Gereja yang Sehat Secara Emosional

80 %
20 %
Information about Gereja yang Sehat Secara Emosional
Spiritual

Published on March 20, 2014

Author: katalismedia

Source: slideshare.net

Emotionally Healthy Church

Sumber: Bab 4 Inventori Kesehatan Rohani/Emosi

buku Edisi Asli Bahasa Inggris Judul: The Emotionally Healthy Church Penulis: Peter Scazzero Penerbit: Zondervan Tahun terbit: 2005 Edisi Terjemahan Bahasa Indonesia Judul: Gereja yang Sehat Secara Emosional Penerbit: Gospel Press Tahun terbit:

daftar isi Matarantai yang Hilang dalam Pemuridan Dasar Alkitabiah untuk Suatu Paradigma Baru dalam Pemuridan Enam Prinsip dari Gereja yang Sehat Secara Emosional Prinsip 1: Melihat ke Bawah Permukaan Prinsip 2: Menghancurkan Kekuatan Masa Lalu Prinsip 3: Hidup dalam Keremukan & Kerentanan Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan Prinsip 5: Menyambut Kedukaan & Kehilangan Prinsip 6: Menjadikan Inkarnasi Sebagai Model untuk Mengasihi dengan Baik Ke Mana Kita Akan Melangkah

Buku ini menawarkan suatu visi pemuridan yang baru: Pemuridan yang sejati mengintegrasikan kesehatan rohani dan emosi. Peter Scazzero menguraikan enam prinsip untuk menjadi seseorang yang sehat secara emosional. Dilengkapi juga dengan inventori untuk mengenali kesehatan rohani/emosi Anda. Di sini Anda akan menjumpai pemikiran- pemikiran baru yang menantang dan menyegarkan mengenai apa yang dibutuhkan untuk memimpin diri sendiri dan gereja Anda menuju kepenuhan dan kematangan di dalam Kristus. sinopsis

Pendiri Emotionally Healthy Spirituality bersama istrinya, Geri. Perintis dan Gembala Senior New Life Fellowship Church di Queens, New York City, sebuah gereja multirasial, dengan jemaat berasal dari 65 negara berbeda. M.Div. dari Gordon-Conwell dan D.Min. dalam Marriage and Family dari Eastern Baptist Theological Seminary. Penulis Emotionally Healthy Spirituality, The Emotionally Healthy Church (Gold Medallion Award for 2003), Begin the Journey with the Daily Office, dan beberapa buku panduan PA terlaris. Ayah dari 4 anak perempuan. penulis Peter Scazzero

Buku ini membahas salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pemimpin gereja—bagaimana menjadi orang yang sehat yang menciptakan komunitas yang sehat. Ditulis oleh seorang praktisi dengan “luka perang” yang memahami apa yang dibicarakannya. Saya berharap saya sudah membacanya duapuluh tahun yang lalu. —JOHN ORTBERG, Pendeta Pengajar Willow Creek Community Church, Penulis Everybody’s Normal Till You Get to Know Them rekomendasi

Emotionally Healthy Church

Spiritualitas yang Berat Sebelah • Kenyataan menyedihkan: Hanya ada sangat sedikit perbedaan kedewasaan emosional dan relasional antara orang yang percaya pada Kristus dan yang tidak percaya. • Di luar pertemuan ibadah raya, persekutuan umum, dan kebaktian doa, masuk ke rumah- rumah orang percaya, kita mendapati banyaknya hubungan yang rusak dan gagal. • Apakah gambaran ini mengingatkan kita akan seseorang di gereja/persekutuan:

Orang yang … 1. … tidak pernah berkata “Saya salah” atau “Maaf”. 2. … terus-menerus mengkritik orang lain. 3. … tidak dapat menoleransi pandangan yang berbeda. 4. … secara sembunyi-sembunyi kecanduan pornografi. 5. … sangat sibuk melayani tetapi tidak menyadari pasangannya sangat kesepian di rumah. 6. … menganggap setiap saran sebagai serangan dan penolakan pribadi. 7. … bergumul dengan kepahitan dan kebencian kepada pendeta/penginjil tetapi tidak berani mengutarakannya. 8. … tak kenal lelah melayani di banyak bidang tetapi jarang sekali mengambil waktu untuk memelihara dirinya. 9. … ikut pertemuan dan kegiatan untuk melarikan diri dari kenyataan menyakitkan pernikahan mereka. 10. … tidak pernah bisa membuka diri tentang permasalahan dan kesulitan yang dihadapi.

