pengaruh obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap terhadap kadar asam urat

0 %
100 %
Information about pengaruh obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap terhadap kadar...
Health & Medicine

Published on February 19, 2014

Author: adifibnuradi

Source: slideshare.net

CONTINUING MEDICAL PENELITIAN HASIL EDUCATION Pengaruh Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap terhadap Kadar Asam Urat Diana, AMC Karema-K*, JC Matheos** *Divisi Rematologi, ** Divisi Pulmonologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/BLU RSUP Prof. Dr. RD Kandou, Manado, Indonesia ABSTRAK Pengobatan TB dengan obat antituberkulosis (OAT) utama meliputi Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol dan Streptomisin. Pirazinamid bersifat tuberkulostatik dan dapat menyebabkan hiperurisemia karena metabolitnya (asam pirazinoat) dapat mengurangi sekresi asam urat melalui ginjal. Penelitian retrospektif di RSUP Manado tahun 1995 dari 968 pasien menemukan 23,14% hiperurisemia, 25,9% di antaranya asimptomatis. Di Minahasa, Sulawesi Utara (1999) hiperurisemia pada dewasa muda 34,3% pada pria dan 23,31% pada wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengobatan TB paru dengan OAT – Kombinasi Dosis Tetap (KDT) terhadap kadar asam urat serum pada pasien TB di BLU RSUP Prof. Dr. RD. Kandou Manado dengan cara pengambilan sampel konsekutif. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design - time series experiments. Data kadar asam urat serum dikumpulkan pada minggu ke-0, minggu ke-4, minggu ke-8, minggu ke-12. Analisis statistik dengan uji Shapiro - Wilk untuk uji distribusi data dan uji komparasi dengan uji T- berpasangan. Hasilnya memperlihatkan bahwa selama 6 bulan didapatkan 41 pasien tuberkulosis terdiri dari 24 pria dan 17 wanita. Rerata kadar asam urat sebelum pengobatan OAT-KDT 5,01 (CI [Confidence Interval] 2,6-6,9); rerata minggu ke-4 10,58 (5,7-18,7); rerata minggu ke-8 10,55 (6,1-16,3) dan rerata sesudah fase intensif 6,31 (3,3-10,1). Kadar asam urat meningkat bermakna dari minggu ke-0 dengan minggu ke-4 (p < 0,05). Sedangkan kadar asam urat minggu ke-4 dan minggu ke-8 tidak berbeda bermakna (p > 0,05). Penurunan asam urat dari minggu ke-8 dan minggu ke-12 adalah bermakna (p < 0,05). Simpulannya, terjadi peningkatan asam urat serum pada fase intensif, terutama minggu ke-4 dan relatif menetap pada minggu ke-8, serta terjadi penurunan asam urat serum setelah masuk fase lanjutan, minggu ke-12 walaupun belum kembali ke kadar sebelum pengobatan. Kata kunci: TB paru, OAT-KDT, asam urat ABSTRACT Oral antituberculosis drugs (OAT) for tuberculosis treatment include Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, Ethambutol and Streptomycin. Pyrazinamide is tuberculostatic and can lead to hyperuricemia because its metabolite (pirazinoic acid) may reduce the secretion of uric acid through kidneys. A retrospective study in Manado in 1995 found hyperuricemia in 23.14% among 968 patients, 25.9% asymptomatic. This study was aimed to determine the effect of OAT – Fixed Dose Combination (FDC) treatment on serum uric acid levels. The study was conducted in the Pulmonology Department, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado by consecutive sampling. This study is a quasi-experimental research design - experiments time series. Data collected included serum uric acid levels at week 0, week 4, week 8, week 12. Statistical analysis was performed. The result showed that during 6 months there were 41 tuberculosis patients consisted of 24 men and 17 women. Average uric acid levels before OAT - FDC treatment was 5.0098 (2.6 to 6.9), after fourth week was 10.5707 (5.7 to 18.7), while after eighth week was 10.5488 (6.1 to 16.3). Average uric acid levels after the intensive phase was 6.3098 (3.3 to 10.1). A significant increase of uric acid from week zero to week four was found (p <0.05), while the increase between the fourth week and eighth week was not significant (p>0.05). Decrease from the eighth week and twelfth week was significant (p <0.05). As conclusion, serum uric acid was increased in the intensive phase, especially in the fourth week and relatively persistent in the eighth week, and serum uric acid was decreased after twelve weeks, although not to its former levels prior to treatment. Diana, AMC Karema-K, JC Matheos. Effect of Oral Anti Tuberculosis Drugs – Fixed Dose Combination on Uric Acid Level. Key words: pulmonary TB, OAT FDC, uric acid serum LATAR BELAKANG Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, dapat menyerang berbagai organ seperti paru, pleura, usus, otak, kulit, kelenjar dan sebagainya. Pengobatan TB dengan obat Alamat korespondensi antituberkulosis (OAT) utama meliputi Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol, dan Streptomisin.1 Pirazinamid bersifat tuberkulostatik dan dapat menyebabkan hiperurisemia karena metabolitnya (asam pirazinoat) dapat mengurangi sekresi asam urat melalui ginjal.2 Penelitian retrospektif di RSUP Manado tahun 1995 pada 968 pasien menemukan 23,14% hiperurisemia, 25,9% di antaranya asimtomatis.4 Rotty dan Karema (1999) di Minahasa, Sulawesi Utara mendapatkan hiperurisemia pada usia email: diana_tjan@yahoo.com CDK-205/ vol. 40 no. 6, th. 2013 413

