INFLUNSA INVIGORASAUN BA VIABILIDADE NO PRODUSAUN HARE

50 %
50 %
Information about INFLUNSA INVIGORASAUN BA VIABILIDADE NO PRODUSAUN HARE
Technology

Published on March 10, 2014

Author: simaobelo

Source: slideshare.net

Description

INFLUNSA INVIGORASAUN BA VIABILIDADE NO PRODUSAUN HARE

ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR PENGARUH PERLAKUAN INVIGORASI TERHADAP VIABILITAS BENIH DAN HASIL PADI (Oryza sativa L.) Simão Margono Belo A251098081 Pembimbing : • Dr. Ir Faiza C. Suwarno, MS. • Dr. Ir. Suwarno, MS.

ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR INFAKTU TRATAMENTU INVIGORASI BA VIABILIDADE FINI NO REJULTADU HARE (Oryza sativa L.) Simão Margono Belo Supervisor : • Dr. Ir Faiza C. Suwarno, MS. • Dr. Ir. Suwarno, MS.

PENDAHULUAN Padi (Oriza sativa L.) Karbohidrat Permintaan + Potensi produksi unggul dilepas di Indonesia berkisar 5.5-9.0 ton/ha. Timor Leste 3.8 ton/ha.

INVIGORASI…??? VIABILIDADE FINI…??? REJULTADU HARE…???

Istoria Hare (Oriza sativa L.) Karbohidrat Requerement + pupulasaun Potensi produsaun diak liu Indonesia entre 5.5-9.0 ton/ha. ton/ha. recomeda ona Timor Leste 3.8

PENDAHULUAN Vigor Benih Faktor Invigorasi dilkukan Pesquisas anteriores Tratamentu Invigorasi espera beneficiar Objectivo Hatene influensa tratamentu invigorasi ba fini kualidade nivel 2 sobre viabilidade fini no rejultadu/produsaun hare (Ciherang, Maro, Limboto).

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian IPB dan Instalasi Penelitian Tanaman Padi Muara Bogor, Jawa Barat pada bulan Maret sampai Agustus 2011. 1. Alat (Laboratorium) Germinator IPB 732A/B, Oven, desikator, timbangan analitik, labu takar, gelas piala, sudip, spatula, inkubator. 2.Alat (Lapang) Cangkul/handtractor, ani- ani, timbangan, meter, handsprayer, Ajir.

MATERIAL HO METODE Fatin ho Tempu Pesquiza Pesquiza ne halao iha Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian IPB ho Balai Besar Penelitian Padi Muara Bogor, Jawa Barat iha fulan Marcu to’o Agustus 2011. 1. Material (Laboratorium) Germinator IPB 732A/B, Oven, desikator, timbangan analitik, labu takar, gelas piala, sudip, spatula, inkubator. 2. Material (Lapang) Cangkul/handtractor, ani- ani, timbangan, meter, handsprayer, Ajir.

Pengaruh Perlakuan Invigorasi Terhadap Viabilitas Benih dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Percobaan Pendahuluan Pengaruh Perlakuan invigorasi terhadap viabilitas benih padi di Laboratorium Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap viabilitas benih dan produk padi di lapang 2 Tingkat viabilitas (T1 dan T2) Pengusangan pada varietas ciherang dengan Perlakuan kimia uap ethanol 96%. (0..30, 60,65, 70,75, 90….180 mnt) Perlakuan Varietas (Ciherang, Maro, Limboto) Tingkat vibilitas (T1 dan T2) Invigorasi GA3 (50 ppm, 100 ppm,150 ppm) KH2PO4 ( 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm ) 24 jam perendaman Uji di Atas Kertas (UDK) Uji UKDdp Pengamatan ( DB, IV) 2 Tingkat viabilitas (T1 dan T2) Pengamatan (DB,IV, BKKN, pjg plumula, pjg akar). Perlakuan GA3 dan KH2PO4 24 jam perendaman (sama dengan percobaan 2) Persemaian dan penanaman 1). Pengamatan vegetatif: 1. Jumlah anakan/rumpun. 2. Tinggi tanaman/rumpun. 3. Jumlah daun/rumpun. 2). Pengamatan generatif: 1. Umur berbungga/plot. 2. Jumlah anakan produktif/rumpun 3. Jumlah total gabah/malai 4. Jumlah gabah bernas/malai 5. Bobot gabah total/malai (gr) 6. Bobot gabah bernas/malai (gr) 7. Bobot gabah 1000 butir/tanaman sampel/plots (gr) 8. Bobot gabah/plot tanpa pingir (Kg) Interprestasi data dan Hasil Gambar 1. Bagan Alur Pelaksanaan Penelitan Dena

