Perkembangan moral dan spiritual peserta didik

0 %
100 %
Information about Perkembangan moral dan spiritual peserta didik

Published on November 1, 2018

Author: bilqis123

Source: slideshare.net

1. Perkembangan Moral Dan Spiritual Peserta Didik A. Perkembangan Moral Sebelum masuk pada proses mengembangkan moral anak, maka sebelumnya harus dikenal pengertian moral itu sendiri, para cendekiawan dan peneliti banyak merumuskan pengertian-pengertian moral, diantaranya : 1. Istilah moral berasa dari kata latin mos (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral (Nisa Zahrah, 2012:116). 2. Moral adalah ajaran tentang baik burukperbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Sunarto dan Agung Hartono, 2008:169). 3. Menurut pandangan ahli filsafat, etika memandang tingkah laku perbuatan manusia secara universal (umum), sedangkan moral secara local. Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu. Abu ‘Ala al-Mududi dalam bukunya Ethnical Viewpoint of Islam, memberikan garis terang antara moral Islam dengan moral sekuler. Moral Isloam bersumber pada bimbingan dan petunjuk Alloh dalam Al-Quran dan hadits rasul-Nya. Sedangkan moral sekuler bersumber dari pikiran dan prasangka manusia yang beragam (Heri Gunawan, 2012:19). Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat poteni moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui penglamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orangtua, saudara, teman sebaya atau guru), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

2. B. Teori Psikoanalisa tentang Perkembangan Moral Dalam menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dangan pembagian struktur kepribadian manusia atas tiga, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek biologis yang irasional dan tidak disadari. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek psikologi, yaitu subsistem ego yang yang rasional dan disadari, namun tidak memiliki moralitas. Superego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek social yang berisikan system nilai dan moral, yang benar-benar memperhitungkan “benar” atau “salahnya” sesuatu. Superego ini mempunyai dua komponen, yaitu ego ideal kata hati (conscience). Kata hati menggambarkan bagian dalam atau kehidupan mental seseorang, peraturan- peraturan masyarakat, hukum, kode etik, dan moral. Pada usia kira-kira 5 tahun perkembangan superego secara khas akan menjadi sempurna. Ketika hal ini terjadi, maka suara hati terbentuk. Ini berarti bahwa usia sekitar 5 tahun orang sudah menyelesaikan pengembangan moralnya. (Lerner & hultsch, 1983). C. Teori belajar-Sosial tentang Perkembangan Moral Teori belajar social melihat tingkah laku moral sebagai respons atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan digunakn untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak. Bila anak diberi hadiah atas perilaku yang sesuai dengan aturan dan kontrak social, mereka akan mengulangi perilaku tersebut. Sebaliknya, bila mereka dihukum atas perilaku yang tidak bermoral, maka perilaku itu akan berkurang atau hilang. D. Teori Kognitif Piaget tentang Perkembangan Moral Teori kognitif Piaget mengenai pengembangan moral melibatkan prinsip- prinsip dan proses-proses yang sama dengan pertumbungan kognitif yang ditemuai dalam teorinya tentang perkembangan intelektual. Bagi Piaget, perkembangan moral digambanrkan melalui aturan permainan. Karena itu, hakikat moralitas adalah kecenderungan untuk menerima dan menaati system peraturan. Berdasarkan hasil observasinya terhadap aturan-aturan permainan anak-anak tentang moralitas dapat

