Environmental Disaster Assessment And Mitigation 040906

40 %
60 %
Information about Environmental Disaster Assessment And Mitigation 040906

Published on November 22, 2008

Author: farhan.helmy

Source: slideshare.net

Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Farhan Helmy

Outline Presentasi Memahami Penanganan Bencana di KLH Isu Lingkungan Pasca Bencana Pengalaman Aceh Pengalaman DI Yogjakarta dan Merapi Pengalaman Pangandaran Diskusi

Memahami Penanganan Bencana di KLH

Isu Lingkungan Pasca Bencana

Pengalaman Aceh

Pengalaman DI Yogjakarta dan Merapi

Pengalaman Pangandaran

Diskusi

Kerangka Pengembangan DSS untuk Pengelolaan Lingkungan KLH KELUARAN Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) Rapid Environmental Assessment and Action (REA2) Damage and Risk Assessment Monitoring dan Evaluasi Sistem Pendukung Keputusan Decision Support Systems (DSS) INSTITUTIONALISASI SDM Teknik DSS Dialog Kebijakan JEJARING Komunitas DSS Infrastruktur ICT BASIS DATA Spatial non-spasial Referensi Metadata TOOLS GIS dan RS Analisis Statistik Modeling Open based Systems POLICY EXERCISE Model Studi Kasus

KELUARAN

Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI)

Rapid Environmental Assessment and Action

(REA2)

Damage and Risk Assessment

Monitoring dan Evaluasi

Kegiatan UNEP dalam Pemulihan Lingkungan yang terkait dengan EIMS Other Environmental Recovery Projects Coastal Revegetation Eco-friendly Settlements Pharmaceutical Waste Management Project Environmentally Sustainable Technology and Construction Practices Env. Emergency Response - Surabaya Capacity Building in Spatial Planning Environmental Disaster Assessment and Mitigation Environment Impact Assessment (EIA) Tracking Database Environment Monitoring Environment Coordination and Project Supervision EnvironmentInformation for Risk assessment and Early Warning: Case Study Environ. Mgmt on Disaster Risk Reduction

Other Environmental Recovery Projects

Coastal Revegetation

Eco-friendly Settlements

Pharmaceutical Waste Management Project

Environmentally Sustainable Technology and Construction Practices

Env. Emergency Response - Surabaya

Respon KLH dalam Penanganan Bencana Pengembangan Basis Data Skala Rinci (1:1.000,1:5.000, 1:25.000) Pengadaan citra satelit resolusi tinggi menggunakan (Quick Bird, SPOT, Aster)) Pemetaan skala rinci untuk relokasi ruang guna meletakan kegiatan pembangunan yang ramah lingkungan dan ramah bencana Pemetaan kualitas lingkungan (air, tanah, puing-puing, dan pengelolaan limbah dikawasan pengungsi, perubahan tutupan lahan/tata gunan tanah) Damage and Risk Assessment Investigasi lapangan dan pemetaan untuk areal yang terkena dampak (kontaminasi) Potensi dan prediksi dampak Penempatan lokasi yang “aman” Integrasi aspek bencana dan resiko dalam pemulihan/penataan kawasan pasca bencana Inventarisasi informasi konstruksi bangunan tahan gempa Peningkatan kapasitas PPLH Regional dan Bapedalda Propinsi/Kabupaten di lokasi bencana Pemantauan dan pemetaan kualitas lingkungan Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (GIS, remote sensing, jaringan informasi Intervensi Kegiatan Pasca Pasca Bencana Penanganan limbah pasca bencana (medis, reruntuhan, puing2, dll). Revisi tataruang dengan mempertimbangan aspek bencana dan lingkungan yang berubah Revitalisasi AMDAL khususnya pada proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh Demoplot untuk pemulihan lingkungan (eco-village, rehabilitasi kawasan pesisir) Pengembangan Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Center khususnya NAD, Regional Sumatra, Jawa)

