advertisement

Biografi pahlawan revolusi indonesia

45 %
55 %
advertisement
Information about Biografi pahlawan revolusi indonesia

Published on March 16, 2014

Author: haryantoredesquire

Source: slideshare.net

advertisement

BIOGRAFI PAHLAWAN REVOLUSI INDONESIA DISUSUN OLEH: NAMA, NO. ABSEN: DINA NUR FITRIANI(13) ELIA AFRIYANI (14) FITRAN ZAKIYA(15) HANIDA ARIYANTI(16) HARYANTO(17) INDAH NUR RAHMAH(18) ISTIQOMAH(19) KRISTIN SETYANI(20)

Pahlawan Revolusi Indonesia Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada sejumlah perwira militer yang gugur dalam tragedi G30S yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 30 September 1965. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini diakui juga sebagai Pahlawan Nasional. Para pahlawan tersebut adalah: 1. JENDRAL AHMAD YANI Jenderal TNI Anumerta AChmad Yani (Purworejo, 19 Juni 1922]]- Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Pendidikan formal diawalinya di HIS (setingkat Sekolah Dasar) Bogor, yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (setingkat Sekolah Menegah Pertama) kelas B Afd. Bogor. Dari sana ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) bagian B Afd. Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas dua, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Achmad Yani kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan secara lebih intensif di Bogor. Dari sana ia mengawali karir militernya dengan pangkat Sersan. Kemudian setelah tahun 1942 yakni setelah pendudukan Jepang di Indonesia, ia juga mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan.Achmad Yani berhasil menyita senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia diangkat menjadi Komandan TKR Purwokerto. ketika Agresi Militer Pertama Belanda terjadi, pasukan Achmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan Belanda di daerah tersebut. Maka saat Agresi Militer Kedua Belanda terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk melawan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang membuat kekacauan di daerah Jawa Tengah. Ketika itu dibentuk pasukan Banteng Raiders yang diberi latihan khusus hingga pasukan DI/TII pun berhasil dikalahkan. Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia kembali ke Staf Angkatan Darat. Pada tahun 1955, Achmad Yani disekolahkan pada Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Pada tahun 1956, ia juga mengikuti pendidikanselama dua bulan pada Spesial Warfare Course di Inggris. Tahun 1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera Barat, Achmad Yani yang masih berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus untuk memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dan berhasil menumpasnya. Hingga pada tahun 1962, ia diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Achmad Yani selalu berbeda paham dengan PKI (Partai Komunis Indonesia).Ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai. Oleh karena itu, ia menjadi salah satu target PKI yang diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI Angkatan Darat melalui Pemberontakan G30S/PKI (Gerakan Tiga Puluh September/PKI). Achmad Yani ditembak di depan kamar tidurnya pada tanggal 1 Oktober 1965 (dinihari). Jenazahnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur dan dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan

Kalibata, Jakarta Selatan.Achmad Yani gugur sebagai Pahlawan Revolusi.Pangkat sebelumnya sebagai Letnan Jenderal dinaikkan satu tingkat (sebagai penghargaan) menjadi Jenderal. Biodata Nama : Ahmad Yani Riwayat hidup : -HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935 -MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938 -AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940 Pendidikan Militer : -Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang -Pendidikan Heiho di Magelang -Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor -Command and General Staf College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA, tahun 1955 -Spesial Warfare Course di Inggris, tahun 1956 Riwayat Karir Jabatan terakhir : Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) sejak tahun 1962 Bintang Kehormatan : -Bintang RI Kelas II -Bintang Sakti -Bintang Gerilya -Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II -Satyalancana Kesetyaan VII, XVI -Satyalancana G:O.M. I dan VI -Satyalancana Sapta Marga (PRRI) -Satyalancana Irian Barat (Trikora) -Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) Tanda Penghormatan : Pahlawan Revolusi 2. Letnan Jenderal Suprapto Letnan jendral TNIamuerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni1920 – meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober1965 pada umur 45 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam G30SPKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini boleh dibilang hampir seusia dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar. Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941. Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan diri. Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat. Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara

Keamanan Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan tentara Jepang seperti di Cilacap, namun perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya. Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut. Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia sering berpindah tugas. Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang. Dari Semarang ia kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat, kemudian ke Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam, ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera yang bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat sebab harus menjaga agar pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi. 3. Jendral M.T Haryono jeLetnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, 20 Januari 1924 merupakan salah satu dari dari Tujuh Pahlawan Revolusi, sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat. Seorang perwira yang fasih berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman.Kemampuannya itu membuat dirinya menjadi perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan. Perwira kelahiran Surabaya ini pernah menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk Negeri Belanda dan terakhir sebagai Deputy III Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor. Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Tenaga M.T. Haryono memang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan antara pemerintah RI dengan pemerintah Belanda maupun Inggris.Hal tersebut disebabkan karena kemampuannya berbicara tiga bahasa internasional yakni bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Terakhir ketika ia menjabat Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai yang merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat itu semakin hari semakin berani bahkan semakin merajalela. Ide-ide yang tidak populer dan mengandung resikO tinggi pun sering dilontarkan oleh partai komunis itu.Seperti ide untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang disebut dengan Angkatan Kelima.Ide tersebut tidak disetujui oleh sebagian besar perwira AD termasuk oleh M.T. Haryono sendiri dengan pertimbangan adanya maksud tersembunyi di balik itu yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis.Di samping itu, pembentukan Angkatan Kelima tersebut sangatlah memiliki resiko yang

sangat tinggi. Namun karena penolakan itu pula, dirinya dan para perwira lain dimusuhi dan menjadi target pembunuhan PKI dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono bersama enam perwira lainnya yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen.TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Mayjen.TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen.TNI Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil diculik kemudian dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang Buaya tanpa prikemanusiaan. M.T. Haryono yang tewas karena mempertahankan Pancasila itu gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal. Untuk menghormati jasa para Pahlawan Revolusi sekaligus untuk mengingatkan bangsa ini akan peristiwa penghianatan PKI tersebut, dengan demikian diharapkan peristiwa yang sama tidak akan terulang kembali, maka oleh pemerintahan Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangunlah Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan yang berlatar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. 4. Jenderal S. Parman Letjen.Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918.Dia merupakan salah satu dari tujuh pahlawan revolusi dan korban kebiadaban PKI. Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan perwira intelijen, sehingga banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI karena itulah dirinya termasuk salah satu di antara para perwira yang menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Penolakan yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban pembunuhan PKI.Pendidikan umum yang pernah diikutinya adalah sekolah tingkat dasar, sekolah menengah, dan Sekolah Tinggi Kedokteran.Namun sebelum menyelesaikan dokternya, tentara Jepang telah menduduki Republik sehingga gelar dokter pun tidak sampai berhasil diraihnya. Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran, ia sempat bekerja pada Jawatan Kenpeitai. Di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian dibebaskan kembali. Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan Kempeitai. Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulanDesember, tahun 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta. Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang dengan melakukan perang gerilya. Pada bulan Desember tahun 1949 ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu keberhasilannya saat itu adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta di bawah pimpinan Westerling. Selanjutnya, pada Maret tahun 1950, ia diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police School. Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan untuk beberapa lama kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London pada tahun 1959. Lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal. Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ini, pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia.Partai Komunis ini merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat pun sudah terpengaruh.Namun sebagai perwira intelijen, S. Parman sebelumnya sudah banyakmengetahui kegiatan rahasia PKI.Maka ketika PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima.Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dengan dasar itulah kemudian dirinya dimusuhi oleh PKI.

Maka pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI tanggal 30 September 1965, dirinya menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh. Dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen.TNI Anumerta S. Parman bersama enam perwira lainnya yakni Jend.TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen.TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen.TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen.TNI Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil diculik kemudian dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang Buaya tanpa prikemanusiaan. S. Parman gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila. Bersama enam perwira lainnya ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian Pancasila. 5. Jenderal Pandjaitan Mayor JenderalTNIAnumertaDonald Isaac Panjaitan (lahir di Balige, Sumatera Utara, 19 Juni1925 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober1965 pada umur 40 tahun) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925.Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan.Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan.Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi. Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan. Pada jam-jam awal 1 Oktober1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta. Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah. Dua

