advertisement

Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian

55 %
45 %
advertisement
Information about Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian
Education

Published on March 15, 2014

Author: melinaeka

Source: slideshare.net

Description

Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian
advertisement

ACARA II ENZIM A. Tujuan Praktikum Acara II Enzim ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui pengaruh pH terhadap aktivitas kerja enzim Diastase atau Amilase. 2. Mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas kerja enzim Diastase atau Amilase. 3. Mengetahui aktivitas enzim amilase pada kecambah. B. Tinjauan Pustaka Enzim adalah reaksi atau proses kimia yang berlangsung dengan baik dalam tubuh kita ini dimungkinkan karena adanya katalis. Fungsi suatu enzim ialah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun luar sel. Enzim dapat menurunkan energi aktivitas suatu reaksi kimia (Poedjiadi, 1994). Laju reaksi meningkat dengan kenaikan suhu, dan akhirnya enzim kehilangan semua aktivitas jika protein menjadi rusak akibat panas. Enzim berfungsi pada suhu antara 25-37 C. Laju reaksi berkurang pada di kedua sisi pH optimum untuk setiap kombinasi (Page, 1997). Pengaruh suhu terhadap enzim karena struktur protein menentukan aktivitas enzim. Maka jika struktur ini terganggu aktivitas akan berubah. Proses denaturasi protein untuk protein-protein enzim dan bahan yang mendenaturasi adalah sama. Denaturasi akibat suhu tinggi biasanya irreversibel karena gaya- gaya ikatan lemah yang penting rusak akibat meningkatnya getaran termal komponen atom-atomnya (Ismadi, 1993). Karena reaksi kimia sangat dipengaruhi oleh suhu, maka reaksi yang dikatalis oleh enzim juga peka terhadap suhu. Enzim sebagai protein akan

mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan, akibatnya daya kerja enzim menurun. pH juga sangat berpengaruh terhadap aktivitas enzim, karena sifat ionik gugus karboksil dan gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH. Hal ini menyebabkan daerah katalitik dan konformasi enzim menjadi berubah (Girindra, 1990). Amilase adalah enzim yang berfungsi memecah pati atau glikogen. Amilase dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Alpha amilase, alpha amilase memecah pati secara acak dari tengah atau dari bagian dalam molekul, karenanya disebut endoamilase. Beta amilase, yaitu menghidrolisis unit-unit gula dari ujung molekul pati, karenanya disebut eksoamilase. Glukoamilase, yaitu yang dapat memisahakan glukosa dari terminal gula non-pereduksi substrat pati (Winarno, 1986). Enzim digunakan dalam industri karena bersifat sangat spesifik dibandingkan dengan katalis anorganik. Selain itu, enzim bekerja sangat efisien, beroperasi pada kondisi lunak, aman dan mudah dikontrol, dapat menggantikan bahan kimia yang berbahaya, dan dapat didegradasi secara biologis. Enzim mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dalam industri pangan, enzim alpha amilase berfungsi menyediakan gula hidrolisis pati sehingga dapat dimanfaatkan untuk produksi sirup glukosa ataupun sirup fruktosa yang mempunyai tingkat kemanisan tinggi, pembuatan roti, dan makanan bayi (Setiasih, 2006). Terjadinya perubahan nilai pH selama proses inkubasi sangat mempengaruhi kerja enzim. Karena perubahan pH menyebabkan terjadinya perubahan pada daerah katalitik dan konformasi dari enzim,dimana sifat ionik dari gugus karboksil dan gugus amino enzim tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pH. Selain itu, perubahan pH dapat menyebabkan denaturasi enzim sehingga dapat menimbulkan hilangnya fungsi katalitik enzim (Hidayat, 2005).

Amilase merupakan enzim yang mampu memecah molekul-molekul pati dan glikogen, sehingga banyak digunakan dalam berbagai industri, seperti indusri tekstil, deterjen dan gula cair non tebu. Aktifitas amilase dari enzim kasar ditentukan dengan cara mengukur jumlah gula pereduksi yang dihasilkan oleh aktivitas hidrolisis enzim terhadap substrat pati. Satu unit aktivitas amilase adalah banyaknya enzim yang dapat menghasilkan 1 μg glukosa per menit per mL larutan enzim pada kondisi pengujian yang dilakukan (Naiola, 2008). Kecambah kacang hijau mengandung enzim α-amilase. Parameter yang diamati adalah air dan kadar protein tunas, pH, aktivitas α-amilase, dan dilarutkan protein dalam ekstrak enzim. Potensi enzim yang ditemukan dalam kacang hijau dapat dimanfaatkan dalam pengolahan bahan industri yang memiliki kadar pati tinggi, seperti tepung jagung (Suarni, 2007). Kacang hijau merupakan salah satu tanaman penting dari wilayah Timur Utara India. Fosfatase enzim asam diisolasi dan dimurnikan secara parsial dari kecambah biji kacang hijau lokal. Sekuensial proses pemurnian parsial dilakukan dengan menggunakan metode presipitasi amonium sulfat. Enzim mentah memiliki aktifitas spesifik 0,5 U/mg dimurnikan menggunakan 30-70% amonium sulfat metode presipitasi. Aktifitas enzim diukur pada berbagai waktu inkubasi, pH, suhu, dan konsentrasi substrat (Surchandra, 2012). C. Metode Penelitian 1. Alat a. Pipet tetes b. Pipet volume c. Tabung reaksi dan rak tabung reaksi d. Gelas ukur e. Lempeng atau cawan porselin f. Gelas beker g. Penangas air