Pengembangan Basis Data Skala Rinci (1:1.000,1:5.000, 1:25.000)

Pengadaan citra satelit resolusi tinggi menggunakan (Quick Bird, SPOT, Aster))

Pemetaan skala rinci untuk relokasi ruang guna meletakan kegiatan pembangunan yang ramah lingkungan dan ramah bencana

Pemetaan kualitas lingkungan (air, tanah, puing-puing, dan pengelolaan limbah dikawasan pengungsi, perubahan tutupan lahan/tata gunan tanah)

Damage and Risk Assessment

Investigasi lapangan dan pemetaan untuk areal yang terkena dampak (kontaminasi)

Potensi dan prediksi dampak

Penempatan lokasi yang “aman”

Integrasi aspek bencana dan resiko dalam pemulihan/penataan kawasan pasca bencana

Inventarisasi informasi konstruksi bangunan tahan gempa

Peningkatan kapasitas PPLH Regional dan Bapedalda Propinsi/Kabupaten di lokasi bencana

Pemantauan dan pemetaan kualitas lingkungan

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (GIS, remote sensing, jaringan informasi

Intervensi Kegiatan Pasca Pasca Bencana

Penanganan limbah pasca bencana (medis, reruntuhan, puing2, dll).

Revisi tataruang dengan mempertimbangan aspek bencana dan lingkungan yang berubah

Revitalisasi AMDAL khususnya pada proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh

Demoplot untuk pemulihan lingkungan (eco-village, rehabilitasi kawasan pesisir)

Pengembangan Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Center khususnya NAD, Regional Sumatra, Jawa)

Tahapan dalam Merespon Bencana melalui REA2 Melaksanakan Rapid Environmental Assessment (REA) untuk menghitung kerusakan dan dampak lingkungan. Metodologi ini dikembangkan oleh UNEP dan telah diterapkan di berbagai Negara yang terkena bencana (Irak, Pakistan, Bangladesh) dan pertama kali diterapkan untuk NAD dan Nias pasca Tsunami (2005). REA dikembangkan oleh KLH menjadi REA2 ( Rapid Environmental Assessment and Actions ) dengan menambahkan aspek bantuan petunjuk teknis di lapangan. REA2 telah diterapkan untuk beberapa areal yang terkena dampak akibat gempa bumi dan Tsunami (Yogjakarta dan Merapi), dan kawasan Pantai Selatan Jawa. Waktu :1-2 minggu, Policy Target : Bappenas, Bakornas PB, Lembaga Donor dan Lembaga sektor terkait di pusat dan daerah. Melakukan Expert Briefing dengan mengundang pakar dari dalam dan luar negeri dalam bidang Geodesi, Geologi, Geodinamika, Bangunan, maupun sosial ekonomi untuk memahami dan melengkapi pemahaman ilmiah secara obyektif. Melakukan kajian komprehensif ( Comprehensive Environmental Assessment ) , kajian dilakukan untuk menindaklanjuti hasil dari REA2 untuk pemulihan lingkungan pasca bencana. Waktu yang dibutuhkan (1-2 bulan). Intervensi Kegiatan/Program Pemulihan Lingkungan Pasca Bencana

Melaksanakan Rapid Environmental Assessment (REA) untuk menghitung kerusakan dan dampak lingkungan. Metodologi ini dikembangkan oleh UNEP dan telah diterapkan di berbagai Negara yang terkena bencana (Irak, Pakistan, Bangladesh) dan pertama kali diterapkan untuk NAD dan Nias pasca Tsunami (2005). REA dikembangkan oleh KLH menjadi REA2 ( Rapid Environmental Assessment and Actions ) dengan menambahkan aspek bantuan petunjuk teknis di lapangan. REA2 telah diterapkan untuk beberapa areal yang terkena dampak akibat gempa bumi dan Tsunami (Yogjakarta dan Merapi), dan kawasan Pantai Selatan Jawa. Waktu :1-2 minggu, Policy Target : Bappenas, Bakornas PB, Lembaga Donor dan Lembaga sektor terkait di pusat dan daerah.

