamu dapatkan itu tak bisa menjadikanmu bahagia, apa aku terdengar seperti makhluk hina yang tak tak tau berterima kasih??? “halo…bumi memanggil Brighietha Rara Nanthana”Eve menyadarkanku dari lamunan. “Lebih asyik berada di dalam dunia pribadi Ghie?”Ejek Niken diiringi derai tawanya yang renyah. “Bagaimana caranya loe bisa tertawa segampang itu?”tanyaku datar tanpa memandangnya, aku malah menatap ujung sepatuku. “Jawabannya sama kayak bagaimana bisa lo memasang tampang serius permanen di wajah lo?” *** “Sang Putri sudah pulang dengan membawa banyak tas belanjaan, sayang, kamu bahkan belum membuka tas-tas belanjaanmu yang kemarin” Nanny-ku serepot biasanya,

mempermasalahkan banyak hal. Mungkin karena dia di bayar untuk itu. Aku tak menjawabnya lebih mudah untukku langsung menuju kamarku dan mengasihani diri sendiri. Waktu kecil dulu, aku selalu bertanya, bagaimana seorang anak masuk ke dalam sebuah keluarga, apa diantar oleh burung bango? Atau diletakkan begitu saja di depan pintu? itu ketika aku belum belajar Biologi, Aku ingin bertanya tentang keluargaku, silsilahnya dan darimana kami berasal, tapi pada siapa?aku tau aku punya seorang mama, tapi dia nggak lebih dari wanita yang tinggal di kamar sebelah, kita tidak seperti sebuah keluarga walaupun aku tak tau bagaimana rasanya punya keluarga, aku tak mengerti tentang banyak hal yang terjadi dalam hidupku semuanya begitu aneh dan tak masuk akal. Setiap pulang ke rumah aku selalu merasa begitu kesepian dan satu-satunya tempatku berbicara adalah diriku sendiri yang berada di dalam cermin, aku tau ini aneh dan gila, ketika aku butuh teman berbicara maka aku akan berdiri di depan cerminku “Mirror, mirror, on the wall, Who in this land is fairest of all?” Bukan itu pertanyaannya! “Mirror, mirror, on the wall, Hey, who am i? , Di cermin aku memandang mata besarku, mata bulat berwarna coklat gelap dengan bulu mata panjang, beberapa orang menganggap mataku menakutkan, mataku seolah-olah melotot, memandang penuh kecurigaan dan tanpa rasa percaya, tapi ini tak seberapa bila di bandingkan dengan mata Medusa atau Basiliks, mataku takkan merubah siapapun menjadi batu walau kadang aku berharap begitu. hidungku seperti dipahat, bibirku tipis dan berwarna merah dengan nuansa orange alami, kulitku kuning langsat bercahaya, Wajahku sangat cantik tapi muram aku tau ini pasti karena aku tak pernah bahagia, kadang aku merasa ada kesombongan dan tinggi hati

yang tergambar jelas di wajahku mungkin karena tatapan mata dan daguku yang sering terangkat, tapi Nanny-ku mengatakan itu sebagai ekspresi aristokrat, entahlah! “Hai Ghie, loe tau hari ini gue bête banget, bandot tua itu keluar dari kamar nyokap, gue anaknya Ghie, dan nggak pernah sekalipun bisa nembus pintu itu, kadang gue berharap Ghie ada bintang jatuh dan gue boleh minta apapun, loe tau Ghie apa yang bakal gue minta?nyokap gue keluar dari kamar sialannya, datang, meluk gue, kita bicara kayak ibu dan anak, bukan kayak sekarang gue cuma bisa liat dia dari teras kamarnya memandang kosong, dia nggak pernah ngeliat gue…hmmmmmm yah….loe tau apa yang dibilangin Niken pas gue tanya bagaimana dia bisa tertawa dengan gampang, dia malah jawab, jawabannya sama kayak bagaimana tampang serius bisa nempel permanen di muka gue, dan gue tau jawabannya sekarang, gue tau kenapa gue nggak bisa tertawa dengan mudah semudah orang lain, karena nyokap gue nggak pernah tertawa, dia selalu memasang ekspresi datar di wajahnya tanpa bicara seolah dia tuna wicara, gue tau dia bisa ngomong, aku pernah dengar suaranya bicara dengan si nanny, suaranya seperti bisikan, agak ngeri dengernya, sebenarnya apa sih masalah nyokap gue? Dia cuma nggak suka punya anak kayak gue?? Atau apa???????????hal ini bikin gue frustasi, ini bukan sebuah keluarga, bagaimanapun miripnya gue ma nyokap itu nggak bikin gue otomatis punya ikatan emosi, tapi kadang gue ngerasa sayang, tapi kadang gue berharap gue nggak usah punya ibu aja, gue punya ibu, harusnya gue punya ayah juga kan???apa si bandot tua itu ayah gue???gue rasa nggak!tapi siapa sebenarnya ayah gue? Gue punya ibu yang ada terihat mata, tapi gue nggak cukup mengenalnya, apalagi ayah, yang nggak pernah gue liat, gue mesti bertanya ke siapa Ghie?” Pikiran sinting menyerbu otakku dengan cepat kusambar netbook-ku di tempat tidur, langsung aku searching ke Google, mengetik “siapa ayah brighieta rara nanthana?” dan sedetik kemudian jawabannya keluar, mengecewakan! Penelusuran Anda - siapa ayah brighieta rara nanthana? - tidak cocok dengan dokumen apa pun. Saran: • Pastikan semua kata dieja dengan benar. • Coba kata kunci yang lain.

• Coba kata kunci yang lebih umum. • Coba kurangi kata kunci. Bego, jawabannya takkan pernah ada! Yang tau jawabannya bahkan takkan pernah mengatakannya!Aku menangis putus asa di lantai.

Empat Sunday is Gloomy, My hours are slumberless, Dearest, the shadows I live with are numberless Little white flowers will never awaken you Not where the black coach of sorrow has taken you Angels have no thought of ever returning you Would they be angry if I thought of joining you Gloomy Sunday Sunday is gloomy with shadows I spend it all My heart and I have decided to end it all Soon there'll be flowers and prayers that are sad, I know, let them not weep, Let them know that I'm glad to go Death is no dream, For in death I'm caressing you With the last breath of my soul I'll be blessing you Gloomy Sunday Dreaming I was only dreaming I wake and I find you Asleep in the deep of

My heart Dear Darling I hope that my dream never haunted you My heart is telling you how much I wanted you Gloomy Sunday Suara merdu menakutkan Sarah Mc Lachlan menyayikan lagu Gloomy Sunday, di minggu pagiku yang suram, aku masih di tempat tidur, merana dan merasa hampa. Aku tak bisa tidur semalaman,mataku sakit, bengkak dan sembab, tampangku luar biasa mengerikan. Seharusnya aku bunuh diri sekarang, sekitar 200an idiot mati dengan diiringi Gloomy Sunday, sayangnya aku selalu ingin jadi yang pertama, bukan orang dengan urutan 200-an bahkan bila itu adalah hal seidiot bunuh diri gara-gara sebuah lagu. Pintuku terbuka, dan nanny membawakan sarapanku “Selamat pagi tuan putri” dia meletakan nampan sarapan di meja samping tempat tidur “ tampangmu mengenaskan”ada nada shock dan khawatir “Yeah aku mengalami kematian spiritual” Cepat-cepat dia menghampiriku dan memeriksa suhu tubuhku, aku risih di sentuh seolah aku anak umur 5 tahun. “Aku cuma kelelahan” aku mencoba menenangkannya sebelum dia mencoba bertindak lebih jauh, misalnya memanggil dokter jiwa yang akan mengunciku di ruang isolasi. Dia memandangku dengan aneh, menatapku lekat-lekat; ada campuran iba dan jijik, atau entahlah! “Aku mengabdi untuk melayani para mayat hidup” gumamnya pelan dan putus asa dalam suara tercekat yang aneh, cepat-cepat dia keluar dari kamarku.