h. Mortar atau blender i. Stopwatch j. Penjepit k. Kain saring l. Inkubutor 2. Bahan a. Larutan buffer 6 ml pH 4.0; pH 6.0; pH 8.0 b. Larutan amilum 1% c. Larutan enzim diastase 2 ml d. Larutan Iodin 0,01 M dan 0.01 N e. Glikogen+Iod f. Amilum+Iod g. Selulosa+Iod h. Biji kacang hijau 50 g dan taoge g i. Aquades j. Reagen benedict

3. Cara Kerja a. Percobaan 1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Diastase/Amilase 1. 6 ml buffer pH 4,0 + 3 ml lrt amilum 1% 2. 6 ml buffer pH 6,0 + 3 ml lrt amilum 1% 3. 6 ml buffer pH 8,0 + 3 ml lrt amilum 1% Dimasukkan ke dalam 3 tabung bersih 1 ml larutan enzim diastase Dicatat waktu saat penambahan Dicampur baik-baik Diinkubasi pada penangas air 400C Diambil 1 tetes masing-masing tabung tiap 5 menit Diteteskan ke lempeng porselin Diuji iod 1 tetes lrt 0,01 N Iod Dicatat perubahan warna yang tejadi Dibandingkan warnanya dengan Amilum 1%+iod, Selulosa, Glikogen+iod Diuji dengan reagen Benedict

Uji Benedict b. Percobaan 2. Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Enzim Diastase / Amilase 2 ml amilum 1% dan 2 ml diastase Disiapkan 6 tabung Disiapkan penangas air Diinkubasi pada suhu 40oC selama 30 menit untuk tabung 1 dan 2 Diinkubasi pada suhu 40oC selama 10 menit untuk tabung 3 dan 4 Diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit untuk tabung 5 dan 6 Iod 0,01 N Ditambahkan larutan ke masing- masing tabung Diamati perubahan warnanya Ditambah 1 ml reagen Benedict Dinkubasi dalam penangas air selama 5 menit Diamati perubahan warnanya Diambil 1 ml larutan tiap sampel

c. Pengujian Amilase dari Biji Kacang Hijau dan Kecambah Ditambah 1 ml ekstrak kacang hijau Ditambah 1 ml ekstrak kecambah Diinkubasi 40°C Diambil 1 tetes diletakan pada test plate poselen (menit ke-0 dan ke-20) Ditetesi Iod 0,01 N Dicatat perubahan warnanya 3 ml amilum 1% + 6 ml buffer pH 6 (atur pH) 3 ml amilum 1% + 6 ml buffer pH 6 (atur pH) 3 ml amilum 1% + 6 ml buffer pH 6 (atur pH) 3 ml amilum 1% + 6 ml buffer pH 6 (atur pH)

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Uji Iod terhadap pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Diastase/Amilase. Kel Sampel+lar Buffer Perubahan Warna 5’ 10’ 15’ 20’ 1 dan 2 6 ml buffer pH 4+3 ml lar amilum1% Bening- keruh Keruh- agak kuning Keruh- kuning keruh Keruh- kuning pucat 3 dan 4 6 ml buffer pH 6+3 ml lar amilum1% Bening- bening Bening- bening Bening- kuning ada endapan Bening- kuning 5,6 dan 7 6 ml buffer pH 8+3 ml lar amilum1% Bening- bening Bening- agak kuning Bening- agak kuning Bening- kuning 8 dan 9 6 ml buffer pH 4+3 ml lar amilum1% Putih- putih (bening) Putih- putih (bening) Putih-putih (bening) Putih- putih (bening) 10 dan 11 6 ml buffer pH 6+3 ml lar amilum1% Putih- biru muda Putih- biru Putih-biru Biru tua- biru muda 12,13, dan 14 6 ml buffer pH 8+3 ml lar amilum1% Putih- bening Putih- bening Putih- bening Putih- bening Glikogen+Iod Kuning Amilum+Iod Biru tua Selulosa+Iod kuning Sumber : Laporan Sementara Pembahasan : Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Bekerja dengan urutan-urutan yang teratur, enzim mengkatalisis ratusan reaksi bertahap yang menguraikan molekul nutrien, reaksi yang menyimpan dan mengubah energi kimiawi dan yang membuat makro molekul sel dari prekursor sederhana. Di antara sejumlah enzim yang berpartisipasi di dalam metabolisme, terdapat sekelompok khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur, yang dapat mengenali berbagai isyarat metabolisme dan mengubah kecepatan katalitiknya sesuai dengan isyarat yang diterima. Melalui aktivitasnya sistem enzim