Infaktu Tratamentu Invigorasi Ba Viabilidade Fini no Rejultadu Hare (Oryza sativa L.) Pesquiza I Infaktu treatment invigorasi ba viabilidade fini no Rejultadu hare iha field Infaktu treatment invigorasi ba viabilidade fini hare iha Laboratorium 2 Tingkat viabilitas (T1 dan T2) Devigorasi ba viabilidade varietas Ciherang ho treatment kimiku liquid/uap ethanol 96%. (0..30, 60,65, 70,75, 90….180 mnt) Treament Variedade (Ciherang, Maro, Limboto) Tingkat vibilitas (T1 dan T2) Invigorasi GA3 (50 ppm, 100 ppm,150 ppm) KH2PO4 ( 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm ) oras 24 Koko Viabilidade ho metodu Uji di Atas Kertas (UDK) Viverus no kuda a). Pengamatan vegetatif: Koko UKDdp Observasaun ( DB, IV) Tingkat viabilitas 2 (T1 dan T2) Perlakuan GA3 dan KH2PO4 24 jam perendaman (sama dengan percobaan 2) Observasaun (DB,IV, BKKN, pjg plumula, pjg akar). 1. Jumlah anakan/rumpun. 2. Tinggi tanaman/rumpun. 3. Jumlah daun/rumpun. b). Pengamatan generatif: 1. Umur berbungga/plot. 2. Jumlah anakan produktif/rumpun 3. Jumlah total gabah/malai 4. Jumlah gabah bernas/malai 5. Bobot gabah total/malai (gr) 6. Bobot gabah bernas/malai (gr) 7. Bobot gabah 1000 butir/tanaman sampel/plots (gr) 8. Bobot gabah/plot tanpa pingir (Kg) Interpretasaun dadus no rejultadu Gambar 1. Bagan Alur Pelaksanaan Penelitan Dena

Rejultadu Percobaan Pendahuluan Rata-rata daya berkecambah (DB) Percobaan Pendahuluan 100 Rata-rata Daya Berkecambah 90 Daya Berkecambah (%) 80 70 DB = 90.8-0.237.T R2 = 76.3 % r = 87.3 % 60 50 40 30 20 10 0 0 6 12 18 24 30 36 42 48 54 60 66 72 78 84 90 96 102 108 Waktu (menit) Waktu Pengusangan I dan II FOTO

Rejultadu Percobaan Pendahuluan Rata-rata daya berkecambah (DB) Percobaan Pendahuluan 100 90 Daya Berkecambah (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 6 12 18 24 30 36 42 48 54 60 66 72 78 84 90 96 102 108 Waktu (menit) Waktu Pengusangan I dan II FOTO

Gambar Percobaan Pendahuluan

Percobaan I : Pengaruh Perlakuan Invigorasi Terhadap Viabilitas Benih Padi Tabel 1. Daya Berkecambah dua Varietas Padi Sawah (Ciherang, Maro) dan satu varietas Padi Gogo (Limboto ) pada berbagai Perlakuan Invigorasi Benih dengan Tingkat Viabilitas yang Berbeda. Perlakuan I1( kontrol) I2 (GA350 ppm) Ciherang 94.00 ab 84.67 b--f Maro 82.67 d--g 88 a--e Limboto 88 a—e 95.33 a I3 (GA3 100 ppm) 89.33 a--e 83.33 def 91.33 a--d I4 (GA3 150 ppm) 88.67 a--e 80 e--h 91.33 a--d 88.67 a--e 84.67 b--f 93.33 abc I6 (KH2PO4 150 ppm) 85.33 b--f 80.67 e--h 90.67 a--d I7 (KH2PO4 200 ppm) Rata-rata I1 (kontrol) 88.67 a-e 88.48 AB 73.33 ghi 87.33 a--f 83.81 C 84 c--f 87.33 a--f 91.05 A 95.33 a I2 (GA3 50 ppm) 73.33 ghi 82.67 d--g 88 a—e I3 (GA3 100 ppm) 78.00 fgh 82.67 d--g 72 hi Tingkat Viabilitas 2 I4 (GA3 150 ppm) 73.33 ghi 82.00 d--g 66.67 ij I5 (KH2PO4 100 ppm) 62.67 j 83.33 def 91.33 a--d I6 (KH2PO4 150 ppm) 84.67 b--f 80.67 e--h 88.67 a--e I7 (KH2PO4 200 ppm) Rata-rata 66 ij 73.05 D 82.00 d--g 82.48 C 90.67 a--d 84.67 BC Tingkat Viabilitas 1 I5 (KH2PO4 100 ppm) (T1)*) (T2)**) Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05. angka rata-rata yang diikuti huruf kapital yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.

