Kebudayaan Logam di Indonesia

50 %
50 %
Information about Kebudayaan Logam di Indonesia
Entertainment

Published on February 20, 2013

Author: jokosriyatno3

Source: authorstream.com

ZAMAN LOGAM: ZAMAN LOGAM Kebudayaan logam terdiri atas kebudayaan tembaga, Kebudayaan perunggu, dan kebudayaan besi. Kebudayaan logam Di Indonesia disebut zaman perunggu sebab zaman tembaga tidak dikenal di Indonesia. Kebudayaan logam di Asia Tenggara Disebut kebudayaan Dongson nama daerah di Cina yang menyebar di Nusantara 500 tahun SM. Perunggu merupakan Perpaduan tembaga dan timah. Disebut zaman logam, karena Manusia menggunakan logam sebagai alat kehidupan sehari-hari, seperti peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, Berburu, berkebun. Pembuatan alat-alat dari perunggu memerlukan seorang ahli yang disebut dengan Undagi. Adapun teknik pembuatan alat ini ada dua cara, yaitu: 1. Bivalve, yaitu cetakan yang terdiri dari dua bagian, kemudian diikat dan ke dalam rongga dalam cetakan itu dituangkan perunggu cair. Cetakan ini kemudian dilepas dan jadilah barang yang dicetak. Teknik ini, disebut juga teknik cetak ulang. 2. A cire perdue (membuat model dari lilin), benda yang akan dicetak dibuat model dahulu dari lilin, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang. Setelah dibakar lilin meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi cairan perunggu, setelah dingin tanah liat dipecah maka jadilah barang. Disebut juga teknik tidak langsung. Hasil-hasil kebudayaan perunggu antara lain : 1. Nekara perunggu Bentuknya seperti genderang yang berpinggan di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Nekara yang ditemukan di Indonesia ada yang berukuran besar ada yang ukuran kecil. Nekara yang berukuran besar di temukan di Pejeng Bali, nekara ini bergaris tengah 160 cm dan tinggi 186 cm. Benda ini disimpan di Pura Penataran Sasih, Gianyar, Bali. Nekara ini dianggap suci hanya: Cetakan ini kemudian dilepas dan jadilah barang yang dicetak. Teknik ini, disebut juga teknik cetak ulang. 2. A cire perdue (membuat model dari lilin), benda yang akan dicetak dibuat model dahulu dari lilin, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang. Setelah dibakar lilin meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi cairan perunggu, setelah dingin tanah liat dipecah maka jadilah barang. Disebut juga teknik tidak langsung. Hasil-hasil kebudayaan perunggu antara lain : 1. Nekara perunggu Bentuknya seperti genderang yang berpinggan di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Nekara yang ditemukan di Indonesia ada yang berukuran besar ada yang ukuran kecil. Nekara yang berukuran besar di temukan di Pejeng Bali, nekara ini bergaris tengah 160 cm dan tinggi 186 cm. Benda ini disimpan di Pura Penataran Sasih, Gianyar, Bali. Nekara ini dianggap suci hany a digunakan pada waktu upacara. Sedangkan nekara yang kecil disebut dengan Moko dan sangat dihargai penduduk sebagai barang pusaka atau mas kawin. Banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, P. Sangean, Roti, Leti,Selayar dan kepulauan Kei. 2. Kapak Corong. Bentuknya seperti sepatu tapi tangkainya berbentuk corong. Ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Pulau Selayar dan Irian. Kapak corong yang salah satu sisinya panjang disebut candrasa. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan alat upacara keagamaan. 3. Bejana Perunggu Banyak ditemukan di tepi danau Kerinci ,Madura dan Pnom Penh (Kamboja) bentuknya seperti periuk. 4. Arca Perunggu Ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor dan Palembang. Bentuknya berupa arca orang yang menari, berdiri,: digunakan pada waktu upacara. Sedangkan nekara yang kecil disebut dengan Moko dan sangat dihargai penduduk sebagai barang pusaka atau mas kawin. Banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, P. Sangean, Roti, Leti,Selayar dan kepulauan Kei. 2. Kapak Corong. Bentuknya seperti sepatu tapi tangkainya berbentuk corong. Ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Pulau Selayar dan Irian. Kapak corong yang salah satu sisinya panjang disebut candrasa. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan alat upacara keagamaan. 3. Bejana Perunggu Banyak ditemukan di tepi danau Kerinci ,Madura dan Pnom Penh (Kamboja) bentuknya seperti periuk. 4. Arca Perunggu Ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor dan Palembang. Bentuknya berupa arca orang yang menari, berdiri, Naik kuda dan lain-lain. 5. Perhiasan Perunggu Perhiasan ini berupa gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung ,cincin. Ditemukan di Bogor, Bali, Malang. Perhiasan ini banyak ditemukan sebagai bekal kubur E. PERKEMBANGAN KEHIDUPAN SOSIAL, BUDAYA, EKONOMI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT BERBURU HINGGA MASYARAKAT PERTANIAN. 1. Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Food Gathering) a. Lingkungan Alam dan Kehidupan Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini sangat sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti kelompok hewan, karena tergantung pada apa yang disediakan oleh alam. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia tinggal : Naik kuda dan lain-lain. 5. Perhiasan Perunggu Perhiasan ini berupa gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung ,cincin. Ditemukan di Bogor, Bali, Malang. Perhiasan ini banyak ditemukan sebagai bekal kubur E. PERKEMBANGAN KEHIDUPAN SOSIAL, BUDAYA, EKONOMI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT BERBURU HINGGA MASYARAKAT PERTANIAN. 1. Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Food Gathering) a. Lingkungan Alam dan Kehidupan Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini sangat sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti kelompok hewan, karena tergantung pada apa yang disediakan oleh alam. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia tinggal Di alam terbuka seperti di hutan, di tepi sungai, di gunung, di gua-gua (abris souche roche) dan ceruk karang di daerah pantai (rock shelter), tinggal di pohon-pohon besar yang dibenntuk menyerupai rumah dengan titian tangga sebagai alat untuk menaikinya. Rumah semacam ini dibuat untuk menghindari banjir dan binatang buas. Biasanya mereka hidup berkelompok, agar dapat mengatasi tantangan alam, khususnya binatang buas. Masyarakat pada tahap ini dataran rendah dan dekat sumber mata air, khususnya lembah-lembah sungai yang besar. Karena di daerah ini sumber kehidupan, seperti berbagai jenis ikan dan kerang-kerangan yang dapat dikonsumsi. Tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan banyak buah-buahan hidup di sekitar sungai. Selain itu, sungai sering dikunjungi hewan-hewan yang memerlukan air. Hewan yang diburu umumnya, hewan memamah biak, karena hewan ini: Di alam terbuka seperti di hutan, di tepi sungai, di gunung, di gua-gua (abris souche roche) dan ceruk karang di daerah pantai (rock shelter), tinggal di pohon-pohon besar yang dibenntuk menyerupai rumah dengan titian tangga sebagai alat untuk menaikinya. Rumah semacam ini dibuat untuk menghindari banjir dan binatang buas. Biasanya mereka hidup berkelompok, agar dapat mengatasi tantangan alam, khususnya binatang buas. Masyarakat pada tahap ini dataran rendah dan dekat sumber mata air, khususnya lembah-lembah sungai yang besar. Karena di daerah ini sumber kehidupan, seperti berbagai jenis ikan dan kerang-kerangan yang dapat dikonsumsi. Tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan banyak buah-buahan hidup di sekitar sungai. Selain itu, sungai sering dikunjungi hewan-hewan yang memerlukan air. Hewan yang diburu umumnya, hewan memamah biak, karena hewan ini Cenderung jinak dan mereka menghindari binatang buas yang akan melawan membabi buta jika ditangkap dan akan membahayakan jiwa pemburunya. Dengan keadaan alam yang sangat berbahaya itu, manusia dalam melakukan perjalanan cenderung melalui atau menyusuri sungai-sungai. Sehingga timbul pikiran untuk menciptakan rakit- rakit. Bahkan, pada masa selanjutnya, mereka dapat menciptakan perahu sebagai sarana perjalanan untuk melalui sungai. Di dataran rendah, selain mencari makanan yang berupa binatang buruan, manusia juga mengumpulkan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Hal ini, dilakukan dengan cara memilih tumbuh-tumbuhan berdasarkan warna, bau, ataupun kemudahan mengunyah atau menelan bahan makanan. Kemampuan manusia yang mereka pelajari dari tindakan hewan pemakan tumbuhan ini disebut meramu (food gathering). Api juga sudah dikenal, dengan cara membenturkan dua buah batu disulutkan pada rumput kering jadilah api, berfungsi memasak,penerangan dan menghalau binatang buas. : Cenderung jinak dan mereka menghindari binatang buas yang akan melawan membabi buta jika ditangkap dan akan membahayakan jiwa pemburunya. Dengan keadaan alam yang sangat berbahaya itu, manusia dalam melakukan perjalanan cenderung melalui atau menyusuri sungai-sungai. Sehingga timbul pikiran untuk menciptakan rakit- rakit. Bahkan, pada masa selanjutnya, mereka dapat menciptakan perahu sebagai sarana perjalanan untuk melalui sungai. Di dataran rendah, selain mencari makanan yang berupa binatang buruan, manusia juga mengumpulkan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Hal ini, dilakukan dengan cara memilih tumbuh-tumbuhan berdasarkan warna, bau, ataupun kemudahan mengunyah atau menelan bahan makanan. Kemampuan manusia yang mereka pelajari dari tindakan hewan pemakan tumbuhan ini disebut meramu (food gathering). Api juga sudah dikenal, dengan cara membenturkan dua buah batu disulutkan pada rumput kering jadilah api, berfungsi memasak,penerangan dan menghalau binatang buas. Kehidupan manusia yang berburu dan meramu menyebabkan mereka selalu berpindah-pindah tempat tinggal atau disebut dengan nomaden, mengikuti binatang buruanya dan mencari tempat-tempat yang menyimpan bahan makanan yang banyak. Hal ini, dilakukan karena tidak selalu tetapnya jumlah bahan makanan yang tersedia di suatu tempat. b. Kehidupan Sosial Pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kehidupan kelompok, jumlah anggotanya dalam kelompok sekitar 10-15 Orang. Mereka selalu hidup