10 Simptom Spiritualitas yang Tidak Sehat Manakah yang menggambarkan diri Anda saat ini? 1. Menggunakan Tuhan untuk lari dari Tuhan 2. Mengabaikan emosi kemarahan, kesedihan, dan ketakutan 3. Mati untuk hal-hal yang keliru 4. Menyangkal pengaruh masa lalu terhadap masa kini 5. Membagi kehidupan ke dalam kategori “sekular” dan “sakral” e.g. My prayers are usually about God doing my will, not me surrendering to his wille.g. I am rarely honest with myself and/or others about the feelings, hurts and pains beneath the surface of my life e.g. I tend to deny healthy, God-given desires and pleasures of life (friendships, joy, music, beauty, laughter, nature) while finding it difficult to die to my self- protectiveness, defensiveness, a lack of vulnerability and judgmentalism e.g. I rarely consider how my family of origin and significant people/events from my past have shaped my presente.g. I easily compartmentalize God to “Christian activities” while usually forgetting about him when I am working, shopping, studying or recreating

10 Simptom Spiritualitas yang Tidak Sehat 6. Melakukan hal bagi Tuhan, bukan bersama dengan Tuhan 7. Menghindari konflik dengan mencari-cari alasan rohani 8. Menutup-nutupi kelemahan dan kegagalan 9. Hidup tanpa memperhatikan batas kemampuan/kekuatan 10.Menghakimi perjalanan rohani orang lain e.g. I tend to evaluate my spirituality based on how much I am doing for God e.g. In the name of “peacemaking”, we bury tensions and avoid conflict rather than speak the truth in love e.g. Instead of humility and approachability, I am highly reactive and defensive e.g. Those close to me would say that I often “try to do it all” or “bite off more than I can chew” e.g. I often find myself occupied and bothered by the faults of others

Spiritualitas yang Berat Sebelah • Ada banyak orang yang penuh semangat bagi Tuhan dan tampak “dewasa secara rohani” tetapi masih bayi/kanak-kanak/remaja secara emosi. • Mengapa? Hubungan antara kedewasaan emosi dan kedewasaan rohani kurang dipahami dan diajarkan. • Penekanan pembinaan rohani biasanya lebih banyak pada pemahaman doktrinal/biblikal, doa/penyembahan, pelayanan/penginjilan, dengan mengabaikan kesehatan emosional.

Kesehatan Emosi dan Kepemimpinan Rohani • Kesehatan dari suatu gereja/pelayanan banyak tergantung pada kesehatan emosi dan rohani para pemimpinnya. • Kunci dari kepemimpinan rohani yang berhasil lebih berkaitan dengan kehidupan internal dari pemimpin ybs daripada kemampuan, karunia, dan pengalamannya.

Tesis Kesehatan emosi dan kesehatan rohani tidak dapat dipisahkan. Seorang kristiani tidak mungkin dewasa secara rohani jika ia tidak dewasa secara emosi.

Inventori Kesehatan Emosi/Rohani Bagian A: Pembinaan Rohani secara Umum Bagian B: Pembinaan dalam Komponen Emosi Jawablah dengan skala: 1 = Tidak benar demikian 2 = Kadang benar demikian 3 = Sering benar demikian 4 = Sangat benar demikian

Bagian A: Pembinaan Rohani secara Umum 1. Saya merasa yakin bahwa saya sudah diangkat menjadi anak Tuhan dan jarang, kalau pun pernah, mempertanyakan penerimaan-Nya atas diri saya. 2. Saya suka menyembah Tuhan secara pribadi maupun bersama- sam dengan orang lain. 3. Saya memelihara waktu yang berkualitas secara teratur dalam firman dan doa. 4. Saya mengalami Tuhan telah meperlengkapi saya dengan unik dan sedang aktif menggunakan karunia-karunia tersebut untuk melayani. 5. Saya terlibat di dalam komunitas persekutuan dengan orang percaya lainnya. 6. Saya menggunakan talenta, harta, dan waktu sesuai kehendak Tuhan , bukan kepentingan diri sendiri. 7. Saya mengintegrasikan iman saya dalam pekerjaaan dan kehidupan sehari-hari. Total ___________

