Manusia edukandum

50 %
50 %
Information about Manusia edukandum
Presentations & Public Speaking

Published on April 6, 2014

Author: IzumiFortune

Source: slideshare.net

Description

Pengantar Pendidikan

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian pendidikan secara umum adalah selalu berdasarkan pada apa yang dapat kita saksikan dalam semua macam pendidikan, maka dengan demikian teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun yang di maksud dengan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Arif, 2010). Manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa dan merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Karena manusia dilahirkan dalam keadaan seperti itu, maka manusia memerlukan suatu pendidikan yang dapat mengembangkan kehidupan manusia dalam dimensi daya cipta, rasa dan karsa masyarakat. Pendidikan akan dapat membantu manusia untuk merealisasikan dirinya sebagai manusia. Dari sistem pendidikan tersebut akan menghasilkan orang-orang terdidik dalam sifat kognitif, afektif, dan psikomotor sehingga membentuk pribadi yang bertanggung jawab dan anggota masyarakat yang disegani. Sehubungan dengan masalah tersebutlah yang mendorong penulis untuk dilaksanakannya pembahasan dalam makalah ini. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah. 1. Mengapa manusia harus dididik atau mendidik? 2. Mengapa manusia dapat dididik? 3. Bagaimana batas-batas kemungkinan pendidikan? 4. Bagaimana kekeliruan pendidikan orientasi umum? 5. Bagaimanakah analisis dan pemetaan pendidikan nasional sebagai sistem? 6. Bagaimanakah analisis dan pemetaan sekolah sebagai sistem?

2 1.3 Tujuan Pembahasan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah. 1. Untuk mengetahui tujuan dari manusia harus dididik atau mendidik. 2. Untuk mengetahui bahwa manusia dapat dididik. 3. Untuk mengetahui batas-batas kemungkinan pendidikan. 4. Untuk mengetahiu kekeliruan pendidikan orientasi umum. 5. Untuk mengetahui analisis dan pemetaan pendidikan nasional sebagai sistem. 6. Untuk mengetahui analisis dan pemetaan sekolah sebagai sistem.

3 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Keharusan Pendidikan: Mengapa Manusia Harus Dididik atau Mendidik Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa yunani, paedagogiek.Pais artinya anak, gogos artinya membimbing atau tuntunan dan iek artinya ilmu. Jadi dari segi etimologinya berarti paedagogiek adalah ilmu yang membicarakan bagaimana cara menuntun atau membimbing anak (Rifai, 2008). Pendidikan adalah sarana membudayakan manusia. Manusia merupakan makhluk yang harus dididik atau mendidik karena dengan adanya pendidikan akan dapat membantu manusia tersebut ke arah yang lebih baik dalam memajukan kehidupannya. Adapun pendidikan tersebut akan menjadikan manusia yang mampu memahami norma norma serta moral dalam kehidupan dan menjadikannya bertanggung jawab, yaitu manusia yang dapat mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, dan dapat dimintai pertanggung jawaban dari perbuatannya. Selain itu pendidikan juga akan berusaha membantu manusia untuk mengembangkan fitrah manusia yang merupakan potensi untuk berkembang, dan membimbingnya demi kebaikan dirinya dan masyarakat. Sehingga dengan adanya bimbingan, manusia akan menjadi manusia yang sebenarnya, sebagai makhluk yang telah disempurnakan dengan akal pikiran oleh Tuhan Yang Maha Esa. Pandangan Pendidikan Tentang Manusia sebagai Animal Educandum ialah pandangan Pendidikan tentang hakekat manusia sebagai makhluk yang secara biologis fisik atau jasmaniah tidak jauh beda dengan hewan, tetapi dapat membedakan dirinya dengan hewan dengan melakukan usaha yang bersifat pendidikan (Saifullah dalam Arif, 2010). Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa manusia harus dididik dan memperoleh pendidikan, yaitu : a. Dari segi biologisnya, manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya, manusia perlu mendapatkan uluran orang lain untuk dapat melangsungkan hidup dan kehidupanya. b. Anak manusia lahir tidak dilengkapi insting yang sempurna untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi lingkungan. c. Anak manusia perlu masa belajar yang panjang untuk dapat secara tepat berhubungan dengan lingkungan. d. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, artinya tidak dapat berdiri sendiri melainkan membutuhkan bantuan dari orang lain. Manusia perlu hidup bermasyarakat untuk membentuk suatu peradaban yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Sehingga diperlukan adanya pendidikan untuk melakukan pelestarian budayanya yang