berpindah- pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan ini, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka hanya mengandalkan persediaan makanan dalam hutan. Dan setelah persediaan makanan habis, mereka mencari tempat yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan seperti ini terjadi secara berulang-ulang dari satu tempat ke tempat yang lain.: Kehidupan manusia yang berburu dan meramu menyebabkan mereka selalu berpindah-pindah tempat tinggal atau disebut dengan nomaden, mengikuti binatang buruanya dan mencari tempat-tempat yang menyimpan bahan makanan yang banyak. Hal ini, dilakukan karena tidak selalu tetapnya jumlah bahan makanan yang tersedia di suatu tempat. b. Kehidupan Sosial Pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kehidupan kelompok, jumlah anggotanya dalam kelompok sekitar 10-15 Orang. Mereka selalu hidup berpindah- pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan ini, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka hanya mengandalkan persediaan makanan dalam hutan. Dan setelah persediaan makanan habis, mereka mencari tempat yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan seperti ini terjadi secara berulang-ulang dari satu tempat ke tempat yan g lain. Hubungan antara anggota rekakelompok sangat erat. Mereka bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompok yang lain atau serangan binatang buas. Mereka sudah mengenal pembagian tugas kerja. Kaum laki-laki biasanya bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memelihara anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Masing-masing kelompok ini memilki pemimpin yang ditaati dan dihormati oleh anggota kelompoknya. 3. Kehidupan Budaya Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia senang memilih goa-goa sebagai tempat tinggalnya. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat pengeruk tanah. Para ahli menafsirkan bahwa pembuat alat-alat tersebut adalah jenis manusia Pithecanthropus dan kebudayaanya adalah: Hubungan antara anggota rekakelompok sangat erat. Mereka bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompok yang lain atau serangan binatang buas. Mereka sudah mengenal pembagian tugas kerja. Kaum laki-laki biasanya bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memelihara anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Masing-masing kelompok ini memilki pemimpin yang ditaati dan dihormati oleh anggota kelompoknya. 3. Kehidupan Budaya Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia senang memilih goa-goa sebagai tempat tinggalnya. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat pengeruk tanah. Para ahli menafsirkan bahwa pembuat alat-alat tersebut adalah jenis manusia Pithecanthropus dan kebudayaanya adalah Palaeolithiukum (batu tua). Benda-benda hasil kebudayaan zaman tersebut, sebagai berikut : kapak perimbas, kapak penetak yang berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu, kapak genggam, pahat genggam yang berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubi-ubian, alat serpih yang digunakan sebagai pisau, gurdi dan alat penusuk, alat-alat dari tulang yang digunakan sebagai pisau, belati, mata tombak, mata panah dan lain-lain. 4. Kehidupan Ekonomi Kehidupan masa berburu dan mengumpulkan makanan sangat dipengaruhi oleh keadaan alam. Mereka berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah lain hanya untuk mendapatkan makanan. Dengan demikian, kebutuhan makanan hanya untuk bertahan hidup. Jadi pada masa itu belum ada bukti-bukti alat penukar. 5. Kehidupan Kepercayaan Masa ini telah mengenal penghormatan terhadap orang yang: Palaeolithiukum (batu tua). Benda-benda hasil kebudayaan zaman tersebut, sebagai berikut : kapak perimbas, kapak penetak yang berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu, kapak genggam, pahat genggam yang berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubi-ubian, alat serpih yang digunakan sebagai pisau, gurdi dan alat penusuk, alat-alat dari tulang yang digunakan sebagai pisau, belati, mata tombak, mata panah dan lain-lain. 4. Kehidupan Ekonomi Kehidupan masa berburu dan mengumpulkan makanan sangat dipengaruhi oleh keadaan alam. Mereka berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah lain hanya untuk mendapatkan makanan. Dengan demikian, kebutuhan makanan hanya untuk bertahan hidup. Jadi pada masa itu belum ada bukti-bukti alat penukar. 5. Kehidupan Kepercayaan Masa ini telah mengenal penghormatan terhadap orang yang Meninggal. Mereka sudah mengenal penguburan tehadap orang yang meninggal. Mereka juga percaya kepada roh orang yang meninggal, bahwa setelah mati ada perjalanan rohani bagi jiwa orang yang meninggal. 