Bagian B: Pembinaan dalam Komponen Emosi Prinsip 1: Melihat ke Bawah Permukaan Prinsip 2: Menghancurkan Kekuatan Masa Lalu Prinsip 3: Hidup dalam Keremukan & Kerentanan Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan Prinsip 5: Menyambut Kedukaan & Kehilangan Prinsip 6: Menjadikan Inkarnasi Sebagai Model untuk Mengasihi dengan Baik Prinsip 7: Memperlambat Laju agar Dapat Memimpin dengan Integritas

Prinsip 1: Melihat ke Bawah Permukaan 1. Saya dapat mengenali apa yang saya rasakan di dalam hati saya (Luk 19:41-44; Yoh 11:33-35). 2. Saya bersedia mengorek bagian hidup saya yang belum disadari atau belum diterima, mempersilakan Kristus untuk mengubah saya lebih penuh (Rm 7:21-25; Kol 3:5-17). 3. Saya menikmati berada sendiri dalam perenungan yang teduh bersama Tuhan saja (Mar 1:35; Luk 6:12). 4. Saya dapat membagikan perasaan, sukacita, dan penderitaan saya dengan bebas (Maz 22; Ams 5:18-19; Luk 10:21). 5. Saya dapat mengalami dan menangani amarah dengan cara yang menumbuhkan orang lain dan diri sendiri (Ef 4:25 – 32). 6. Saya jujur dengan diri saya (dan dengan beberapa orang dekat) mengenai perasaan, keyakinan, keraguan, penderitaan, luka hati di bawah permukaan hidup saya (Maz 73; 88; Yer 20:7-18). Total ___________

Prinsip 2: Menghancurkan Kekuatan Masa Lalu 7. Saya dapat mengatasi konflik dengan cara yang jelas, langsung, dan penuh hormat, bukan dengan cara yang mungkin telah saya peroleh dari tumbuh-kembang di dalam keluarga saya, seperti menekan, menghindar, memperbesar masalah, atau mendatangi orang ketiga daripada mengahadapi orang ybs secara langsung (Mat 18:15-18). 8. Saya berusaha mengatasi akibat dari peristiwa yang sangat mengguncang dan sangat mempengaruhi saya, seperti kematian anggota keluarga, kehamilan yang tidak direncanakan, perceraian, kecanduan, kebangkrutan, dll (Kej 50:20; Maz 51).

Prinsip 2: Menghancurkan Kekuatan Masa Lalu 9. Saya dapat mengucap syukur pada Tuhan atas semua pengalaman masa lalu saya, melihat bagaimana Dia telah menggunakannya untuk secara unik membentuk saya menjadi sebagaimana adanya sekarang (Kej 50:20; Rm 8:28-30). 10. Saya dapat melihat beberapa “dosa generasional” telah diteruskan pada saya melalui sejarah keluarga, termasuk kelemahan karakter, nilai-nilai yang keliru, cara menghadapi penderitaan, dan kecenderungan yang tidak sehat dalam berhubungan dengan orang lain (Kel 20:5; cf. Kej 20:2; 26:7; 27:19; 37:1-33).

Prinsip 2: Menghancurkan Kekuatan Masa Lalu 11. Saya tidak memerlukan persetujuan dari orang lain untuk merasa bahwa diri saya baik-baik saja (Ams 29:25; Gal 1:10). 12. Saya mengambil tanggung jawab dan pengakuan atas hal- hal yang terjadi pada masa lalu, daripada terus menyalahkan orang lain (Yoh 5:5-7). Total ___________

Prinsip 3: Hidup dalam Keremukan & Kerentanan 13. Saya mengakui ketika bersalah, sedia meminta pengampunan dari orang lain (Mat 5:23-24). 14. Saya dapat membicarakan kelemahan, kegagalan, dan kesalahan saya secara bebas (2Kor 12:7-12). 15. Orang lain memandang saya sbg orang yang mudah didekati, lembut hati, terbuka, dan jujur (Gal 5:22-23; 1Kor 13:1-6). 16. Orang yang dekat dengan saya mengatakan bahwa saya tidak mudah tersinggung atau terluka (Mat 5:39-42, 1Kor 13:5).