Tabel 2. Indeks Vigor dua Varietas Padi Sawah (Ciherang, Hibrida Maro) dan satu Varietas Padi Gogo (Limboto) pada berbagai Perlakuan Invigorasi Benih dengan Tingkat Viabilitas yang Berbeda Perlakuan Ciherang (tn) Maro (*) Limboto (tn) I1( kontrol) 82.67 a--d 91.33 a 82.00 a--d 61.33 h--k 86 abc 80.67 a--e 53.33 kl 84.67 abc I5 (KH2PO4 100 ppm) 78.67 b--f 72.67 d--h 87.33 ab I6 (KH2PO4 150 ppm) 74.67 c--g 70.00 e--h 85.33 abc I7 (KH2PO4 200 ppm) 78.67 b--f 70.00 e--h 78.67 b—f Rata-rata 78.76 B 65.14 C 84.86 A I1 (kontrol) 63.33 g--k 46.67 l 90.67 a I2 (GA3 50 ppm) 67.33 f--i 71.33 d--h 82.67 a--d I3 (GA3 100 ppm) 63.33 g--k 61.33 h--k 70.00 e--h I4 (GA3 150 ppm) 61.33 h--k 54.00 jkl 62.67 h--k I5 (KH2PO4 100 ppm) 57.33 ijk 70.00 e--h 87.33 ab I6 (KH2PO4 150 ppm) 72.67 d--h 68.00 f--i 84.67 abc I7 (KH2PO4 200 ppm) (T2)**) 71.33 d--h I4 (GA3 150 ppm) Tingkat Viabilitas 2 80.67 a—e I3 (GA3 100 ppm) (T1)*) 46.00 l I2 (GA350 ppm) Tingkat Viabilitas 1 85.33 abc 58 ijk 65.33 g--j 86.67 ab Rata-rata 63.33 C 62.38 C 80.67 AB Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05. angka rata-rata yang diikuti huruf kapital yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. ** ) Benih yang tidak di usangkan dengan uap etanol 96 % . *) Benih yang diusangakan selama 75 menit dalam uap etanol 96 %

Percobaan 1 Persiapan benih Benih diusangkan Priming dengan GA3 dan KH2PO4 Dalam Mesin Perkecambahan 7 hari setelah di kecambahkan Pengamatan

Hasil Pengamatan Fase Generatif Tabel 3. Jumlah Gabah Bernas per Malai dua Varietas Padi Sawah (Ciherang, Hibrida Maro) dan satu Padi Gogo (Limboto) pada Berbagai Perlakuan Invigorasi Benih dengan Tingkat Viabilitas yang Berbeda. Perlakuan Ciherang (tn) Maro (tn) Limbot (*) I1 kontrol 158.9 f--l 169.87 c--l 181.77 b--i 158.53 g--l 194.23 a--e 189.80 a--g I4 GA3 150 ppm 150.33 i--l 187.77 a--g 184.37 b--h I5 KH2PO4 100 ppm 141.57 kl 183.67 b--h 182.13 b--i I6 KH2PO4 150 ppm 158.2 g--l 168.13 c--l 191.33 a--f I7 KH2PO4 200 ppm 153.97 h--l 178.8 b--j 165 d--l Rata-rata 152.88 C 180.24 B 179.94 B I1 kontrol 158.67 g--l 182.23 b--i 179.23 b--j I2 GA350 ppm 157.33 g--l 176.13 c--j 177.00 d--j I3 GA3 100 ppm (T2)**) 165.20 d--l I3 GA3 100 ppm Tingkat Viabilitas 2 179.23 b--j I2 GA350 ppm Tingkat Viabilitas 1 (T1)*) 148.63 jkl 158.2 g--l 180.9 b--j 215.90 a I4 GA3 150 ppm 166.1 c--l 175 c—j 210 .00 ab I5 KH2PO4 100 ppm 162 e--l 174.13 c--j 197.80 abc I6 KH2PO4 150 ppm 162.9 e--l 168 c--l 196.00 a--d I7 KH2PO4 200 ppm 138.9 l 173.53 c--k 178.53 b--j Rata-rata 157.73 C 175.71 B 193.50 A Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05. angka rata-rata yang diikuti huruf kapital yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. *) Benih yang tidak di usangkan dengan uap etanol 96 % . **) Benih yang diusangkan selama 75 menit dalam uap etanol 96 %.