Apakah aku terlihat seperti mayat??? Tak percaya dengan apa yang dikatakannya, aku menuju cermin dan memandang sosok mengenaskan yang rapuh yang sialnya adalah aku, kutatap lekat-lekat dan menilai bayanganku, aku seperti vampire merana. Kuputar ulang lagu Gloomy Sunday dan aku mulai berdansa dengan imajinasiku, aku hanya ingin merayakan minggu pagi gilaku. *** “Gue perlu bicara” Dante menungguku keluar dari Jazz Pink-ku. Aku tak menghiraukannya hanya terus berjalan dan menganggapnya hanya sebagai hantu yang tak terlihat, kesabarannya diambang batas ketika aku tak menunjukkan reaksi apapun, dia meraih tanganku, menggenggamnya erat dan menyeretku ke tempat sepi, sekolah masih lengang hanya ada beberapa anak yang datang, ini masih setengah tujuh pagi. “Mau apa loe?” tanyaku galak “Are you, oke?” “Not your business” “tampang loe kayak zombie” dia berbisik, seolah memberitau dirinya sendiri, dia menggeleng- gelengkan kepalanya, ekspresi ketidakpercayaan pada kenyataan yang harus ia terima terlukis jelas di wajahnya “Ghie…”bisiknya pelan sambil meneliti tiap inci wajahku, dia memandangku dengan tatapan menyesal yang sulit kuartikan. Aku melepas genggamannya dan berlari cepat ke kelas, aku tak tau apa yang mendorongku untuk berlari menjauhi Dante, rasanya aku serangan panik dan otakku memberikan perintah untuk segera pergi ketika tatapan matanya yang seperti sinar X seakan menembus wajahku.

Aku terengah-engah sampai di kelas, hanya ada beberapa anak yang berada di kelas, sibuk bicara atau menyalin PR, huh bukan urusanku untuk mengamati mereka. “Pagi Ghie” sapa Eve dan Niken “Hi” sapaku setengah hati, aku segera membuka tasku dan dan menyibukkan diri dengan pura- pura membaca buku Letter to Daniel, karangan Fergal Keane. Kelas mulai berisik satu persatu anak mulai berdatangan, huruf-huruf dalam buku mulai menari-nari tak jelas dalam pandanganku, aku merasa seperti penderita disleksia yang tidak bisa mengeja, aku kesulitan untuk memahami apa yang sedang kulihat, mungkin karena aku sedikit pusing, aku mengalami hari yang berat kemarin, salahku karena terlalu larut dalam pikiran-pikiran yang menyiksa yang kuciptakan sendiri, Bel berbunyi, waktunya upacara bendera, aku bangkit menuju lapangan diiringi Eve dan Niken yang sibuk membicarakan entah apa, sejujurnya aku tak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, apapun yang mereka bicarakan bukanlah hal yang penting mengingat keduanya memiliki otak yang nyaris kosong. Kami masuk menuju tempat penyanyi inti, yeah kami penyanyi inti sekolah, dan shit! Apa yang dilakukan Dante di belakangku? dia berdiri tepat dibarisan belakangku, dia mengikutiku! Apa sih yang dia mau? “Gue perlu bicara, tepat selesai upacara” dia berbisik di telingaku, aku tak bereaksi apa-apa, Eve dan Niken menatapku dengan tatapan bertanya, aku mengacuhkannya, Bendera akan dinaikkan dan lagu Indonesia Raya mulai dinyanyikan, bersamaan dengan niatku untuk membuka suara, kepalaku seperti dihantam berkarung-karung pasir, serasa mau pecah aku menahan kepalaku dengan kedua tanganku mencoba menahannya agar tetap utuh, sekarang serangannya menyerang bagian tubuhku yang lain, tubuhku dialiri oleh kelelahan yang luar biasa tak tertahankan, kakiku tak bisa lagi menopang tubuhku, suara-suara sayup-sayup terdengar makin menjauh dan kegelapan mulai menyelimutiku.

Lima Bau minyak kayu putih yang menyengat membangunkanku, apa mimpi burukku baru saja menjadi kenyataan? Orang yang tidak ingin kutemui tepat berada di depan mataku, kutepis tangannya yang memegang kapas yang ditetesi minyak kayu putih. “Gue benci minyak kayu putih” aku bangkit dari tempat tidur UKS yang sama sekali tidak nyaman, punggung serasa patah tidur di kasur yang terlalu keras seperti ini. “Loe jangan berharap cium Chanel No 5 di sini, ini UKS” Dante dengan senyum mengejeknya mencoba mengingatkan betapa bodohnya aku, oke aku tau ini UKS! “Dan setau gue elo bukan pengurus UKS! Mana dokter sekolah, suster, dan anak-anak PMR, salah satu dari mereka!” “Wow, hebat banget loe baru sadar dari pingsan udah bisa langsung galak “ “Anak –anak PMR sedang ikutan lomba PMR, dokter sekolah kita tercinta lagi hamil, dan sang suster…” “Sudah sadar Ghie?” tirai putih tersibak dan dengan tampang khas para suster yang penuh perhatian pada pasien langsung menghampiri,menyentuh keningku untuk memeriksa suhu badanku, “Sayang, kamu anemia, kelelahan dan pastinya lupa sarapan, Dante akan mengantarkanmu pulang, dia mengatakannya akan bertanggung jawab mengantarkanmu selamat sampai depan pintu rumah” “Haruskah dia…?”pertanyaanku masih menggantung

“Ya, harus! Jawab Dante cepat “sayang…aku khawatir banget, kamu pingsan di upacara dan kupikir ini gara-gara perkelahian di malam minggu kita kemarin, aku menyesal aku minta maaf, seharusnya aku nggak sekasar itu, maaf udah membuatmu frustasi dengan sikapku” Shit! Apa sih yang Dante bicarakan??? “What the hell you talking about?” kataku geram, kata-kata itu keluar lewat sela-sela gigiku yang merapat karena menahan marah. Kepalaku masih sakit dan Dante sedang berakting entah apa, seandainya dia seperti kucing yang punya sembilan nyawa, rasanya aku ingin sekali membunuhnya sekarang. “Cinta SMA memang romantis” komentar si suster yang kurasa otaknya telah terpolusi sinetron. “Gue ada ulangan Fisika setelah istirahat, gue mau balik ke kelas sekarang!”aku siap-siap turun dari tempat tidur. “Gue punya surat izin buat loe bebas kelas, dan gue punya izin buat menjalankan perintah untuk nganterin elo pulang, manfaatin Ghie, apa loe nggak bosen di sekolah mulu, kadang kita perlu untuk bersenang-senang di luar pada jam sekolah ini pasti seru, anggap ini sebuah dating, oke? Atau loe lebih suka diantarin satpam sekolah yang bau badannya kayak dia make berliter- liter parfum yang terbuat dari ekstrak walang sangit itu??”aku tidak sempat protes karena Dante telah menyeretku keluar, di lengannya terdapat tas Birkin maroon-ku yang sangat sangat tidak serasi dengan posturnya yang atletis, dia terlihat sekonyol Tinky Winky, personel Teletubbies. “Kita bakal naek mobil loe, gue nggak bisa nganterin loe pake motor gue, gue khawatir loe bakalan disambar angin dan terbang, loe udah kayak selembar kertas, apalagi …berani bertaruh loe nggak bakal sudi untuk meluk gue, hahahaha”aku benci melihat cengiran jail di wajahnya, dan sekarang dia benar-benar keterlaluan memegang tanganku ketika kami melewati serombongan anak kelas satu yang baru kembali dari Lab, aku berani bertaruh akan ada gossip tentang hal ini, di dalam hati aku mengutuk Eve dan Niken yang tidak ada di sampingku saat aku benar-benar membutuhkannya, sekarang aku tau apa definisi dari kata teman, teman adalah seseorang yang ada ketika mereka membutuhkanmu, bukan sebaliknya!