Melakukan Expert Briefing dengan mengundang pakar dari dalam dan luar negeri dalam bidang Geodesi, Geologi, Geodinamika, Bangunan, maupun sosial ekonomi untuk memahami dan melengkapi pemahaman ilmiah secara obyektif.

Melakukan kajian komprehensif ( Comprehensive Environmental Assessment ) , kajian dilakukan untuk menindaklanjuti hasil dari REA2 untuk pemulihan lingkungan pasca bencana. Waktu yang dibutuhkan (1-2 bulan).

Intervensi Kegiatan/Program Pemulihan Lingkungan Pasca Bencana

Fokus Kegiatan dan Lokasi Disaster Management NAD dan Nias (Area 1) DI Yogjakarta (Area 2) Pangandaran dan sekitarnya (Area 3 ) Disaster Preparedness Kawasan Merapi (Area 2) Sukabumi dan Selat Sunda (Area 4) Area1 Area 4 Area 2 Area 3

Disaster Management

NAD dan Nias (Area 1)

DI Yogjakarta (Area 2)

Pangandaran dan sekitarnya (Area 3 )

Disaster Preparedness

Kawasan Merapi (Area 2)

Sukabumi dan Selat Sunda (Area 4)

Status Kegiatan Assessment setelah Aceh Rekomendasi dan Rencana aksi sudah disampaikan oleh MenLH (31 Juli 2006) kepada: (1). Bappenas (2). Bakornas PB (3). Lembaga Sektoral T Survey Area 2: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness ) Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 dan 1:1.000 di beberapa kawasan yang terkena Tsunami (Pangandaran dan Cilacap) Survey GPS untuk pemetaan rendaman tsunami ( inundation mapping ) Investigasi lapangan (survey GPS) dan analisis Vegetasi pasca bencana Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment ) Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi September - Oktober 2006 Survey Area 3: ( Disaster Preparedness ) Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi di beberapa kawasan (rentan terhadap bencana dan kawasan Industri di Propinsi Banten ( (1:3.000) Investigasi lapangan (survey GPS) dan Penaksiran dampak bencana Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi Penataan ruang, pengelolaan limbah, pemulihan lingkungan, dll. Kajian resiko dan dampak bencana secara rinci: debris, limbah B3, pemetaandan pemantauan kualitas lingkungan (udara, air, tanah), penempatan lokasi “aman” Survey Area 1: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness ) Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi Klaten dan Bantul (1:3.000) Investigasi lapangan (survey GPS) dan Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment ) Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi Fokus Kegiatan ? Post Assessment September - Oktober 2006 Comprehensive Environmental Assessment Rekomendasi dan Rencana aksi sudah disampaikan oleh MenLH (9 Juni 2006) kepada: (1). Bappenas/CGI Meeting (2). Bakornas PB Rapid Environmental Assessment (REA) Status dan Jadwal Tahapan

Survey Area 2: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness )

Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 dan 1:1.000 di beberapa kawasan yang terkena Tsunami (Pangandaran dan Cilacap)

Survey GPS untuk pemetaan rendaman tsunami ( inundation mapping ) Investigasi lapangan (survey GPS) dan analisis Vegetasi pasca bencana

Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment )

Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi

Survey Area 3: ( Disaster Preparedness )

Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000

Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi di beberapa kawasan (rentan terhadap bencana dan kawasan Industri di Propinsi Banten ( (1:3.000)

Investigasi lapangan (survey GPS) dan

Penaksiran dampak bencana

Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi

Survey Area 1: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness )

Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000

Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi Klaten dan Bantul (1:3.000)

Investigasi lapangan (survey GPS) dan

Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment )

Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi

Proof of Concept Kerjasama tim,komunikasi dan pertimbangan yang komprehensif terhadap semua nilai sumberdaya yang dimiliki. Konsultasi sebelum aksi dan shared decision making Alokasi Ruang Optimum Pemodelan Spasial

Kerjasama tim,komunikasi dan pertimbangan yang komprehensif terhadap semua nilai sumberdaya yang dimiliki.