terkoordinasi dengan baik, menghasilkan suatu hubungan yang harmonis diantara sejumlah aktivitas metabolisme yang berbeda, yang diperlukan untuk menunjang kehidupan Enzim diastase merupakan enzim yang dapat memecah bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum menjadi senyawa yang lebih sederhana (glukosa). Enzim amilase tergolong dalam enzim hidrolase, sehingga pada umumnya bekerja sebagai katalis pada reaksi hidrolisis. Kerja suatu enzim akan optimal jika ditunjang oleh beberapa hal antara lain pH dan suhu. Namun bila pH terlalu tinggi maka enzim akan mengalami kerusakan yang ditandai dengan perubahan warna menjadi coklat yang terjadi karena tingkat ionisasi yang terlalu tinggi. Denaturasi protein adalah berubahnya struktur protein dari struktur asalnya atau struktur alaminya. Pada percobaan kali ini dilakukan pengamatan mengenai pengaruh pH terhadap aktifitas enzim diastase. Untuk mengetahui pengaruh nyata dari pH (tingkat keasaman) ini diperlukan dua tahap pengujian yaitu pengujian Iod dan pengujian Benedict. Pada umumnya setiap enzim memiliki pH optimum, yaitu pH pada saat gugus penerima atau pemberi proton pada sisi katalitik enzim berada pada tingkat ionisasi yang diinginkan. Enzim diastase atau amilase termasuk dalam enzim hidrolase yang berfungsi memecah substrat (pati) dengan bantuan air. Pengujian Iod dilakukan dengan mencampurkan larutan buffer pH 4, pH 6 dan pH 8 dengan substrat 6 ml amilum 1% ke dalam 3 tabung reaksi. Selanjutnya ditambahkan enzim diastase pada campuran larutan tersebut dan diinkubasi pada suhu 40o C (suhu optimum enzim diastase) selama 20 menit. Pada tabung I yaitu larutan dengan buffer pH 4 setelah 20 menit dilakukan inkubasi dan diambil setiap 5 menit 1 tetes tidak terjadi perubahan yaitu putih- putih (bening). Pada tabung II yaitu larutan dengan buffer pH 6 setelah 20 menit dilakukan inkubasi dan diambil setiap 5 menit 1 tetes terjadi perubahan warna dari warna putih menjadi biru muda.Sedangkan pada tabung III yaitu

larutan buffer pH 8 setelah 20 menit dilakukan inkubasi dan diambil setiap 5 menit 1 tetes warna berubah dari putih menjadi bening. Tapi kelompok lain saat tabung I diinkunbasi perubahan terjadi dari warna bening menjadi kuning keruh, pada tabung II terjadi perubahan terjadi dari warna bening menjadi kuning, sedangkan pada tabung III terjadi perubahan warna dari warna bening menjadi agak kuning. Kemudian warna dari enzim diastase tadi dibandingkan dengan Amilum 1% ditambah Iod (biru tua), glikogen 1% ditambah Iod (kuning), selulosa ditambah Iod (kuning). Perbandingan warna ini digunakan untuk mengetahui bahwa pada rentang pH berapa ia mengubah pati (amilum) menjadi glikogen kemudian mengubah glikogen menjadi glukosa (gula maltosa). Hasil yang diperoleh tidak begitu jauh dari teori. Dari teori dikatakan bila suatu sampel dilakukan uji iod maka warna yang dihasilkan antara kuning kecoklatan – biru. Maksudnya jika pH < 7 maka warnanya kuning kecoklatan. Jika pH > 7 warnanya akan biru. Dengan demikian percobaan ini menandakan bahwa pH berpengaruh dalam keoptimalisasian kerja suatu enzim. Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Uji Benedict terhadap Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Diatase/Amilase. Kel Sampel+Lar buffer Waktu inkubasi Perubahan warna 1 dan 2 1 ml buffer pH 4+lar amilum 1 % 0 menit Biru-biru 5 menit Biru-biru 3 dan 4 1 ml buffer pH 6+lar amilum 1 % 0 menit Biru-biru 5 menit Biru-biru 5,6 dan 7 1 ml buffer pH 8+lar amilum 1 % 0 menit Biru-biru 5 menit Biru-biru 8 dan 9 2 ml reagen benedict+1 ml lar sampel Tabung 1 1 menit Tidak ada perubahan warna 10 dan 11 2 ml reagen benedict+1 ml lar sampel Tabung 2 1 menit Tidak ada perubahan warna 12,13, dan 14 2 ml reagen benedict+1 ml lar sampel Tabung 3 1 menit Tidak ada perubahan warna Sumber : Lapaoran Sementara