*** Mobil berenti di depan sebuah restoran keluarga, dan Dante menyeretku keluar, aku tak punya tenaga untuk protes, dia memaksaku duduk di kursi seolah aku anak 5 tahun, dia ke counter, memesankan makanan, kembali dan duduk di depanku, ada seringai mengejek di wajahnya yang mirip dengan Jim Carey saat jadi Grinch, si perusak natal. Aku tak mengajaknya bicara karena itu akan membuat dia senang, jadi kupasang tampang jutek terparahku, Dante geleng-geleng kepala. Beberapa saat kemudian pesanannya datang, ada sandwich tuna, kentang goreng porsi besar dan milkshake cokelat masing-masing untuk aku dan dia” “Loe harus makan dan habisin! Loe udah kayak penduduk Ethiophia! Gue yang traktir!” “Gue punya duit!” “Gue nggak tanya!” jawabnya singkat dan menggigit sandwich-nya dalam gigitan yang sangat besar. Aku tak menyentuh makananku sama sekali, cuma memandang makanan-makanan itu sudah cukup untuk membuatku mual, alih-alih muncul selera makan. “Loe lagi ngitung jumlah kalori dan lemaknya atau elo nunggu gue buat nyuapin elo?”Dante sangat menyebalkan, aku benar-benar berharap dia punya sembilan nyawa. “Gue bakal nunggu elo sampe ngabisin semua makanan itu, gue nggak keberatan bahkan kalaupun itu sampe jam makan siang, kita sekalian bisa mesen dessert, coffee banana split-nya enak banget.” Tapi sayangnya aku tak berminat. “Katakan selamat tinggal buat pikiran menjadi cewek keren itu berarti kamu harus menjadi seorang putri plastik, kalian hidup di dunia nyata, kalian tau siapa kalian, kalian bukanlah Barbie idiot yang tanpa otak, sudah saatnya untuk bangkit, sudah saatnya untuk kita menjadi diri sendiri dan melawan streotif gender” Dante mengutip bagian akhir pidatoku.”Apa yang loe lakuin Ghie? Nipu cewek-cewek satu sekolahan? Calon ketua OSIS minta supaya cewek-cewek di sekolah semuanya untuk jadi diri sendiri, bukan jadi Barbie idiot! Bagaimana bisa loe koar-koar buat melawan stereotif gender kalo loe sendiri merusak diri loe?apa masalah loe? Niru si Barbie? Badan loe udah kayak lidi, loe menderita eating disorder demi badan kayak Barbie yang loe hina-hina di pidato loe? loe anorexia, kan?” terihat tampang

frustasi ketika Dante menghakimiku. “Adek gue ngeliat apa yang loe lakuin di toilet sekolah”otakku memutar memori ketika si cewek kelas satu dengan kepangan konyolnya memergokiku memuntahkan makan siangku di wastafel, aku tak percaya dia adiknya orang yang sedang menghakimiku sekarang! “Peduli apa loe sama apa yang gue lakuin?”aku ingin berteriak marah tapi yang keluar, malah sebuah isakan, aku merasakan air mata jatuh di pipiku, apakah aku harus secengeng ini? Tapi aku tak berusaha menghapus air mataku, malah membiarkan semuanya tumpah di pipiku. “Gue nggak pengen jadi si cewek Barbie, gue nggak pengen punya badan ukuran nol kayak model-model tolol itu, ini semua bukan karena gue menginginkan hal sesepele itu” ingin sekali kuteriakkan kata-kata itu, tapi itu hanya suara hatiku yang tak ingin di teriakan mulutku “loe nggak akan pernah mengerti!”hnay itu yang terdengar, bisikan lirihku, air mataku makin deras, Dante tak perlu tau bahwa aku memuntahkan semuanya hanya karena bentuk protes dari apa yang mamaku lakukan, aku tak ingin duit haramnya dari hasil menjadi wanita simpanan yang didapatnya masuk ke tubuhku dan menjadi daging, menjadi bagian dari tubuhku, ini lain halnya ketika duit itu berubah jadi barang-barang yang hanya menjadi bagian eksternalku, seandainya aku bisa menghabiskan duit-duit itu hingga tak tersisa…tapi herannya seolah-olah duit itu seolah tak pernah ada habisnya. “Gue pengen mengerti Ghie…” dan dia menghapus air mataku.

Enam Entahlah, rasanya sangat aneh ketika Dante menungguku di depan kelas sepulang sekolah. “Temani gue makan siang yuk, dan loe nggak boleh nolak!” yeah aku nggak menolaknya, mungkin karena aku juga kelaparan, tentu saja aku kelaparan, pagi tadi aku memuntahkan sarapanku, tapi mungkin juga karena aku memang ingin makan siang dengannya dan jangan tanya kenapa karea aku juga tak tau jawabannya. “Ghie, loe lupa kalo Selasa kita selalu ngabisin waktu di salon bareng?” tanya Eve dalam nada campuran mengingatkan dan protes. “Gue nggak lupa tapi gue pengen buat pengecualian buat hari ini” jawabku cepat dan mengikuti langkah Dante. *** “Gue yang traktir loe makan siang, jadi loe nggak boleh muntahin makan siang loe!”ada ancaman dalam suaranya, ketika aku bangkit dari kursi hendak melangkah ke toilet, dia membaca apa yang akan kulakukan, apa yang dipikirnnya tentang aku ? apakah dia benar-benar peduli?atau ada sebab lainnya? Aku menatap cermin di wastafel, aku membatalkan rencanaku, mungkin ada baiknya jika kali ini aku mengikuti kata-kata yang kurasa cukup benar itu. Kembali dari toilet aku melihat Dante sedang melahap dessert-nya dengan lahap, aku duduk di depannya melihatnya menikmati vanilla ice cream-nya seperti seorang anak yang

berumur lima tahun, dia terlihat sangat kekanak-kanakan, mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa cowok itu adalah anak-anak yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Dante menghentikan suapannya, dia menatapku memberikan senyuman konyol jail menyebalkan yang cuma bisa diekspresikan oleh dirinya. “Ngapain loe ngeliat gue kayak gitu???loe mau gue suapin?” Aku nggak menjawab cuma tersenyum singkat, sejenis senyuman yang harus dilakukan ketika aku tak tau harus berkata apa. “Dulu, pas gue masih kecil banget. . .gue pernah lewat tempat ini, saat itu siang terik, gue, nyokap, ma ade’ gue, si Lola. . . sejak dua hari berjalan tanpa arah, setelah kita pergi dari rumah, setelah nyokap gue dapat tamparan dan bekas lebam di matanya dari orang yang. . . dia bokap gue, walaupun dalam hati gue, ada rasa berontak ketika mencoba untuk mengakuinya, hari itu kita berjalan terus dan kadang berhenti sebentar untuk duduk di taman, halte, atau dimanapun tempat yang memungkinkan untuk seorang ibu menenangkan anak cewek dua tahunnya, dan anak cowok berumur tiga tahun yang terlalu kelelahan dan tak mengerti. Gue menangis keras di depan situ” Dante menunjuk arah, mataku mengikuti jarinya. Kutatap mukanya, raut muka Dante berubah sangat cepat, nggak ada lagi ekspresi konyol menyebalkannya, yang ada hanya wajah campuran kesedihan dan sebuah keseriusan “Gue ngeliat seorang anak seumuran gue lagi makan ice cream kayak gini” dia mengangkat sendok ice cream-nya, yang ice cream-nya sudah mulai meleleh “dan gue pengen banget, gue kehausan, dan gue hari itu cuma makan beberapa keping biscuit murahan, gue menangis sejadi-jadinya, tapi gue tetap nggak dapat ice cream yang ada nyokap gue malah nyeret gue, saat itu nggak cuma gue yang nangis Lola juga, nyokap juga, hari itu rasanya sangat panjang, gue ngerasain banget apa arti ketika loe pengen sesuatu tapi loe nggak bisa ngedapetinnya, dan itulah sebabnya kenapa gue sangat peduli, malah sebenarnya gue sangat marah ketika gue tau elo muntahin makanan yang bisa loe dapatin dengan mudah tapi loe sia-siain, sementara di luaran sana ada banyak orang yang harus menahan rasa laparnya.” Dante menatapku tajam, aku tak sanggup menatap matanya, entah ini perasaanku atau inilah kenyataannya, sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca, aku merasa berdosa. “Maaf…”