4 kemudian manusia mengembangkan proses pertumbuhan kebudayaan, proses inilah yang mendorong manusia ke arah kemajuan hidup sejalan dengan tuntutan zaman. Maka dari itu, manusia harus dididik atau mendidik, karena manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa dan merupakan makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. 2.2. Kemungkinan Pendidikan: Mengapa Manusia Dapat Dididik atau Mendidik Menurut ahli sosiologi, pada prinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.Manusia memiliki kesadaran diri, dapat menyadari sifat-sifat yang ada pada dirinya sehingga dapat mengadakan instropeksi.Selain itu manusia juga dapat menyadari nilai-nilai (etika maupun estetika) karena manusia memiliki kata hati atau hati nurani. Ditinjau dari segi biologisnya, anak dilahirkan tidak berdaya, tetapi memiliki potensi untuk merubah, karena anak bersifat lentur, memiliki otak, dan pusat syaraf yang berhubungan dengan perbuatan berpikir (Mudyahardjo, 2012).Selain itu manusia juga memiliki kesadaran intelektual dan seni. Manusia dapat mengembagkan pengembangan dan teknologi, sehingga menjadikan ia sebagai makhluk berbudaya. Dengan bekal berbagai potensi itulah manusia dipandang sebagai mahkluk yang dapat di didik.Oleh karena itu hanya manusialah yang secara sadar melakukan pendidikan untuk sesamanya.Pendidikan merupakan kegiatan antar manusia, oleh manusia dan untuk manusia.Disinilah perlunya pendidikan dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. 2.3. Batas-Batas Kemungkinan Pendidikan Batas-batas Pendidikan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan atau ketidakberdayaan pendidikan dalam melakukan tugas-tugas pendidikan.Sedangkan kemungkinan dan keharusan pendidikan adalah hal-hal yang menyebabkan dimungkinkan dan diharuskannya pelaksanaan tugas-tugas pendidikan dilakukan. Diantara batas-batas pendidikan itu, adalah: a. Faktor Internal Anak 1) Bakat dan minat 2) Intelegensi (kecerdasan) 3) Fisik 4) Psikis b. Faktor Eksternal Anak 1) Lingkungan Keluarga

5 2) Lingkungan Masyarakat 3) Lingkungan Sekolah 2.4. Kekeliruan-kekeliruan Pendidikan Orientasi Umum: Teori Sistem Pada Umumnya 2.4.1. Kekeliruan- Kekeliruan Pendidikan Orientasi umum 2.4.1.1. Batasan a. Mendidik yang baik adalah yang berhasil membantu individu dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu hidup. b. Kekeliruan – keliruan mendidik adalah bentuk – bentuk kegiatan pendidikan yang tujuannya tidak benar dan/ atau cara penyampaiannya tidak tepat. Tujuan pendidikan dikatakan tidak benar apabila berisi nilai – nilai hidup yang bersifat mengingkari dan merusak harkat dan martabat manusia sebagai pribadi, warga, dan hamba Tuhan. Sedangkan suatu cara mendidik dikatakan tidak tepat apabila cara yang digunakan untuk mendidik tidak dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. 2.4.1.2. Kekeliruan idiil mendidik a. Bentuk Bentuk – bentuk kekeliruan idiil mendidik berupa kegiatan pendidikan patologis dan dermagogis, yaitu kegiatan pendidikan yang salah tujuannya karena norma – norma yang menjadi tujuan pendidikan mengandung unsur yang mengingkari nilai – nalai kemanusiaan. Kekeliruan idiil mendidik ini dapat mendorong pesrta didik untuk melakukan hal – hal yang merusak dan menghancurkan nilai – nalai kemanusiaan. Misalnya, melatih pencopet atau penjahat professional. b. Akibat dan Penanggulannya Pendidikan patologis dan dermagogis apabila berhasil, akan melahirkan orang – orang yang cacat moral atau amoral, yang mempunyai watak ingin merusak dan melakukan tindakan – tindakan pelanggaran baik pelanggaran dari segi hukum dan dari segi moral. Menangani orang – orang demikian harus dilakukan dengan mendidik kembali dan melakukan penanaman nilai – nilai moral yang benar. 2.4.1.3. Kekeliruan teknis mendidik a. Bentuk Bentuk – bentuk kekeliruan teknis mendidik berupa kegiatan pendidikan yang salah teknis palaksanaannya, yaitu kesalahan cara memilih dan menggunakan alat

6 pendidikan (kegiatan mendidik dan penciptaan situasi/lingkungan pendidik). Kekeliruan teknis mendidik mencakup : 1) Kekeliruan cara mendidik ( misalnya mendidik dengan memanjakan dan memberikan imbalan, mendidik dengan cara mengendalikan dan memaksa atau murah hukuman, mengembangkan keterampilan hanya dengan ceramah, dan sebagainya). 2) Kekeliruan ekologis atau menciptakan lingkungan hidup yang kurang mendukung pencapaian kedewasaan (Misalnya: Penyiaran TV dengan program yang penuh kekerasan atau pornografi, Penggunaan internet yang tidak ada batasan, penciptaan lembaga pendidikan formal yang tidak tepat, dan sebagainya). b. Akibat dan penanggulannya Pendidikan salah teknis berakibat pendidikan tidak menjadi efektif, efisien, dan relevan dalam membantu pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak menuju kedewasaan.Hal ini dapat menyebabkan penguasaan pengetahuan/keterampilan yang keliru, dan gangguan emosional seperti rendah diri,sombong, keras kepala, dan sebagainya. Penanggulan terhadap akibat kekeliruan – kekeliruan teknis ini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki cara mendidik, menggunakan metode yang sesuai dalam mendidik, memberikan bimbingan dan penyuluhan yang tepat. 2.4.2. Teori Sistem Pada Umumnya 2.4.2.1. Pendekatan Sistem a. Batasan Pendekatan system adalah cara – cara berfikir dan bekerja yang menggunakan konsep – konsep teori sistem yang relevan dalam pemecahan masalah. b. Tipe – tipe 1) Filsafat Sistem Pendekatan system yang bertitik tolak konseptual / teoritis, dengan mempergunakan metode kognitif atau berfikir mencerminkan sesuatau untuk menggambarkan rancang bangunnya. 2) Manajemen Sistem Pendidkan system yang bertitik tolak mencari manfaat, dengan mempergunakan metode sintesis atau memedukan unsur – unsur menjadi sebuah kesatuan. 3) Analisis Sistem