2. Masa Bercocok Tanam a. Lingkungan Alam dan Kehidupanya. Munculnya bentuk kehidupan semacam ini berawal dari upaya manusia untuk menyiapkan persediaan makanan yang cukup dalam satu masa tertentu dan tidak menggembara lagi untuk mencari makanan. Periode ini ditandai dengan perkembangan tradisi Neolithikum, yaitu penggunaan alat-alat sudah mulai dihaluskan dengan bentuk yang semakin baik. Manusia menetap di desa-desa dengan jumlah penduduk antara 300-400 orang. Karena tingginya angka kelahiran yang menyebabkan salah satu alasan untuk menetap, tetapi juga masih ada manusia yang hidup di gua-gua. Dalam kehidupan yang menetap ini manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis tanaman yang semula : Meninggal. Mereka sudah mengenal penguburan tehadap orang yang meninggal. Mereka juga percaya kepada roh orang yang meninggal, bahwa setelah mati ada perjalanan rohani bagi jiwa orang yang meninggal. 2. Masa Bercocok Tanam a. Lingkungan Alam dan Kehidupanya. Munculnya bentuk kehidupan semacam ini berawal dari upaya manusia untuk menyiapkan persediaan makanan yang cukup dalam satu masa tertentu dan tidak menggembara lagi untuk mencari makanan. Periode ini ditandai dengan perkembangan tradisi Neolithikum, yaitu penggunaan alat-alat sudah mulai dihaluskan dengan bentuk yang semakin baik. Manusia menetap di desa-desa dengan jumlah penduduk antara 300-400 orang. Karena tingginya angka kelahiran yang menyebabkan salah satu alasan untuk menetap, tetapi juga masih ada manusia yang hidup di gua-gua. Dalam kehidupan yang menetap ini manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis tanaman yang semula Tumbuh liar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu mereka mulai menjinakan hewan-hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kuda, anjing, sapi, kerbau dan babi. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali di Indonesia adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari hutan lain. Kemudian mereka mengulang pekerjaan dengan membuka hutan, demikian seterusnya. Namun dalam perkembanganya, manusia berusaha untuk hidup bertahan lama, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan hal ini dapat berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan. b. Kehidupan Sosial Manusia sudah memiliki tempat tinggal yang tetap, yang menyebabkan hubungan antara manusia di dalam kelompok: Tumbuh liar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu mereka mulai menjinakan hewan-hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kuda, anjing, sapi, kerbau dan babi. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali di Indonesia adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari hutan lain. Kemudian mereka mengulang pekerjaan dengan membuka hutan, demikian seterusnya. Namun dalam perkembanganya, manusia berusaha untuk hidup bertahan lama, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan hal ini dapat berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan. b. Kehidupan Sosial Manusia sudah memiliki tempat tinggal yang tetap, yang menyebabkan hubungan antara manusia di dalam kelompok Masyarakatnya semakin erat. Kehidupan ini nampak jelas melalui cara bekerja dan bergotong royong. Setiap kegiatan yang ada di masyarakat dilakukan dengan bergotong royong, di antaranya bekerja di sawah, membangun rumah secara bersama,merambah hutan untuk tanah perkebunan. Cara hidup bergotong royong ini merupakan ciri masyarakat agraris. Bahkan pada masa ini sudah terbentuk kampung atau desa dengan model rumah dari panggung yang dihuni oleh beberapa keluarga. Dalam perkumpulan masyarakat yang sangat sederhana biasanya terdapat seorang pemimpin yang disebut kepala suku, yang merupakan sosok yang dihormati dan ditaati. Pada masa ini diperkirakan sudah menggunakan bahasa, yaitu bahasa melayu polynesia atau rumpun bahasa austronesia. c. Kehidupan Ekonomi Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup masyarakat semakin bertambah, namun tak ada satu anggota: Masyarakatnya semakin erat. Kehidupan ini nampak jelas melalui cara bekerja dan bergotong royong. Setiap kegiatan yang ada di masyarakat dilakukan dengan bergotong royong, di antaranya bekerja di sawah, membangun rumah secara bersama,merambah hutan untuk tanah perkebunan. Cara hidup bergotong royong ini merupakan ciri masyarakat agraris. Bahkan pada masa ini sudah terbentuk kampung atau desa dengan model rumah dari panggung yang dihuni oleh beberapa keluarga. Dalam perkumpulan masyarakat yang sangat sederhana biasanya terdapat seorang pemimpin yang disebut kepala suku, yang merupakan sosok yang dihormati dan ditaati. Pada masa ini diperkirakan sudah menggunakan bahasa, yaitu bahasa melayu polynesia atau rumpun bahasa austronesia. c. Kehidupan Ekonomi Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup masyarakat semakin bertambah, namun tak ada satu anggota Masyarakat pun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka menjalin hubungan yang erat lagi dengan sesama anggota masyarakat, bahkan mereka juga menjalin dengan masyarakat yang berada di luar daerah tempat tinggalnya. Misalnya, masyarakat di daerah pegunungan menjalin hubungan dengan masyarakat daerah pantai. Masyarakat di daerah pegunungan membutuhkan hasil yang diperoleh dari . Dengan demikian munculah sistem barter yang menandai adanya awal perdagangan. Bahkan untuk melancarkan adanya perdagangan dibutuhkan tempat khusus bertemunya pembeli dengan penjual, yang dikenal dengan pasar, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup. d. Sistem