“Nggak ada yang perlu dimaafin, seenggaknya sekarang gue nggak lagi jadi bocah yang ngiler yang cuma bisa berdiri di depan sana, mama gue menikah lagi dengan pria yang baik, pria yang gue anggap ayah gue, sorry gue nggak maksud buat nyeritain kehidupan gue, tapi gue cuma pengen loe tau tentang apa artinya sebuah makanan, tentang apa artinya menghargainya, cuma itu, bukan maksud buat ngajarin loe.” “Thanks a lot.” Cuma itu yang bisa aku katakan, aku hanya tak menyangka bahwa cowok kayak Dante pernah mengalami hal yang menyedihkan di masa lalunya. “Boleh minta satu hal? gue mohon” pinta Dante, aku mengangguk “Temani gue ke pemakaman.” *** Aku pikir kita akan mengunjungi seseorang yang sudah wafat, tapi ternyata aku salah, Dante benar-benar tak bisa ditebak. Dia mengajakku melintasi deretan kuburan hingga ke suatu tempat yang menyisakan sedikit tempat kosong. Dia mengambil penggaris besi dari tasnya, dan mulai menggali tanah yang tak seberapa besar dan tak seberapa dalam, setelah “kuburan mini” itu jadi, dia mengeluarkan sebuah boneka Barbie, yang masih baru, aku melihat stiker harganya. “Ghie… anggap aja kita nguburin diri loe yang kayak putri plastik ini, gue emang nggak berhak, tapi gue pengen loe berjanji untuk berhenti mencoba jadi putri plastik lagi, loe mesti sembuh dari anorexia loe, demi seorang anak yang pernah merasakan kelaparan di masa lalu, demi orang-orang yang tidak bisa merasakan nikmatnya makanan walaupun mereka menginginkannya, dan demi diri loe sendiri, ini semua karena gue peduli, karena gue sayang sama loe” Kata-kata terakhirnya membuatku terkejut, Dante yang menyebalkan, Dante yang selalu membuatku kesal aku hanya… tak pernah menyangka. Aku meraih Barbie yang ada di tangannya, dan menguburkannya dengan tanganku sendiri, aku tak peduli dengan tanah yang akan mengotori tanganku. Aku belum yakin apa aku bisa berjanji tapi aku akan mencobanya, walaupun alasanku memuntahkan makanan bukan

karena aku ingin menjadi si gadis Barbie, tapi setidaknya aku berusaha untuk menghargai apa yang Dante lakukan untukku.

TUJUH Seperti halnya wabah, gossip mudah sekali menular! Memang dalam minggu ini aku selalu menghabiskan waktu sesudah sekolah dengan Dante, tapi ya ampun kita hanya akan siang biasa, lalu nongkrong lebih lama di sana karena… entah kenapa aku sudah ketagihan dengan Coffee Banana Split-nya, kita paling hanya ngobrol biasa, sesuatu yang ringan, setelah itu kami kembali ke sekolah, baiklah, yeah, aku menemani Dante latihan basket, memangnya itu salah? “Nggak mungkin loe mau nungguin seorang cowok latihan basket kalo diantara kalian nggak ada apa-apanya, loe jenis cewek yang nongkrongnya di butik dan salon bukannya di lapangan basket” cecar Niken, “Maksud gue …apa susahnya sih tinggal bilang kalo elo Dante udah jadian dengan begitu gue bisa ngajuin pertanyaan selanjutnya, just like… Did he kiss you? He kissed you, didn't he? Is he a good kisser?arrrghhht you’re totally the most boring person I know.”dia bicara cepat sambil berjalan masuk toilet. Ini jumat malam,dan sudah menjadi tradisi sejak kami berumur 11 tahun, Eve dan Niken nginap di rumahku, semacam pajamas party, tapi hanya Eve dan Niken yang menikmatinya, seperti biasa aku tak menikmati apapun, karena aku teralu sibuk dengan dunia yang ada dalam pikiranku, kadang aku merasa seperti penderita autis, mungkin Eve benar i’am totally the most boring person! “Ghie…boleh nanya sesuatu?” Niken ragu-ragu “Kalo soal Dante gue nggak mau jawab apapun!”jawabku ketus “Nggak Ghie…bukan, sebenarnya gue agak sungkan” aku tau Niken sengaja bertanya ketika Eve sedang sibuk di Toilet. “What?” “Tentang nyokap loe…nggak pernah sekalipun gue ngeliat dia, dia nggak pernah keluar kamar kalo ada kita disini” Niken setengah berbisik. Itu pertanyaan yang nggak bisa kujawab, mamaku hanya menghabiskan waktunya seharian di kamar, kadang-kadang dia melintas di depanku, dengan ekspresi datarnya dan dengan

segala macam usahanya untuk mengabaikan keberadaanku, dia…nyaris sepertiku,secara f isik. Pernah sekali waktu aku ingin berteriak kepadanya, mencoba menarik perhatiaannya supaya dia menyadari bahwa aku ada, di sini, tapi tak pernah kulakukan, karena aku terlalu takut, terlalu takut untuk di tolak. Aku pernah menanyakan pada Nanny tentang hal ini, tapi dia hanya berkata bahwa mamaku tersayang yang kutak tau apa dia pernah menyayangiku itu, hanyalah orang yang terlalu pendiam, tertutup, dan lemah,yeah, dia bahkan terlalu lemah untuk menyadari bahwa dia memiliki seorang putri, entah siapa yang sakit jiwa, aku, mamaku, atau nanny, aku tau ada sesuatu yang tak berjalan normal di dalam tembok rumah ini, suatu ketidakwajaran,akan lebih gampang bila aku berkesimpulan bahwa mamaku adalah seorang wanita vampire! “Gue rasa itu bukan urusan loe” dan Niken terdiam. Eve keluar dari toilet dan mulai lagi membahas tentang Dante. “Ghie, menurut gue Dante oke kok” “Terus?” “Kalian jadian kan?” “Gue nggak mungkin jadian ma orang yang jadi rival gue di pemilihan ketua OSIS, asal loe tau apapun gossip yang beredar di luaran sana, apapun yang mata kepala loe liat, apapun yang terjadi gue akan membiarkan kalian membuat kesimpulan sendiri, akan lebih baik jika itu menguntungkan gue, loe tau gue seperti apa, gue benci kekalahan melebihi apapun, gue orang yang kompeteitif, gue ambisius, dan gue adalah orang yang akan mendapatkan apapun yang gue inginkan, bagaimanapun caranya!” Dan seperti malam-malam Pajamas Party kita yang lalu-lalu, sisa malamnya hanya akan dinikmati dengan Eve dan Niken yang benar-benar tau cara memeriahkan suasana, dan aku hanya akan menikmati kekesalanku yang permanen.

Delapan Pertanyaannya adalah: “Dapatkah kamu membuat dirimu mencintai, dapatkah kamu membuat dirimu dicintai?” Ataukah “Pantaskah dirimu mencintai, pantaskah dirimu dicintai?” Dante bilang bahwa dia menyayangiku, tapi apa alasanya? Mengapa dan bagaimana bisa? itu terlalu sulit untukku mengerti, bukankah hal ini nggak lebih dari sekedar perubahan komposisi biokimia dalam tubuh dimana aktivitas berbagai hormon dan neurotransmitter memaksa Dante kehilangan nafsu makan, susah tidur dan lebih sering melamun? proses yang melibatkan si dopamine...yang juga bereaksi ketika seseorang minum kopi atau alkohol, si norepinefrin atau si adrenalin yang memaksa Dante berkeringat dan berdetak jantung cepat kayak yang dialami cowok-cowok bandel yang dihukum keliling lapangan gara-gara nggak ngerjain PR, juga si Serotonin yang kinerja menurun yang bikin si Dante jadi pengidap insomnia dadakan? Entahlah! Ataukah ini bisa dijelaskan secara lebih romantis seperi di kisah-kisah dongeng nggak masuk akal.Bila Dante merasakan hal itu, apa ingin menanyakakan pertanyaan yang sama pada diriku? Aku belum bisa menjawabnya, karena itulah pertanyaan yang juga pernah dipertanyakan Dante, sebuah pertanyaan yang masih kujadikan PR. Arrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhttttttttttttttt… aku merasa jadi makhluk irasional idiot payah, karena aku melakukan hal ini!aku mencoba menjawab pertanyaan- pertanyaan bodoh yang kudapat dari majalah remaja lama koleksiku, call me idiot! 1. Kamu melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri dia yang menarik untuk ditelusuri? Hmmmm aku suka melihatnya ketika dia makan ice cream vanilla favoritnya, sesekali dia menjilat bibirnya, sambil mengatakan bahwa dia selalu menganggap