7 Pendekatan sistem yang bertitik tolak pada optimalisasi penggunaan sumber – sumber yang tersedia, dengan menggunakan metode penyusunan model – model kerja untuk mencapai tujuan – tujuan yang efektif dan efisien dalam penggunaan sumber – sumber yang tersedia. 2.4.2.2. Teori sistem a. Karakteristik Teori Sistem Keseluruhan adalah hal utama dan bagian – bagian adalah yang hal yang kedua. 1) Integrasi adalah kondisi saling hubungan antara bagian – bagian dalam satu system 2) Bagian – bagian membentuk sebuah keseluruhan yang tak dapat dipisahkan 3) Bagian- bagian memainkan peranan mereka dalam kesatuannya untuk mencapai tujuan dari keseluruhan 4) Sifat bagian dan fungsinya dalam keseluruhan dan tingkah lakunya diatur oleh keseluruhan terhadap hubungan –hubungan bagiannya. 5) Keseluruhan adalah sebuah sistem atau sebuah kompleks atau sebuah konfigurasi dari energi dan berperilaku seperti sesuatu unsure tunggal yang tidak kompleks. 6) Segala sesuatu harusnya dimulai dari keseluruhan sebagai suatu dasar dan bagian – bagian serta hubungan – hubungan baru kemudian terjadi secara berangsur – angsur. b. Karakteristik umum sistem 1) Cenderung ke arah entropi Semua sistem cenderung menuju pada sustu keadaan terpecah belah, tidak teratur, lamban, dan akhirnya mati. 2) Hadir dalam ruang dan waktu Semua sistem berada dalam ruang dan waktu 3) Mempunyai batas – batas Semua sistem mempunyai batas – batas yang tidak menetap, tapi berubah – ubah 4) Mempunyai Lingkungan Semua sistem mempunyai lingkunagan yaitu lingkungan proksimal (lingkungan yang disadari oleh sistem), dan lingkungan distal (lingkungan yang tidak disadari oleh sistem) serta sesuatu yang berada diluarnya. 5) Mempunyai Variabel dan Parameter Faktor – faktor dalam system adalah variabel, dan faktor – faktor diluar sistem disebut parameter. 6) Mempunyai Subsistem

8 Semua system mempunyai subsistem, dan setiap subsistem merupakam sebuah kesatuan yang terbatas, terbentuk dari bagian – bagian , dan karakteristik – karakteristik tertentu. 7) Mempunyai suprasistem Semua sistem mempunyai suprasistem kecuali system terbesar dan sistem tertutup. 2.4.2.3. Model Dasar Sistem: Model Input – Output a. Masukan (Input) Masukan adalah sumber – sumber yang ada dalam lingkungan atau suprasisitem yang masuk dalam sebuah system, Masukan dapat berbentuk: 1) Informasi Informasi adalah keterangan yang disampaikan kepada pihak lain  Informasi produk keterangan tentang bahan yang akan diproses menjadi suatu produk.  Informasi Operasional  Keterangan tentang bahan – bahan yang akan dipergunakan untuk memproses bahan olahan. 2) Energi atau tenaga Energi adalah gerak dari alat – alat kerja yang dipergunakan dalam proses transformasi atau semua operasi yang terjadi dalam transformasi. Bentuk operasi dapat berupa operasi yang dilakukan oleh mesin dan yang dilakukan oleh manusia. 3) Bahan – bahan  Bahan – bahan produksi adalah bahan – bahan olahan yang akan diproduksi  Bahan – bahan operasional adalah sumber – sumber yang digunakan untuk mempelancar proses transformasi, yang terdiri atas : Barang – Barang dipergunakan secara langsung maupun tidak langsung untuk menjalankan tranformasi Penghasilan  dipergunakan untuk menyediakan barang – barang produksi dan operasional. b. Transformasi Proses pengubahan masukan olahan menjadi hasil produksi atau jasa, yang dilakukan oleh manusia atau mesin – mesin, atau manusia dengan mesin – mesin. 1) Proses manajemen  Metode yang digunakan untuk perencanaan, kepemimpinan, perorganisasian, pengawasan dan perbaikan.