Kepercayaan Masyarakat Pada masyarakat ini, telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi pada orang yang meninggal. Mereka percaya bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang: Masyarakat pun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka menjalin hubungan yang erat lagi dengan sesama anggota masyarakat, bahkan mereka juga menjalin dengan masyarakat yang berada di luar daerah tempat tinggalnya. Misalnya, masyarakat di daerah pegunungan menjalin hubungan dengan masyarakat daerah pantai. Masyarakat di daerah pegunungan membutuhkan hasil yang diperoleh dari . Dengan demikian munculah sistem barter yang menandai adanya awal perdagangan. Bahkan untuk melancarkan adanya perdagangan dibutuhkan tempat khusus bertemunya pembeli dengan penjual, yang dikenal dengan pasar, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup. d. Sistem Kepercayaan Masyarakat Pada masyarakat ini, telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi pada orang yang meninggal. Mereka percaya bah wa orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang Tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu berada disekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuanya dalam kasus tertentu seperti menanggulangi wabah penyakit atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin menyerang wilayah tempat tinggalnya. Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan kepada roh nenek nenek moyang terlihat melalui peninggalan-peninggalan megalithikum. Bangunan-bangunan megalithikum biasanya banyak ditemukan di tempat-tempat yang tinggi yaitu di puncak-puncak bukit, lereng-lereng gunung atau dataran tinggi. Karena tempat yang tinggi dianggap tempat berseyamnya roh nenek moyang. e. Kehidupan Budaya Hasil kebudayaan pada masyarakat bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun tulang. : Tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu berada disekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuanya dalam kasus tertentu seperti menanggulangi wabah penyakit atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin menyerang wilayah tempat tinggalnya. Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan kepada roh nenek nenek moyang terlihat melalui peninggalan-peninggalan megalithikum. Bangunan-bangunan megalithikum biasanya banyak ditemukan di tempat-tempat yang tinggi yaitu di puncak-puncak bukit, lereng-lereng gunung atau dataran tinggi. Karena tempat yang tinggi dianggap tempat berseyamnya roh nenek moyang. e. Kehidupan Budaya Hasil kebudayaan pada masyarakat bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun tulang. Hasil-hasil kebudayaan pada masa kehidupan bercocok tanam adalah sebagai berikut : beliung persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, perhiasan, menhir, dolmen, sarkofagus, punden berundak-undak, waruga , arca. 3. Masa Perundagian a. Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia Pada masa ini manusia telah mengenal teknologi, mekipun teknologi yang terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan- peralatan sederhana yang dibutuhkan dalam aktivitas kehidupanya. Pengenalan teknologi dalam kehidupan manusia, terlihat jelas pada teknik pembuatan tempat tinggal atau peralatan-peralatan yang mereka gunakan untuk membantu upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam membuat alat-alat yang terbuat dari logam memerlukan seorang ahli membuat alat-alat logam , yang disebut dengan undagi. Dan tempat pembuatan alat tersebut adalah perundagian.: Hasil-hasil kebudayaan pada masa kehidupan bercocok tanam adalah sebagai berikut : beliung persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, perhiasan, menhir, dolmen, sarkofagus, punden berundak-undak, waruga , arca. 3. Masa Perundagian a. Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia Pada masa ini manusia telah mengenal teknologi, mekipun teknologi yang terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan- peralatan sederhana yang dibutuhkan dalam aktivitas kehidupanya. Pengenalan teknologi dalam kehidupan manusia, terlihat jelas pada teknik pembuatan tempat tinggal atau peralatan-peralatan yang mereka gunakan untuk membantu upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam membuat alat-alat yang terbuat dari logam memerlukan seorang ahli membuat alat-alat logam , yang disebut dengan undagi. Dan tempat pembuatan alat tersebut adalah perundagian. Logam yang dikenal waktu itu, disebut dengan perunggu, yang merupakan campuran antara tembaga dengan timah. b. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Masa perundagian sangat penting dalam perkembangan sejarah Indonesia, karena pada masa itu sudah terjalin hubungan dengan daerah-daerah di sekitar kepulauan Indonesia. Hubungan ini terjadi karena bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dari logam tersedia terbatas di tempat tertentu, dan untuk mendapatkanya dilakukan dengan sistem tukar-menukar. Kemakmuran masyarakat diketahui melalui perkembangan teknik pertanian. Mereka sudah mengenal berbagai alat-alat pertanian seperti pisau, bajak, cangkul dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal sistem bercocok tanam di sawah. Daerah-daerah yang sudah mengenal persawahan tentu masyarakatnya lebih mampu menyediakan bahan pangan yang cukup. Mereka sudah mengenal : Logam yang dikenal waktu itu, disebut dengan perunggu, yang merupakan campuran antara tembaga dengan timah. b. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Masa perundagian sangat penting dalam perkembangan sejarah Indonesia, karena pada masa itu sudah terjalin hubungan dengan daerah-daerah di sekitar kepulauan Indonesia. Hubungan ini terjadi karena bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dari logam tersedia terbatas di tempat tertentu, dan untuk mendapatkanya dilakukan dengan sistem tukar-menukar. Kemakmuran masyarakat diketahui melalui perkembangan teknik pertanian. Mereka sudah mengenal berbagai alat-alat pertanian seperti pisau, bajak, cangkul dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal sistem bercocok tanam di sawah. Daerah-daerah yang sudah mengenal persawahan tentu masyarakatnya lebih mampu menyediakan bahan pangan yang cukup. Mereka sudah mengenal Perdagangan yang dapat meningkatkan hidup mereka maupun masyarakat lainya. Kegiatan perdagangan dan perekonomian ini menjadi dasar perkembangan perdagangan bangsa Indonesia pada masa selanjutnya. c. Kehidupan Budaya Masyarakat Peninggalan-peninggalan budaya masyarakat Indonesia terbuat dari logam, diantaranya : 1) Nekara Perunggu Berfungsi pelengkap upacara untuk memohon hujan dan sebagai genderang perang. Nekara yang terbesar di Asia Tenggara di temukan pulau Selayar (Sulawesi Selatan). Sedangkan nekara yang kecil disebut dengan moko, yang dipakai sebagai mas kawin. 2) Kapak perunggu 3) Bejana perunggu 4) Arca perunggu 5) Perhiasan: Perdagangan yang dapat meningkatkan hidup mereka maupun masyarakat lainya. Kegiatan perdagangan dan perekonomian ini menjadi dasar perkembangan perdagangan bangsa Indonesia pada masa selanjutnya. c. Kehidupan Budaya Masyarakat Peninggalan-peninggalan budaya masyarakat Indonesia terbuat dari logam, diantaranya : 1) Nekara Perunggu Berfungsi pelengkap upacara untuk memohon hujan dan sebagai genderang perang. Nekara yang terbesar di Asia Tenggara di temukan pulau Selayar (Sulawesi Selatan). Sedangkan nekara yang kecil disebut dengan moko, yang dipakai sebagai mas kawin. 2) Kapak perunggu 3) Bejana perunggu 4) Arca perunggu 5) Perhiasan A. PROSES MIGRASI RAS PROTO MELAYU DAN DEUTRO MELAYU KE ASIA DAN INDONESIA 1. Kebudayaan Bacson-Hoabinh Di pegunungan Bacson dan propinsi Hoabinh dekat Hanoi, Vietnam oleh peneliti Madelaine Colani ditemukan sejumlah besar alat-alat yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Bacson Hoabinh. Jenis alat yang ditemukan di Thailand, Semenanjung Melayu dan Sumatra. Peninggalan-peninggalan di Sumatra berupa bukit-bukit kerang yang dinamakan Kyokenmoddinger (sampah dapur) yang memanjang dari Sumatra Utara sampai Aceh. Ciri kebudayaan Bacson Hoabinh adalah penyerpihan pada satu sisi permukaan batu kali yang berukuran satu kepalan dan bagian tepi sangat tajam. Hasil penyerpihan menunjukan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat dan ada yang berbentuk berpinggang. : A. PROSES MIGRASI RAS PROTO MELAYU DAN DEUTRO MELAYU KE ASIA DAN INDONESIA 1. Kebudayaan Bacson-Hoabinh Di pegunungan Bacson dan propinsi Hoabinh dekat Hanoi, Vietnam oleh peneliti Madelaine Colani ditemukan sejumlah besar alat-alat yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Bacson Hoabinh. Jenis alat yang ditemukan di Thailand, Semenanjung Melayu dan Sumatra. Peninggalan-peninggalan di Sumatra berupa bukit-bukit kerang yang dinamakan Kyokenmoddinger (sampah dapur) yang memanjang dari Sumatra Utara sampai Aceh. Ciri kebudayaan Bacson Hoabinh adalah penyerpihan pada satu sisi permukaan batu kali yang berukuran satu kepalan dan bagian tepi sangat tajam. Hasil penyerpihan menunjukan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat dan ada yang berbentuk berpinggang. Di wilayah Indonesia alat-alat batu kebudayaan Bacson Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatara, Sulawesi, Jawa dan Nusa Tenggara. Penyebaran Kebudayaan Bacson Hoabinh bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur. Mereka datang ke nusantara dengan perahu bercadik tinggal di pantai timur sumatra dan Jawa, tetapi kemudian terdesak oleh bangsa Proto Melayu . Akibatnya mereka menyingkir ke Indonesia bagian timur dan dikenal dengan ras papua (papua melanesoide) yang berlangsung pada jaman mesolithikum. Ras Papua Melanesoide hidup dan tinggal-tinggal di gua-gua (abris sous roche) dan bukit-bukit kerang atau dapur sampah (kyokenmoddinger). Ras papua melanesoide sampai di nusantara pada zaman holosen, di mana keadaan bumi kita sudah layak dihuni sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi manusia.: Di wilayah Indonesia alat-alat batu kebudayaan Bacson Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatara, Sulawesi, Jawa dan Nusa Tenggara. Penyebaran Kebudayaan Bacson Hoabinh bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur. Mereka datang ke nusantara dengan perahu bercadik tinggal di pantai timur sumatra dan Jawa, tetapi kemudian terdesak oleh bangsa Proto Melayu . Akibatnya mereka menyingkir ke Indonesia bagian timur dan dikenal dengan ras papua (papua melanesoide) yang berlangsung pada jaman mesolithikum. Ras Papua Melanesoide hidup dan tinggal-tinggal di gua-gua (abris sous roche) dan bukit-bukit kerang atau dapur sampah (kyokenmoddinger). Ras papua melanesoide sampai di nusantara pada zaman holosen, di mana keadaan bumi kita sudah layak dihuni sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi manusia. Penyelidikan kyokkenmoddinger dilakukan oleh Dr.P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925 banyak ditemukan : a) Kapak genggam yang kemudian dinamakan kapak sumatra. Bahan batu sungai dibelah, sisi luar tidak dihaluskan, sisi dalam dikerjakan sesuai dengan keperluan. b) Kapak pendek (hache courte), bentuk setengah lingkaran, tajamnya pada sisi lengkung. Ditemukan pula batu penggiling (pipisan) sebagai penggiling makanan atau cat merah. c) Batu pipisan (batu penggiling) yang berfungsi melembutkan benda. d) Ujung mata panah dan flakes e) Kapak proto neolithikum yang sudah dihaluskan kemudian. Ras papua melanesoide hidup masih setengah menetap, hidup berburu, bercocok tanam sederhana. Mereka hidup di gua- gua dan ada yang di bukit sampah. Manusia yang hidup di zaman mesolithikum sudah mengenal kesenian, seperti lukisan babi hutan yang banyak di temukan di goa leang-leang, Sulsel. : Penyelidikan kyokkenmoddinger dilakukan oleh Dr.P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925 banyak ditemukan : a) Kapak genggam yang kemudian dinamakan kapak sumatra. Bahan batu sungai dibelah, sisi luar tidak dihaluskan, sisi dalam dikerjakan sesuai dengan keperluan. b) Kapak pendek (hache courte), bentuk setengah lingkaran, tajamnya pada sisi lengkung. Ditemukan pula batu penggiling (pipisan) sebagai penggiling makanan atau cat merah. c) Batu pipisan (batu penggiling) yang berfungsi melembutkan benda. d) Ujung mata panah dan flakes e) Kapak proto neolithikum yang sudah dihaluskan kemudian. Ras papua melanesoide hidup masih setengah menetap, hidup berburu, bercocok tanam sederhana. Mereka hidup di gua- gua dan ada yang di bukit sampah. Manusia yang hidup di zaman mesolithikum sudah mengenal kesenian, seperti lukisan babi hutan yang banyak di temukan di goa leang-leang, Sulsel. Juga lukisan telapak tangan merah dan lukisan kapak berupa garis sejajar yang ditemukan kyokenmoddinger. Mayat dikubur dalam gua atau bukit kerang dengan sikap jongkok dan diolesi warna merah. Merah adalah warna darah tanda hidup. Mayat yang diolesi warna merah dengan maksud agar dapat mengembalikan kehidupan sehingga dapat berdialog. Kecuali alat dari batu, juga ditemukan sisa-sisa dari tulang dan gigi binatang seperti gajah, badak, beruang dan rusa. Jadi selain mengumpulkan binatang kerang, mereka juga memburu binatang-binatang besar. Di daerah sumatra alat-alat jenis Bacson Hoabinh di Lhok Seumawe dan Medan. Benda yang ditemukan bukit-bukit sampah dari kerang. Di Jawa ditemukan disekitar lembah sungai bengawan solo bersamaan dengan penemuan fosil manusia purba.: Juga lukisan telapak tangan merah dan lukisan kapak berupa garis sejajar yang ditemukan kyokenmoddinger. Mayat dikubur dalam gua atau bukit kerang dengan sikap jongkok dan diolesi warna merah. Merah adalah warna darah tanda hidup. Mayat yang diolesi warna merah dengan maksud agar dapat mengembalikan kehidupan sehingga dapat berdialog. Kecuali alat dari batu, juga ditemukan sisa-sisa dari tulang dan gigi binatang seperti gajah, badak, beruang dan rusa. Jadi selain mengumpulkan binatang kerang, mereka juga memburu binatang-binatang besar. Di daerah sumatra alat-alat jenis Bacson Hoabinh di Lhok Seumawe dan Medan. Benda yang ditemukan bukit-bukit sampah dari kerang. Di Jawa ditemukan disekitar lembah sungai bengawan solo bersamaan dengan penemuan fosil manusia purba. 2. Perkembangan Kebudayaan Dongson Disebut kebudayaan Dongson sebab kebudayaan tersebut ditemukan di daerah Dongson, Tongkin sebelah selatan. Alat yang paling dominan terbuat dari perunggu, sehingga kebudayaan perunggu di Asia tenggara disebut dengan kebudayaan Dongson. Dari sinilah datang gelombang kebudayaan logam ke Indonesia melalui jalan barat lewat Malaysia barat. Menurut para sarjana pembawa kebudayaan logam ini sebangsa dengan pembawa kapak persegi yaitu bangsa Austronesia. Dengan demikian, nenek moyang bangsa Indonesia datang ke Indonesia dalam dua tahap : a) Bangsa Proto Melayu ± 2000 SM membawa budaya neolithikum b) Deutro Melayu ± 500 SM membawa budaya logam. Pembuatan alat dari perunggu dilakukan dengan dua cara yaitu teknik bivalve dan cire perdue.: 2. Perkembangan Kebudayaan Dongson Disebut kebudayaan Dongson sebab kebudayaan tersebut ditemukan di daerah Dongson, Tongkin sebelah selatan. Alat yang paling dominan terbuat dari perunggu, sehingga kebudayaan perunggu di Asia tenggara disebut dengan kebudayaan Dongson. Dari sinilah