bahwa makan ice cream vanilla itu adalah salah satu mimpinya yang menjadi kenyataan, aku juga suka menatap senyumnya dan pandangan matanya ketika di berhasil memasukan bola ke dalam ring, aku juga suka memperhatikan bagaimana bibirnya bergerak pelan dan khas ketika dia bicara, kadang dia mengatakan hal yang sangat konyol, tapi kadang apa yang dibicarakannya sangat menyentuh..kurasa jawaban untuk pertanyaan ini cuma kata YA, tapi apa yang kulakukan?aku mendeskripsikannya! 2. Merasa ada sesuatu yang menggelitik dari dalam diri kita Ini cuma ilusiku atau bukan tapi sekarang aku sering merasa kesemutan di sekujur tubuhku! 3. Suka senyum-senyum atau ketawa-ketawa sendiri nggak jelas Aku tertawa pelan di jam Sejarah, gara-gara aku ingat lelucon payah Dante tentang kumis Adolf Hitler! 4. Suka curi-curi pandang ke arah target Aku nyaris nggak bisa berkedip dan melepaskan pandangan dari Dante, tapi kadang aku terlalu takut untuk memandang matanya yang tajam dan sehitam malam, bulu matanya panjang dan indah dan yeah aku merasakan wajahku memanas ketika Dante memergokiku tengah menatapnya. 5. Kalo dia lagi ngeliat ke arah kita, jantung rasanya kayak mau copot Aku belum pernah mengalami jantung copot tapi rasanya yeah mungkin itulah rasa jantung copot, rasa yang nggak bisa kudeskripsikan yang terjadi di organ- organ dalam tubuhku! 6. Salah tingkah di depan dia Aku hanya pernah minum, minumannya alih-alih minumanku, menjatuhkan sendok ketika makan, dan tiba-tiba jatuh di lapangan basket, untuk yang terakhir,

kurasa itu karena gravitasi bumi sedang bermasalah, daya gravitasi mungkin tengah meningkat kuat. 7. Nggak sadar suka mempermalukan diri sendiri Kurasa jawabanku di pertanyaan nomor 6 sudah mewakilinya 8. Berkeliaran di dekat dia terusss Berkeliaran?oh…tidak, kita hanya melewati siang bareng dan itu bukan berkeliaran kurasa 9. Suka ngelamun dalam minggu ini, Ya…begitulah!aku nggak perlu menceritakan lamunanku kan? 10.Mengkhayal yang indah-indah tentang kamu dan dia Definisi indah yang bagaimana? Tidak termasuk kayak adegan ketika Prince Charming member ciuman yang menyadarkan si Aurora dari tidur panjangnya kan? Kadang aku ingin mencari mesin pemintal benang yang bisa membuatku tidur bertahun-tahun saat insomnia menyerangku! 11.Nggak nafsu makan Kapan aku punya nafsu makan?aku makan hanya untuk menghargai apa yang dilakukan Dante untukku, dia ingin menyembuhkan eating disorder-ku tapi sebaliknya dia malah memperparahnya, tapi kabar baiknya, aku mulai mengurangi ritual memasukan jari tengahku ke dalam tenggorokkan 12.Mendadak jadi insomnia alias susah tidur Ada yang bisa memberitahuku dimana aku bisa mendapatkan mesin pemintal berjarum yang bisa membuatku tidur panjang dan menjadi versi lain dari dongeng Sleeping Beauty?

13.Isi diarymu seputar dia, dia, dia, diaaaaa terusss Aku nggak punya diary, terakhir kali aku menulis diary pas aku umur 10 tahun 14.Sering dengerin lagu mellow yang liriknya about love melulu Aku sedang mendengarkan lagu lamanya Bon Jovy yang All About Loving You, itu adalah lagu favorit Dante 15.Jadi care sama penampilan dan berusaha tampil keren terus di depan dia Aku selalu berpenampilan yang menurut orang-orang “sweet and elegant” sejak dulu. 16.Seneng banget ngira-ngira lewat ramalan bintang Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menganggap ramalan bintang itu konyol, pagi tadi ramalan bintangku mengatakan…lebih baik aku nggak mengingatnya, karena itu bikin aku kayak orang yang memakai blush on berlebihan! 17.Bentar-bentar ngaca Cuma untuk bertanya : “oh my mirror, who in this land is fairest of all?” And my mirror always said: “You, my queen, are fairest of all”. 18.Nyari tahu segalanya tentang dia, termasuk no telpon neneknya Aku nggak selebay itu! 19.Deketin sobatnya, buka akses langsung ke dia Nggak juga, kehidupan sosialku sangat payah, aku bukan tipe orang yang akan menyapa dan mendekati orang lain, apalagi untuk mencari tau soal Dante, aku nggak punya otak Sherlock Holmes dalam mengumpulkan informasi. 20.Diam-2 motret dia pake HP terus kamu jadiin wallpaper Inilah wallpaperku

Tebaklah itu patung siapa? Patung itulah yang menjadi inspirasi dari nama orang yang sedang kupikirkan hingga aku mau repot-repot menjawab pertanyaan- pertanyaan konyol ini! 21.Hobi nulis-2 namanya di setiap lahan kosong yang bisa kamu coretin Aku nggak menulis namanya, tapi aku menulis 2 baris akhir puisi The Divine Comedy- nya Dante Alighieri (nama tokoh yang dijadiin patung di atas) dengan huruf kaligrafiku yang indah, tempat terakhir yang kutulisi adaah bagian belakang kertas ulangan Fisika-ku as in a wheel whose motion nothing jars - by the Love that moves the sun and other stars. 22.Pelototin foto dia terusss Nggak!aku cuma membolak-balik buku tahunanku doank dari tadi 23.Jadi ja’im berat kalo di deket dia Jaim?nggak!aku Cuma nggak pengen keliatan konyol 24.Badan semerbak mewangi sana sini tralala trilili Aku memakai Chanel no.5 25.Kalo dia negur, rasanya kayak kesetrum Di sengat listrik bukanlah rasa yang menyenangkan tapi belakangan ini aku sering mengalaminya (bukan secara harfiah) 26.Bela-belain bangun pagi buat bikin bekal untuk dikasih ke dia

Nggak! 27.Nyimpenin sms dari dia Aku nggak nyimpan, cuma belum menghapusnya 28.Setia nunggu dia nelpon meskipun dia nggak janji mau nelpon Nggak juga, tapi aku di telepon satu jam lalu 29.Sok jual mahal kalo dideketin, tapi kalo dia nggak ada kelabakan sendiri Nggak yakin 30.Meng-iya kan apapun maunya dia, biarpun kamunya nggak suka Buktinya aku mulai berhenti memainkan jari ditenggorokkan 31.Bilangnya cuma nganggep temen, padahal mau kesengsem berat Aku bilang ke Eve kayak gini “Gue nggak mungkin jadian ma orang yang jadi rival gue di pemilihan ketua OSIS, asal loe tau apapun gossip yang beredar di luaran sana, apapun yang mata kepala loe liat, apapun yang terjadi gue akan membiarkan kalian membuat kesimpulan sendiri, akan lebih baik jika itu menguntungkan gue, loe tau gue seperti apa, gue benci kekalahan melebihi apapun, gue orang yang kompetitif, gue ambisius, dan gue adalah orang yang akan mendapatkan apapun yang gue inginkan, bagaimanapun caranya!”apa aku terdengar kayak cewek munafik menyebalkan? 32.Pusing mikirin cara gimana ngajak dia nonton setelah sengaja beli tiket dua Nonton bareng?hmmm ide bagus 33.Rela nyisihin uang jajan untuk beli hadiah ulang tahun dia Belum kulakukan, tapi bisa kusimpan ide ini 34.Nyari kartu valentine paling romantis buat dia Val’s day masih berbulan-bulan lagi 35.Selalu memuji segala hal tentang dia

Belum kulakukan, pantangan buatku untuk memuji orang lain, entahlah apakah nantinya dia akan menjadi pengecualian! 36.Beli buku-buku psikologi tentang cinta dan dipraktekin satu-satu Aku punya koleksi buku-buku psikologi cinta itu, hanya saja aku yakin aku belum membacanya dan aku nggak yakin akan mempraktekkannya 37.Satu senyuman dari dia bikin kamu mengira-ngira seribu maknanya Mungkin saja 38.Rajin sms-in kabar dia Dia yang mengirimkanku banyak email dan SMS 39.Pura-pura minjem buku padahal kita nggak perlu buku itu Koleksi bukuku nyaris lengkap 40.Minjemin CD terbaru supaya kamu ada alasan buat ke rumah dia ngambil CD CD?sekarang udah 2011 bukan 2005 lagi (majalah Gadis edisi May tahun 2005, yeah ketika itu aku masih terlalu kecil untuk membaca majalah remaja, tapi buktinya majalah ini bermanfaat juga setelah 6 tahun) 41.Pas ketemu mata sama dia, muka serasa jadi kayak kepiting rebus Aku hanya merasa mirip Jeng Kelin, yang mukanya make blush on berlebihan 42.Mati-matian nyari topik supaya obrolanmu nggak bisa basi kalo lagi sama dia Aku lebih banyak diam 43.Mencatat semua tanggal ketemuan, isi obrolan, dan resume-nya di diary Aku sudah bilang kan?aku nggak punya diary! 44.Menyukai hal-hal yang dia sukai