Pembahasan : Faktor yang mempengaruhi kerja enzim selain pH adalah suhu. Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim diastase. Semakin tinggi suhu, maka laju reaksinya akan semakin tinggi. Energi kinetik akan meningkat pada kompleks enzim dan substrat yang bereaksi. Namun, peningkatan energi kinetik oleh peningkatan suhu mempunyai batas yang optimum. Jika batas tersebut terlewati, maka energi tersebut dapat memutuskan ikatan hidrogen dan hidrofobik yang lemah yang mempertahankan struktur sekunder-tersiernya. Proses pemanasan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan proses inaktivasi enzim meningkat sehingga terjadi denaturasi. Proses denaturasi dapat terjadi karena enzim juga merupakan protein. Aktivitas enzim akan menurun drastis apabila telah mencapai batas suhu maksimumnya. Waktu pemanasan mempunyai pengaruh terhadap aktivitas dan intensitas warna enzim. Semakin lama waktu pemanasan, maka intensitas warnanya akan semakin gelap dan aktivitas enzim akan semakin turun. Enzim akan memecah dan akan membuat aktivitas enzim berhenti yang ditandai dengan warna larutan yang semakin gelap. Pengujian Benedict dilakukan setelah pengujian Iod. Kegunaan uji Iod adalah untuk mengatahui kandungan amilum (polisakarida) pada makanan atau karbohidrat kandungannya. Begitupula dengan kegunaan uji Benedict mengetahui kandungan glukosa (monosakarida) pada karbohidrat yang akan di uji. Selain itu uji benedict juga di gunakan untuk pemeriksaan glukosa dalam urine. Larutan benedict mengandung ion-ion tembaga (II) yang dikompleks dalam sebuah larutan basa. Selain itu mengandung ion-ion tembaga (II) yang kompleks dengan ion-ion sitrat dalam larutan karbonat. Pengompleksan ion-ion tembaga (II) dapat mencegah terbentuknya sebuah endapan (II) karbonat. Pada uji benedict pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali dalam gugus aromatik dan alpha hidroksi keton oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton

maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan maltosa dalam suasana basa memberikan hasil positif (+) dengan pereaksi benedict. Pada percobaan kali ini dapat dibahas bahwa praktikum shift 1 pada sampel 1 ml buffer pH 4+larutan amilum 1% setelah 5 menit diinkubasi tidak terjadi perubahan warna. Pada sampel 1ml buffer pH 6+larutan amilum 1% setelah 5 menit diinkubasi tidak terjadi perubahan warna. Pada sampel pH8+larutan amilum 1% setelah diinkubasi juga tidak terjadi perubahan warna. Pada praktikum shift 2 sampel 2 ml reagen benedict+1 ml larutan sampel tabung 1 waktu inkubasi 1 menit tidak terjadi perubahan warna. Pada sampel 2 ml reagen benedict+1 ml larutan sampel tabung 2 waktu inkubasi 1 menit tidak terjadi perubahan warna. Sedangkan sampel 2 ml reagen benedict+1 ml larutan sampel tabung 3 waktu inkubasi 1 menit juga tidak terjadi perubahan warna. Dari hasil percobaan larutan-larutan tersebut tidak mengalami perubahan warna hal ini membuktikan bahwa larutan tersebut tidak mengandung gula pereduksi. Padahal teori mengatakan bahwa suatu larutan mengandung gula pereduksi jika adanya degredasi amilum menjadi glukosa dengan ditandai adanya endapan merah bata. Warna merah bata yang terbentuk disebabkan oleh maltosa dan glukosa memiliki gugus aldehid yang bebas sehingga dapat mereduksi ion-ion tembaga (Cu) yang terdapat pada larutan benedict menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Hal ini disebabkan mungkin pada saat inkubasi waktu yang diperlukan kurang.

Tabel 2.3 Hasil Pengamatan Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Enzim Diastase/Amilase Kel Sampel Suhu Inkubasi Waktu Inkubasi Perubahan Warna Awal Sesudah inkubasi Setelah ditambah 1 ml 0,01N 1, 2 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase 40 ̊ C 30’ Putih keruh Putih bening ada endapan Ungu kehitaman 3, 4 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase 100 ̊ C 10’ Putih keruh Putih bening tanpa endapan Biru kehitaman ada endapan 5 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase Suhu Kamar 30’ Putih keruh Bening ada endapan Hitam bening 6 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase Suhu Kamar 30’ Putih keruh Bening ada endapan Ungu pekat 7 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase 100 ̊ C 10’ Putih keruh Bening tanpa endapan Biru kehitaman ada endapan 8, 9 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase 40 ̊ C 30’ Putih keruh Bening Ungu keruh 10, 11, 14 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase 100 ̊ C 10’ Putih keruh Bening Ungu pekat 12, 13 2 ml Amilum 1 % + 2 ml diastase Suhu Kamar 30’ Putih keruh Bening Hitam bening Sumber : Laporan Sementara

