Bahasa sebagai sistem

57 %
43 %
Information about Bahasa sebagai sistem
Education

Published on February 16, 2014

Author: EsterEmilia

Source: slideshare.net

Disusun oleh Ester Emilia (2115130412) Kelas 1B Semester 099 JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGRI JAKARTA TAHUN AKADEMIK 2013

Apa yang dilakukan oleh orang-orang ketika mereka bersama? Ketika mereka bermain, bertanding, menyatakan cinta, atau memacu mobil balapnya? Mereka saling berbicara. Kita hidup dalam dunia kata-kata. Kita berbicara kepada teman, perkumpulan, pasangan, atau kepada guru. Kita berbicara dengan bertemu muka atau telepon. Kebanyakan orang melakukan tanggapan dengan berbicara. Alhasil, setiap masalah dalam kehidupan kita tidak pernah lepas dari menggunakan kata-kata. Penguasaan terhadap bahasa adalah suatu hal yang sangat penting melebihi atribut apapun, serta apa yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya. Untuk memahami kemanusiaan kita, orang harus memahami atau mengetahui bahasa yang menjadikan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, menurut kepercayaan ini kita semua menjadi “manusia” karena kita setidak-tidaknya menguasai atau mengetahui sebuah bahasa. Tetapi apakah bahasa itu? Maka, jawaban dari pertanyaan diatas haruslah berkenaan dengan “sosok” bahasa itu, bukan tentang fungsi atau lainnya. Seperti yang dikemukakan oleh Kridalaksana dan juga Djoko Kentjono “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri”. Dapat dilihat diatas bahwa definisi bahasa menurut dua pakar lebih ditekankan pada ciri bahasa itu sendiri. Kalau dibutiri akan didapatkan beberapa ciri yang hakiki dari bahasa, salah satunya adalah bahasa sebagai sebuah sistem.

Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan seharihari dengan makna „cara‟ atau „aturan‟, seperti dalam kalimat “Kalau tahu sistemnnya, tentu mudah mengerjakannya”. Dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya dan berhubungan secara fungsional. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentang sistem, bahasa terdiri atas unsur-unsur yang tersusun secara teratur. Bahasa bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara acak atau tak beraturan. Untuk mendapat pengertian yang lebih baik, kita ambil contoh yang konkret, yaitu sebuah sepeda. Sebuah sepeda dapat berfungsi kalau unsur atau komponennya (roda, rantai, kemudi, dan sebagainya) tersusun sesuai dengan pola atau tempatnya. Kalau komponennya tidak terletak pada tempat yang seharusnya, meskipun secara keseluran tampaknya utuh, maka sepeda itu tak dapat berfungsi karena susunannya tidak membentuk sebuah sistem.

Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu yang berulang, dan memebentuk suatu kesatuan, sehingga kalau salah satu unsur saja tidak muncul, keseluruhan unsur itu dapat diramalkan (diduga) kehadirannya. Sebagai contoh bila kita menemukan kalimat berikut 1) 2) melompatlah kucing itu ke meja. Kemudian kucing itu melompatlah ke meja. Kita secara intuisi, sebagai penutur bahasa Indonesia, akan tahu bahwa deretan (1) adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia karena tersusun dengan benar menurut pola aturan kaidah bahasa Indonesia. Sebaliknya, deretan (2) bukan kalimat bahasa Indonesia yang baik karena tidak tersusun menurut pola aturan atau sistem bahasa Indonesia.

Pola-pola sistem dapat kita pelajari. Karena itu kita akan tahu kalau sudah kita pelajari, apakah suatu kalimat adalah bahasa Indonesia yang benar atau tidak. Kita juga bisa mengenali suatu kalimat bahasa Indonesia yang benar atau tidak meskipun ada unsur yang ditaanggalkan. Misalnya: Ibu a mem... b seekor ...... c d Pada konstruksi (3) diatas unsur „b‟ dan „d‟ dihilangkan sebagian namun, sebagai penutur bahasa Indonesia kita dapat memahami dari polanya, bahwa konstruksi (3) itu adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia yang baik. Kita juga dapat meramalkan bagian „b‟ yang dihilangkan, pasti sebuah kata yang dimulai dengan konsosnan /b/, mungkin beli, bakar, atau bunuh. Bagian „d‟ yang dihilangkan juga dapat diramalkan berupa nama binatang, mungkin ikan, kucing, atau tikus.