Yeah, tiba-tiba aku menikmati pertandingan basket 45.Jadi teman yang baik dan penuh perhatian saat dia lagi punya masalah Dia yang berusaha membantuku menghadapi masalah 46.Nggak mempedulikan apapun kekurangan dia Kekurangan?seperti…?aku kesulitan mengingatnya, mungkin besok aku akan memperhatikannya dengan lebih seksama 47.Nggak bisa ngelupain dia sekalipun dia udah ngecewain berat Pertanyaan ini sudah terlalu jauh, aku belum sampai tahap ini 48.Bener-bener sedih kalo dia lagi nggak ada Belum sampai tahap ini 49.Jadi anak paling rajin yang pernah dia temui Pada dasarnya aku memang anak yang rajin, bahan pada awal semester aku sudah mengerjakan semua latihan soal yang ada di buku-buku pelajaranku. 50.Saat baca artikel ini, kamu jadi teringat pada seseorang. Pertanda kamu bener-bener lagi jatuh cinta!!! Aku sedang memikirkan orang yang namanya terinspirasi dari nama penyair Italia yang menulis puisi The Divine Comedi Ya Ampun aku merasa begitu konyol dan merasa seperti bukan diriku! Dan kalau seandainya Dante menyayangiku, apakah itu sebuah kebenaran,? Dante itu …hanya…dia orang lain! Oh, mood-ku hancur berantakan bila aku mengingatnya lagi, Mama, wanita yang seharusnya secara naluriah menyayangiku karena kami memiliki ikatan darah, bahkan tak bisa benar-benar menyayngiku, lalu Dante? Memikirkan ini seperti merusak segalanya!

Sembilan Dengan langkah ragu-ragu aku memasuki ruang ganti yang sepi, ada rasa bersalah yang memberatkan langkahku, seharusnya dua jam yang lalu, aku sudah duduk dibangku penonton dan meneriakkan dukungan untuk Tim basket sekolah yang dikapteni Dante, nyaris seminggu ini, aku duduk di bangku penonton menemaninya latihan setiap sore, aku baru saja merusak semuanya, aku tak memberikan dukungan padahal ini sebuah pertandingan yang penting untuknya, sebuah kemenangan yang akan diperjuangkan olehnya, bukan hanya untuk mengharumkan nama sekolah, bukan hanya untuk mengukuhkan kehebatannya dilapangan, tapi juga untuk satu alasan yang berbeda, alasan yang sangat berarti, tidak hanya untuknya, tapi juga buatku. Dante terlihat bosan dan kesal, berada di antara cewek-cewek Cheerleader genit yang mengerumuninya, mereka berdengung seperti kawanan lebah madu, mereka cekikikan dan menggoda dengan cara bermanja-manja, cewek-cewek centil itu berharapkan bisa menarik perhatian sang pahlawan lapangan, setidaknya mereka berharap bisa jadi orang yang akan dibawa Dante ke pesta kemenangan nanti malam, mereka langsung diam dan mulai bubar, ketika melihatku muncul di ruangan ganti, aku tau cewek-cewek itu akan membicarakanku setelah ini. Lama kami diam, hanya saling menatap, sampai Dante berinisiatif untuk memulai obrolan. “Elo janji mau nonton pertandingan basket” kata Dante datar, sambil mengikat tali sepatunya. “Sorry” “Gue pikir loe nggak bakal datang Ghie, loe nggak mau kan gue menangin pertandingan ini? loe nggak mau kan kalo gue menang terus kayak janji loe… hmmm oke gue ralat, awalnya ini hanya permintaan tolol gue, kalo gue menangin pertandingan basket ini, loe mau jadi cewek gue.” Dante terdengar kesal, dia bicara dalam nada sindiran yang tidak menyenangkan.

“Sekarang seandainya gue nerima elo, apa loe yakin elo bisa nerima gue?” aku bertanya tak tau harus bagaimana. “Seseorang harus bisa menerima dirinya dulu, baru bisa menerima orang lain, mungkin itu yang mesti loe lakuin Ghie, tapi menurut gue, menerima diri loe itu bukan hal sulit, elo itu adalah impian nyaris setiap cowok; cantik, pinter, berpresasi, berkarakter, menarik, elo hampir tanpa kekurangan, dan kelebihan-kelebihan elo yang mengintimidasi itulah yang bikin para cewek iri, gue mungkin bukan cowok favorite loe, hingga sulit buat elo untuk nerima gue jadi orang yang spesial, tapi gue mau nunggu kok, segala sesuatunya butuh proses kan?” “Elo nggak kenal gue!” “Gue mau belajar buat mengenal elo lebih jauh” “Dante, gue nggak sebaik yang elo pikirin” aku merasa frustasi, awalnya aku sudah berniat, untuk tidak datang ke pertandingan final basket antar SMA ini, aku terlalu takut untuk memenuhi janjiku, untuk menjadi pacarnya seandainya dia memenangkan pertandingan ini, tapi sebagian dari hatiku menginginkannya, aku ingin melihatnya di lapangan, memberinya semangat dari bangku penonton, tapi yang kulakukan hanyalah terlalu banyak berpikir dan menimbang, sehingga aku melewatkan pertandingan besar Dante dengan melamun di dalam mobil di parkiran, aku tidak siap dengan apa yang akan dikatakan oleh seisi sekolah, dengan gossip yang akan tersebar besok pagi. Kupikir aku terlambat, kupikir Dante akan pergi dan cepat-cepat meninggalkan ruang ganti seusai pertandingan sama seperti anak-anak tim basket yang lain, yang bersiap-siap untuk merayakan kemenangan mereka nanti malam, tapi aku pada akhirnya memberanikan diri untuk berjalan ke ruang ganti, aku berharap dia masih ada dan aku benar dia masih disini, belum meninggalkan ruangan ganti, tapi yang kutemui adalah Dante yang sedang di kerumuni cewek-cewek centil sekolah, ada sedikit rasa kesal dan cemburu ketika aku melihat Dante dengan cewek-cewek cheer itu, seandainya aku salah seorang dari mereka, tentunya takkan sesulit ini untuk menerima Dante. Dante mendekatiku, sepertinya dia siap dengan kemungkinan yang paling tidak menyenangkan, dia berdiri di depanku memegang bahuku dengan kedua tangannya, mencoba memberikan senyuman, tapi aku tau bahkan sebuah cengiran jailpun sulit untuk terbentuk di bibirnya sekarang, dia kecewa dengan apa yang kulakukan.

“Kalo loe nggak bisa nerima gue, seenggaknya sekarang loe bisa ngasih gue, yeah loe bisa bilang congrats atau semacamnya” Dante berusaha terdengar ceria. Aku menarik nafas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang akan kuputuskan ini adalah hal yang benar. “Gue mau jadi cewek elo, dan jangan minta gue untuk mengulang kalimat itu lagi” Dante melompat kegirangan dia kelihatan senang, lalu bagaimana denganku ? apa aku senang? Aku sendiri belum tau ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukkan karena aku belum begitu yakin, aku masih dibayangi tentang, bahkan mamapun yang seharusnya tanpa alasan sulit untuk mencintaiku, bagaimana mungkin bahwa Dante bisa melakukannya??? Tapi bolehkah sekarang aku sedikit berbahagia atau setidaknya biarkan aku, walau untuk sementara waktu untuk menjadi remaja normal yang tidak depresi, yang bisa menikmati cinta monyetnya?