orang pemuda yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal.Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap sambil menyerahkan diri kepada Yang Maha Esa untuk memenuhi panggilan tugas yang dimanupalasi oleh gerombolan PKI dan ditembak mati.mayatnya dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua.Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi anumerta kepada Jenderal Mayor dan diberi gelar Pahlawan Revolusi. 6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo Sutoyo Siswomiharjo dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1922 di Kebumen.Mulai pendidikannya dari HIS, di AMS tahun 1942 di Semarang, lalu melanjutkan pendidikannya di Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. Pemuda Sutoyo sebelum mulai karirnya selaku seorang prajurit, bertugas di Kabupaten Purworejo, sebagai Pegawai Menengah/III. Tugas sebagai seorang Militer dimulai saat perjuangan kemerdekaan tahun 1945. Pada tahun 1946 menjabat sebagai Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo dengan pangkat Kapten dan di tahun 1948 menjadi Kepala Staf CPMD Yogyakarta hingga tahun 1949. Pada tahun 1950 Mayor Sutoyo menjabat sebagai Komandan Batalyon I CPM dan tahun 1951 Danyon V CPM.Sedang pada tahun 1954 menjabat sebagai Kepala Staf MBPM hingga akhir tahun 1954.Mulai tahun 1955 sebagai Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol hingga tahun 1956.Sejak tahun ini diangkat menjadi Asisten ATMIL di London. Setelah kembali di tanah air dan selesai mengikuti pendidikan Kursus "C" Seskoad tahun 1960.Pada tahun 1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD. Pada tahun 1964 dinaikan pangkatnya menjadi Brigjen. Menjelang pemberontakan G 30 S/PKI yang ternyata menculik dan membunuh beliau, Pak Toyo mengalami beberapa hal yang dirasakan kurang enak seperti udara yang panas walaupun ruang sudah ber-AC, dan bahkan memerintahkan untuk membuat rencana peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1965 secara cermat kepada Ajudannya. Terbukti bahwa semua firasat yang dialami Brigjen TNI Sutoyo ini ada artinya yaitu tanggal 1 Oktober jam 04.00 Brigjen TNI Sutoyo diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI. Adapun gerombolan yang bertugas menculik Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dipimpin oleh Serma Surono dari Men Cakrabirawa dengan kekuatan 1 (satu) peleton.Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada pembantu rumah untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu dibuka oleh Brigjen TNI Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam rumah, mereka mengatakan bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden. Kedua orang itu membawa Brigjen TNI Sutoyo ke luar rumah sampai pintu pekarangan diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan meninggalkan tempat untuk selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya, gugur dianiaya di luar batas- batas kemanusiaan oleh gerombolan G 30 S/PKI. 7. Kapten Pierre Tendean Nama Lengkap: Pierre Andreas Tendean,Nama: Pierre Tendean, Tanggal Lahir: 21 Februari 1939,Tempat Lahir: Jakarta, Wafat: Jakarta, 1 Oktober 1965 Kapten Anumerta Pierre Tendean lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Jakarta. Beliau merupakan salah satu korban pada peristiwa Gerakan 30 September dan merupakan pahlawan nasional Indonesia. Putera dari DR. A.L Tendean yang berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME.Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara.Kakak dan adiknya semua wanita, sehingga sebagai

