Learner differences

50 %
50 %
Information about Learner differences
Education

Published on March 16, 2014

Author: swiyunarti

Source: slideshare.net

Description

LEARNER DIFFERENCES

LEARNER DIFFERENCES A. Konsep Multiple Intelligence Dalam pengertian konvensional, intelegensi sering diartikan sebagai kemampuan memecahkan masalah, menggunakan logika, dan berfikir kritis. Pengertian intelegensi seperti tersebut dikonsepsikan sebagai “raw intelligence”. Raw intelligence merupakan pengkonsepsian intelegensi secara sempit, namun dewasa ini masih tetap berkembang dan diacu oleh sejumlah ahli pendidikan dan psikologi. Di bidang psikologi dan pendidikan, sebagian para ahli berpegang kuat pada pandangan bahwa intelegensi yang fenomenanya berwujud intelligence Quotient (IQ) merupakan karakteristik kemampuan umum untuk menjelaskan perbedaan tingkah laku dan belajar antar siswa. Diasumsikan bahwa setiap individu dapat diklasifikasikan menurut tingkatan intelegensinya. Sebagai contoh bahwa dasar asumsi tersebut digunakan para ahli bidang pendidikan dan psikologi adalah digunakannya alat tes untuk mengukur IQ atau raw intelligence. Salah satu alat tes yang sering digunakan di Amerika Serikat yaitu Scholastic Aptitude Test (SAT). Di Amerika SAT digunakan untuk menganalisis kemampuan gramatikal dan matematika, kemampuan perbendaharaan kata dan pemahaman bacaan siswa. SAT sebagai alat ukur oleh sebagian perguruan tinggi Amerika digunakan untuk membantu menentukan apakah seorang siswa berkualifikasi untuk memasuki lembaga pendidikan tertentu. Diasumsikan bahwa skor intelegensi hasil pengukuran dengan alat SAT dapat memprediksikan prestasi siswa di lembaga pendidikan berikutnya. Berbeda dengan pengkonsepsian intelegensi diatasdapat disimak dari pembicaraan di antara para praktisi pendidikan pada umumnya mengenai intelegensi. Pertanyaan yang sering terlontar dalam pembicaraan mereka yaitu”Siapa yang dikategorikan sebagai seseorang yang inteligen? Seseorang disebut inteligen bilamana dalam dirinya memiliki general intellectual yaitu kemampuan memahami, memeriksa, dan merespon stimulus dari luar, apakah itu dalam memecahkan soal matematika dengan benar, mengantisipasi gerakan lawan dalam permainan tenis, kemmapuan memainkan alat musik sehingga dapat memukau para penontonnya, kemampuan melakukan negosiasi bidang bisnis sehingga karier bisnisnya berkembang dengan baik, kemampuan berorasi sehingga berhasil dalam karier bidang politiknya, dan sejenisnya.