HASIL PENELITIAN Tabel 1 Karakteristik sampel penelitian n Umur(tahun) Min 41 18 Maks 60 Rerata ± SD 38,07 ± 14,056 Lingkar Pinggang(cm) 41 58 85 69,88 ± 7,315 IMT(kg/m2) 41 14,53 23,73 19,29 ± 2,239 41 12,3 16,3 13,71 ± 1,087 91,89 ± 19,387 Hb(mg/dL) 2 LFG(mL/mnt/1,73m ) 41 60,71 134,25 GDP(mg/dL) 41 71 99 85,88 ± 8,462 GD2PP(mg/dL) 41 88 135 104,49 ± 11,485 SGOT(U/L) 41 13 33 22,63 ± 6,007 SGPT(U/L) 41 6 42 19,98 ± 9,832 Albumin(g/dL) 41 2,8 4,9 4,05 ± 0,465 Kolesterol Total(mg/dL) 41 117 199 159,22 ± 26,21 Kol LDL(mg/dL) 41 65 147 102,07 ± 23,212 Kol HDL(mg/dL) 41 24 71 40,24 ± 11,128 Trigliserida(mg/dL) 41 58 144 93,07 ± 23,50 Asam Urat(mg/dL) 41 2,6 6,9 5,01 ± 1,273 Sistolik(mmHg) 41 100 120 104,63 ± 6,363 41 60 80 66,59 ± 6,168 Diastolik(mmHg) SD: Standard Deviation Tabel 2 Perbandingan kadar asam urat sampel Kadar asam urat serum p p (pria) p (wanita) p (<40 thn) p (>40 thn) Minggu ke-0 : ke-4 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Minggu ke-0 : ke-8 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Minggu ke-0 : ke-12 0,000 0,000 0,002 0,000 0,006 Minggu ke-4 : ke-8 0,989 0,989 0,891 0,522 0,408 Minggu ke-8 : ke-12 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 p < 0,05 : berbeda bermakna (Uji t - berpasangan) dewasa muda 34,3% pada pria dan 23,31% pada wanita.5 TUJUAN Untuk mengetahui pengaruh pengobatan TB paru dengan OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT) terhadap kadar asam urat serum pada pasien TB paru di BLU RSUP Prof. Dr. RD. Kandou Manado sebelum dan sesudah 4, 8, 12 minggu pengobatan. Tujuan sekunder untuk mengetahui apakah pengaruh pengobatan OAT KDT terhadap kadar asam urat tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin dan usia. METODE Penelitian quasi experimental design - time series experiments. Besar sampel minimal dihitung dengan rumus analitik numerik berpasangan diperoleh hasil 33 sampel, cara pengambilan sampel konsekutif. Kriteria inklusi adalah pasien TB paru baru, lakilaki atau perempuan dewasa (usia 18 - 60 414 tahun), tidak mempunyai kebiasaan makan dengan asupan purin tinggi, bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi adalah hiperurisemia; sedang menderita: penyakit ginjal kronik (PGK) (eLFG < 60 ml/menit/1,73 m2 dengan rumus Cockcroft-Gault), diabetes melitus (DM) menurut ADA 2005, hipertensi menurut JNC-7 2003 , obesitas (IMT ≥ 30 kg/ m2), sindrom metabolik (SM) menurut IDF 2005, gout menurut kriteria ARA; sedang menggunakan obat diuretika (tiazid, furosemid), asam asetilsalisilat, asam nikotinat; aktif mengkonsumsi alkohol; sedang hamil. Analisis statistik adalah Shapiro - Wilk untuk uji distribusi data dan uji komparasi dengan uji t-berpasangan. HASIL Selama 6 bulan didapatkan 41 sampel meliputi 24 laki-laki (58,5%) dan 17 perempuan (41,5%). Usia sampel 11-41 tahun sebanyak 26 orang (63,4%) dan usia 41-60 tahun sebanyak 15 orang (36,6%). Rerata kadar asam urat sebelum pengobatan OAT-KDT 5,01 (CI [Confidence Interval] 2,6-6,9); rerata minggu ke-4 10,58 (5,7-18,7); rerata minggu ke-8 10,55 (6,1-16,3) dan rerata sesudah fase intensif 6,31 (3,310,1). Diperoleh peningkatan asam urat yang bermakna dari minggu ke-0 dengan minggu ke-4 (p <0,05). Sedangkan kadar asam urat minggu ke-4 dan minggu ke-8 tidak berbeda bermakna (p >0,05). Penurunan asam urat dari minggu ke-8 dan minggu ke-12 adalah bermakna (p <0,05). Hasil uji statistik (uji t berpasangan) berdasarkan gender dan usia mendapatkan perbedaan bermakna kadar asam urat antara minggu 0 dengan minggu ke-4, 8, 12 dan antara minggu ke-8 dengan minggu ke-12 (p <0,05); sedangkan pada minggu ke-4 dengan minggu ke-8 tidak ada perbedaan bermakna (p >0,05). DISKUSI Terjadi peningkatan kadar asam urat serum pada 41 (100%) sampel dan hiperurisemia 39 (95%) sampel. Hasil ini serupa dengan penelitian Isnaeni dkk6 yang mendapatkan peningkatan pada 35 (100%) dan hiperurisemia pada 29 (82,85%) sampel; Qureshi dkk mendapatkan 48% hiperurisemia, Zierski dkk 56% hiperurisemia dan Khanna dkk 91,34% hiperurisemia.7 Solangi dkk8 63,8% hiperurisemia, Nahar dkk9 55,88% hiperurisemia, Adebisi dkk10 51,6% hiperurisemia, Papastavros dkk11 47% hiperurisemia. Perbedaan kejadian hiperurisemia pada penelitian ini karena pada penelitian ini digunakan OAT-4KDT yang mengandung Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E) pada fase intensif. Sesuai hasil penelitian Khanna dkk., kejadian hiperurisemia lebih tinggi pada kombinasi ZE dibanding dengan Z atau E saja, yaitu 91,34%; 73,4%; 51,61%. Pirazinamid dan Etambutol memfasilitasi pertukaran ion di tubulus ginjal menyebabkan reabsorpsi berlebihan asam urat sehingga menimbulkan hiperurisemia. Beberapa penelitian lain menggunakan salisilat untuk mengatasi artralgia, sedangkan salisilat juga dapat memengaruhi kadar asam urat. Salisilat dosis besar (analgesik) bersifat menurunkan asam urat sedangkan salisilat dosis kecil akan menghambat ekskresi asam urat sehingga terjadi hiperurisemia.2,3,7 CDK-205/ vol. 40 no. 6, th. 2013