Tabel 4. Jumlah Total Gabah per Malai, Berat gabah total per malai pada Perlakuan Invigorasi Benih. Perlakuan Jumlah total gabah per malai (*) Berat gabah total per malai I1 (kontrol) 192.98 b 4.74 I2( GA350 ppm) 196.97 ab 4.81 I3 (GA3 100 ppm) 217.5 a 5.16 I4 (GA3 150 ppm) 210.12 ab 4.97 I5 (KH2PO4 100 ppm) 196.26 ab 4.78 I6 (KH2PO4 150 ppm) 201.42 ab 4.82 I7 (KH2PO4 200 ppm) 190.42 b 4.61 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05.

Tabel 5. Berat kering Gabah per Plot dua Varietas Padi Sawah (Ciherang, Hibrida Maro) dan satu varietas Padi Gogo (Limboto) pada Berbagai Perlakuan Invigorasi Benih dengan Tingkat Viabilitas yang Berbeda. Tingkat Viabilitas 2.73 (5.00) 3.13 (5.45) 1.54 (2.41) 2.00 (5.65) 2.90 (5.28) 1.23 (2.59) 2.67 (5.19) 2.70 (4.31) 1.43 (2.96) I4 (GA3 150 ppm) 1.94 (5.16) 3.20 (5.28) 1.18 (2.72) I5 (KH2PO4 100 ppm) 2.70 (4.62) 3.24 (5.29) 1.70 (2.82) I6 (KH2PO4 150 ppm) 2.67 (4.78) 3.23 (5.32) 1.40 (2.83) I7 (KH2PO4 200 ppm) 2.67 (4.91) 3.28 (5.39) 1.35 (2.66) Rata-rata 2.48 BC 3.10 A 2.02 CD I1 (kontrol) 2.30 (4.97) 3.37 (5.55) 1.40 (2.99) I2( GA350 ppm) 2.50 (5.13) 2.77 (4.87) 1.32 (2.27) I3 (GA3 100 ppm) 2.73 (5.30) 2.46 (4.17) 1.58 (3.11) I4 (GA3 150 ppm) 2.03 (5.25) 2.94 (5.52) 1.43 (3.16) I5 (KH2PO4 100 ppm) 2.60 (5.03) 3.33 (5.43) 1.75 (3.41) I6 (KH2PO4 150 ppm) 2.37 (4.99) 2.97 (5.44) 1.37 (2.55) I7 (KH2PO4 200 ppm) 2.08 (5.10) 2.86 (4.74) 1.67 (2.91) Rata-rata (T2)**) Limboto (tn) I3 (GA3 100 ppm) Tingkat Viabilitas 2 Maro (tn) I2( GA350 ppm) (T1)*) Ciherang (tn) I1 (kontrol) Tingkat Viabilitas 1 Invigorasi 2.37 C 2.96 AB 1.50 D Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05. angka rata-rata yang diikuti huruf kapital yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. *) Benih yang tidak di usangkan dengan uap etanol 96 % . **) Benih yang diusangkan selama 75 menit dalam uap etanol 96 % FOTO PERCOBA AN II

KESIMPULAN • Perlakuan invigorasi dengan KH2PO4 150 ppm dapat meningkatkan daya berkecambah benih varietas Ciherang. Indeks vigor tertinggi untuk varietas Maro terdapat pada perlakuan GA3 50 ppm. • Perlakuan invigorasi dengan GA3 100 ppm dapat meningkatkan hasil padi melalui peningkatan jumlah gabah per malai.

Planu Pesquiza iha futuru

Tabel 5. Koefisien Korelasi antara Parameter Laboratorium dan Lapang pada dua Varietas Padi Sawah (Ciherang, Hibrida Maro) dan satu Varietas Padi Gogo (Limboto) Ciherang Parameter JTG/M JGB/M Maro BKG/P JTG/M JGB/M Limboto BKG/P JTG/M JGB/M BKG/P -0.020tn 0.045tn -0.144tn -0.257tn -0.410** -0.020tn Laboratorium Lapang DB -0.133 tn -0.078tn 0.136 tn IV - 0.144 tn - 0.104tn 0.117 tn -0.219tn -0.267tn -0.110tn -0.230tn -0.331* -0.015tn PP 0.356 * 0.200tn - 0.176tn 0.043tn 0.076tn -0.190tn 0.274tn -0.230 tn LPK - 0.054 tn - 0.003tn - 0.259tn 0.312* 0.175tn -0.108tn -0.004tn -0.092tn -0.219tn PA - 0.166 tn - 0.139tn 0.010tn 0.176tn 0.135tn -0.040tn 0.404** 0.280tn -0.200tn 0.283tn Keterangan : **= berpengaruh sangat nyata pada α = 0.01, * = berpengaruh nyata pada α 0.05, DB= daya berkecambah, IV= indeks vigor, LPK= laju pertumbuhan kecambah, PA= panjang akar, PP= panjang plumula, JTG/M jumlah total gabah per malai, JGB/M= jumlah gabah bernas per malai, BKG/P= Berat kering gabah per plot.

