Kolaborasi dalam Pelayanan Maternal Neonatal di Indonesia

50 %
50 %
Information about Kolaborasi dalam Pelayanan Maternal Neonatal di Indonesia

Published on October 18, 2020

Author: dwiraniamelia

Source: slideshare.net

1. KOLABORASI DALAM PELAYANAN MATERNAL NEONATAL Dwirani Amelia

2. outline • Latar belakang • Standar penyelenggaraan pelayanan persalinan • Pelayanan Gadar Matneo • Peran Bidan – Dokter – Dokter Spesialis

3. Latar belakang • Hasil Analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun 2010 menunjukkan bahwa kematian ibu erat kaitannya dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan.

4. Upaya penurunan AKI AKN Perbaikan kualitas lebih berdampak dibanding dengan perbaikan akses (Lancet 2018)

5. Ibu hamil bidan klinik Puskesmas Rumah Sakit rujukan sekunder Rumah Sakit rujukan tersier Jalan ibu menuju kematian Kematian 70 – 80% Persalinan 70 – 80% Terlambat Mengambil Keputusan Terlambat Mencapai Tempat Pelayanan Terlambat Mendapatkan Pelayanan Berkualitas

6. Pengertian 3 Terlambat Faktor yang Mempengaruhi Fase Keterlambatan Faktor Sosial Ekonomi dan Budaya Aksesibilitas Fasyankes Kualitas Pelayanan Terlambat Memutuskan Terlambat Mencapai Faskes Terlambat mendapat pelayanan yang SESUAI

7. KUALITAS PELAYANAN MATERNAL NEONATAL Tata Kelola Klinik

8. Kegawatdaruratan VS Normal Kehamilan dan Persalinan adalah proses ALAMIAH Persalinan NORMAL Terjadi komplikasi – dikenali? Terlambat dikenali? Persalinan "TIDAK NORMAL" terjadi KEGAWAT AN terjadi KEDARU RATAN80-85% 15-20% SEHAT SEKUELE MENINGGAL

9. Standar penyelenggaraan pelayanan persalinan • Tim penolong persalinan • Kompetensi penolong persalinan • Tempat persalinan • Sistem rujukan pelayanan persalinan KOLABORASI

10. Tim penolong persalinan • Idealnya setiap persalinan ditolong oleh tim penolong persalinan yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat yang memiliki kompetensi kegawatdaruratan maternal neonatal. • Pada kondisi tertentu, persalinan dapat ditolong minimal oleh 2 orang yaitu dokter-bidan/perawat, bidan-bidan, bidan-perawat – yang memiliki kompetensi kegawatdaruratan maternal neonatal,

11. Dokter memiliki tugas sesuai kompetensi dan kewenangannya untuk mengawal proses persalinan hingga kelahiran bayi yang sehat serta ibu dalam keadaan sehat, dengan kemampuan mengenali, mengantisipasi potensi-potensi penyulit dan memberikan tatalaksana yang tepat, bedasarkan data dan informasi yang disediakan bidan dan perawat.

12. Bidan memiliki tanggung jawab dalam memberikan asuhan kebidanan sesuai kompetensi dan kewenangannya, yaitu menolong proses persalinan dengan: • melakukan observasi sepanjang proses persalinan sesuai dengan standar agar dapat menyediakan data yang memadai untuk mengenali penyimpangan dalam proses persalinan menggunakan partograf. • menolong proses persalinan selanjutnya meliputi kelahiran bayi, plasenta dan masa nifas. • memberikan langkah awal untuk membantu neonatus dalam melakukan penyesuaian di awal kehidupannya di luar rahim.

13. Perawat • memiliki tanggung jawab sesuai kompetensi dan kewenangannya dalam memberikan asuhan keperawatan bagi pemenuhan kebutuhan ibu melahirkan dan neonatus.

14. Ketiga komponen penolong persalinan ini bekerja dalam tim untuk berkolaborasi dalam memberikan pelayanan persalinan.

15. Dokter spesialis diharapkan untuk dapat menjadi konsultan terutama jika perjalanan persalinan mengalami penyimpangan. Selain menjadi konsultan dokter spesialis beserta timnya di rumah sakit diharapkan dapat menyediakan pelayanan seksio sesarea 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

16. Kompetensi penolong persalinan • Kompetensi dasar penolong persalinan adalah melakukan asuhan persalinan dan melakukan asuhan pasca persalinan. • Kompetensi dasar lain yang harus dimiliki adalah: • resusitasi neonatus, mulai dari langkah awal hingga resusitasi lanjut sesuai dengan level pelayanannya. • melakukan pengenalan komplikasi/penyulit selama persalinan dan pasca persalinan • melakukan stabilisasi awal komplikasi/penyulit hingga proses perujukan apabila dibutuhkan.