satu-satunya anak lelaki dialah tumpuan harapan orang tuanya. Sesudah Pierre tamat dari SD di Magelang, meneruskan ke SMP bagian B dan kemudian ke SMA bagian B di Semarang.Setelah tamat dari SMA orang tuanya menganjurkan agar Pierre masuk Fakultas Kedokteran.Akan tetapi Pierre telah mempunyai pilihan sendiri, ingin masuh Akademi Militer Nasional, dan bercita-cita menjadi seorang perwira ABRI. Pierre memasuki ATEKAD Angkatan ke VI di Bandung tahun 1958 dan dilantik sebagai Letda Czi tahun 1962. Setelah mengalami tugas, antara lain sebagai Danton Yon Zipur 2/Dam II dan mengikuti Pendidikan Intelijen tahun 1963 serta pernah menyusup ke Malaysia masa Dwikora sewaktu bertugas di DIPIAD, maka pada tahun 1965 diangkat sebagai Ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal TNI A.H. Nasution dengan pangkat Lettu. Dalam jabatan sebagai Ajudan Jenderal TNI A.H. Nasution inilah Pierre Tendean gugur sebagai perisai terhadap usaha G 30 S/PKI untuk menculik/membunuh Jenderal TNI A.H. Nasution. Di saat gerombolan G 30 S/PKI masih dan berusaha menculik Pak Nas pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Pierre yang saat itu sedang tidur di paviliun rumah pak Nas, segera bangun, karena mendengar kegaduhan di rumah pak Nas. Ketika ia keluar, ia ditangkap oleh gerombolan penculik yaitu oleh Pratu Idris dan Jahurup. Ketika Pierre menjelaskan bahwa dialah Ajudan Pak Nas, maka pihak gerombolan salah dengar bahwa dialah pak Nas.Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan truk ke Lubang Buaya. Di lubang Buaya Pierre besama dengan Brigjen TNI Sutoyo dimasukan ke dalam rumah yang terletak dekat sumur tua.Setelah disiksa secara kejam oleh anggota-anggota G 30 S/PKI berdasarkan giliran paling akhir dibunuh dan dimasukan ke dalam Lubang Buaya bersama Pimpinan TNI AD lainnya. 8. AIP Karel Satsuit Tubun Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Satsuit Tubun, (lahir di Maluku Tenggara,14 Oktober 1928) meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 36 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban Gerakan 30 September pada tahun 1965. Ia adalah pengawal dari J. Leimena. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Dikarenakan dia adalah korban Gerakan 30 September, maka dia diangkat menjadi seorang Pahlawan Revolusi. K.S Tubun berada saat penculikan terjadi Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, G30S/PKI terjadi.Organisasi ini menculik, menyiksa, dan membunuh beberapa orang pejabat tinggi Angkatan Darat.Tujuannya, mengubah ideologi Pancasila menjadi komunisme.Salah satu tokoh yang menjadi sasaran penculikan adalah Menko Hankam/Kasab (Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata), Jenderal A.H. Nasution.Rumah Nasution bersebelahan dengan rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena.Supaya penculikan mudah, gerombolan PKI menyergap para pengawal di rumah Leimena.Saat itu salah satu yang sedang giliran jaga adalah Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun. Karena ia mendapatkan giliran jaga pagi hari, maka KS Tubun menyempatkan diri untuk tidur sejenak. AIP TK. II Anumerta Karel Satsuit Tubun (1929-1965) Kedua rekan jaga lainnya sudah disekap gerombolan PKI.Satsuit Tubun pun dibangunkan paksa.Melihat wajah yang membangunkan bukanlah kedua temannya, Satsuit Tubun langsung menembak anggota gerombolan yang membangunkannya. Saat yang sama, si anggota gerombolan pun melepaskan tembakan. Satsuit Tubun pun rebah berlumuran darah dan meninggal seketika. K.S Tubun dilahirkan tanggal 14 Oktober 1928 di Rumadian, Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara.Keputusannya untuk masuk dalam dunia militer dimulai tahun 1951.Saat itu, Kepolisian Negara (sekarang POLRI), membuka kesempatan bagi para pemuda untuk menjadi anggota Polisi.Setelah mengikuti pendidikan polisi, Satsuit Tubun ditempatkan di kesatuan Brimob, Ambon.Saat dilantik, pangkatnya Agen Polisi Kelas Dua (Prajurit Dua Polisi).Pindah ke Jakarta, pangkatnya dinaikkan jadi Agen Polisi Kelas Satu (Prajurit Satu Polisi). Dalam karir kemiliterannya, Satsuit Tubun seringkali ikut serta mempertahankan keamanan negara.Khususnya ketika banyak pemberontakan yang terjadi di berbagai pelosok Indonesia. Pada peristiwa pembebasan Irian Barat pun, Satsuit Tubun ikut serta. Pada tahun-tahun inilah pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Polisi (Sersan Polisi).Selesai tugas di Irian Barat, Satsuit Tubun tidak lagi mendapat tugas ke luar daerah. Namun ia masih diberi kehormatan untuk menjadi anggota pasukan

pengawal kediaman Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena. Jasa dan pengorbanan Satsuit Tubun dihargai pemerintah.Ia pun diberi gelar Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Kelas II ( Letnan Dua Polisi). Namanya juga kini diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang republik indonesia dari fregat van speijk class dengan nama KRI Karel Satsuit Tubun. 9. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo Nama Lengkap :Katamso Darmokusumo, Alias : Katamso, Agama : Islam, Tempat Lahir : Sragen, Jawa Tengah, Tanggal Lahir : Senin, 5 Februari 1923 , Zodiac : Aquarius, Warga Negara : Indonesia Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang terbunuh dalam peristiwa G.30S/PKI, namun ia tidak mengalaminya bersama para jenderal lainnya di Jakarta, melainkan di Jogjakarta, sekalipun dalam hari dan peristiwa yang sama. Selama masa mudanya, beliau menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan tentara Peta di Bogor. Sesudah proklamasi kemerdekaan, beliau mengikuti TKR yang perlahan lahan berubah menjadi TNI.Selama masa agresi militer belanda, pasukan yang dipimpinnya sering bertempur untuk mengusir Belanda dari Indonesia.Sesudah pengakuan Kedaulatan, beliau diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah. Pada tahun 1958, terjadilah peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta waktu itu beliau menjabat sebagai Komandan Batalyon “A” Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani. Pada tahun 1963, beliau menjabat sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogkakarta. Untuk menghadapi kegiatan PKI di daerah Solo, beliau aktif membina mahasiswa. Mahasiswa mahasiswa itu diberi pelatihan militer. Pada tanggal 1 Oktober 1965 di Yogyakarta, disaat terjadi upaya kudeta oleh Partai Komunis Indonesia dengan penculikan para jenderal di Jakarta, G.30 S/PKI pun berhasil menguasai RRI Jogjakarta, Markas Korem 072 dan mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Pada sore harinya mereka menculik Komandan Korem 072, Kolonel Katamso dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono dan membawanya ke daerah Kentungan.Kedua perwira tersebut dipukul dengan kunci mortar dan tubuhnya dimasukan dalam sebuah lubang yang sudah disiapkan.Kedua jenazah baru ditemukan pada tanggal 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak, setelah dilakukan pencarian secara besar-besaran. Dan pada tanggal 22 Oktober 1965 beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. PENDIDIKAN Sekolah Menengah Pendidikan Militer: Pembela Tanah Air (PETA), Bogor KARIR Shodanco Peta di Solo Komandan Kompi di klaten Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus Kepala Staff Resimen Team Pertempuran (RTP) II Diponegoro Kepala Staff Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung Komandan Resort Militer korem 072, Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta.