Dalam pemaknaan intelegensi seperti dicontohkan di atas dapat disimpulkan bahwa intelegensi merupakan kemampuan kolektif yang dimiliki setiap individu untuk bertindak dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi di dunia. Pemaknaan intelegensi seperti itu nampaknya didukung oleh para ahli psikologi dan pendidikan dewasa ini. Pemahaman terhadap pengertian intelegensi yang disebut terakhir, Carvin (2000), memaknainya sebagai “…a pluralized way of understanding the intellect” ; dan menurut Gardner (1991) bahwa “…multiple intelligence theory, on the other hand, pluralizes the traditional concept”. Hasil penelitian bidang kognitif merefleksikan keyakinan bahwa “…intelligence is not a monolithic quality, but has multiple component” (Collin dan Mangieri, 1992). Robert Sternberg telah pula membedakan secara kualitatif jenis intelegensi menjadi: intelegensi componential (diukur dengan tes tradisional), contextual (kapasitas untuk memahami dengan kreatif), dan experiential (intelegensi ”the street smart”) (dalam Collin dan Mangieri, 1992). Pendapat bahwa intelegensi merupakan suatu kemampuan yang jamak adalah sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan kognitif, psikologi perkembangan dan neuroscience. Tiga bidang ilmu ini menyimpulkan bahwa intelegensi seseorang sebenarnya merupakan swatantra kecakapan (faculties) yang dapat bekerja secara individual atau secara “berorkestra” dengan yang lain (Cavin, 2000). Multi intelegensi seperti: a. Linguistic Intelligence (Inteligensi bahasa atau verbal). Intelegensi bahasa atau kata adalah kapasitas seseorang untuk menggunakan kata-kata secara efektif baik secara oral (seperti: penceritera, orator, atau politisi) atau secara tertulis (seperti: penyair, editor, jurnalis). Intelegensi ini meliputi ablitas untuk memanipulasi sintak atau struktur bahasa, fonologi, atau suara bahasa, makna atau semantik bahasa, dan demensi pragmatic atau penggunaan bahasa praktis. Beberapa penggunaan bahasa antara lain meliputi retorika, mnemonics, explanation, dan meta bahasa.mereka memiliki kemampuan lebih pada bidang bahasa misalnya merka bisa dengan kritis menemukan sesuatu permasalahan dengan hanya mendengar dan mampu membahasnya. pandai berbicara. b. Logical-Mathematical Intelligence (intelegensi logika dan matematik).

Intelegensi logika dan matematik merupakan kapasitas seseorang dalam menggunakan angka secara efektif (seperti: ahli matematika, akuntan pajak, ahli statistik), dan untuk menalar dengan baik (seperti: ilmuwan, programer komputer, atau ahli logika). Intelegensi ini memuat kepekaan dalam pola-pola logika dan hubungan, penyataan dan preposisi (jika-maka, sebab-akibat), fungsi dan hubungan-hubungan abstrak. Jenis-jenis pemrosesan informasi yang menggunakan intelegensi logika matematik terdiri atas: pengkategorian, klasifikasi, meramalkan, generalisasi, kalkulasi, dan uji hipotesis. kemampuan lebih dalam bidang angka atau perhitungan. c. Visual-Spatial Intelligence (Intelegensi spasial-visual). Intelegensi spasial-visual adalah abilitas seseorang untuk merasakan dunia visual-spasial secara efektif seperti pemburu, pengintai dan pemandu), dan untuk mentransformasi persepsi pada perilaku (seperti: decorator interior, arsitek, artis, pencipta). Intelegensi ini mencakup sensitivitas terhadap elemen warna, garis, bagian potongan, bentuk, ruang, dan hubungan yang terjadi antar elemen. Intelegensi ini juga merupakan kapasitas untuk memvisualisasi atau menyajikan ide dalam bentuk grafis visual atau spasial. d. Bodily-Kinesthetic Intelligence (Intelegensi bodi-kinestetik). Intelegensi bodi merupakan keahlian seseorang dalam menggunakan keseluruhan tubuhnya untuk mengekspresikan ide dan perasaan (seperti: aktor, pelawak, atau badut, atlet dan penari), dan menggunakan tangan dengan mudah untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu (seperti: ahli pembuat kapal, pemahat patung, ahli mekanik, dan ahli bedah). Intelegensi ini meliputi keterampilan fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan gerak tubuh sebaik kapasitas proprioceptive, otot, dan haptic. e. Musical Intelligence (Intelegensi music). Intelegensi music adalah kapasitas seseorang untuk merasakan (seperti pemusik afocinado); membedakan (seperti pengkritik musik); transformasi seperti komposer); dan mengekspresikan (seperti ahli pertunjukan) bentuk-bentuk musik. Intelegensi ini meliputi kepekaan pada rhytm, pict atau melody, dan timbre atau potingan nada dari