9 2) Proses fungsional  Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan- tujuan fungsional. 3) Proses fungsional silang  metode yang digunakan untuk tujuan tertentu yang perlu kerja sama dengan orang lain atau unit lain c. Hasil Barang atau jasa yang dapat disampaikan atau digunakan. 2.4.2.4. Tipe – tipe Sistem 2.4.2.4.1. Sistem alami dan system buatan a. Sistem Alami  Bekerja berdasarkan hukum – hukum alam dan hubungan antara masukan dengan hasil dapat diramalkan secara ilmiah b. Sistem buatan manusia  Dikendalikan oleh manusia dan hubungan antara masukan yang diambil dari sistem alami, dengan hasil diatur oleh manusia. 2.4.2.4.2. Sistem tertutup dan sistem terbuka - Sistem Tertutup Sistem yang struktur organisasi bagian – bagiannya tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Bentuk operasinya secara otomatis. - Sistem terbuka Sistem yang struktur bagiannya terus menyesuaikan diri dengan masukan dari lingkungan yang terus – menerus berubah – ubah.Bentuk operasinya dinamis. Karakteristik sistem terbuka : 1) Mendatangkan energy 2) Mentransformasikan energy 3) Mengeksplor hasil 4) Sebuah rangkaian peristiwa 5) Negentropi 6) Balikan negative 7) Homeostatis dinamis 8) Diferensiasi 9) Ekuifinalitas 2.4.2.4.3. Sistem pelayanan dan sistem memproduksi barang  Sistem pelayanan sistem yang menghasilkan jasa  Sistem memproduksi barang  sistem yang menghasilkan barang. 2.4.2.5. Hierargi sistem Keseluruhan sistem yang dapat disusun secara hierargis dari yang paling sederhana sampai sistem yang paling canggih. Susunannya adalah : 1) Kerangka kerja  sisitem mempunyai susuna yang statis 2) Kerangka jam sistem mempunyai struktur hubungan yang dinamis yang sederhana

10 3) Thermostat  sistem yang didalamnya ada sistem mengontrol diri sendiri secara otomatis 4) Sel  sistem yang menunjukkan mulai adanya hidup 5) Sosietal genetik  sistem yang ditandai adanya kehidupan bersama yang terjadi melalui proses keturunan. 6) Animal sistem yang ditandai oleh bertambahnya mobilitas, tingkah laku yang bertujuan, dan kesadaran diri 7) Individu manusia  sistem yang ditandai oleh berkembangnya kemampuan menerima dan menyimpan informasi. 8) Organisasi social  sistem ini mengandung adanya struktur hubungan anatara individu yang didasarkan pada sistem nilai- nilai. 9) Sistem transcendental sistem ini mempunyai struktur dan hubungan yang sistematis yang bersifat rohaniah dalam hubungannya dengan yang mutlak 2.4.2.6. Lingkungan dan Segmen sistem a. Struktur sistem Tersususn secara higenis dengan urutan sebagaiberikut :  Subsistem  Satu bagian dari keseluruhan sistem yang berfungsi mencapai tujuan khusus yang tertuju pada pencapaian tujuan sistem.  Komponen satuan unsur- unsure yang membentuk satu bagian dalam subsistem atau sistem.  Unsur  Bagian terkecil dari sebuah sistem yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kemampuan komponen b. Suprasistem Bagian atau lingkungan yang lebih besar, yang menjaditempat berlangsungnya operasi – operasi beberapa sistem. 2.5. Analisis dan Pemetaan Pendidikan Nasional sebagai Sistem 2.5.1.Analisis dan pemetaan a. Batasan 1) Ditinjau dari fungsinya. Pendidikan nasional adalah sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu negara kebangsaan atau negara nasional dalam rangka mewujudkan hak menentukan nasib bangsa sendiri atau right of self- determination bangsa dalam bidang pendidikan. 2) Ditinjau dari strukturnya. Pendidikan nasional sebagai sistem merupakan keseluruhan kegiatan dari satuan-satuan pendidikan yang direncanakan,

11 dilaksanakan, dan dikendalikan dalam rangka menunjang tercapainya tujuan nasional. b. Peta umum pendidikan nasional dalam model input-output 1) Masukan (input) Sumber-sumber dari masyarakat yang menjadi masukan sistem pendidikan nasional adalah: a) Informasi Masukan dalam bentuk informasi, mencakup informasi produk (informasi tentang peserta didik) dan informasi oprasional (informasi tentang penduduk, tenaga kependidikan, pengetahuan/ ilmu, seni, teknologi, cita- cita, dan barang-barang yang digunakan dalam pendidikan, serta penghasilan nasionla dan penghasilan perkapita. b) Energi / tenaga Masukan dalam bentuk tenaga, mencakup penduduk yang sedang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan nasional dan tenaga kependidikan yang bekerja dalam sistem pendidikan nasional. c) Bahan-bahan Sumber-sumber bukan manusia yang masuk dalam sistem pendidikan nasional, mencakup barang-barang produksi yang digunakan dalam melaksanakan transformasi pendidikan, penghasilan nasional, dan penghasilan perkapita yang disediakan untuk membiayai pendidikan. 2) Transformasi Terdapat sembilan komponen yang digunakan untuk melaksanakan transformasi, yaitu tujuan pendidikan, organisasi pendidikan, masa pendidikan, program isis pendidikan, prasarana pendidikan, sarana dan teknologi pendidikan, biaya pendidikan, tenaga pendidikan, dan peserta pendidikan. Adapun bentuk transformasi, yaitu transformasi administrative/ manajerial pendidikan (negara dan pemerintah) dan transformasi operasional/ teknis pendidikan (kepala sekolah/ lembaga luar sekolah).Perbedaan kedua bentuk transformasi terdapat pada pengelolanya. 3) Hasil Orang-orang terdidik dalam kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.Orang-orang tersebut dapat menjadi individu yang terus belajar, anggota keluarga yang bahagia, dan seorang hamba tuhan yang baik.