PENGHARGAAN Gelar Pahlawan Revolusi (SK Presiden RI No. 118/KOTI/Tahun 1965, tanggal 19 Oktober 1965) 10. Kolonel Sugiono Sugiono seorang prajurit pembela Pancasila yang menjadi korban kekejaman komunis.Ia kehilangan nyawanya karena memberikan latihan-latihan militer kepada mahasiswa untuk menghadapi kegiatan PKI Sugiono lahir di desa Gedaran, Kabupaten Gunung Kidul, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta, 12 Agustus 1926. Gunung Kidul sering dipandang sebagai daerah yang tertinggal karena minimnya sumber mata air di sana. Namun, hal itu tidak sedikitpun mempengaruhi Sugiono.Ia memiliki hasrat agar kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya sehingga ia giat belajar di sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, selanjutnya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru, ia meneruskan studinya ke Sekolah Guru Pertama di Wonosari. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan pendidikannya, tentara Jepang sudah terlebih dahulu menduduki Tanah Air, sehingga ia terpaksa mengubur impiannya menjadi guru untuk kemudian mengikuti pendidikan ketentaraan di Pembela Tanah Air (PETA). Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di PETA, Sugiono diangkat menjadi Budancho di Wonosari. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, ia turut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memasuki Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta. Awalnya ia bertugas sebagai Komandan Seksi, kemudian pada tahun 1947 diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 Letnan Kolonel Suharto. Dalam Agresi Militer II, ia turut serta dalam serangan umum yang dilancarkan terhadap kota Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949. Peristiwa itu kemudian berhasil mengubah opini dunia internasional tentang kekuatan RI. Sesudah pengakuan kedaulatan, Sugiono meneruskan pengabdiannya di bidang militer.Ia turut dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III untuk memadamkan pemberontakan KNIL di bawah pimpinan Andi Aziz di Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653 Sulawesi Selatan. Sebagai seorang tentara, ia sering berpindah-pindah tempat. Jabatan pun beberapa kali mengalami pergantian.Pada bulan Juni 1965 karir militernya terus berkembang dengan pengangkatannya sebagai Kepala Staf Komando Resort Militer (Korem) 072 Komando Daerah Militer (Kodam) VII Pemimpin Perang Diponegoro Diponegoro (sekarang Kodam IV/Pemimpin Perang Diponegoro Diponegoro) yang berkedudukan di Yogyakarta.Saat itu jabatan Komandan Korem dipegang Kolonel Katamso. Saat mengemban jabatan itu, situasi negara dalam keadaan krisis.Di pusat pemerintahan negara, terjadi perseteruan antara ABRI di bawah komando Angkatan Darat (AD) dengan PKI yang kemudian merambat sampai ke daerah. Akibat agitasi dan infiltrasi yang dilakukan oleh PKI, kekuatan partai politik lain seperti PNI dan NU menjadi berkurang. Partai-partai politik kecil pun mulai merapat ke AD. Sementara itu, PKI berhasil memobilisasi petani dan buruh di daerah-daerah. Seperti Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939 Surakarta yang dijadikan daerah percobaan oleh partai berlambang palu arit yang sedang menyiapkan pemberontakan untuk merebut kekuasaan negara. Tak hanya itu, PKI juga mengajukan usulan untuk mempersenjatai sekitar 15 juta massa tani dan buruh yang sering disebut sebagai Angkatan ke-5. Tentu saja usulan tersebut ditentang sejumlah petinggi ABRI. Pasalnya, jika hal itu dilakukan akan memicu terjadi perang saudara yang berkepanjangan.