musik. Seseorang dengan intelegensi musik kuat mempunyai pemahaman musik top- down (global, intuitif), pemahaman formal atau bottom-up (analitik, teknikal) atau keduanya secara baik. f. Interpersonal Intelligence (Intelegensi untuk berhubungan dengan orang lain). Interpersonal atau intelegensi untuk berhubungan dengan orang lain adalah abilitas seseorang untuk merasakan dan membuat perbedaan dalam mood, intensi, motivasi, dan perasaan orang lain. Intelegensi ini mencakup sensitivitas terhadap ekspresi muka, suara, dan gesture, kapasitas untuk membedakan atara berbagai jenis cues interpersonal; dan abilitas untuk merespon secara efektif terhadap cues dalam beberapa cara prakmatik (seperti: untuk memepngaruhi kelompok orang agar mengikuti aturan atau garis tertentu). g. Intrapersonal Intelligence (Intelegensi intrapersonal atau intelegensi self). Intelegensi intrapersonal atau intelegensi self adalah kemampuan self- knowledge seseorang dan abilitasnya untuk bertindak secara adaptif atas dasar pengetahuan. Intelegensi ini meliputi keakuratan seseorang dalam penggambaran diri (kekuatan dan kelemahan diri); kesadaran atas mood dari dalam, intense, motivasi, tempramen, dan keinginan; dan kapasitas untuk mendisiplin diri, pemahaman diri, dan penghargaan diri merespon secara efektif terhadap cues dalam beberapa cara prakmatik 9seperti: untuk mempengaruhi kelompok orang agar mengikuti aturan atau norma tertentu). h. Naturalistic Intelligence (intelegensi naturalistik). Intelegensi naturalistik adalah abilitas seseorang untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi pola-pola yang ada dalam alam. Intelegensi naturalistic barangkali dapat dilihat bagaimana cara seseorang berhubungan dengan lingkungannya dan peran yang dia mainkan dalam berhubungan dengan alam. Seseorang yang sensitif dengan perubahan pola musim atau kemampuan beradaptasi dengan alam barangkali merupakan ekspresi abilitas intelegensi naturalistik. Berdasarkan pemahaman atasi konsep MI dan delapan intelegensi sebagaimana diuraikan di depan, maka ada empat poin pokok untuk memahami MI siswa. Empat poin

pokok tersebut yaitu bahwa intelegensi siswa: (1) merupakan sesuatu yang dinamis, terus tumbuh dan berubah sepanjang hayat, dan bukan sesuatu yang statis yang dibawa sejak lahir; (2) intelegensi dapat diperbaiki, diperluas, dan diperkuat; (3) keterbatasan intelegensi dibuat oleh individu sendiri (Lazear, 1991); dan sebagian besar potensi intelegensi seseorang terpendam (laten) dan dapat ditingkatkan, dapat dibangun kembali, atau dikuatkan dengan cara dilatih (Perkins dan Grotzer, 1997). Memperhatikan empat poin pokok dalam memahami MI siswa, ini berarti bahwa perkembangan jenis-jenis intelegensi setiap individu akan bervariasi kualitasnya. Relevan dengan simpulan ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap anak mempunyai tingkatan intelegensi yang berbeda untuk setiap jenisnya (Amstrong, 1993). Hasil survey terhadap 3064 orang di AS yang dilakukan MIDAS (2000) mendukung pendapat Amstrong tersebut, yaitu bahwa profil jenis intelegensi yang dominan kuat dimiliki mereka terdistribusi seperti dalam tabel berikut. B. PERBEDAAN GAYA BELAJAR SISWA a. Gaya belajar visual (belajar dengan cara melihat) Disini individu memiliki kecenderungan gaya belajar visual lebih senang dengan melihat apa yang sedang dipelajari. Gambar atau visualisasi akan membantu mereka yang memiliki gaya belajar visual untuk lebih memahami ide informasi yang disajikan dalam bentuk penjelasan. Apabila seseorang menjelaskan sesuatu kepada orang yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual, mereka akan menciptakan gambaran mental tentang apa yang dijelaskan oleh orang tersebut. Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri- ciri perilaku sebagai berikut: 1. Rapi dan teratur. 2. Berbicara dengan cepat. 3. Mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik. 4. Teliti dan rinci. 5. Mementingkan penampilan. 6. Lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar. 7. Mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual. 8. Memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik.

9. Biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar. 10. Sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis). 11. Merupakan pembaca yang cepat dan tekun. 12. Lebih suka membaca daripada dibacakan. 13. Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain. 14. Dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan. 15. Jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara. 16. Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak”. 17. Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/ berceramah. 18. Lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik. 19. Seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata- kata. b. Auditorial (belajar dengan cara mendengar) Disini individu memiliki kecenderungan gaya belajar audiorial kemungkinan akan belajar lebih baik dengan cara mendengarkan. Mereka menikmati saat-saat mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benr menempatkan pendengaran sebagi alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.artinya, anak harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi yang diterima. Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut: 1. Sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja. 2. Mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik. 3. Lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca. 4. Jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras. 5. Dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara. 6. Mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita.

7. Berbicara dalam irama yang terpola dengan baik. 8. Berbicara dengan sangat fasih. 9. Lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya. 10. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat. 11. Senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar. 12. Mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi. 13. Lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya. 14. Lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik. c. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh) Individu yang memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik akan lebih baik apabila terlibat secara fisik dalam kegiatan langsung. mereka akan belajar apabila mereka mendapat kesempatan untuk memanipulasi media untuk mempelajari informasi baru. Manusia adalah unik, demikian pula siswa. Siswa memiliki karakteristik belajar sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. Karakteristik cara belajar siswa di pengaruhi oleh banyak faktor, baik keluarga, lingkungan, sekolah dan lain-lain.. Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri- ciri perilaku sebagai berikut: 1. Berbicara dengan perlahan. 2. Menanggapi perhatian fisik. 3. Menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka. 4. Berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain. 5. Banyak gerak fisik. 6. Memiliki perkembangan otot yang baik. 7. Belajar melalui praktek langsung atau manipulasi. 8. Menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung. 9. Menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca. 10. Banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal). 11. Tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama.

12. Sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut. 13. Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi. 14. Pada umumnya tulisannya jelek. 15. Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik). 16. Ingin melakukan segala sesuatu Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Sementara itu, dari sekian banyak informasi dan temuan mengenai gaya belajar, ada sebuah model yang dikemukakan oleh David Kolb. Dalam model belajar Kolb (1984)terdapat 2 deskripsi bipolar.Deskripsi bipolar pertama berposisi vertical berupa pengalaman konkret(feeling), konseptual abstrak (thinking), bipolar kedua yang berposisi horizontal berupa eksperimen aktif (doing,belahan kanan) dan pengamatan reflektif (wathing,sebelah kiri) sehingga pada 2 garis berpotongan tegak lurus itu berbentuk empat model kuadrat. 1. Gaya Diverger Kombinasi dari perasaan dan pegamatan (feeling dan watching).siswa dengan gaya diverger unggul dalam melihat situasi konkret dari banyak sudut pandang yang berbeda . pendekatannya padasetiap situasi adalah dengan mengamati dan bukan bertindak. Siswa seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide, biasanya menyukai isu budaya seta suka mengumpulkan informasi. 2. Gaya Assimilator Merupakan kombinasi dari berpikir dan mengamati(thinking dan watching)siswa dengan gaya ini memiliki kelebihan dalam memahami berbagai informasi serta merangkumnya dalam suatu format yang logis,singkat dan jelas. Biasanya siswa dengan gaya assimilator kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis. 3. Gaya Konverger