12 2.5.2.Analisis dan pemetaan suprasistem pendidikan nasional a. Batasan Suprasistem dari sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan dalam kehidupan masyarakat dalam bernegara dan berbangsa, yang mencakup masyarakat nasional domestic (WNI) sebagai lingkungan proksimal dan masyarakat internasional sebagai lingkungan distal. b. Sistem-sistem dalam suprasistem Sistem-sistem kehidupan yang berada dalam suprasistem dari sistem pendidikan nasional yang mempengaruhi sistem pendidikan nasional. 1) Sistem sosial budaya Sistem social budaya adalah keseluruhan bentuk tatanan kehidupan bersama/ berkelompok yang mempunyai pola budaya tertentu.Implikasi bagi sistem pendidikan nasional, kondisi sistem social menjadi landasan ekologis sitem pendidikan nasional sedangkan kondisi sistem budaya menjadi landasan idiil sistem pendidikan nasional. 2) Sistem biososial (penduduk) Penduduk adalah kumpulan orang yang menghuni suatu kesatuan wilayah.Sistem biososial yaitu kumpulan orang yang memiliki struktur tertentu.Penduduk mempunyai aspek statis dan dinamis. Aspek statis berhubungan dengan jumlah dan komposisi berdasarkan usia, pekerjaan, jenis kelamin, penghasilan, dan sebaginya. Aspek dinamis berhubungan dengan pertumbuhan dan pengurangan, gerakan penduduk (migrasi), dan perubahan- perubahan komposisi penduduk dalam kurun waktu tertentu. Penduduk menyiratkan adanya suatu permintaan masyarakat akan pendidikan secara kualitatif dan kuantitati. Penduduk sebagai sistem biososial menjadi landasan operasional sistem pendidikan nasional. 3) Sistem ekonomi makro Studi perilaku perekonomian secara agreat (keseluruhan perusahaan- perusahaan, rumah tangga, harga-harga, upah serta pendapatan). Menurut Samuelson, tujuan dari ekonomi makro adalah tingkat output riel (hasil ekonomi yang sudah disesuaikan dengan inflasi) yang tinggi dan terus meningkat, tingkat kesempatan kerja tinggi dan pengangguran rendah, tingkat harga stabil atau naik secara perlahan-lahan, dan hubungan ekonomi luar negeri ditandai dengan nilai kurs asing dan ekspor yang seimbang. Kondisi ekonomi makro Negara menjadi landasan operasional sistem pendidikan

13 nasional dan pendapatan perkapita menjadi landasan operasional sistem pendidikan, dalam arti menentukan rata-rata setiap keluarga dalam menyediakan biaya pendidikan. 4) Sistem politik Sistem memperoleh kekuasaan dan menggunakannya untuk mewujudkan cita- cita hidup bernegara dan berbangsa.Sistem politik berhubungan erat dengan paham nasionalisme yang dianut.Penerapan sistem politik berhubungan erat dengan tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat, serta kearifan para pemimpinnya.Sistem politik menentukan kebijaksanaan umum dalam kehidupan bernegara dan berbangsa yang mempengaruhi sistem-sistem lainnya.Kondisi sistem politik menjadi landasan manajerial sistem pendidikan nasional (titik awal dimulainya perubahan atau perombakan struktur pendidikan nasional). 2.5.3.Analisis dan pemetaan masukan sistem pendidikan nasional a. Batasan Sumber-sumber dari lingkungan masyarakat nasional dan masyarakat internasional yang digunakan untuk menyelenggarakan transformasi dalam sistem pendidikan nasional. b. Bentuk masukan 1) Informasi a) Informasi produk Meliputi informasi kuantitas peserta didik yakni keterngan tentang jumlah keseluruhan peserta didik dan informasi kualitas peserta didik (identitas, latar belakang keluarga dan social ekonomi, kemampuan, kegemaran, dan lain-lain). b) Informasi operasional Meliputi sarana pendidikan administrative dan teknis pendidikan, teknologi pendidikan, prasarana pendidikan, dan informasi lingkungan (sistem biososial, sosial budaya, ekonomi, dan politik). 2) Energi/ tenaga Energy manusia diperlukan dalam mengoperasikan proses-proses transformasi dalam sistem pendidikan nasional, seperti energy peserta didik (terlibat dalam kegiatan belajar mengajar) dan energy tenaga kependidikan.Selain energy mausia, energy non manusia juga dibutuhkan sebagai peralatan pendidikan dan administrative dalam melancarkan operasi-operasi yang terjadi.