Sepuluh “As my best friend, it is your duty not to lie to me.” Teriak Eve nyaring, untunglah ini toilet, dan tidak terlalu rame, sehabis upacara bendera dia dan Niken menyeretku kesini, menuntutku untuk mengaku. “Kalo ini masalah Dante, oke, gue bisa jelasin..tapi menurut elo siapa yang bisa merencanakan untuk jatuh cinta? Maksud gue semuanya berjalan begitu saja, kejadiannya begitu cepat, oke, gue juga masih belum percaya…ini aneh, tapi” “elo menikmatinya?” “what?” “Itu keliatan dari pipi loe yang blushing ma mata yang berbinar-binar, gue suka elo yang kayak gini, gue bête ngeliat elo yang kayak cewek-cewek protagonist teraniaya dalam sinetron- sinetron kejar tayang kacangan itu, oh Ghie, gue happy buat elo” Eve mencium kedua pipiku bergantian dengan berlebihan.”Well, elo nggak mau ngasi selamat ke Ghie atas terbebasnya dia dari penjara kesuraman?”Eve berbicara kepada Niken yang sedang menyibukkan diri dengan dandanannya. “Tentu saja, pastinya” Niken memberikan pelukan singkat dan senyuman kecil”reaksinya memang tidak seperti Eve yang selalu berlebihan. “Ceritakan tentang malam minggu kalian!” Eve sangat bersemangat. “Wait, tapi sebelumnya gue cuma mau bilang, gue seneng banget akhirnya elo punya seseorang untuk menemani malam minggu elo yang selalu kelabu tapi moga itu cuma malam minggu yang dulu- dulu, sejujurnya gue agak bête, sorry, kalo di tengah-tengah dating gue ma Banu, kadang elo nelpon gue buat nemani elo menikmati kesedihan loe, bukannya gue nggak ada pas temen gue butuh atau gue terpaksa melakukannya tapi gue nggak tau mesti berbuat apa, kadang itu menyiksa gue, membuat gue sedikit frustasi, ngeliat loe sedih bukanlah hal yang menyenangkan. Gue sayang banget ma loe Ghie, gue pengen semua hal terbaik jadi milik elo”

“Thank’s a lot sista” Aku memberinya pelukan hangat. “Gue bakal cerita tapi nggak sekarang, elo nggak budhek kan, bel udah menjerit sejak tadi” Aku diselamatkan oleh bel tanda masuk, thanks God, karena aku nggak harus cerita tentang banyak hal yang terlalu indah untuk jadi kenyataan, yang terjadi malam Minggu lalu, jadi aku berjalan cepat keluar toilet, yang disusul oleh Eve dan Niken, Eve kadang membuatku kesal dan sebal, tapi yeah dia menyenangkan, dia sangat tau cara bersenang-senang, dan agak tidak mengerti ketika seseorang dalam kondisi sedih, dia selalu ingin sesuatu itu berjalan seperti apa yang diinginkan, dia berbanding terbalik dengan Niken, sepertinya akan lebih baik kalo kita membicarakan Niken di lain kesempatan. *** Aku belum pernah merasakan kalo kelas begitu membosankan, bukan karena aku udah mempelajari dan mengetahui apa yang sedang guruku jelaskan di depan kelas, aku cuma ingin segera… aku malu mengakuinya, tapi baiklah aku ingin agar bel istirahat segera berdering, aku ingin bertemu Dante, yeah kita janjian buat ketemuan di sana istirahat nanti, Dante bilang dia punya sesuatu buatku, tapi entahlah apa itu, dia bilang kejutan, apa aku akan benar-benar terkejut?apa itu adalah kejutan yang menyenangkan?maksudku sebelumnya aku …tidak begitu suka kejutan. Saat bel berdering, aku segera keluar kelas sebelum Niken dan Eve menahanku, aku merasa seperti siswa bandel yang phobia kelas. Seperti biasa perpustakaan bukanlah tempat favorit siswa di jam istirahat, kebanyakan yang ada disini hanyalah kutu buku kuper, aku menyukai perpustakaan tapi perlu dicatat AKU BUKANLAH SI KUTU BUKU KUPER!!! Tiba-tiba ada suara jari dipetik hingga membentuk irama, yang kurasa aku tau irama ini, kedengarannya familiar. . . “Life is full of lots of up and downs But the distance feels further When it’s headed for the ground And there’s nothing more painful

Then to let your feelings take You down” Oh my God, ini lagu favoritku, A Shoulder to Cry On… satu persatu siswa yang kutak begitu kenal, tapi yang pasti mereka anak dari ekskul paduan suara, datang, mendekati mejaku, memberikan bunga mawar pink, yang juga favoritku, sambil menyanyikan lagu yang di populerkan oleh Tommy Page itu secara acapela “It’s so hard to know The way you feel inside When there’s many thoughts And feelings that you hide But you might feel better If you let me walk with you By your side And when you need A shoulder to cry on When you need A friend to rely on When the whole world is gone You won’t be alone ‘ cause I’ll be there I’ll be your shoulder to cry on I’ll be there I’ll be your friend to rely on When the whole world’s gone You won’t be alone ’cause I’ll be there All of the times When everything is wrong And your feeling like There’s no use going on You can’t give it up I’ll help you work it out And carry on Side by side With you till the end I’ll always be the one To firmly hold your hand No matter what is said or done Our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on Everyone needs a friend to rely on When the whole world’s gone, you won’t be alone ’cause I’ll be there I’ll be your shoulder to cry on I’ll be there I’ll be your friend to rely one When the whole world’s gone, you wont be alone ’cause I’ll be there You’ll have my shoulder to cry on I’ll be there I’ll be the one to rely on When the whole world’s gone, you won’t be alone ’cause I’ll be there Sampai akhirnya, Dante datang dan menyelesaikan ending-nya, ya ampun suara fals-nya menghancurkan bagian yang seharusnya menjadi indah ini. “And when the whole world is gone You’ll always have my shoulder to cry on” Aku merasa sangat terharu dengan kejutan ini, lagu ini bermakna besar buatku, yeah aku senang dan sangat berharap bahwa Dante akan selalu bersedia memberikan pundaknya untuk kutangisi, tempatku menumpahkan sedih. Ini sangat berarti buatku ini bukan hanya sebuah lagu, tapi aku ingin berharap bahwa ini adalah sebuah janji? Dante mendekatku, memberikan senyum jailnya yang konyol tapi sangat kusukai, entahlah aku bahkan menyukai senyum konyol yang dulunya sangat kubenci. “Konyol, dasar plagiat!” aku pura-pura marah dan meninju bahunya “Kupikir aku harusnya mendapat ucapan terima kasih bukannya tinjuan, sakit tau!” Aku tau dia pura-pura kesakitan, senang rasanya mendengarnya tak lagi memanggilku dengan elo. “Elo nyuri ide ini dari film Sidney White, kan????”tuntutku

“Hahahahaha ketauan” dia mengacak-acak rambutku “Aku cuma mencoba untuk bertindak romantis, salahkah?” “Nggak sih, cuma lain kali harusnya…yeah sesuatu yang original” “Seperti apa misalnya???” “Entahlah. . .mungkin sesuatu yang benar-benar ingin kamu lakuin buat aku” aku berkata pelan, dan berharap akan mendapatkan sesuatu yang istimewa di kesempatan lainnya. Dante tersenyum dan mengangguk, dia terlihat seperti tokoh komik Jepang, mau tak mau aku tertawa kecil. “Hey guys, thanks buat bantuannya, boleh nggak sekarang kalian bubar aja”Kata Dante tak sabaran, satu persatu dari mereka bubar dengan bersungut-sungut, sepertinya ucapan terima kasih aja nggak cukup buat mereka. “Iye…urusan yang gue bilang tadi belakangan, oke? gue pengen pacaran ma cewek gue dulu neh” katanya dengan cuek, dasar Dante! Setelah anak-anak paduan suara bubar, aku mulai bicara “Makasih ya…itu lagu favoritku, artinya dalam banget buat aku…”aku nyaris tak bisa berkata-kata di bagian ini, apalagi ketika aku menatap mata Dante yang membuatku… aku tak bisa mendeskripsikan perasaan ini “You’ll always have my shoulder to cry on, baby, I promise” dia menggengam tanganku dan aku meyakini apa yang dikatannya, saat ini aku benar-benar yakin, bahwa aku punya seseorang sekarang, seseorang yang berarti, yang bisa kuandalkan saat aku sedih, aku benar- benar berterima kasih untuk hal ini, aku berterima kasih atas anugerah ini.