Pembahasan Sehubungan pengaruh suhu terhadap aktifitas enzim, semakin meningkat suhu, aktivitas enzim akan semakin meningkat. Pada pemanasan tinggi, enzim yang merupakan suatu protein akan mengalami denaturasi sehingga aktivitas kerjanya menjadi nol. Setiap enzim memiliki suhu optimum tertentu, seperti halnya enzim yang terdapat pada hewan mempunyai suhu optimum antara 400 C-500 C, pada tumbuhan antara 500 C-600 C. Pada percobaan ini dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim diastase/amilase. Amilum 1% sebanyak 2 ml dicampur dengan larutan diastase sebanyak 2 ml lalu dipanaskan pada suhu 400 C, 1000 C, dan pada suhu kamar. Selanjutnya masing-masing larutan ditambah dengan 1ml Iod 0,01 N dan dilakukan pengamatan mengenai perbedaan warna yang terjadi. Hasil yang diperoleh setelah pengujian menunjukkan bahwa setelah dilakukan pemanasan hingga suhu 400 C selama 30 menit terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu keruh. Pemanasan setelah suhu 1000 C selama 10 menit menyebabkan perubahan warna dari putih menjadi ungu pekat. Sedangkan setelah dipanaskan pada suhu kamar selama 30 menit terjadi perubahan warna dari bening menjadi hitam bening. Pemanasan dengan suhu 400 C aktivitas enzim diastase/amilase masih bekerja dengan baik dan pada suhu diatas 400 C kerja enzim cenderung tidak meningkat. Hasil tersebut dapat dikatakan sesuai dengan teori dimana suhu optimum enzim yaitu pada suhu 40o C. Enzim sering memperlihatkan kerapuhan akibat suhu jika dipanaskan hingga suhu diatas 50C kebanyakan tidak semua enzim terdenaturasi. Penurunan aktivitas enzim terlihat secara tajam dalam kisaran yang sangat kecil setelah melewati titik muai denaturasi.

Tabel 2.4 Hasil Pengamatan Pengujian Amilase dari Kecambah Kel Sampel Perubahan Warna Menit ke 0 Menit ke 20 1 Ekstrak kacang hijau Bening- sedikit endapan biru tua Bening- kuning pekat 2 Ekstrak kacang hijau Bening- bening Bening- kuning pekat 3 Ekstrak kacang hijau Bening- sedikit endapan biru tua Bening- kuning pekat 4 Ekstrak kacang hijau Bening- sedikit endapan biru tua Bening- kuning pekat 5 Ekstrak taoge Bening – banyak endapan biru tua Bening- putih pekat 6 Ekstrak taoge Bening – banyak endapan biru tua Bening- putih pekat 7 Ekstrak taoge Bening – banyak endapan biru tua Bening- putih pekat 8 Ekstrak kacang hijau Hijau – ungu kehitaman Keruh – kuning cerah 9 Ekstrak kacang hijau Hijau – kuning keruh Keruh – kuning cerah 10 Ekstrak kacang hijau Hijau keruh – ungu kehitaman Keruh – kuning cerah 11 Ekstrak kacang hijau Hijau keruh – ungu kehitaman Keruh – kuning cerah 12 Ekstrak taoge Putih keruh – ungu kehitaman Putih keruh- kuning muda 13 Ekstrak taoge Putih keruh – ungu kehitaman Putih keruh- kuning muda 14 Ekstrak taoge Putih keruh – ungu kehitaman Putih keruh- kuning muda Sumber : Laporan Sementara Pembahasan Amilase merupakan enzim pemecah pati dan merupakan enzim hidrolase. Amilase pada percobaan ini didapatkan dari ekstrak biji kacang hijau dan ekstrak taoge yang ditambah larutan amilum yang sudah ditambahkan larutan buffer pH 6 kemudian diinkubasi pada suhu 40o C. Dan pada menit ke-0

dan ke-20 ditetesi larutan Iod 0,01 N serta diamati perubahan warna yang terjadi pada ekstrak kacang hijau maupun ekstrak taoge. Berdasarkan hasil percobaan dari ekstrak kacang hijau sebelum dilakukan inkubasi terjadi perubahan warna dari warna hijau keruh menjadi ungu kehitaman. Setelah di inkubasi pada suhu 40o C selama 20 menit terjadi perubahan warna dari keruh berubah menjadi warna kuning cerah. Enzim amilase bekerja pada suhu kompartemen ± 40˚C. Pemanasan yang dilakukan, mengakibatkan enzim amilase menjadi inaktif. Bila dipanaskan secara berlebihan dapat menyebabkan denaturasi protein.Sedangkan percobaan dengan menggunakan ekstrak tauge sebagai bahan uji pada saat sebelum di inkubasi (0o C) terjadi perubahan warna dari putih keruh menjadi warna ungu kehitaman, kemudian setelah dilakukan inkubasi dengan suhu 40o C selama 20 menit juga terjadi perubahan warna dari warna putih keruh menjadi warna kuning muda. Percobaan ini menggunakan bahan uji ekstrak kacang hijau dan ekstrak touge yang bertujuan untuk mempermudah berlangsungnya reaksi enzimatik. Pada percobaan dengan menggunakan bahan larutan ekstrak kacang hijau, terdapat endapan yang lebih banyak dibandingkan pada percobaan dengan bahan larutan ekstrak touge, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak touge mempunyai aktivitas amilase lebih besar dibandingkan dengan ekstrak kacang hijau. Enzim amilase bekerja dengan sangat baik pada suhu kamar. Sedangkan, bila suhunya dinaikkan, enzim amilase tidak dapat bekerja dengan baik dalam memecah amilum. Hal ini membuktikan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap cara kerja enzim.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi cara kerja enzim, yaitu : 1. suhu Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan

denaturasi dan bagian aktif enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang. 2. pH Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein. 3. konsentrasi enzim Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim. 4. konsentrasi substrat Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar. 5. zat-zat penghambat / inhibitor Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan. E. KESIMPULAN 1. Pada pengujian pengaruh pH terhadap aktivitas enzim diastase/amilase (Uji Iod) tidak terjadi perubahan warna yang signifikan yang menunjukkan pH optimum untuk kerja enzim amilase. pH optimum untuk kerja enzim yaitu berkisar antara 6-8. 2. Pada pemanasan enzim amilase dengan suhu 400 C terjadi perubahan warna dari bening menjadi kunign keruh sedangkan pada pemanasan dengan suhu diatas 400 C mengakibatkan warna enzim menjadi ungu pekat (denaturasi).