Prinsip 3: Hidup dalam Keremukan & Kerentanan 17. Saya terbuka mendengar dan menindaklanjuti kritik dan masukan yang membangun dari orang lain tentang diri saya (Ams 10:17; 17:10; 25:12). 18. Saya tidak mudah menghakimi atau mengkritik orang lain (Mat 7:1-5). 19. Orang lain mengatakan bahwa saya lambat berkata-kata, ceppat mendengar, dan baik dalam melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (Yak 1:19-20). Total ___________

Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan 20. Saya tidak pernah dituduh “mau mengerjakan segalanya” atau mau melakukan lebih dari yang mampu dilakukan (Mat 4:1-11). 21. Saya biasanya dapat berkata tidak kepada permintaan atau kesempatan daripada beresiko memaksakan diri secara berlebihan (Mar 6:30-32). 22. Saya mengenali berbagai situasi di mana kepribadian saya yang unik dapat menolong atau menghambat dalam menanggapi secara tepat (Maz 139; Rm 12:3; 1Ptr 4:10).

Prinsip 4: Menerima Karunia Keterbatasan 23. Mudah bagi saya untuk membedakan kapan perlu menolong mengangkat beban seseorang (Gal 6:2) dan kapan melepaskannya sehingga mereka dapat mengangkat beban sendiri (Gal 6:5). 24. Saya dapat mengukur kapasitas emosi, relasi, fisik, dan spiritual dengan baik, mengatur waktu untuk undur diri beristirahat dan mengisi “persediaan bahan bakar” saya lagi (Mar 1:21-39). 25. Orang yang dekat dengan saya akan mengatakan bahwa saya bagus dalam menjaga keseimbangan antara keluarga, beristirahat, bekerja, dan bermain secara alkitabiah (Kel 20:8). Total ___________

Prinsip 5: Menyambut Kedukaan & Kehilangan 26. Saya mengakui perasaan kehilangan dan kekecewaan secara terbuka (Maz 3; 5). 27. Ketika saya mengalami kekecewaan atau kehilangan, saya Merenungkan perasaan saya, bukan berpura-pura semua baik-baik saja (2Sam 1:4, 17-27; Maz 51:1-17). 28. Saya mengambil waktu untuk berduka atas kehilangan saya sebagaimana dilakukan Daud (Maz 69) dan Yesus (Mat 26:39; Yoh 11:35; 12:27). 29. Orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesedihan besar cenderung mencari saya karena mereka melihat jelas bahwa saya menghadapi kehilangan dan kesedihan dalam hidup saya dengan baik (2Kor 1:3-7). 30. Saya dapat menangis dan mengalami depresi atau kesedihan, dan mengizinkan Tuhan untuk bekerja di dalam diri saya melaluinya (Maz 42; Mat 26:36-46). Total ___________

Prinsip 6: Menjadikan Inkarnasi Sebagai Model untuk Mencintai dengan Baik 31. Saya dapat masuk ke dunia dan perasaan orang lain, berhubungan secara dalam dengan mereka dan mengambil waktu membayangkan bagaimana rasanya hidup dalam posisi mereka (Yoh 1:1-14; 2Kor 8:9; Fil. 2:3-5). 32. Orang yang dekat dengan saya mengatakan bahwa saya adalah pendengar yang responsif (Ams 10:19; 29:11; Yak 1:19). 33. Ketika saya menegur seseorang yang telah melukai atau bersalah pada saya, saya lebih banyak berbicara sebagai orang pertama (“Saya”) mengenai apa yang saya rasakan daripada berbicara dengan nada menyalahkan (“Kamu” atau “Mereka”) mengenai apa yang telah terjadi (Ams 25:11; Ef 4:29-32).

Prinsip 6: Menjadikan Inkarnasi Sebagai Model untuk Mencintai dengan Baik 34. Saya tidak tertarik menghakimi orang lain atau segera memberi penilaian tentang mereka (Mat 7:1-5). 35. Orang-orang mengatakan bahwa saya adalah orang yang bertujuan dan berusaha untuk sungguh-sungguh “mengasihi dengan baik” (Yoh 13:34-35; 1Kor 13). Total ___________

Prinsip 7: Memperlambat Laju agar Dapat Memimpin dengan Integritas 36. Saya memiliki waktu yang cukup untuk sendirian dengan Tuhan untuk menopang saya dalam bekerja bagi-Nya. 37. Saya memelihara hari Sabat 24-jam setiap minggu— untuk berhenti, beristirahat, menyukakan dan merenungkan Tuhan. 38. Orang yang dekat dengan saya mengatakan bahwa pernikahan dan anak-anak saya mendapat prioritas di atas pelayanan dan orang lain. 39. Saya tidak takut mengajukan pertanyaan yang sulit dan tidak menyenangkan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, ketika diperlukan. 40. Saya tidak membagi kepemimpinan saya dalam kategori sakral/sekular. Saya memperlakukan fungsi pengelolaan/perencanaan dalam kepemimpinan sama bermaknanya dengan doa dan persiapan khotbah. Total ___________