HASIL PENELITIAN Peningkatan kadar asam urat dialami seluruh pasien pada minggu ke-4 berkisar antara 5,7 – 18,7 mg/dL (10,57 ± 2,49 ; rerata ± SB), peningkatan ini sangat bermakna (p < 0,05). Hal ini serupa dengan hasil penelitian Solangi dkk8 mendapatkan kadar asam urat 9,68 ± 1,52 mg/dL, Nahar dkk9 6,22 ± 2,70 mg/dL. Qureshi dkk 5,2 ± 0,6 mg/dL, Khanna dkk 7,51 mg/dL.7 Peningkatan kadar asam urat yang cukup tinggi pada penelitian ini dibanding dengan penelitian lain, diduga karena faktor genetik,3 karena insiden hiperurisemia di Manado cukup tinggi,4,5 diperberat dengan efek samping pirazinamid yang terdapat dalam OAT - 4KDT.2 Pada minggu ke-8, terjadi peningkatan kadar asam urat berkisar 6,1 – 16,3 mg/dL (10,54 ± 2,33 ; rerata ± SB). Hal ini serupa dengan hasil penelitian Solangi dkk8 mendapatkan 9,64 ± 1,43 mg/dL, Isnaeni dkk6 8,78 ± 2,53 mg/dL, Nahar dkk9 6,34 ± 1,52 mg/dL. Qureshi dkk 6,4 ± 0,8 mg/dL, Khanna dkk 8,81 mg/dL.7 Peningkatan kadar asam urat minggu ke-8 berbeda bermakna dengan kadar asam urat minggu ke-0 namun tidak berbeda bermakna dengan kadar asam urat minggu ke-4. Pada minggu ke-8, kadar asam urat hanya sedikit meningkat atau relatif menetap dibandingkan kadar asam urat minggu ke-4. Hal ini serupa dengan yang didapatkan oleh Solangi dkk8 dan Nahar dkk9 tidak ada perbedaan bermakna kadar asam urat minggu ke-8 dengan minggu ke-4. Keadaan ini diduga karena efek samping Pirazinamid dalam OAT - 4KDT pada minggu ke-4 membuat kadar asam urat sudah meningkat hampir titik jenuh.2,3 Pengobatan TB fase lanjutan menggunakan OAT-2KDT yang mengandung RH, ZE sudah tidak diberikan,1,2 ; terjadi penurunan kadar asam urat minggu ke-12, yaitu berkisar 3,3 – 10,1 mg/dL (6,3 ± 1,59 ; rerata ± SB). Hal ini serupa dengan hasil penelitian Solangi dkk8 yang mendapatkan kadar 5,08 ± 0,57 mg/ dL, Isnaeni dkk6 4,79 ± 1,44 mg/dL, Qureshi dkk7 4,5 ± 0,3 mg/dL. Penelitian Adebisi dkk10 dan Papastavros dkk11 mendapatkan kadar asam urat kembali normal pada fase lanjutan pengobatan TB. Pada penelitian ini, kadar asam urat minggu ke-12 berbeda bermakna dengan kadar asam urat minggu ke-0, ke-4 dan ke-8; walaupun belum kembali ke kadar asam urat sebelum pengobatan. Pada beberapa pasien yang diikuti sampai minggu ke-16 didapatkan kadar asam urat kembali seperti minggu ke-0. Keadaan ini mencerminkan bahwa efek samping hiperurisemia OAT-4KDT fase intensif bersifat reversibel, walaupun pada genetik tertentu memerlukan waktu yang lebih lama untuk kembali normal.2,3 Penelitian ini mendapatkan keluhan artralgia pada 5 sampel (12,2%). Isnaeni dkk6 mendapatkan artralgia 13,8%. Qureshi dkk mendapatkan artralgia 22% dan Khanna dkk mendapatkan artralgia 11%.7 Efek samping pirazinamid dapat meningkatkan kadar asam urat namun bersifat reversibel dan umumnya subklinis.1,2 Uji perbandingan berdasarkan usia, gender dan per kelompok usia sesuai gender; didapatkan hasil yang sama dengan yaitu terdapat perbedaan bermakna kadar asam urat antara minggu 0 dan minggu 4, 8, 12 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan asam urat karena efek samping pirazinamid tidak dipengaruhi oleh usia maupun gender; meskipun diketahui pada usia > 40 tahun terjadi penurunan fungsi ginjal, sedangkan hormon esterogen menekan kadar asam urat. Sampel penelitian ini adalah subjek yang dengan fungsi ginjal normal. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL dengan kadar asam urat (p > 0,05). Hal ini mencerminkan bahwa kadar asam urat sampel tidak dipengaruhi oleh profil lemaknya. Sampel penelitian ini adalah subjek yang tidak menderita obesitas maupun sindrom metabolik. SIMPULAN 1. Terdapat peningkatan bermakna kadar asam urat serum pada fase intensif, terutama pada minggu ke-4 dan relatif menetap pada minggu ke-8 pengobatan OAT – KDT; 2. Terdapat penurunan bermakna kadar asam urat serum setelah masuk masa intermiten (minggu ke-12), walaupun belum kembali ke kadar sebelum pengobatan OAT KDT. SARAN Pemantauan kadar asam urat serum selama fase intensif pengobatan dengan OAT – KDT (RHZE) terutama pada pasien yang sudah hiperurisemia sebelum mulai pengobatan. DAFTAR PUSTAKA 1. Aditama TY, Subuh M, Mustikawati DE, dkk. Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia – Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta 2011. 2. Deck DH, Winston LG. Antimycobacterial drugs. In: Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic and clinical pharmacology. 12th ed. Mc Graw Hill, New York 2012, pp. 770-5. 3. Kelley WN, Wortmann RL. Gout and hyperuricemia. In: Firestein GS, Budd RC, Harris ED, et al. Textbook of rheumatology. Vol.2. 9th ed. Elsevier, Philadelphia 2012, pp 1313 – 47 4. Rotty LWA, Karema-Kaparang AMC. Pola hiperurisemia pada penderita rawat inap di RSUP Manado. Dipresentasikan pada KOPAPDI X, Padang, 26 Juni 1996. 5. Rotty LWA, Karema-Kaparang AMC. Gambaran asam urat pada suku Minahasa usia dewasa muda. Naskah Lengkap KONKER IRA VI, Malang, 1999. 6. Isnaeni MP, Sumariyono, Rumende CM, dkk. Peningkatan kadar asam urat darah pasien TB yang mendapat terapi pyrazinamide dan ethambuthol: implikasi terhadap penghentian terapi 7. Qureshi W, Hassan G, Kadri SM, et al. Hyperuricemia and arthralgias during pyrazinamide therapy in patients with pulmonary tuberculosis. Laboratory Medicine 2007; 38(8): 495-7. 8. Solangi GA, Zuberi BF, Shaikh S, Shaikh WM. Pyrazinamide induced hyperuricemia in patients taking anti-tuberculous therapy. JCPSP 2004; 14(3): 136-8. TB. Dalam: Setiyohadi B, Kasjmir YI. Kumpulan Makalah Temu Ilmiah Reumatologi 2011. Perhimpunan Reumatologi Indonesia, Jakarta 2011, 123-7. 9. Nahar BL, Hossain M, Islam MM, Saha DR. A comparative study on the adverse effect of two anti-tuberculosis drugs regimen in initial two-month treatment period. Bangladesh J Pharmacol 2006; 1: 51-7. 10. Adebisi SA, Oluboyo PO, Okesina AB. Effect of drug induced hyperuricemia on renal function in Nigerians with pulmonary tuberculosis. Afr J Med Med Sci 2000; 29: 297-300. 11. Papastavros T, Dolovich LR, Holbrook A, Whitehead L, Loeb M. Adverse events associated with pyrazinamide and levofloxacin in the treatment of latent multidrug resistant tuberculosis. CMAJ 2002; 167(2): 131-6. CDK-205/ vol. 40 no. 6, th. 2013 415