Sepuluh Di tengah euphoria, kisah cinta pertamaku, aku merasa agak sedikit kehilangan arah untuk ambisiku meraih posisi ketua OSIS, ini berbahaya!aku teringat akan pernyataan tanpa rasa bersalahku, pernyataan yang keluar begitu saja dari mulutku tanpa sempat diolah oleh otakku, entah kenapa, aku melakukannya, maksudku, aku bukanlah tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dahulu, aku selalu mempertimbangkan apapun, untuk kasus ini, sepertinya…oke, itu adalah sebuah pengelakan, yeah aku melakukannya karena aku belum menyadari bahwa aku menyukai Dante… “Gue nggak mungkin jadian ma orang yang jadi rival gue di pemilihan ketua OSIS, asal loe tau apapun gossip yang beredar di luaran sana, apapun yang mata kepala loe liat, apapun yang terjadi gue akan membiarkan kalian membuat kesimpulan sendiri, akan lebih baik jika itu menguntungkan gue, loe tau gue seperti apa, gue benci kekalahan melebihi apapun, gue orang yang kompetitif, gue ambisius, dan gue adalah orang yang akan mendapatkan apapun yang gue inginkan, bagaimanapun caranya!” Aku kembali teringat akan kata-kata yang terasa sangat jahat itu lagi, aku memanfaatkan Dante dan perasaannya untuk tujuan dan ambisiku, tapi aku tau itu hanya sebatas elakan…perkataan yang cuma diolah lidahku. Malam ini aku menghabiskan waktu dengan Eve di Coffee Shop favorite kami, sambil ngobrol dan ngutak-ngatik netbook dan berselancar di dunia maya, sayangnya malam ini, kita hanya berdua, tanpa Niken yang nyaris tak pernah absent dari tradisi nongrong bareng senin malam kami, tapi akhir-akhir ini dia punya kesibukan lain. “Ghie…apa rencana elo, untuk narik simpati anak-anak buat milih elo di pemilihan nanti?” Eve bertanya dengan antusias “sorry …tapi rasanya belakangan ini waktu elo tersita cuma buat Dante dan Dante, bukannya gue…”Eve menatapku, aku tau dia ragu-ragu untuk mengungkapkannya “maksud gue, gue cuma perlu ingetin loe, belakangan ini, kita mulai kehilangan antusiasme, cuma itu.” Dia tersenyum kaku.

“Gue inget kok tentang program-program kita, tapi akhir-akhir ini Niken jarang bareng kita, alasannya banyak, katanya dia sibuk latian bareng anak-anak marching band, oke gue tau dia mayoret sekolah, tapi dulu-dulu latiannya nggak kayak sekarang, tiap hari, padahal ini nggak bertepatan dengan hari besar dimana anak marching band ikut ambil bagian. Dia calon wakil gue! Oke gue akui gue agak kehilangan antusias, tapi herannya gue ngerasa bahwa ada orang yang bahkan udah mengubur antusiasmenya!” “Niken punya kesibukan lain yang nggak melibatkan kita, gue rasa ada yang aneh” Eve menambahkan, “sebenarnya gue mau bilang tentang ini, tapi gue nggak mau ngerusak kebahagiaan elo dengan sang pangeran Dante yang mempesona, tapi kalo gini caranya…Ghie…elo nggak bakalan ngalah untuk Dante kan?” “Hahaha…gue ma dia pacaran, oke, tapi untuk hal ini kita tetap rival” “Gue khawatir. . . elo ngebiarin diri elo jatuh terlalu dalam ….gue happy dengan hubungan elo dengan Dante, dan rasanya juga nggak mungkin kalo Dante manfaatin elo, tapi elo kudu ngambil langkah bijak, jangan jadiin kecintaan elo ke Dante sebagai boomerang yang akan balik buat ngehancurin elo, gue percaya elo nggak bego Ghie.” “Hmmmm…ada gosip apa di sekolah hari ini ?“aku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Buletin sekolah ngebahas tentang persaingan perebutan posisi ketua OSIS yang berubah jadi kisah cinta, ini mah basi, gue tau versi aslinya, hehehe…yang jadi hot topic sih, tentang cowok baru di kelas XII, namanya Gazka, dia baru masuk pagi tadi dan sebagian besar cewek di sekolah sudah jatuh cinta padanya, memberinya gelar Prince Charming, dan kayaknya dia udah punya fans club,,,hahaha konyol!”Eve sibuk membaca gossip di blog sekolah, “Oh My God Ghie!” Eve memutar netbooknya dan memperlihatkanku apa yang baru saja dibacanya. Brighietha yang dalam propagandanya untuk merebut hati dan suara siswa baru beberapa minggu lalu, sepertinya mulai kemakan isi pidatonya, apakah sebagian dari kita masih ingat potongan omong kosong ini? “katakan selamat tinggal buat pikiran menjadi cewek keren itu berarti kamu harus menjadi seorang putri plastik, kalian hidup di dunia nyata, kalian tau siapa kalian, kalian bukanlah Barbie idiot yang tanpa otak”

Barbie idiot tanpa otak!oke, Ghie adalah cewek yang cantik, dia emang bukan versi dumb blonde bermata biru, yang pasti dia punya otak mengingat sumbangannnya untuk deretan tropi yang dipamerin pihak sekolah di lobi depan. Yang ingin dibahas disini adalah,yeah Barbie!siapa yang nggak kenal dan iri dan tak merasa terintimidasi dengan postur Barbie yang mengagumkan (ini cuma berlaku buat cewek!cowok suka menikmatinya, yeah! ) dan yang dilakukan panutan kita tersayang (atau tadinya begitu) adalah memuntahkan makan siangnya, dan entah sarapan dan makan malamnya juga di toilet, RITE!Ghie adalah penderita ANOREXIA NERVOSA!!!! (nggak heran bodinya kayak Twiggy di belah dua, nggak heran dia pingsan di upacara, nggak heran dia begitu sering tongkrongin toilet) well ya…mungkin kita bisa sama-sama memprediksi elakan Ghie atas “penderitaannnya” yang mulai tercium ini, “I’m naturally skinny”seperti elakan Keyra, Mary Kate, dan nggak tau berapa banyak cewek yang nggak menyadari betapa tidak berterima kasihnya mereka atas anugerah makanan yang bisa mereka nikmati, seandainya mereka sadar bahwa anak-anak di Negara-negara dunia ketiga begitu kelaparan…Oh Ghie, size zero is not hero! Eve menatapku lama, jenis tatapan yang membutuhkan penjelasan, aku nggak tau harus menjawab apa, ini tak bisa dijelaskan dengan mudah, apapun yang akan kukatakan rasanya percuma, mengelak takkan pernah ada gunanya, mengakuinya akan sangat berbahaya, mengatakan kebenaran adalah sesuatu yang takkan mungkin aku lalukan. “Ghie…” “Elo kecewa ma gue?” Eve menatapku, ada campuran kesedihan dan kekhawatiran, dia meraihku dan memelukku lama. “Elo butuh terapi!” “Thanks, karena elo nggak menghakimi gue…” “Nggak ada satupun orang yang suka dihakimi, semua orang hanya ingin dimengerti Ghie”

“dan gue minta waktu buat elo untuk bisa mengerti, gue nggak bakal bisa cerita sekarang dan gue juga nggak yakin apakah gue sanggup buat cerita di waktu lainnya…”aku merasakan air mataku akan tumpah, ada rasa yang menyakitkan, ketika aku menyadari bahwa ada pengkhianatan di balik hal ini, Dante ada di daftar pertama orang yang kucurigai. *** Segalanya tak berjalan dengan begitu baik sekarang, aku perlu waktu untuk menjauh dari Dante, semalam aku tak mengangkat telponnya, aku memutar jalan menghindarinya ketika aku melihat dia menungguku di kelas, aku berakhir di toilet sekolah, bersembunyi, entah dari Dante entah dari tatapan penuh tuduhan anak-anak satu sekolahan! “Ghie gue tau elo di dalam, gue mau ngomong” aku mendengar teriakan Eve dari balik pintu. Aku enggan untuk menjawab “Jangan bego! Nongkrong disini seharian cuma makin benerin gossip yang beredar!” Aku membuka pintu dan kulihat Eve, yang bersiap-siap mendobrak pintu. “Sorry…” “Dipersilahkan kepada siswa yang bernama Brigietha Rara Nanthana, untuk menemui kepala sekolah sekarang, terima kasih” Terdengar sebuah panggilan untukku dari pengeras suara, aku rasa ini bukan hal yang menyenangkan, “Ghie…are you oke?”ada tatapan khawatir di mata Eve, “perlu gue temenin? “No, Thanks” aku menggenggam tangannya sesaat, mencoba untuk membuat Eve yakin bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa aku mampu menghada

Add a comment

Related presentations

Related pages

NOVEL- NOVEL | This is for hottest ^^

PutriBerdarahUngu_TheHalfBloodPrincess_ REFRAIN. REMEMBER WHEN. LOVASKET: luna torashyngu – lova sket. Lovasket 2 ac-zzz. Lovasket 3. D’ANGEL. d ...
Read more

Teks Pidato Kemerdekaan - Ebooksview.org

PutriBerdarahUngu_TheHalfBloodPrincess - This is for hottest. gue heran sebenarnya apa yang loe omongin di depan sana? pidato penyambutan sekalian ...
Read more