Sehingga dapat dikatakan suhu optimum enzim amilase adalah pada suhu 40o C. 3. Pengujian amilase dari kecambah pada percobaan dengan menggunakan bahan uji ekstrak kacang hijau, terdapat endapan yang lebih banyak dibandingkan pada percobaan dengan bahan uji ekstrak touge, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak touge mempunyai aktivitas amilase lebih besar dibandingkan dengan ekstrak kacang hijau.

DAFTAR PUSTAKA Girindra, Aisyah. 1990. Biokima I. Gramedia. Jakarta. Hidayat, Iman. 2005. Pengaruh pH terhadap Aktivitas Endo-1,4-β-Glucanase Bacillus sp. AR 009. Jurnal Biodiversitas Vol 6, No 4, Hal. 242-244. Ismadi, M. 1983. Biokimia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Naiola, Elidar. 2008. Mikrobia Amolitik pada Nira dan Laru dari Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Biodiversitas Vol. 9, No 3, Hal. 165-168. Page, David S. 1997. Prinsip-Prinsip Biokimia. Erlangga. Jakarta. Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia. Jakarta. Setiasih, Siswati, B. Wahyuntari, Trismilah, D. Apriliani. 2006. Karakterisasi Enzim α-Amilase Ekstrasel dari IsolatBakteri Termofil SW2. Jurnal Kimia Indonesia Vol 1, No 1, Hal. 22-27. Suarni, R. Patong. 2007. Potensi Kecambah Kacang Hijau sebagai Sumber Enzim Α- Amilase. Jurnal Kimia Vol. 7, No. 3, Hal. 332-336. Surchandra, Th, S. S. Roy, N. R. Singh, M. R. Sahoo, N. Prakash. 2012. Partial Purification and biochemical characterization of acid phosphatase from germinated mung bean (Vigna radiata) seeds. African Journal of Biotechnology Vol 11, No 103, Hal. 16777-16778.

ACARA III ISOLASI PATI UBI KAYU DAN FERMENTASI A. Tujuan Tujuan dari praktikum acara III “Isolasi Pati Ubi Kayu dan Fermentasi” adalah 1. Mengetahui proses isolasi amilum dari ubi kayu dengan hidrolisisnya 2. Mengetahui uji kualitatif terhadap hidrolisis pati 3. Mengidentifikasi adanya pati, polisakarida dan gula pereduksi pada pengamatan hidrolisa pati 4. Mengetahui uji pikrat, uji barfoed, uji molisch, uji seliwanoff dan uji benedict 5. Mengetahui reaksi peragian (fermentasi) dengan uji benedict B. Tinjauan Pustaka Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk dunia, khususnya penduduk negara yang sedang berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat hanya 4 Kal (kkal) bila dibandingkan dengan protein dan lemak, karbohidrat merupakan sumber kalori yang murah. Dalam tubuh karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein (Winarno, 2004). Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang mempunyai rumus molekul umum (CH2O)n yang pertama lebih dikenal sebagai golongan aldosa dan yang yang kedua adalah ketosa. Dari rumus umum dapat diketahui bahwa krbohidrat adalah suatu polimer. Senyawa yang menyusunnya adalah monomer-monomer. Dari jumlah monomer yang menyusun polimer

tersebut, maka karbohidrat dibagi menjadi tiga golongan yaitu, monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida (Martoharsono, 1990). Terdapat tiga kelas besar karbohidrat yaitu, monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Polisakarida dan oligosakarida dapat dihidrolisa secara sempurna untuk menghasilkan monosakarida, dan hidrolisa lebih lanjut tidak menghasilkan molekul apapun yang lebih kecil dari monosakarida. Oligosakarida adalah polimer yang terdiri dari dua hingga enam satuan monosakarida. Polisakarida seperti pati dan selulosa mengandung beribu-ribu satuan monosakarida yang dihubungkan dengan sambungan- sambungan kovalen yang dapat dihidrolisa (Page, 1989). Gula sederhana dan zat-zat yang dengan hidrolisis menghasilkan gula sederhana disebut karbohidat. Nama karbohidrat digunakan karena komposisi kebanyakan gula, pati, dan selulosa berpadanan dengan hidrat hipotesis dari karbon. Pemecahan (hidrolisis) molekul gula, pati, selulosa yang kompleks menjadi molekul monosakarida mudah dilakukan dalam laboratorium dengan mendidihkan larutan atau suspensi karbohidrat itu dengan larutan encer asam (Keenan, 1992). Pati adalah sumber karbohidrat yang penting dalam makanan dan merupakan sumber utama. Pati adalah campuran polisakarida amilosa dan amilopektin. Dapat dipisah satu dari yang lain dengan cara fisik atau kimia. Pati terdiri dari ± 15% amilosa dan ± 85% amilopektin. Amilosa adalah polisakarida berantai lurus. Amilosa dapat dianggap baik sebagai polimaltosa maupun sebagai poliglukosa. Pati memberi warna biru tua yang karakteristik bila direaksikan dengan yodium. Reaksi ini digunakan untuk mendeteksi adanya pati, karena reaksinya sangat peka dan spesifik (Tarigan, 1983). Pati tidak larut dalam air dan dalam analisis pati, memberikan warna biru dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/ amilum adalah glukosa (Harrow, 1946 dalam Manatar, 2012). Hidrolisis pati akan terjadi pada pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilosa yang memberi

