advertisement

Adab dalam Islam

52 %
48 %
advertisement
Information about Adab dalam Islam
Education

Published on March 6, 2014

Author: mdzakialbiruni

Source: slideshare.net

advertisement

Kelas X IPA 2 Arvin Raditya Niardi Hashfi Fahreza Dinda Putri Pramestiningrum M. Fathur Rahman Rani Sulistianingrum Saffana Dira Qanya Sameera Ramadhani

Bertamu Datang Berkunjung ke Tempat Orang Lain atau Perjamuan Dalam Islam Bagian dari Silaturahmi

Memasuki rumah apabila dipersilahkan masuk “wahai orang-orang yang beriman Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “kembalilah!” maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur , 24 : 27-28) Tidak menghadap pintu Ketika kita mengetuk pintu dianjurkan untuk tidak menghadap ke arah pintu. Adab ini adalah untuk menghindari terlanggarnya kehormatan muslim lainnya dengan melihat sesuatu yang bukan haknya untuk dilihat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Bisyr radiiyallahu’anhu, ia berkata: “Apabila Rasulullah saw mendatangi pintu/rumah seseorang, beliau tidak berdiri di depan pintu. Akan tetapi di samping kanan atau di samping kiri. Kemudian beliau mengucapkan: Assalamu’alaikum” (HR. Abu Dawud) Memilih waktu yang tepat Hendaknya bagi orang yang ingin bertamu memilih waktu yang tepat untuk bertamu. Karena waktu yang tidak tepat terkadang bisa menimbulkan perasaan kurang enak bagi tuan rumah bahkan menggangunya.

Menyebutkan keperluannya Mengucapkan salam Diantara adab seorang tamu adalah menyebutkan urusan atau keperluan dia kepada tuan rumah supaya tuan rumah lebih menyiapkan diri ke arah tujuan kunjungan tersebut serta dapat mempertimbangkan dengan waktu dan keperluannya sendiri. Hai Jengg..! Eh Jeng! Pakabar ?! Sebagai mana dalam firman Allah dalam surat An-Nur ayat 61: “Apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” Assalamu alaikum Lebih Baik Waalaikum salam

Menjawab Salam Menyambut tamu dengan ramah Sebagai mana dalam firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 86: “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” Sebagai mana dalam hadist riwayat Bukhari: “Janganlah kamu meremehkan sedikitpun dari perbuatan ma’ruf walaupun sekedar menyambut saudaramu dengan wajah berseri-seri” Menyuguhkan hidangan Menyuguhkan hidangan sebagai bukti kegembiraan di saat kedatangan tamu. Dalam Al-Qur’an disebutkan, suatu ketika nabi Ibrahim AS menyuguhkan hidangan kepada tamunya. “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut kepada mereka (tamu).” (QS. AzZariyat, 51 : 27) Mengucapkan selamat datang kepada tamu yang datang Sebagai tuan rumah hendaknya kita menyambutnya dengan mengucapkan selamat datang. Dalam sebuah hadits disebutkan, dari Ibnu Abbas RA, suatu hari Abi Qais pernah mengutus utusannya untuk mendatangi Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Wahai para utusan, selamat datang tanpa perasaan hina dan menyesal.”

Mudik Dalam Islam Safar Arti Secara Luas Berlibur Silaturahmi

Disunahkan Tidak Sendirian 1 Seta n 2 Seta n Rasulullah saw bersabda: "Seandainya saja manusia mengetahui apa yang aku ketahui tentang bahaya kesendirian, niscaya tak ada seorang pun yang mau bepergian pada malam hari seorang diri." (HR Bukhari) Beliau mengingatkan adanya risiko bahaya dalam perjalanan yang dilakukan seorang diri. Dikhawatirkan adanya bahaya yang datang dari segala arah, syetan yang akan menghampirinya, menggodanya untuk melakukan perbuatan maksiat. Rasulullah saw bersabda: "Orang yang bepergian sendirian adalah (bersama) syetan. Dan orang yang bepergian berdua adalah (bersama) dua syetan. Sedangkan orang yang bepergian bertiga adalah rombongan musafir (yang tidak dihampiri syetan)." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan Nasa'i). Anti Setan