Add a comment

Related presentations

Related pages

1232-1346-1-PB

Pengaruh Obat Antituberkulosis-Kombinasi Dosis Tetap Terhadap Kadar Asam ... obat anti tuberkulosis ... Dosis Tetap Terhadap Kadar Asam Urat ...
Read more

HASIL PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS YANG RESISTEN OBAT ...

pengaruh obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap terhadap kadar asam urat Untuk Pengobatan TB Tulang Belakang dari jurnal Obat Obat Anti ...
Read more

Asam karboksilat Power point....

Pengaruh Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap Terhadap Kadar Asam Urat
Read more

Regimen Dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis Berdasarkan ...

pengaruh obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap terhadap kadar asam urat PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2007 616.995.24 ...
Read more

Penyakit Asam Urat PDF - Ebook Market

Pengaruh Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis... Tuberkulosis ... Dosis Tetap terhadap Kadar Asam Urat ... PENGARUH KOPI TERHADAP KADAR ASAM URAT DARAH ...
Read more

Pengobatan Penyakit Asam Urat - Alodokter

Obat anti inflamasi non ... Menurunkan kadar asam urat melalui obat ... biasanya dokter akan tetap memberikan obat ini, namun dalam dosis harian serta ...
Read more

DAFTAR ISI

413 Pengaruh Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap terhadap Kadar Asam Urat ... 447 Ustekinumab untuk Penyakit Crohn yang Resisten Terhadap ...
Read more