warna biru dengan iodium, amilopektin yang memberi warna merah dengan iodium. Pati sagu disebut juga poliglukosa, karena unit monomernya glukosa (Anwar, 1994 dalam Manatar, 2012). Pati atau karbohidrat dapat diperoleh dari berbagai jenis tumbuhan seperti ketela pohon, ketela rambat, padi, pisang dan sebagainya, Di dalam tumbuh tumbuhan, pati disimpan dalam batang, akar, buah atau biji sebagai cadangan makanan (Agra dkk, 1973). Ditinjau dari rumus kimianya pati adalah karbohidrat yang berbentuk polisakharida berupa polimer anhidro monosakarida dengan rumus umum (C6H10O5)n. Penyusun utama pati adalah amilosa dan amilopektin. Amilosa tersusun atas satuan glukosa yang saling berkaitan melalui ikatan 1-4 glukosida, sedangkan amilopektin merupakan polisakharida yang tersusun atas 1-4α glikosida dan mempunyai rantai cabang 1-6α glukosida (Kirk and Othmer, 1954 dalam Yuniwati dkk, 2011). Selama ini penentuan kadar pati oleh para pembeli di lapangan dilakukan berdasarkan perbedaan berat umbi di udara dan berat umbi di dalam air, kemudian dihitung berdasarkan rumus yang dirancang oleh International Starch Institute (1999). Metode ini telah dibuktikan mempunyai korelasi yang tinggi dengan kadar pati yang ditentukan secara kimia seperti hidrolisis asam. Akan tetapi, metode ini kurang praktis dilakukan di lapangan karena beberapa hal yaitu memerlukan jumlah air yang banyak yang biasanya tidak tersedia di perkebunan ubi kayu, memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengukurannya, perlu tenaga operator yang terlatih serta harga alat mahal (Nurdjanah dkk, 2007). Hidrolisis pati didapatkan dari dua langkah hidrolisis pati didinginkan, disaring untuk menghilangkan trub dan disterilkan dalam uap autoclave. Etanol fermentasi ragi dalam kondisi anaerob. Fermentasi diulang kembali dengan cara yang sama dengan konsentrasi inokulum dan kondisi laboratorium. Hal ini merupakan produksi etanol yang berasal dari pati singkong (Okon et all, 2009).

Hidrolisis pati melibatkan pembelahan yang glukosidik ikatan antara unit monomer (D-glucose) pati. Ini adalah reaksi yang dikatalisis oleh encer asam (hidrolisis asam), enzim (enzim-enzim hidrolisis). Ada juga teknik mikroba mengkonversi pati menjadi produk yang diinginkan (Omemu et all, 2005 dalam Anozie and A.F Aderibigbe, 2011). Mengingat potensi besar untuk assava pati industri produksi sirup di negara-negara tropis. Hidrolisis enzimatik pati merupakan langkah pertama banyak industri konversi produk pertanian menjadi makanan, minuman, dan bahan kimia. Amilase yang mengkatalisasi hidrolisis pati yang baik hadir dalam olahan bahan baku atau diproduksi secara terpisah dengan fermentasi (Aderibigbe et all, 2012). C. Metode Penelitian 1. Alat a. Erlenmeyer b. Kertas saring c. Lempeng porselin/ test plate d. Gelas beker e. Gelas ukur f. Penangas air g. Penjepit h. pH meter i. Pipet ukur j. Propipet k. Rak tabung reaksi l. Tabung reaksi 2. Bahan a. Alkohol 95 % b. Aquades

c. Asam pikrat jenuh d. Larutan fruktosa 1% e. Larutan HCl pekat f. Larutan H2SO4 pekat g. Larutan hidrolisa pati h. Larutan iodin 0,01 M i. Larutan glukosa 1% j. Larutan NaOH 8N k. Larutan Na2CO3 1M l. Larutan pati 1% m.Larutan ragi roti 5% n. Larutan sukrosa 10% o. Pereaksi barfoed p. Pereaksi fehling q. Pereaksi molisch r. Pereaksi seliwanoff s. Reagent barfoed dan buffer fosfat t. Reagen benedict u. Suspensi ragi roti 5% v. Ubi kayu