Merupakan kombinasi dari berpikir dan berbuat (thinking dan doing).siswa dengan gaya ini unggul dalam menenukan fungsi praktis, dari berbagai ide dan teori.biasanya siswa dengan gaya ini punya kemampuan yag baik dalam pemecahan masalah dan pengambilaan keputusan. Siswa juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis dari pada masalah social. 4. Gaya Akomodator Merupakan kombinasi dari perasaan dan tidakan (feeling and doing). Siswa dengan gaya belajar akomodasi memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukan sendiri. Siswa dengan gaya ini suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Dalam memecahkan masalah mempertimbangkan faktor manusia untuk mendapatkan masukan /informasi. 1. Hubungan Gaya Belajar dengan Situasi Pembelajaran Gaya belajar seorang siswa merupakan cerminan kecakapan yang diperolehnya dari ligkungan dan riwayat belajar siswa sebelumnya. Menurut Kolb (Anawati ,2004) siswa belajar sebaik-baiknya ketika materi pembelajaran disajikan dalam pola yang selaras dengan gaya belajar pilihannya. C. MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA DAN GENDER DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR a. Budaya dalam pendidikan Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada anak-cucu mereka; melainkan dapat pula secara horisontal yaitu manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya. Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi berikutnya oleh indiividu lain. Berbagai gagasannya dapat dikomunikasikannya kepada orang lain karena ia mampu mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambang-lambang vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya, dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan. Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus, ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa ke masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai akibatnya di berbagai tempat dan waktu yang berlainan, dimungkinkan adanya unsur-unsur persamaan di samping perbedaan-perbedaan. Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat dipandang ketinggalan zaman (anakronistik), dan di luar tempatnya dipandang asing atau janggal. Peneliti Sosial, Department of Anthropology University of Sussex, United Kingdom mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kumpulan individu yang memiliki karakteristik khas dengan aneka ragam etnik, ras, budaya, dan agama.Setiap kelompok masyarakat mempunyai pola hidup berlainan, bahkan orientasi dalam menjalani kehidupan pun tidak sama. Sebagai suatu unit sosial, setiap kelompok masyarakat saling berinteraksi yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Dalam proses interaksi itu, setiap kelompok masyarakat saling mempelajari, menyerap, dan mengadopsi budaya kelompok masyarakat lain yang kemudian melahirkan sintesis budaya baru. Dalam kajian antropologi, ada tiga istilah untuk menjelaskan peristiwa interaksi sosial budaya, yakni sosialisasi, akulturasi, dan enkulturasi. Ketiganya saling terkait, namun masih tetap bisa dibedakan antara satu dan yang lain. Dapat dikatakan, sistem persekolahan adalah salah satu pilar penting yang menjadi riang penyangga sistem sosial yang lebih besar dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat, untuk mewujudkan cita-cita kolektif. Maka, pendidikan yang diselenggarakan melalui- meskipun tidak hanya terbatas pada-sistem persekolahan semestinya dimaknai sebagai sebuah strategi kebudayaan (lihat artikel Media Indonesia, 9/11/2009). Dalam hal ini, pendidikan merupakan medium transformasi nilai-nilai budaya, penguatan ikatan-ikatan sosial antarwarga masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk mengukuhkan peradaban umat manusia. Dimulai dari pembahasan tentang suatu pernyataan hipotetis bahwa berbagai persoalan di masyarakat seperti pengangguran, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sistem pendidikan yang tidak "pas" dengan budaya Indonesia. Untuk menemukan pendidikan yang berakar budaya bangsa perlu dilaksanakan penajaman penelitian pendidikan. Namun dalam mencari pendidikan yang berakar pada budaya bangsa tidak berarti bahwa pendidikan harus bersifat ekslusif. Hal ini bertentangan dengan realitas globalisasi. Oleh karena itu, pencarian

pendidikan yang berakar pada budaya bangsa harus pula memahami karekteristik pendidikan modern, bisa dileburkan pendidikan modern kedalam kearifan budaya lokal. Dalam melestarikan khazanah budaya Indonesia yang kaya diperlukan kontribusi pendidikan untuk menjaga keberlangsungan budaya tersebut. Pendidikan yang terbentuk bisa kita namakan pendidikan yang berlandaskan budaya atau pendidikan yang responsif terhadap kebudayaan. Akan tetapi di sisi lain model pendidikan kontemporer harus tetap diadopsi untuk menjamin kompetisi pendidikan. Sehingga pendidikan yang terbentuk yaitu kolaborasi antara kebudayaan dan modernisasi sistem pendidikan. Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Karena pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki. Oleh karena itu kebudayaan diturunkan kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggota-anggotanya. b. bias gender dalam pendidikan Yang dimaksud bias gender adalah mengunggulkan salah satu jenis kelamin dalam kehidupan sosial atau kebijakan publik. Bias gender dalam pendidikan adalah realitas pendidikan yang mengunggulkan satu jenis kelamin tertentu sehingga menyebabkan ketimpangan gender.1 Berbagaibentukkesenjangangenderyangterjadidalamberbagaibidangkehidupanmasyarakat,