Inventori Kesehatan Emosi/Rohani

Inventori Kesehatan Emosi/Rohani Grafik Kedewasaan Emosi

Bayi secara Emosi Emotional Infants • Saya mencari orang lain untuk menjaga saya secara emosional dan spiritual • Saya sering sulit menggambarkan dan mengalami perasaan saya secara sehat dan jarang dapat masuk dalam dunia emosi orang lain. • Saya terus-menerus dikendalikan oleh kebutuhan mendapat pemenuhan yang cepat, sering menggunakan orang lain sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan saya. • Orang lain kadang memandang saya kurang mempertimbangkan dan kurang peka lingkungan. • Saya tidak nyaman dengan keheningan atau kesendirian. • Ketika pencobaan, hambatan, dan kesulitan datang, saya ingin meninggalkan Tuhan dan kehidupan kristiani. • Saya kadang mengalami Tuhan di gereja dan ketika saya bersama orang Kristen lainnya, namun jarang ketika saya di tempat kerja atau di rumah.

Kanak-kanak secara Emosi Emotional Children • Ketika hidup berjalan sesuai keinginan saya, saya tenang. Namun, segera setelah kekecewaan dan ketegangan muncul, saya langsung merasa kacau. • Saya sering menerima sesuatu secara personal, menafsirkan ketidaksetujuan atau kritik sebagai serangan pribadi. • Ketika hal-hal berjalan tidak seperti yang saya inginkan, saya sering mengeluh, merajuk, menarik diri, memanipulasi, kesal, kasar, ketus, atau menuntut balas. • Saya sering menggantungkan diri pada kerohanian orang lain karena saya sangat jenuh dan terpecah. • Kehidupan doa saya terutama berisi berbicara pada Tuhan, memberi tahu-Nya apa yang harus dilakukan dan bagaimana membereskan masalah saya. • Doa adalah tugas, bukan kesukaan.

Remaja-Pemuda secara Emosi Emotional Adolescents • Saya tidak suka ketika orang meragukan saya. • Saya sering cepat menilai dan menghakimi perilaku orang lain. • Saya menahan pengampunan pada orang yang bersalah pada saya, menghindari atau tidak mau berhubungan dengan mereka ketika mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan saya. • Saya secara tidak sadar mengingat-ingat kasih yg pernah diberikan. • Saya merasa sulit untuk sungguh-sungguh mendengarkan penderitaan, kekecewaan, atau kebutuhan orang lain tanpa menjadi dipenuhi oleh diri sendiri. • Saya kadang merasa terlalu sibuk melewatkan waktu yang cukup untuk memelihara kehidupan rohani saya. • Saya menghadiri gereja dan melayani orang lain namun hanya sedikit saja menikmati Kristus. • Kehidupan Kristen saya masih terutama berisi melakukan sesuatu bagi Tuhan, bukan tinggal bersama Dia. • Sebagian besar doa saya masih lebih banyak berisi saya yang berbicara, dengan sedikit ketenangan dan kesendirian, atau mendengarkan Tuhan.

Dewasa secara Emosi Emotional Adults • Saya menghormati dan mengasihi orang lain tanpa harus mengubah atau menghakimi mereka . • Saya menghargai orang lain sebagaimana mereka adanya, bukan berdasarkan apa yang dapat mereka berikan pada saya atau bagaimana mereka memperlakukan saya. • Saya mengambil tanggung jawab atas pikiran, perasaan, tujuan, dan tindakan saya. • Saya dapat menyatakan kepercayaan dan nilai-nilai saya pada orang yang tidak sepaham dengan saya — tanpa menjadi bermusuhan. • Saya dapat mengukur keterbatasan, kekuatan, dan kelemahan saya secara tepat. • Saya sangat yakin bahwa saya dikasihi Kristus secara penuh, sebagai hasilnya, saya tidak mencari persetujuan orang lain bahwa saya OK. • Saya dapat mengintegrasikan antara melakukan sesuatu bagi Tuhan dan melakukan sesuatu bersama Tuhan (Maria dan Marta). • Hidup kristiani saya telah beralih dari sekadar melayani Kristus menjadi mencintai Kristus dan menikmati persekutuan bersama- Nya.