datang gelombang kebudayaan logam ke Indonesia melalui jalan barat lewat Malaysia barat. Menurut para sarjana pembawa kebudayaan logam ini sebangsa dengan pembawa kapak persegi yaitu bangsa Austronesia. Dengan demikian, nenek moyang bangsa Indonesia datang ke Indonesia dalam dua tahap : a) Bangsa Proto Melayu ± 2000 SM membawa budaya neolithikum b) Deutro Melayu ± 500 SM membawa budaya logam. Pembuatan alat dari perunggu dilakukan dengan dua cara yaitu teknik bivalve dan cire perdue. Dengan kenyataan diatas, menunjukan kepada kita adanya hubungan yang erat antara Indonesia dengan Tongkin yakni kebudayaan logam di Indonesia termasuk kelompok kebudayaan logam di Asia yang berpusat di Dongson. Dari daerah inilah datang kebudayaan logam secara bergelombang lewat jalur barat yaitu Malaysia. Benda hasil perunggu yakni nekara perunggu, kapak perunggu, dan perhiasan perunggu. Sedangkan alat dari besi, yaitu kapak, mata pisau, mata pedang dan cangkul. Pada zaman perunggu di Indonesia masuk kebudayaan perundagian, dimana peranan perunggu dan besi sangat besar terutama dalam penggunaan alat kehidupan. Budaya Dongson besar pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Indonesia. Sebab banyak nekara perunggu di Indonesia seperti di Sumatra, Jawa dan Maluku Selatan menunjukan bukti pengaruh kuat dari Dongson. Beberapa nekara yang ditemukan berisi gambar dinasti Han, sedangkan di Kei Maluku berisi berisi hiasan lajur mendatar berisi gambar kijang. Berdasarkan kesimpulan para ahli : Dengan kenyataan diatas, menunjukan kepada kita adanya hubungan yang erat antara Indonesia dengan Tongkin yakni kebudayaan logam di Indonesia termasuk kelompok kebudayaan logam di Asia yang berpusat di Dongson. Dari daerah inilah datang kebudayaan logam secara bergelombang lewat jalur barat yaitu Malaysia. Benda hasil perunggu yakni nekara perunggu, kapak perunggu, dan perhiasan perunggu. Sedangkan alat dari besi, yaitu kapak, mata pisau, mata pedang dan cangkul. Pada zaman perunggu di Indonesia masuk kebudayaan perundagian, dimana peranan perunggu dan besi sangat besar terutama dalam penggunaan alat kehidupan. Budaya Dongson besar pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Indonesia. Sebab banyak nekara perunggu di Indonesia seperti di Sumatra, Jawa dan Maluku Selatan menunjukan bukti pengaruh kuat dari Dongson. Beberapa nekara yang ditemukan berisi gambar dinasti Han, sedangkan di Kei Maluku berisi berisi hiasan lajur mendatar berisi gambar kijang. Berdasarkan kesimpulan para ahli Kemungkinan nekara tersebut ada yang berasal dari Cina, karena ada hiasan model dari Cina. Kemungkinan nekara yang ditemukan di Sangeng dekat Sumbawa oleh Heine Geldern berasal dari Funan. Perkembangan budaya logam di Indonesia dapat diketahui dengan jelas adanya pengaruh budaya Dongson yang menyebar ke seluruh Nusantara, yaitu : a. Budaya logam awal di Jawa. Seperti peti kubur batu (sarkofagus) yang banyak ditemukan di Gunung Kidul,Yogya b. Budaya logam awal di Sumatra. Ditemukan di Pasemah Lampung seperti kubur batu, manik-manik,tombak besi dan peniti emas. c. Budaya logam di Sumba Nusa Tenggara Timur, seperti , tradisi penguburan dengan membawa bekal kubur yang berupa logam yang diletakan dekat peti mati, bejana dan tembikar yang terbuat dari logam.: Kemungkinan nekara tersebut ada yang berasal dari Cina, karena ada hiasan model dari Cina. Kemungkinan nekara yang ditemukan di Sangeng dekat Sumbawa oleh Heine Geldern berasal dari Funan. Perkembangan budaya logam di Indonesia dapat diketahui dengan jelas adanya pengaruh budaya Dongson yang menyebar ke seluruh Nusantara, yaitu : a. Budaya logam awal di Jawa. Seperti peti kubur batu (sarkofagus) yang banyak ditemukan di Gunung Kidul,Yogya b. Budaya logam awal di Sumatra. Ditemukan di Pasemah Lampung seperti kubur batu, manik-manik,tombak besi dan peniti emas. c. Budaya logam di Sumba Nusa Tenggara Timur, seperti , tradisi penguburan dengan membawa bekal kubur yang berupa logam yang diletakan dekat peti mati, bejana dan tembikar yang terbuat dari logam.

Add a comment

Related presentations

Related pages

Prasejarah - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari ... Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari ...
Read more

Kebudayaan Zaman Logam | Dinamika dan Kebudayaan ...

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kebudayaan logam yang dikenal di Indonesia berasal dari Dongson, nama kota kuno di Tonkin yang menjadi pusat ...
Read more

Sejarah Indonesia: Kebudayaan Logam dan Besi di Indonesia

Kebudayaan logam di Indonesia disebut zaman perunggu sebab zaman tembaga tidak dikenal di Indonesia. Kebudayaan logam di Asia Tenggara disebut kebudayaan ...
Read more

Afrizal Azhari: SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

Setelah masa Neolitikum, kemudian kebudayaan Indonesia berlanjut kemasa zaman logam. ... Inilah awal dari masuknya kebudayaan Barat di Indonesia.
Read more

Kebudayaan Logam di Indonesia | Sejarah SMA

Kebudayaan logam terdiri dari kebudayaan tembaga, kebudayaan perunggu, dan kebudayaan besi.
Read more