14 3) Bahan-bahan Bahan/ benda yang digunakan untuk melancarkan operasi-operasi dalam proses transformasi yang terdapat dalam sistem pendidikan nasional, contoh kurikulum pendidikan sarana pendidikan, teknologi pendidikan, dan biaya pendidikan. 2.5.4.Analisis dan pemetaan transformasi dalam sistem pendidikan nasional a. Batasan Transformasi pendidikan nasional adalah keseluruhan proses pengubahan masukan pendidikan nasional menjadi hasil pendidikan nasional. Dalam transformasi ada komponen-komponen yang mentransformasi dan proses atau operasi-operasi yang bekerja mengubah masukan pendidikan nasional menjadi hasil pendidikan nasional. b. Komponen-komponen sistem pendidikan nasional 1) Tujuan-tujuan pendidikan Tujuan-tujuan pendidikan berupa informasi yang berisi instruksi-instruksi atau perintah-perintah yang berfungsi untuk mengarahkan operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan pendidikan. 2) Organisasi pendidikan Organisasi pendidikan nasional adalah keseluruhan tatanan hubungan- hubungan antar bagian dan antar unsur dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang berisi informasi, perintah dan prosedur, dan teknik-teknik melaksanakan pendidikan. Strukturnya terbagi menjadi dua tingkatan, yakni subsistem organisasi pengelolaan pendidikan nasional (departemen pendidikan dan kebudayaan dan dinas pendidikan di propinsi dengan semua jajarannya) dan subsistem organisasi pendidikan seperti pendidikan di sekolah maupun luar sekolah. 3) Masa pendidikan Masa pendidikan merupakan informasi tentang jenjang pendidikan dan urutan kalender kegiatan pendidikan setiap tahunnya yang berfungsi sebagai pengatur perpindahan jenjang pendidikan dan urutan kegiatan-kegiatan pendidikan. 4) Prasarana pendidikan Prasarana pendidikan nasional adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang terselenggaranya proses transformasi dalam sistem pendidikan nasional. Bentuknya dapat berupa barang (tanah, sekolah, lapangan olahraga,

15 dan lain-lain), biaya pendidikan dan informasi.Hal ini bertujuan untuk menunjang kelancaran operasi-operasi yang berlangsung dalam transformasi. 5) Sarana pendidikan Segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan, misalnya buku dan alat bantu belajar-mengajar. Sarana ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas transformasi. 6) Isi pendidikan Hal-hal atau pengalaman yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Isi pendidikan ini berupa informasi kurikulum dan budaya yang berfungsi sebagai gambaran akan pengalaman dan ketrampilan yang dapat dipelajari. 7) Tenaga pendidikan Orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan transformasi dalam pendidikan nasional.Pengelola pendidikan ini adalah pengelola unit-unit organic, pengawas pendidikan, dan teknisi sumber-sumber belajar.Pelaksana pendidikan yang terlibat seperti pengajar, pelatih, dan pembimbing.Tenaga pendidik ini berfungsi sebagai penggerak transformasi administratif dan edukatif dalam sistem pendidikan nasional. 8) Peserta didik Semua anak, remaja, dan orang dewasa yang terlibat dalam proses transformasi edukatif yang berusaha belajar. Peserta didik mengalami perubahan tingkah laku kognitif, afektif, dan psikomotor. c. Proses-proses dalam transformasi 1) Transformasi administratif Proses berlangsungnya fungsi-fungsi manajemen atau pengelolaan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. 2) Transformasi edukatif Proses perubahan tingkah laku peserta didik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Bentuk dari transformasi edukatif yakni pengajaran, bimbingan, dan latihan yang berfungsi sebagai proses perubahan tingkah laku yang mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor, menuju tercapainya manusia Indonesia yang seutuhnya, yakni beriman, berpengetahuan, sehat jasmani dan rohani, berpribadi yang mantab dan mandiri, dan memiliki rasa tanggung jawab.