Konsultasi sebelum aksi dan shared decision making

Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) 14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst) Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias) Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang) Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna)

14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst)

Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias)

Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang)

Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna)

Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh) Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang) Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net)

Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh)

Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang)

Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net)

 

Peta Gempa Jawa 1600-1921 (Dr. Visser, 1922) Gempa Jogyakarta Gempa Muria

Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )

Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )

JOGYAKARTA EARTHQUAKE: DEATHS > 500 NO TSUNAMI Seaquake MMI>VIII

MMI V - VIII Deep subduction interface earthquake?

M ~ 8.0, not a subduction earthquake (Newcomb and McCann) NO TSUNAMI

M 7.5, SEA WARD FROM THE TRENCH, WITH TSUNAMI INTRAPLATE EARTHQUAKE, NOT A SUBDUCTION EARTHQUAKE

Status: Database 1:25.000

Seismitas Jawa: 1973 - …

Cumulative strain energy release CSER entire region, all data CSER=∑E i M3 or Mmax Waiting Time TW

CSER model Yogya zone: (a) without, (b) with Bantul earthquake (2 ° cell) (a) (b) M3 = 6.59 M3 = 6.62 Entered strain energy accumulation period?

Seismic hazard mapping - magnitude 50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel III) (a) without epicentres, (b) with epicentres (a) Yogya cell: M = 6.6 STRATEGY: Statistic used is extreme values, Gumbel III: P(M)=exp[-{( ω -M)/( ω -u)} 1/ λ … see Conf Procs Fitted to 2 ° cells Moving by 0.5 ° to form matrix for all Java 50-year magnitude with 90%pnbe forecast, = one in ten chance exceeded in 50-years

Seismic hazard mapping - peak ground acceleration 50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel I) (a) before and (b) after the Bantul earthquake (a) (b) pga increase 100-199 to 200-300+ cm s -2

Medan pergeseran Horisontal adapted from Wright & Pathier (pers comms) h orizontal displacement field - note small black arrows (ESA’s satellite ENVISAT data analysis by COMET: horizontal displacement field)

 

Potensi Dampak Merapi

3 Dimensi Potensi Aliran Lava Perkiraan Volume Aliran Lava 150.000 – 2.000.000 m3 (BPPTK)

Isu Prioritas Pasca Gempa Baseline Informasi Lingkungan peta/citra satelit resolusi tinggi (1:5.000) kualitas lingkungan (air, tanah, udara,limbah) Dampak Lingkungan pengelolaan limbah (domestik, bencana,..) pemulihan lingkungan dan relokasi kawasan “aman” Material Rekonstruksi kayu dan material konstruksi (daur ulang?) “ building code” Governance Pasca Bencana [makro vs. mikro] penataan kawasan (kabupaten/kota, desa) penguatan kelembagaan pengelolaan lingkungan (Pusreg, Bapedalda) Rekayasa Ruang demoplot “eco-design/development”

Baseline Informasi Lingkungan

peta/citra satelit resolusi tinggi (1:5.000)

kualitas lingkungan (air, tanah, udara,limbah)

Dampak Lingkungan

pengelolaan limbah (domestik, bencana,..)

pemulihan lingkungan dan relokasi kawasan “aman”

Material Rekonstruksi

kayu dan material konstruksi (daur ulang?)