PKI berhasil mempengaruhi sejumlah tokoh ABRI, baik di daerah maupun di pusat pemerintahan.Seperti pembentukan "Dewan Revolusi" yang pendiriannya disiarkan melalui RRI di daerah Yogyakarta yang diketuai Mayor Muyono, Kepala Seksi Teritorial Korem 072/Yogyakarta. Jabatan-jabatan pemerintahan mulai dari walikota sampai lurah, semuanya dikuasai oleh orang- orang PKI.Begitu halnya dengan aparat Hansip (Pertahanan Sipil). Untuk menghadapi kegiatan PKI tersebut, para perwira ABRI yang tergabung dalam Korem 072 membina Resimen Mahasiswa dengan cara memberikan latihan-latihan militer. Mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah organisasi mahasiswa non-komunis, seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) melihat bahwa AD merupakan pihak yang dapat diajak bekerja samadalam menghadapi tekanan PKI. Tanggal 1 Oktober 1965, Letnan Kolonel Sugiyono kembali ke Yogyakarta setelah beberapa waktu bertugas di Pekalongan.Ia langsung menuju markas Korem 072 yang pada saat itu telah dikuasai militer pro-PKI. Akan tetapi hal itu tidak diketahui Sugiono. Sebagai salah satu tokoh ABRI yang diincar PKI, ia pun langsung ditangkap dan dibawa ke Kentungan yang terletak di sebelah utara Yogyakarta. Perwira itu kemudian dibunuh di tempat itu.Jenazahnya berhasil ditemukan pada tanggal 22 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan Semaki, Yogyakarta. Atas jasa-jasanya kepada negara pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel.Kol.Inf. TNI Aumerta Sugiono dianugerahi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan Revolusi berdasarkan SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia Presiden RI No. 118/KOTI/1965, tgl 19 Okt 1965.

Add a comment

Related pages

Biodata Lengkap 10 Pahlawan Revolusi Indonesia | BIOGRAFI ...

Pahlawan Revolusi adalah gelar kepahlawanan yang diberikan kepada sejumlah perwira militer (10 orang pahlawan) yang gugur dalam peristiwa G 30 S PKI yang ...
Read more

Foto Pahlawan Revolusi - Biografi Lengkap Pahlawan Revolusi

Pahlawan revolusi merupakan gelar kepahlawanan yang diberikan kepada 7 orang pahlawan yang meninggal pada peristiwa G 30 S PKI ( 30 September 1965 ).
Read more

Pahlawan Revolusi - BIOGRAFI TOKOH TERNAMA

Saran untuk dibaca: "Biodata Lengkap 10 Pahlawan Revolusi Indonesia" Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto merupakan salah satu korban dalam G30SPKI ...
Read more

Biografi Para Pahlawan

Pahlawan Revolusi; Biografi Lengkap Para Pahlawan; ... adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Moewardi adalah seorang dokter lulusan STOVIA.
Read more

Biografi 9 pahlawan revolusi Indonesia (Book, 1982 ...

Get this from a library! Biografi 9 pahlawan revolusi Indonesia. [Indonesia. Angkatan Darat. Dinas Sejarah Militer.;]
Read more

Pahlawan Nasional Indonesia | Biografi Tokoh Dunia

Posts about Pahlawan Nasional Indonesia written by Bagus Prabowo
Read more

Biografi Pahlawan Revolusi

Biografi Pahlawan Revolusi Cari Blog Ini. ... Pahlawan Revolusi Meninggal: Jakarta, 1 Oktober 1965 Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Read more

Biografi Letnan Jenderal Raden Suprapto - Pahlawan ...

Jenderal yang menjadi salah satu pahlawan revolusi akibat peristiwa G30S/PKI ini lahir di Kota Purworejo tanggal 20 Juni 1920. Dalam buku biografi Letnan ...
Read more

Biodata Lengkap 7 Pahlawan Revolusi Indonesia | Mancing Info

Pahlawan Revolusi adalah gelar kepahlawanan Biodata lengkap 7 pahlawan revolusi Indonesia sejumlah perwira militer yang gugur dalam tragedi G 30 S PKI
Read more