3. dibedakan atas dua tahap, yaitu tahap heteronomous morality dan autonomousmorality (Siefert & Hoffnung, 1994). Heteronomous morality atau morality of constraint ialah tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak usia kira-kira 6 hingga 9 tahun. Dalam tahap berfikir ini, anak-anak menghormati ketentuan-ketentuan suatu permainan sebagai sesuatu yang bersifat suci dan tidak dapat dirubah, karena berasal dari otoritas yang dihormatinya. Anak-anak pada masa ini yakin akan keadilan immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar, hukuman akan segera dijatuhkan. Mereka percaya bahwa pelanggaran diasosiasikan secara otomatis dengan hukuman, dan setiap pelanggaran akan dihukum menurut tingkat kesalahan yang dilakukan seorang anak dengan mengabaikan apakah kesalahan itu disengaja atau kebetulan Automous morality atau morality of cooperation ialah tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak usia kira-kira 9 hingga 12 tahun. Pada tahap ini anak mulai sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum merupakan ciptaan manusia dan dalam menerapkan suatu hukuaman atas suatu tindakan harus tindakan harus memepertimbangkan maksud pelaku serta akibat-akibatnya. Bagi anak-anak dalam tahap ini, peraturan-peraturan hanyalah masalah kenyamanan dan kontrak social yang telah disetujui bersama, sehingga mereka menerima dan mengakui perubahan menurut kesepakatan. Dalam tahap ini, anak juga meninggalkan penghormatan sepihak kepada otoritas dan mengembangkan penghormatan kepada teman sebyanya. Mereka Nampak membandel kepada otoritas, serta lebih menaati peraturan kelompok sebaya atau pimpinannya. E. Teori Kohlberg tentang Perkembangan Moral Teori Kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluas, modifikasi, dan redefeni atas teori Piaget. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil wawancara dengan anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yang dihadapkan pada suatu dilemma moral, di mana mereka harus memilih antara tindakan menaati peraturan ataumemenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan peraturan.

4. Berdasarkan pertimbangan yang diberikan atas pertanyaan kasus dilematis yang dihadapi seseorang, Kohlberg mengklasifikasikan perkembangan moral atas tiga tingkatan (level), yang kemudian dibagi lagi menjadi enam tahap (stage). Tabel Tahap-Tahap Pengambilan Perspektif Tahap Pengambilan Perspektif Usia Deskripsi Perspektif yang egosentris Pengambilan Perspektif sosial internasional 3-6 6-8 Anak merasakan adanya perbedaan dengan orang lain, tetapi belum mampu membedakan antara perspektif social (pemikiran, perasaan) orang lain dan perspektif diri sendiri. Anak dapat menyebutkan perasaan orang lain, tetapi tidak melihat hubungan sebab dan akibat pemikiran dan tindakan social. Anak sadar bahwa orang lain memiliki suatu perspektif sosial yang didasarkan atas pemikiran orang itu, yang mungkin sama atau berbeda dengan pemikirannya. Tetapi, anak cenderung berfokus pada

5. Pengambilan keputusan diri refleksi Saling mengambil perspektif 8-10 10-12 perspektif sendiri dan bukan mengkoordinasikan sudut pandang. Anak sadar bahwa setiap orang sadar akan perspektif orang lain dan bahwa kesadaran ini memengaruhi pendangan diri sendiri di tempat orang lain merupakan suatu cara untuk menilai maksud, tujuan, da tindakan orang lain. Anak dapat membentuk suatu mata rantai perspektif yang terkoodinasi, tetapi tidak dapat mengabstraksikan proses-proses ini pada tingkat timbale balik secara serentak. Anak remaja menyadari bahwa baik diri sendiri maupun orang lain dapat memandang satu sama lain secara timbal balik dan secara serentak sebagai

6. Pengambilan perspektif sistem sosial dan konvensi 12-15 subjek. Anak remaja dapat melangkah ke luar dari kedua orang itu dan memandang interaksi dari perspektif orang ketiga. Anak remaja menyadari pengambilan perspektif bersama tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sempurna. Konvensi sosial dilihat sebgai sesuatu yang penting karena dipahami oleh semua anggota kelompok, tanpa memandang posisi, peran, atau pengalam mereka. Kohlgerb setuju dengan Piaget yang menjelaskan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari pengalaman. Tetapi, tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan dari anak-anak. Anak-anak memang berkembang melalui interaksi sosial, namun interaksi ini memiliki corak khusus, di mana faktor pribadiyaitu aktivitas-aktivitas anak ikut berperan. Semakin tinggi tahap perkembangan moral seseorang, akan semakin terlihat moralitas yang lebih mantap dan bertanggung jawab dari perbuatan-perbuatannya. Table dan Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg

7. Tingkat Tahap 1. Prakonvensional Moralitas Pada level ini anak mengenal moralitas berdasarkan dampak yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan, yaitu menyenangkan (hadiah) atau menyakitkan (hukuman). Anak tidak melanggar aturan karena takut akan ancama hukuman dari otoritas. 2. Konvensional Suatu perbuatan dinilai baik oleh anak apabila mematuhi harapan otoritas atau kelompok sebaya. 3. Pasca Konvensional Pada level ini aturan dan intuisi dari masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan akhir; tetapidiperlukan sebgai subjek. Anak menaati aturan untuk menghindari aturan untuk menghindari hukuman kata hati. 1. Orientasi Kepatuhan dan Hukuman Pemahamp aturan adalah anak tentang baik dan buruk ditentukan oleh otoritas. Kepatuhan terhadap aturan adalah untuk menghindari hukuman dari otoritas. 2. Orientasi hedonistic- instrumental suatu perbuatan dinilai baik apabila berfungsi sebagai instrument untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan diri. 3. Orientasi anak yang baik tindakan berorientasikan pada orang lain. Suatu perbuatan dinilai baik apabila menyenangkan bagi orang lain.

8. 4. Orientasi keteraturan dan otoritas perilaku yang dinilai baik adalah menunaikan kewajiban, menghormati otoritas, dan memelihara ketertiban sosial. 5. Orientasi kontrol sosial-legalistik ada semacam perjanjian antara dirinya dan lingkungan sosial. Perbuatan diniali baik apabila sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku. 6. Orientasi kata hari kebenaran ditentukan oleh kata hati, sesuai dengan prinsip-prinsip etika universal yang bersifat abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia. Sumber: Lerner & Hultsch, 1983; Hetherington & Parke, 1979 Dra. Desmita, M.Si., Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) hlm 258-262.

9. F. Implikasi Pengembangan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan Ada individu yang tahu tentang suatu nilai, tetapi hanya menjadi pengetahuan belaka. Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan, sehingga kita dihadapkan pada masalah pentingnya pembinaan. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menegmbangkan nilai, moral, dan sikap remaja adalah sebagai berikut. a. Menciptakan hubungan komunikasi Komunikasi didahului oleh pemberian informasi tentang niali dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa bagaimana harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral, tetapi ia harus dirangsanag agar lebih aktif. Hendaknya ada uapaya untuk mengikutsertakan remaja dalam pembicaraan dan pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut secara aktif dalam penentuan maupun keputusan kelompok. Kita mengetahui bahwa nilai-nilai hidup yang dipelajari memerlukan satu kesempatan untuk diterima dan diresapkan sebelum menjadi bagian dari tingkah laku seseorang. Diketahui pula bahwa nilai-nilai hidup yang dipelajari baru akan berkembang bila telah dikaitkan dalam konteks kehidupan bersama. b. Menciptakan iklim lingkungan yang serasi Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai hidup orangtua dan orang dewasa lainnya. Ini tidak berarti mengurangi kebutuhan mereka akan suatu system nilai yang tetap dan member rasa aman kepada mereka. Mereka tetap menginginkan suatu sistem nilai yang akan menjadi pegangan bagi perilaku mereka. Oleh karena i tu, orangtua dan guru serta orang dewasa lainnya perlu member model-model atau contoh perilaku yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang berlaku dan diperjuangkan.

10. PENUTUP Tahapan perkembangan moral anak berada pada tahap perilaku baik apabila dapat saling memberi dengan orang lain menuju tahap pertimbangan baik berdasarkan opini teman sebaya dan atas dasar hukum dan perintah. Anak membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan ketidaktergantungan dan tanggung jawab sebagai aktualisasi kemampuan mengontrol diri dari orang dewasa. Dengan mengucapkan Alhamdulillah, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini disertai harapan semoga dicatat sebagai amal shaleh dan bermanfaat bagi siapa saja yang mengharap ridha Allah dengan membaca dan menghayati kandungan makalah ini. Atas perhatian pembaca kami mengucapkan terimakasih.

11. DAFTAR PUSTAKA Fatimah, Enung. Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) hlm 126-128. Padmonodewo, Soemiarti. Pendidikan Anak Prasekolah. (Jakarta: PT. Rineka Cipta). 2003 Riksa Y, Yusi. Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia). 2009 Sunarto. Hartono, Agung. Perkembangan Peserta Didik. (Jakarta: PT Rineka Cipta). 2008

Add a comment