16 2.5.5.Analisis pemetaan hasil sistem pendidikan nasional Jumlah orang-orang yang terdidik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang optimal dapat dicapai semua orang. 2.6. Analisis dan pemetaan sekolah sebagai sistem 2.6.1.Analisis dan pemetaan suprasistem sekolah a. Batasan Suprasistem sekolah adalah lingkungan secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap penyelenggaraan keseluruhan kegiatan sekolah sebagai organisasi formal pendidikan. b. Bentuk 1) Lingkungan distal Sekolah mempunyai lingkungan distal berupa lingkungan masyarakat internasional dan nasional yang tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari di sekolah. 2) Lingkungan proksimal Lingkungan proksimal pada sekolah mencakup masyarakat sekitar yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari disekolah. 2.6.2.Analisis dan pemetaan masukan sekolah a. Informasi Informasi produk berupa keterangan dan jumlah karakteristik calon peserta didik, sedangkan informasi operasional berupa keterangan tentang jumlah dan mutu masukan instrumental (buku belajar, alat bantu belajar mengajar, kurikulum, dan lain-lain) dan keterangan tentang karakteristik lingkungan hidup masyarakat sekitar (biososial, social budaya, social politik, dan social ekonomi). b. Tenaga Tenaga yang diperlukan diantaranya tenaga peserta didik, tenaga kependidikan, dan tenaga yang dipergunakan seperti listrik oleh berbagai macam peralatan pendidikan dan administrasi dan melancarkan transformasi edukatif dan administratif. 2.6.3.Analisis dan pemetaan transformasi di sekolah a. Komponen-komponen sekolah 1) Tujuan pendidikan yakni berupa tujuan instruksi sekolah, kuliner pendidikan, institusi pendidikan, dan incidental pendidikan. 2) Organisasi sekolah mencakup struktur hubungan vertical intern sekolah (kepala sekolah, guru, dan siswa), hubungan vertical ekstern (departemen

17 pendidikan dan kebudayaan), hubungan horizontal intern (antar guru, antar siswa, dan antar staf tata usaha), dan hubungan horizontal ekstern (sekolah dengan orang tua murid dan sekolah dengan istansi pemerintah daerah sekitar). 3) Masa pendidikan dimana wajib belajar 12 tahun (SD, SMP, dan SMA) serta melanjutkan ke perguruan tinggi (D1, D2, D3, D4, S1, S2, dan S3). 4) Prasarana sekolah (tanah sekolah, bangunan sekolah, alat transportasi, jalan yang menghubungkan sekolah dengan sekolah) 5) Sarana sekolah (alat bantu belajar-mengajar dan alat administratif) 6) Kurikulum Jenis dari kurikulum dari TK sampai perguruan tinggi serta terdapat kurikulum SLB.Untuk kurikulum mata pelajaran terdiri atas sejumlah mata pelajaran dan setiap mata pelajaran berdiri sendiri.Kurikulum fusi (berkolerasi) terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dihubungkan satu dengan lainnya.Kurikulum studi yang luas terbentuk dari beberapa bidang studi. Kurikulum inti terdiri atas sub-sub program yang merupakan program inti dari setiap pelajar dan sub- sub program pilihan. Kurikulum pengalaman yang menyediakan sub-sub program yang diambil setiap pelajar. 7) Biaya pendidikan Bersumber dari pemerintah dan masyarakat. Jenis biaya pendidikan yakni: a) Biaya oportunitas (opportunity costs) atau biaya pengganti penghasilan yang hilang karena mengikuti pendidikan. b) Biaya langsung (direct costs) atau uang untuk membayar upah dan belanja barang. c) Biaya tak langsung (indirect cost) atau biaya penyusustan nilai barang karena dipergunakan d) Biaya pribadi (personal costs) atau penghasilan yang hilang dari seseorang karena dipergunakan untuk membiayai pendidikan putra-putrinya. e) Biaya social (social costs) atau jumlah penghasilan yang hilang dari sejumlah orang yang dipergunakan untuk membiayai pendidikan putra- putri mereka dan untuk kepentingan umum dalam bisang pendidikan. f) Biaya moneter (monetary costs) atau uang yang dibelanjakan baik dalam bentuk biaya langsung maupun tak langsung, serta biaya pribadi social. g) Biaya non meneter (nen monetary costs) atau kerugian yang harus dibayar karena peserta didik tidak dapat menggunakan kesempatan waktu luang dank arena ketidaknyamanan tempat belajar mereka.

18 8) Tenaga kependidikan yakni kepala sekolahdan wakil-wakilnya, kepala tata usaha, guru (mata pelajaran dan bimbingan), pustakawan, dan laboran) 9) Peserta didik b. Proses-proses dalam transformasi Transformasi administratif di tingkat sekolah dipimpin oleh kepala sekolah, sedangkan transformasi edukatif dilakukan oleh guru mata pelajaran melalui kegiatan belaja mengajar. 2.6.4.Analisis dan pemetaan hasil sekolah a. Batasan Hasil sekolah adalah tamatan atau para pelajar yang telah berhasil menyelesaikan program-program sekolah dengan tingkat kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor tertentu. b. Fungsi dan peranan Hasil dari sekolah dapat melanjutkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan dapat memasuki kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan Hamba Tuhan.