“ building code”

Governance Pasca Bencana [makro vs. mikro]

penataan kawasan (kabupaten/kota, desa)

penguatan kelembagaan pengelolaan lingkungan (Pusreg, Bapedalda)

Rekayasa Ruang

demoplot “eco-design/development”

Proposal Pasca REA2 Damage and Loss Assessment: Bagian dari kelompok cross sectoral Bappenas Comprehensive Environmental Assessment Pemetaan sesar permukaan ( surface fault ) skala rinci Pemetaan kualitas lingkungan (udara, air, tanah, limbah) Post Assessment Penataan ruang Pengelolaan limbah Demoplot “eco-design” Penguatan kelembagaan Bapedalda Regional: basis data, pemantauan, assessment

Damage and Loss Assessment:

Bagian dari kelompok cross sectoral Bappenas

Comprehensive Environmental Assessment

Pemetaan sesar permukaan ( surface fault ) skala rinci

Pemetaan kualitas lingkungan (udara, air, tanah, limbah)

Post Assessment

Penataan ruang

Pengelolaan limbah

Demoplot “eco-design”

Penguatan kelembagaan Bapedalda Regional: basis data, pemantauan, assessment

Pengalaman Pangandaran 5

Keluaran 1. PENDAHULUAN 2. TEMUAN LAPANGAN DAN HASIL KAJIAN LINGKUNGAN PASCA BENCANA 2.1 Gambaran Situasi Umum dan Respon berbagai Lembaga 2.1.1 Korban dan Kerusakan Fisik 2.1.2 Respon Lembaga 2.2 Survey Areal Rendaman Tsunami ( inundation mapping ) 2.2.1 Tinggi dan Rendaman Tsunami 2.2.2 Vegetasi di Kawasan Rendaman 2.2.3 Struktur Bangunan 2.2.4 Deliniasi Batas Area Rendaman 2.3 Kondisi Ekositem Pesisir Pasca Tsunami 2.3.1 Kabupaten Ciamis 2.3.2 Kabupaten Tasikmalaya 2.3.3 Kabupaten Garut 2.3.4 Kesimpulan Umum Kondisi Ekosistem 2.4 Kondisi Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan 2.5 Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah 2.5.1 Kualits Air Sumur 2.5.2 Kualitas Air Sungai 2.6 Rencana Tata Ruang Wilayah 2.7 Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan 3. ISU PASCA BENCANA 4. REKOMENDASI DAN USULAN RENCANA AKSI 4.1 Pemulihan Lingkungan dan Penataan Kawasan Pasca Bencana 4.2 Tindak Lanjut Kajian LAMPIRAN LAMPIRAN 1: TIM YANG TERLIBAT LAMPIRAN 2: DAFTAR ORANG YANG DIWAWANCARA LAMPIRAN 3: DATA DAN HASIL PENGAMATAN KUALITAS AIR LAMPIRAN 4: DATA PENGAMATAN PASANG SURUT

1. PENDAHULUAN

2. TEMUAN LAPANGAN DAN HASIL KAJIAN LINGKUNGAN PASCA BENCANA

2.1 Gambaran Situasi Umum dan Respon berbagai Lembaga

2.1.1 Korban dan Kerusakan Fisik

2.1.2 Respon Lembaga

2.2 Survey Areal Rendaman Tsunami ( inundation mapping )

2.2.1 Tinggi dan Rendaman Tsunami

2.2.2 Vegetasi di Kawasan Rendaman

2.2.3 Struktur Bangunan

2.2.4 Deliniasi Batas Area Rendaman

2.3 Kondisi Ekositem Pesisir Pasca Tsunami

2.3.1 Kabupaten Ciamis

2.3.2 Kabupaten Tasikmalaya

2.3.3 Kabupaten Garut

2.3.4 Kesimpulan Umum Kondisi Ekosistem

2.4 Kondisi Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan

2.5 Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah

2.5.1 Kualits Air Sumur

2.5.2 Kualitas Air Sungai

2.6 Rencana Tata Ruang Wilayah

2.7 Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan

3. ISU PASCA BENCANA

4. REKOMENDASI DAN USULAN RENCANA AKSI

4.1 Pemulihan Lingkungan dan Penataan Kawasan Pasca Bencana

4.2 Tindak Lanjut Kajian

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1: TIM YANG TERLIBAT

LAMPIRAN 2: DAFTAR ORANG YANG DIWAWANCARA

LAMPIRAN 3: DATA DAN HASIL PENGAMATAN KUALITAS AIR

LAMPIRAN 4: DATA PENGAMATAN PASANG SURUT

Fokus Kajian Areal Rendaman (inundation mapping) Tinggi dan Rendaman Vegetasi Struktur Bangunan Deliniasi Batas Areal Rendaman Survey Ekosistem Pesisir Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Rencana Tata Ruang Wilayah Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan

Areal Rendaman (inundation mapping)

Tinggi dan Rendaman

Vegetasi

Struktur Bangunan

Deliniasi Batas Areal Rendaman

Survey Ekosistem Pesisir

Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan

Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah

Rencana Tata Ruang Wilayah

Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan

 

Areal Survey Pangandaran dan Sekitarnya Areal yang terkena Tsunami Bagian Timur Bagian Barat

Survey Rendaman Pangandaran dan Sekitarnya Temuan Lapangan: Watermark yang ditemukan dikawasan pantai Pangandaran : 70 cm – 1.3 m dari permukaan tanah, 20 cm – 8.80 m ditempat lainnya. Rendaman tsunami yang antara 200-500 meter dari garis pantai. Di kawasan survei, limpasan tsunami melewati perkebunan kelapa dan terhenti di areal persawahan yang ada dibelakangnya. Areal persawahan dan tambak masih terendam air laut dan sampah Ketetebalan sedimen di bibir pantai Bulak Laut 17 cm Watermark Permukaan awal Pengukuran

Temuan Lapangan:

Watermark yang ditemukan dikawasan pantai Pangandaran : 70 cm – 1.3 m dari permukaan tanah, 20 cm – 8.80 m ditempat lainnya.

Rendaman tsunami yang antara 200-500 meter dari garis pantai.

Di kawasan survei, limpasan tsunami melewati perkebunan kelapa dan terhenti di areal persawahan yang ada dibelakangnya.

Areal persawahan dan tambak masih terendam air laut dan sampah

Ketetebalan sedimen di bibir pantai Bulak Laut 17 cm

Survey GPS dan Pengukuran Titik Tinggi Pengukuran yang sudah dilakukan: Wilayah Timur dari Pantai Pangandaran Pengikatan titik kontrol GPS (GPS Control Points) ke Jaringan Geodetik ITB. Pengukuran real time kinematik GPS batas rendaman air Pengukuran point spot height dengan metode stop and go dengan analisis pengolahan data post processing Tracking GPS untuk pemetaan jalan sepanjang pantai timur Titik kontrol geodetik Pengukuran titik tinggi

Pengukuran yang sudah dilakukan:

Wilayah Timur dari Pantai Pangandaran

Pengikatan titik kontrol GPS (GPS Control Points) ke Jaringan Geodetik ITB.

Pengukuran real time kinematik GPS batas rendaman air

Pengukuran point spot height dengan metode stop and go dengan analisis pengolahan data post processing

Tracking GPS untuk pemetaan jalan sepanjang pantai timur

Vegetasi dan Struktur Bangunan

Analisis Struktur Bangunan (Puslitbangkim PU ) Bangunan gedung dan rumah tinggal yang rusak, umumnya disebabkan karena dorongan gelombang air atau Tsunami setinggi kurang lebih 2 hingga 6 meter diseluruh pesisir pantai Selatan sejauh 500 m hingga 1 km dari tepi pantai. Untuk bangunan di luar area 500 meter, gempa yang berkekuatan 6,8 SR tidak menyebabkan kerusakan pada bangunan gedung dan rumah tinggal. Bangunan bertingkat yang berada di pinggir pantai pangandaran, tidak mengalami kerusakan pada bagian struktur utamanya, kecuali pada bagian non struktural seperti pada dinding dan kusen bagian depan. Pada bangunan yang rusak baik runtuh total maupun rusak ringan oleh gelombang Tsunami, terlihat indikasi kualitas struktur bangunan kurang memenuhi persyaratan teknis seperti pada penggunaan dimensi tulangan utama dan sengkang, serta mutu beton yang rendah.