Dalam pertumbuhan menuju kedewasaan emosi, kita semua seperti lobster …

Dalam pertumbuhan menuju kedewasaan emosi, kita semua seperti lobster … • Untuk bertumbuh, lobster harus melepaskan cangkangnya yang lama, keras, dan melindungi; kemudian menumbuhkan cangkang yang baru dan lebih besar. • Lobster melakukannya sekitar 25 kali dalam 5 tahun pertama hidupnya, dan setahun sekali setelah menjadi menjadi dewasa. • Proses pelepasan ini tidak enak dan tampak berantakan. Di bawah tekanan, cangkang yang lama retak. Lobster meregangkan ototnya dan melepaskan diri dari cangkang retak tsb. • Dalam waktu antara meninggalkan cangkang lama dan mengerasnya cangkang baru, lobster telanjang dan sangat rentan.

Langkah Selanjutnya … • Pertumbuhan kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus menuntut kita melepaskan cangkang kita yang lama, keras, dan melindungi; mempersilakan Tuhan membawa kita menuju tempat yang baru di dalam Dia. • Untuk bertumbuh dewasa dalam Kristus, kita perlu bertumbuh dewasa dalam kesehatan emosi. • Perjalanan menuju kedewasaan emosi kita memerlukan: Mentor, Kesabaran, dan Doa.

Belajar Lebih lanjut … www.newlifefellowship.org www.emotionallyhealthychurch.org www.emotionallyhealthy.org

Emotionally Healthy Church

Add a comment

Related presentations

How to do Voodoo

How to do Voodoo

November 11, 2014

How to do Voodoo Are you working too hard and not getting the results?? Well,...

LA VERDAD SOBRE LA MUERTE

LA VERDAD SOBRE LA MUERTE

October 24, 2014

Donde van las personas despues de muerto?

Son simples cuestiones que, aunque puedan resultar a priori inocentes, albergan in...

"The souls of the just are in the hand of God, and no torment shall touch them. " ...

Boletín de 02/11/2014

Boletín de 02/11/2014

November 1, 2014

Boletín de 02/11/2014

Omms News 10-07-2014

Omms News 10-07-2014

November 4, 2014

Omms News 10-07-2014

Related pages

Gereja yang Sehat Secara Emosional - Spiritual

Buku ini menawarkan suatu visi pemuridan yang baru: Pemuridan yang sejati mengintegrasikan kesehatan rohani dan emosi. Peter Scazzero menguraikan enam ...
Read more

TOKO BUKU KARISMA : GEREJA YANG SEHAT SECARA EMOSIONAL -TL ...

Pemuridan yang Sejati Mengintegrasikan Kesehatan Emosional dan Spiritual New Life Fellowship di Queens, New York, memiliki semuanya itu ...
Read more

BukuKita.com - Gereja yang Sehat Secara Emosional (The ...

Toko Buku Online BukuKita.COM - Komunitas Buku Indonesia. Buku murah, banjir diskon dan hadiah. Buku Gereja yang Sehat Secara Emosional (The Emotionaly ...
Read more

Beberapa Tips Membesarkan Anak Usia 0-9 Tahun | Wake uP!

... anak-anak itu secara emosional mempunyai 3 ... untuk Membangun Gereja yang Sehat Menu ... disiplin yang juga merupakan kebutuhan emosional.
Read more

KESEHATAN EMOSIONAL ANAK-ANAK DALAM TRAUMA

· Menguraikan seorang anak yang sehat secara emosional ... atau gereja adalah respon-respon yang dianjurkan atau tidak dalam suatu konteks sosial. ...
Read more

KEHIDUPAN KELUARGA ALLAH YANG DISERTAI TUHAN (2)

semakin didesak untuk menjadi keluarga Allah yang semakin sehat secara ... spiritual dan emosional. Pergumulan gereja pada umunya di dunia ...
Read more

Gereja Yang Melayani (Diakonia) - Documents - dokumen.tips

E. Gereja Yang Melayani (Diakonia) E. Gereja Yang Melayani (Diakonia) Nama kelompok : Frederika tio (22) ... Gereja yang Sehat Secara Emosional
Read more