terpresentasijugadalam dunia pendidikan.Bahkanprosesdaninstitusipendidikandipandangberperanbesar dalammensosialisasikandan melestrikan nilai-nilai dancarapandang yang mendasari munculnya berbagai ketimpangangender dalam masyarakat.Secara garis besar,fenomena kesenjangangender dalam pendidikan dapat diklasifikasidalam beberapa dimensi,antaralain: 1. Kurangnya partisipasi (under-participation). Dalam hal partisipasi pendidikan ,perempuan di seluruh dunia menghadapi problem yang sama. Dibanding lawan jenisnya, partisipasi perempuan dalam pendidikan formal jauh lebih rendah Dinegara-negara dunia ketiga di mana pendidikan dasar belum diwajibkan, jumlah murid perempuan umumnya hanya separuh atau sepertiga jumlah muridlaki-laki2 2. Kurangnya keterwakilan (under-representation). Partisipasi perempuan dalam pendidikan sebagai tenaga pengajar maupun pimpinan juga menunjukkan kecenderung disparitas progresif. Jumlah guru perempuan pada jenjang pendidikan dasar umumnya sama atau melebihi jumlah guru laki- laki. Namun, pada jenjang pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi, jumlah tersebut menunjukkan penurunandrastis. 3. Perlakuan yang tidak adil (unfair treatment) Kegiatan pembelajaran dan proses interaksi dalam kelas seringkali bersifat merugikanmuridperempuan.Gurusecaratidaksadarcenderung menaruh harapan dan perhatian yang lebih besar kepada murid laki-laki dibanding murid perempuan. Para guru kadangkala cenderung berpikir ke arah "self fulfilling prophecy" terhadap siswa perempuankarenamenganggapperempuantidak perlu memperoleh pendidikan yang tinggi.

Add a comment

Related presentations

Related pages

The Psychology of the Language Learner: Individual ...

The Psychology of the Language Learner: Individual Differences in Second Language Acquisition Second Language Acquisition Research: Amazon.de: Zoltan ...
Read more

Today’s teachers face many challenges in the classroom ...

We live in an era where schools are ... Learner differences are often addressed based on a philosophical orientation, a set of beliefs,
Read more

Learning Differences | Oak Foundation

Learning Differences . The Challenge . Approximately 20 per cent of children (10 million students) in United States public schools have learning profiles ...
Read more

Difference - Definition for English-Language Learners from ...

Definition of difference written for English Language Learners from the Merriam-Webster Learner's Dictionary with audio pronunciations, usage examples, and ...
Read more

Learner Differences - YouTube

Shaping the Way We Teach English: Module 11, Individual Learner Differences - Duration: ... Learn Colours Monster Trucks, Fire Engines, ...
Read more

difference Meaning in the Cambridge Learner’s Dictionary

difference meaning, definition, what is difference: the way in which two people or things are not the same: . Learn more.
Read more

INVESTIGATING INDIVIDUAL LEARNER DIFFERENCES Rationale

INVESTIGATING INDIVIDUAL LEARNER DIFFERENCES Rationale In order to develop effective pedagogical techniques and methods, language teachers, indeed teachers ...
Read more

Understanding Student Differences - NC State: WWW4 Server

Are there differences between students at different ... Differences Among Learners,” in M. C. Wittrock, ed., Handbook of Re-search on Teaching, 3rd ed.,
Read more