Bangunan gedung dan rumah tinggal yang rusak, umumnya disebabkan karena dorongan gelombang air atau Tsunami setinggi kurang lebih 2 hingga 6 meter diseluruh pesisir pantai Selatan sejauh 500 m hingga 1 km dari tepi pantai.

Untuk bangunan di luar area 500 meter, gempa yang berkekuatan 6,8 SR tidak menyebabkan kerusakan pada bangunan gedung dan rumah tinggal.

Bangunan bertingkat yang berada di pinggir pantai pangandaran, tidak mengalami kerusakan pada bagian struktur utamanya, kecuali pada bagian non struktural seperti pada dinding dan kusen bagian depan.

Pada bangunan yang rusak baik runtuh total maupun rusak ringan oleh gelombang Tsunami, terlihat indikasi kualitas struktur bangunan kurang memenuhi persyaratan teknis seperti pada penggunaan dimensi tulangan utama dan sengkang, serta mutu beton yang rendah.

Pengamatan Lapangan Ekosistem Pesisir Daerah yang tidak terpengaruh atau yang rendah pengaruhnya dari gelombang pasang adalah daerah pantai terjal berbatu, daerah yang memiliki vegetasi pesisir rapat , daerah yang memiliki lubang/galian di belakang garis pantai yang berfungsi sebagai atau semacam lahan basah buatan ( man made wetland ) sebagai pengurang atau peredam energi pasang, dan daerah yang memiliki pelindung seperti sea wall atau delta. Daerah yang berdampak tinggi terhadap gelombang Tsunami adalah daerah pantai landai, daerah dengan vegetasi jarang. Walaupun cukup luas tetapi secara soliter tidak mampu meredam energi gelombang yang datang, perumahan (bangunan) di pesisir yang terlalu dekat dengan laut. Telah terjadi perubahan formasi vegetasi sebelum bencana Tsunami di berbagai kawasan yang dikunjungi. Pemanfaatan ruang di wilayah pesisir tidak menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penataan kawasan pesisir dan pantai sebagaimana ditetapkan dalam Kepres 32/1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung, khususnya sempadan pantai.

Daerah yang tidak terpengaruh atau yang rendah pengaruhnya dari gelombang pasang adalah daerah pantai terjal berbatu, daerah yang memiliki vegetasi pesisir rapat , daerah yang memiliki lubang/galian di belakang garis pantai yang berfungsi sebagai atau semacam lahan basah buatan ( man made wetland ) sebagai pengurang atau peredam energi pasang, dan daerah yang memiliki pelindung seperti sea wall atau delta.

Daerah yang berdampak tinggi terhadap gelombang Tsunami adalah daerah pantai landai, daerah dengan vegetasi jarang. Walaupun cukup luas tetapi secara soliter tidak mampu meredam energi gelombang yang datang, perumahan (bangunan) di pesisir yang terlalu dekat dengan laut.

Telah terjadi perubahan formasi vegetasi sebelum bencana Tsunami di berbagai kawasan yang dikunjungi.

Pemanfaatan ruang di wilayah pesisir tidak menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penataan kawasan pesisir dan pantai sebagaimana ditetapkan dalam Kepres 32/1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung, khususnya sempadan pantai.

Penataan Ruang Wilayah Dalam RTRW revisi ini diusulkan alokasi sebesar 143.764,09 km2 untuk kawasan lindung dari semula 112.280,30 km2. Sedangkan kawasan budidaya diusulkan mengalami pengurangan dari 181.162,00 km2 menjadi 159.066,39. Khusus untuk Kawasan Lindung RTRW 2003 telah merencanakan kawasan sempadan pantai seluas 9.442,92 km2 serta kawasan rawan gempa seluas 4.044.72 km2 yang didasarkan kepada Kepress 32 Tahun 1990 mengenai Kawasan Lindung. Catatan untuk Kawasan Lindung Penerapan kaidah-kaidah Kepres 32/1990 seperti sempadan pantai perlu dikaji ulang mengingat areal rendaman Tsunami mencapai lebih dari 500 m dari pantai dengan ketinggian hampir mencapai 9 meter, Demikian pula dengan penetapan kawasan lindung di wilayah pesisir lainnya. Perlu adanya tinjauan ulang terhadap Revisi RTRW 2003 yang belum ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek potensi bencana di kawasan pesisir dan sekitarnya, seperti kawasan Pangandaran.