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem dibawahnya. Disini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi subsistem sintaksis, dan subsistem semantik. Subsistem bahasa, terutama subsistem fonologi, subsistem morfologi, dan subsistem sintaksis tersususn secara hierarkis (mempunyai susunan atau struktur). Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan subsistem semantik sedangkan subsistem leksikon yang juga diliputi subsistem semantik berada diluar ketiga subsistem struktural itu.

Jenjang subsistem ini dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Tataran fonem masuk dalam bidang kajian fonologi; tataran morfem dan kata masuk dalam bidang kajian morfologi; tataran frase, klausa, kalimat, dan wacana masuk dalam bidang kajian sintaksis. Tetapi perlu dicatat, bahwa kata selain dikaji dalam morfologi juga dikaji dalam sintaksis. Dalam morfologi, kata menjadi satuan terbesar, sedangkan dalam sintaksis kata menjadi satuan terkecil. Dalam kajian morfologi kata itu dikaji secara struktur dan proses pembentukannya, sedangkan dalam sintaksis dikaji sebagai unsur pembentukan satuan sintaksis yang lebih besar.

Perlu dicatat pula, kajian linguistik itu sendiri dibagi dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Tataran morfoloi sering digabung dengan tataran sintaksis menjadi, yang disebut, tataran gramatikal atau tata bahasa. Secara hierarki, tataran bahasa itu dapat dibagankan menjadi seperti berikut: Wacana Kalimat Klausa Sintaksis Frase Gramatikal Kata Morfem Morfologi Fonem Fon Fonologi

Penguasaan terhadap bahasa adalah hal yang sangat penting melebihi atribut apapun. Tetapi apakah bahasa itu? Maka, jawaban dari pertanyaan diatas haruslah berkenaan dengan “sosok” bahasa itu, bukan tentang fungsi atau lainnya. Seperti yang dikemukakan oleh Kridalaksana dan juga Djoko Kentjono “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri”. Dapat dilihat diatas bahwa definisi bahasa menurut dua pakar lebih ditekankan pada ciri bahasa itu sendiri. Kalau dibutiri akan didapatkan beberapa ciri yang hakiki dari bahasa, salah satunya adalah bahasa sebagai sebuah sistem. Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan makna „cara‟ atau „aturan‟, dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentang sistem, bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponenkomponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu yang berulang, dan memebentuk suatu kesatuan, sehingga kalau salah satu unsur saja tidak muncul, keseluruhan unsur itu dapat diramalkan (diduga) kehadirannya. Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem dibawahnya. Disini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi subsistem sintaksis, dan subsistem semantik. Jenjang subsistem ini dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa.

H.P, Achmad. Abdullah, Alek. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Penerbit Erlangga. Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Finoza, Lamuddin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa. Jakarta: Diksi Insan Mulya.

Add a comment

Related presentations

Related pages

Bahasa sebagai Sistem ~ Belajar Ilmu Bahasa

Bahasa sebagai sistem artinya bahasa terdiri atas unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu ...
Read more

Sistem - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sistem berasal dari bahasa Latin ... Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai ...
Read more

Bahasa - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Definisi lain dari bahasa adalah sebagai sebuah sistem komunikasi yang membuat manusia dapat bekerja sama. Definisi ini menekankan fungsi sosial dari ...
Read more

Hakikat Bahasa Dan Bunyi Sebagai Sistem Simbol-Revisi-X_IBB_2

Hakikat Bahasa dan Bunyi Sebagai Sistem Simbol. Oleh : Armania Bawon Kresnamurti X Ilmu Bahasa dan Budaya 2 SMA Negeri 1 Malang Peta Konsep Arbitrer Bunyi ...
Read more

BAHASA SEBAGAI SISTEM SEMIOTIK | Jombang Pustaka

PENGERTIAN BAHASA DAN BAHASA SEBAGAI SISTEM SEMIOTIK KATA PENGANTAR Puji Syukur kami Panjatkan Kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan Rahmat-Nyalah ...
Read more

Bahasa sebagai sistem - Education

Bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan 1. Nama : Shinta HarianiKelas : X IPA 3Sekolah : SMA Negeri 2 PagaralamBahasa Indonesia sebagai bahasa ...
Read more