3. Cara Kerja 3.1 Isolasi Pati Ubi Kayu a. Isolasi Pati Umbi/ Biji-bijian Ubi kayu dikupas dan ditimbang sebanyak 100 gram Ubi kayu dicuci dan dipotong kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam blender Ditambah 200 ml aquades kemudian diblender selama 30 detik dan lakukan beberapa kali Ditambah lagi 200 ml aquades lalu dikocok Hasil diendapkan Disaring residu dengan kertas saring dan larutan yang keruh ditampung dalam gelas ukuran 500 ml

b. Hidrolisis Pati 25 ml larutan pati 1% (dibuat dari amilum Ditambah 2 ml reagen fehling Dimasukkan ke dalam tabung reaksi Ditambah 1 tetes larutan iod 0,01 N Diteteskan pada lempeng porselin/ test plate Pada waktu yang sama diambil 1 ml larutan dan dilakukan uji fehling Diambil 1 ml larutan dan dilakukan uji iod pada menit ke 5, 10 dan 15 Ditambahkan 10 tetes HCl pekat dan dididihkan Dimasukkan ke dalam gelas beker

c. Uji Kualitatif terhadap Hidrolisis Pati Diambil sisa hidrolisis pati 1 % lalu dipanaskan dalam penangas air selama 10 menit Ditambah 0,5 ml NaOH 8 N Didinginkan dan dinetralkan Diamati perubahan yang terjadi Dihitung tingkat keasaman menggunakan kertas pH kemudian selanjutnya untuk diuji kualitatif

1) Uji Molisch 2) Uji Pikrat Dimasukkan 2 ml larutan glukosa 1%, fruktosa 1%, hidrolisa pati dan larutan pati 1% pada masing-masing tabung Ditambahkan 1 ml asam pikrat dan 0,5 ml Na2CO3 1 M Dipanaskan dalam penangas air sampai mendidih Disiapkan 4 tabung reaksi Diamati perubahan yang terjadi Ditambah 5 ml asam sulfat pekat dengan hati- hati dan perlahan-perlahan melalui dinding tabung reaksi Ditambah 2 tetes pereaksi molisch Dimasukkan 2 ml larutan hidrolisat pati, larutan pati 1%, larutan fruktosa 1%, dan larutan glukosa 1% ke dalam masing-masing tabung reaksi Disiapkan 4 tabung reaksi

3) Uji Barfoed 4) Uji Seliwanoff Hidrolisa pati, glukosa 1%, fruktosa 1% dan larutan pati 1% Dibandingkan kecepatan reduksi pada setiap sampel Dididihkan tabung dalam penangas air Dimasukkan ke dalam tabung reaksi Diamati perubahan yang terjadi Disiapkan 4 tabung reaksi Dimasukkan larutan pati 1%, hidrolisat pati, glukosa 1%, fruktosa 1% ke dalam masing- masing tabung reaksi Ditambahkan 2 ml larutan pereaksi pada masing-masing tabung Dipanaskan selama 10 menit

5) Reaksi Peragian 1 ml larutan ragi roti 5% dan 1 ml larutan pati 1% Dimasukkan ke dalam tabung reaksi Dipanaskan ke dalam penangas air selama 5 menit Ditambah 2 ml larutan benedict ke dalam masing-masing tabung

6) Uji Benedict D. Pembahasan 1. Isolasi Pati Ubi Kayu a. Isolasi Pati Ubi Kayu Randemen pati dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Add a comment

Related presentations

Related pages

Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian - Education

Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian. Laporan Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian. Dokumen.tips. Upload Login / Signup. Leadership; Technology;
Read more

Dunia Kampus: Laporan Biokimia I : Lipida

Laporan Biokimia I : Lipida. Dunia ... TEKNOLOGI PERTANIAN. ... Adapun hasil dari percobaan ini minyak dan mentega kedua bahan ini larut dalam ...
Read more

Laporan Praktikum Biokimia Lipid: LAPORAN PRAKTIKUM ...

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN. ... Laboratorium BIOKIMIA Fakultas Pertanian Universitas Katolik Santo ... Laporan penelitian.Bogor:IPB.
Read more

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA I KARBOHIDRAT

teknologi hasil pertanian. ... laporan tetap praktikum biokimia i karbohidrat ... imfrantoni purba o5111003014 teknologi pertanian ...
Read more

Laporan Biokimia Protein - scribd.com

Teknologi Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya. ... 49144746 Laporan Biokimia PROTEIN.
Read more

Artikel Teori Biokimia - Teknologi Hasil Pertanian

Polisafaris Teknologi Hasil Pertanian kumpulan artikel, makalah, laporan praktek,dalam bidang THP yang bertujuan untuk memajukan pertanian. .
Read more

Materi Kuliah Teknologi Hasil Pertanian: Laporan Evaluasi ...

Secara biokimia, karbohidrat adalah ... Daftar Mata kuliah Jurusan Teknologi Hasil Pertanian ... LAPORAN KELOMPOK FISIOLOGI DAN TEKNOLOGI PASCA PANEN ...
Read more

imfrantoni purba: laporan biokim iod dan fermentasi

teknologi hasil pertanian. ... laporan tetap praktikum biokimia i karbohidrat ... imfrantoni purba o5111003014 teknologi pertanian ...
Read more

Lab. Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian - 9 visitors

lab. kimia dan biokimia hasil pertanian bandar lampung location • ... Teknologi Hasil Pertanian (Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1) Bandar Lampung Lampung
Read more