17. Kompetensi lanjut • Kompetensi lanjut dapat dimiliki oleh setiap anggota tim sesuai dengan kewenangan dan level pelayanan di tempat bekerja, dicapai melalui serangkaian proses yang diakui (sertifikasi, akreditasi dll). • Kompetensi dimaksud termasuk: ekstraksi vakum, aspirasi vakum manual dan lain-lain yang dianggap perlu.

18. Kompetensi lain • Kompetensi lain yang tidak kalah penting adalah melakukan komunikasi efektif dengan penuh empati dan respek kepada ibu dan keluarga, memfasilitasi hadirnya pendamping persalinan di setiap persalinan di fasyankes.

19. Tempat persalinan Level Pelayanan Persalinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Keterangan Pelayanan level 1 Puskesmas Praktik Mandiri Bidan Klinik Pratama Pelayanan dasar Pelayanan level 2 Puskesmas mampu PONED Rumah Sakit Pratama Klinik Pratama * Klinik Utama * Pelayanan dasar dan khusus Pelayanan level 3 Rumah Sakit kelas C Pelayanan Spesialistis Pelayanan level 4 Rumah Sakit kelas B Pelayanan Multi Spesialistis dan atau sub- spesialistis Pelayanan level 5 Rumah Sakit kelas A dan B Pelayanan multi spesialistis dan sub- spesialistis, kasus dengan kompleksitas tinggi

20. Pelayanan Gadar Matneo

21. Signal functions dari Pelayanan Gadar Maternal Neonatal PONED PONEK 1. Pemberian antibiotika parenteral Melaksanakan 7 fungsi PONED plus 2. Pemberian uterotonika yg aman 8. Melakukan SC 3. Pemberian MgSO4 9. Melakukan Transfusi darah 4. Mampu Melakukan Manual Plasenta 5. Mampu melakukan AVM 6. Persalinan Pervaginam dengan ekstraksi Vakum 7. Resusitasi Neonatus dengan VTP Sumber: WHO/UNICEF. Monitoring Emergency Obstetric Care: A Handbook, Geneva. 2009 SISTEM RUJUKAN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

22. Kualitas Pelayanan Gadar Maternal Neonatal INPUT PROSES OUTPUT MATERNAL & NEONATAL MORBIDITY & MORTALITY SDM – team approach Sarpras – siap & berfungsi Standard berbasis bukti – up to date 7 signal function PONED 9 signal function PONEK

23. Review • INPUT? • PROSES? • OUTPUT? AUDIT KLINIK di FASYANKES AMP di WILAYAH

24. Review ALAT BANTU JOB AIDS ALAT PANTAU

25. AUDIT yang Memberikan Perubahan • Dokumentasi yang baik • No Blaming No Shaming • No Name No Pro Justicia • Struktur penyelenggara audit • Keinginan untuk mencari SOLUSI – menindak lanjuti RTL Pikirkan sesuatu/ide yang HINGGA SAAT INI BELUM PERNAH DILAKUKAN

26. Kolaborasi Bidan – Dokter – SpOG

27. Mengapa perlu ber-KOLABORASI? • Area layanan yang overlapping • Situasi dimana keahlian satu pihak membutuhkan kolaborasi dengan yang lain • Konsultasi dan/atau rujukan bolak balik • Penatalaksanaan bersama • Meliputi juga respek/saling MENGHARGAI, saling PERCAYA serta SISTEM yang mendukung kolaborasi

28. Tipe kolaborasi Bidan – Dokter – Spesialis • Konsultasi • Bidan meminta nasihat atau pendapat ahli, yaitu dokter • Kolaborasi • Bidan dan dokter secara bersama malkukan penatalaksanaan pasien dengan komplikasi obstetric maupun ginekologi • Rujukan • Bidan menganjurkan pasien untuk meminta nasihat kepada dokter/spesialis akibat kondisi tertentu

29. Terbukti meningkatkan kualitas pelayanan maternal Level of evidence: III

Add a comment