•Bentuk taransport giberelin adalah gibberellins disintesis didalam embrio, kemudian terlibat dalam perombakan dan memobilisasi cadangan makanan dengan tahapan sebagai berikut: •Gibberellins berdifusi melalui testa menuju lapisan aleuron. •Pada lapisan aleuron, gibberellins meransang sintesis enzim-enzim yang berhubungan dengan hidrolisis terutama α amylase yang kemudia dilepaskan ke endosperm . •Enzim α amylase melalui hidrolisis merombak cadangan makanan pati. •Maltose dan glukosa yang terbentuk melalui proses amilolisis dirombak menjadi sukrosa dan dipindakan ke poros embrio. •Bila produksi gula berlebihan dan tidak seimbang dengan pengunaan pada proses embrio akan terjadi akumulasi pada endosperma, gula beridifusi kembali ke aleuron dan berperan menghentikan produk enzim α amylase lebih lanjut, atau dapat diserap langsung melalui skutelum dimana peoses sintesis sukrosa terjadi.

Gambar 4. Rata-rata jumlah daun tanaman padi varietas hibrida Maro. Varietas Hibrida Maro 60 57 51 50 41 40 30 30 27 20 18 10 9 4 0 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 6 MST 8 MST Waktu kontrol GA₃ 100 ppm KH₂PO₄ 200 ppm Varitas Limboto 80 Jumlah Dauan Jumlah Daun/rumpun 45 60 40 20 0 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST Waktu kontrol GA₃ 150 ppm KH₂PO₄ 100 ppm 10 MST

Percobaan II : Pengaruh Perlakuan Invigorasi Terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Produksi Padi Hasil Pengamatan Fase Vegetatif 14 Varietas Ciherang Gambar 3. Jumlah anakan padi sawah varietas Ciherang dengan perlakuan invigorasi 12 8 6 4 2 0 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST Waktu kontrol GA₃ 100 ppm Varietas Hibrida Maro 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 6 MST KH₂PO₄ 150 ppm Varietas Limboto 20 Jumlah Anakan Jumlah Anakan Jumlah Anakan/rumpun 10 8 MST 10 MST 15 10 5 0 1 MST Waktu kontrol GA₃ 100 ppm KH₂PO₄ 200 ppm kontrol 2 MST 3 MST 4 MST Waktu GA₃ 150 ppm 6 MST 8 MST 10 MST KH₂PO₄ 100 ppm

Tabel 4. Berat Gabah bernas per Malai Tiga Varietas Padi Sawah Ciherang, Hibrida Maro dan Padi Gogo Limboto pada berbagai Perlakuan Invigorasi Benih dengan Tingkat Viabilitas yang Berbeda. Perlakuan I1 kontrol I2 GA350 ppm I3 GA3 100 ppm Tingkat Viabilitas 1 I4 GA3 150 ppm (T1)*) I5 KH2PO4 100 ppm I6 KH2PO4 150 ppm I7 KH2PO4 200 ppm Rata-rata I1 kontrol I2 GA350 ppm (T2)**) Maro 4.50 4.3 5.05 4.93 4.79 4.38 4.71 4.67 A 4.73 4.57 Limboto 4.38 5.09 5.45 4.86 4.41 5.43 4.27 4.84 A 4.99 4.84 I3 GA3 100 ppm Tingkat Viabilitas 2 Ciherang 4.22 4.37 4.27 8.22 4.02 4.31 4.24 4.81 A 4.41 4.32 4.44 4.68 5.55 I4 GA3 150 ppm 4.24 4.58 5.54 I5 KH2PO4 100 ppm I6 KH2PO4 150 ppm I7 KH2PO4 200 ppm Rata-rata 4.39 4.65 3.91 4.34 A 4.49 4.39 4.54 4.57 A 5.37 5.09 4.69 5.15 A Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0.05. angka rata-rata yang diikuti huruf kapital yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.

• P dan K+ KH2PO4 • gugus fosfat metabolismekan K+ diduga fosfoenol kinase ke ADP Kofaktor enzim kinase terbentuk mengkatalisis + ATP. K + aktivitas enzim piruvat kinase ATP dampak sintesis makromolekul pada embrio lebih cepat yang tercermin DB produksi

Add a comment

Related presentations

Related pages

Hare Kepletek - Documents

Hare Kepletek; Download. of 17
Read more