Dalam RTRW revisi ini diusulkan alokasi sebesar 143.764,09 km2 untuk kawasan lindung dari semula 112.280,30 km2. Sedangkan kawasan budidaya diusulkan mengalami pengurangan dari 181.162,00 km2 menjadi 159.066,39.

Khusus untuk Kawasan Lindung RTRW 2003 telah merencanakan kawasan sempadan pantai seluas 9.442,92 km2 serta kawasan rawan gempa seluas 4.044.72 km2 yang didasarkan kepada Kepress 32 Tahun 1990 mengenai Kawasan Lindung.

Catatan untuk Kawasan Lindung

Penerapan kaidah-kaidah Kepres 32/1990 seperti sempadan pantai perlu dikaji ulang mengingat areal rendaman Tsunami mencapai lebih dari 500 m dari pantai dengan ketinggian hampir mencapai 9 meter, Demikian pula dengan penetapan kawasan lindung di wilayah pesisir lainnya.

Perlu adanya tinjauan ulang terhadap Revisi RTRW 2003 yang belum ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek potensi bencana di kawasan pesisir dan sekitarnya, seperti kawasan Pangandaran.

 

 

 

 

Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) 14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst) Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias) Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang) Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna)

14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst)

Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias)

Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang)

Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna)

Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh) Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang) Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net)

Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh)

Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang)

Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net)

Publication (26/12/2005)

Web based information network

Terimakasih Informasi Lebih Jauh [email_address] [email_address]

Add a comment

Related presentations

Related pages

Moldova - Disaster Risk Mitigation and Adaptation Project ...

... environmental assessment : Environmental impact assessment and environment management plan ... Disaster Risk Mitigation and Adaptation Project : ...
Read more

Disaster mitigation: the concept of vulnerability ...

... a conceptual approach in vulnerability assessment is proposed. ... Disaster Prevention and Management: An International ... Disaster mitigation: ...
Read more

Disaster Prevention and Mitigation - Public Safety Canada

Disaster Prevention and Mitigation. The ultimate purpose of emergency management is to save lives, preserve the environment and protect property and the ...
Read more

UNEP and Disasters and Conflicts at a Glance

impacts of environmental degradation from disasters and conflicts on ... term disaster prevention and mitigation. ... environmental assessment of over ...
Read more

Programmatic Environmental Assessment Hazard Mitigation ...

Programmatic Environmental Assessment Hazard Mitigation ... Environmental Assessment 406 ... for disaster response, recovery, and mitigation, ...
Read more

Vietnam - Natural Disasters Mitigation Project ...

... Natural Disasters Mitigation Project : environmental ... Natural Disasters Mitigation Project : environmental assessment ... Disasters Mitigation ...
Read more

Disasters Management Mitigation - mokaz.dunmahi.com

greenhouse gas mitigation assessment a guidebook PDF ... environmental disasters PDF future disasters PDF entertaining disasters a novel with recipes PDF
Read more

Canadian Environmental Assessment Agency - Basics of ...

Basics of Environmental Assessment. ... significant adverse environmental effects, after mitigation measures ... of environmental harm or disasters;
Read more

Mitigation: Fact Sheets | FEMA.gov

Mitigation: Fact Sheets; ... Mitigation Assessment Team Fact Sheet; ... Tribal Mitigation Planning Fact Sheet; Environmental Planning and Historic ...
Read more