19 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan 1. Manusia harus dididik karena manusia lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir tidak langsung dewasa, dan merupakan makhluk social yang butuh interaksi. 2. Manusia dapat dididik karena manusia memiliki hati nurani, kesadaran, dan potensi untuk merubah. 3. Batas pendidikan merupakan ketidakmampuan pendidikan dalam melakukan tugas- tugas pendidikan. 4. Kekeliruan – keliruan mendidik adalah bentuk – bentuk kegiatan pendidikan yang tujuannya tidak benar dan/ atau cara penyampaiannya tidak tepat. Kekeliruan tersebut dapat berbentuk kekeliruan idiil dan kekeliruan teknis mendidik. 5. Analisis dan pemetaan pendidikan nasional sebagai sistem bertujuan untuk membentuk seorang individu yang terdidik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang optimal sehingga dapat dicapai semua orang. 6. Analisis dan pemetaan sekolah sebagai sistem bertujuan untuk menghasilkan seorang pelajar yang selesai menempuh belajarnya sehingga dapat melanjutkan ke tinggat belajar yang lebih tinggi 3.2. Saran Sebagai makhluk social sebaiknya antar manusia saling menjaga interaksi dan saling belajar.Suatu pembelajaran tidak hanya didapatkan dari bahan bacaan saja namun juga bisa dari interaksi antar sesama. Saling berbagi pengalaman dan pengetahuan yang telah didapatkan akan membantu seseorang yang lainnya. Pembelajaran ini sangat berpengaruh dalam membentuk manusia yang individu (mandiri), bertanggung jawab, dapat menjadi anggota masyarakat yang baik, dan menjadi Hmba Tuhan.

20 DAFTAR PUSTAKA Arif. 2010. Mengapa Manusia Harus Dididik. (online), (http://m-arif- am.blogspot.com/2010/09/drs-m-arif-am-ma.html), diakses tanggal 9 September 2012 Rifai, Zainudin. 2008. Mengapa Manusia Harus Dididik. (online), (http://zainudinrifai.blogspot.com/2008/11/mengapa-manusia-harus-dididik-1.html), diakses tanggal 9 September 2012 Mudyahardjo, R. 2012. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

21 PANDANGAN PENDIDIKAN MANUSIA SEBAGAI SISTEM DAN ANIMAL EDUCANDUM MAKALAH untuk memenuhi tugas matakuliah Pengantar Pendidikan yang dibina olehProf. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S. Oleh: Kelompok 3 / offering A 1. Holifa Cahyo Ning Arif (110341421522) 2. Mareta Arisswara Edy (110341421525) 3. Krisnaini Haneum Permata (110341421529) The Learning University UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI September 2012

22 DAFTAR ISI Halaman Judul................................................................................................................i Daftar Isi.........................................................................................................................ii Kata Pengantar................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.............................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah........................................................................................1 1.3. Tujuan Pembahasan.....................................................................................2 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Keharusan Pendidikan: Mengapa Manusia Harus Dididik atau Mendidik........................................3 2.2. Kemungkinan Pendidikan: Mengapa Manusia Dapat Dididik atau Mendidik........................................4 2.3. Batas-Batas Kemungkinan Pendidikan........................................................4 2.4. Kekeliruan-kekeliruan Pendidikan Orientasi Umum: Teori Sistem Pada Umumnya ......................................................................5 2.5. Analisis dan Pemetaan Pendidikan Nasional sebagai Sistem......................10 2.6. Analisis dan pemetaan sekolah sebagai sistem............................................16 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan..................................................................................................19 3.2. Saran ............................................................................................................19 Daftar Pustaka ................................................................................................................20

23 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan serta sekalian alam yang telah memberikan hidayah dan inayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penyusunan makalah ini Penulisbertujuan untuk memenuhi tugas matakuliah Pengantar Pendidikan. Dalam penyusunan makalah ini, Penulismembahas tentang Pandangan Pendidikan Tentang Manusia Sebagai Animal Educandum Dan Pendidikan Sebagai Sistem.Saat proses penyusunan, Penulis tidak lepas dari berbagai masalah dan kesulitan. Namun,Penulis berusaha untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, Dalam penyelesaiannya, tentu Penulis tidak sendiri tapi juga membutuhkan bantuan dari orang lain. Untuk itu, Penulis ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima Kasih Penulis ucapkan kepada: 1. Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S. selaku dosen pembimbing matakuliah pengantar pendidikan. 2. Orang tua yang telah memberi semangat dalam penyusunan makalah ini 3. Teman-teman offering A biologi 2011 dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu terselesaikannya makalah ini Penulis sungguh menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalahini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca. Dan Penulis mengharap adanya kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Wassalamu’alaikum. Wr. Wb Malang, 12 September 2012, Penulis

Add a comment

Related presentations

• Presentación realizada por Verónica Lango Reynoso (candidata a PhD. en Ciencias ...

The Crisis of Journalism Reconsidered: Cultural Power Barcelona, Spain | May 1-3...

We often hear that a presentation needs a good story. But the tricky part is ...

Ecomondo 2014

Ecomondo 2014

November 10, 2014

La marcatura CE degli aggregati prodotti in un impianto di soil washing: i control...

Hermosillo, Sonora.- Para fortalecer la industria engordadora y que la producción ...

Related pages

Makalah Pendidikan Islam | Salam Semangat

PERANAN PENDIDIKAN ISLAM BAGI KEHIDUPAN MANUSIA Oleh: ... Jika dilihat dari kemampuan dasar paedagogis, manusia adalah “Homo edukandum” ...
Read more