Sunah Berangkat Pada Hari Kamis dan Waktu Dhuha Membaca Doa Ketika Menaiki Kendaraan Dari Ka'ab bin Malik ra, "Sesungguhnya Nabi saw pergi menuju perang Tabuk pada hari Kamis, dan Beliau menyukai bepergian pada hari Kamis." (Muttafaqqun 'alaih) Jika Rasulullah saw naik kendaraan saat akan bepergian, beliau bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian berdoa: Rasulullah saw pernah berdoa: "Ya, Allah. Berkahilah umatku pada permulaan siang mereka." Dan jika ingin mengutus pasukan, Nabi saw mengutus mereka pada permulaan siang (pada waktu Dhuha). Dan Shakhr adalah seorang pedagang. Dia mengiri utusan dagangnya pada permulaan siang, hingga ia menjadi kaya dan mendapat harta yang banyak." (HR Abu Dawud dan Trmidzi, hasan). "Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami dahulu tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Rabb kamilah, kami akan kembali. Ya, Allah! Kami mohon kepadaMu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai. Ya, Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, serta dekatkanlah jarak perjalanan kami. Ya, Allah! Engkaulah teman dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggal. Ya, Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, kesedihan serta tempat kembali yang buruk dalam keluarga, harta dan anak.“

Sunnah Memperbanyak Doa Dalam Perjalanan Rasulullah bersabda: "Tiga jenis doa yang dikabulkan dan tidak diragukan lagi, (yaitu) doa orang yang dizhalimi, doa orang yang bepergian dan orang tua (ayah) yang mendoakan (kejelekan) atas anaknya." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, hasan) Pulang Pada Siang Hari, Makruh Pada Malam Rasulullah saw bersabda: "Jika salah Hari seorang kalian bepergian dalam jangka waktu yang lama, maka janganlah (kembali dari safarnya dengan) mengetuk pintu pada malam hari." (HR Bukhari dan Muslim) Perhatikan Adab Singgah dan Bermalam Rasulullah saw bersabda: "Jika kalian bepergian dan melewati daerah padang rumput, maka berikanlah unta haknya dari (rumput yang tumbuh di) tanah tersebut. Dan jika kalian melewati daerah tandus, maka percepatlah langkah kalian. Dan jika kalian hendak bermalam, maka janganlah bermalam di jalan, karena ia merupakan tempat lewat hewan dan tempat tinggal serangga pada malam hari." (HR Muslim) Lewat hadist tersebut, Rasulullah saw mengajarkan tentang bagaimana bersikap di tempat-tempat baru, berlaku lemah lembut terhadap hewan, dan memperlakukan dengan baik hewan tunggangan. Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang singgah d suatu tempat, kemudian dia berdoa, 'aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segenap keburukan yang ia ciptakan', niscaya tidak ada sesuatu pun yag membahayakannya sampai dia pergi dari tempat tersebut." (HR Muslim)

Allahuakbar Membaca Takbir Apabila Menjumpai Tanjakan Subhanallah Membaca Tasbih Apabila Menuruni Turunan Taat Kepada Peraturan Lalu Lintas

Jika Telah Selesai Urusan, Disunnahkan Segera Kembali dari Perjalanan Rasulullah saw bersabda: "Safar adalah bagian dari adzab yang mencegah salah seorang dari kalian dari makan, minum, tidur. Maka bila salah seorang kalian telah mencapai maksud dari perjalannya, hendaklah segera kembali kepada keluarganya." (Muttafaqqun 'alaih) Wanita Dilarang Bepergian kecuali Disertai Dengan Muhrimnya Rasulullah saw bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya." (Muttaqqun 'alaih) Namun, hal ini tidak terbatas pada perjalanan yang dilakukan selama sehari semalam. Rasulullah saw bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya.“ Lalu seorang sahabat berkata kepada Beliau, "Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintah untuk turut serta dalam peperangan ini dan itu." Rasulullah saw kemudian berkata, "Kembalilah dan berhajilah bersama isterimu."

Jika Telah Selesai Urusan, Disunnahkan Segera Kembali dari Perjalanan Rasulullah saw bersabda: "Safar adalah bagian dari adzab yang mencegah salah seorang dari kalian dari makan, minum, tidur. Maka bila salah seorang kalian telah mencapai maksud dari perjalannya, hendaklah segera kembali kepada keluarganya." (Muttafaqqun 'alaih) Sunnah salat dua rakaat di masjid terdekat sebelum mendatangi rumah yang dituju Dari Ka'ab bin Malik ra, bahwasanya jika Rasulullah saw datang dari perjalanan, belian mendatangi masjid dan salat dua rakaat. (Muttafaqqun 'alaih) Wanita Dilarang Bepergian kecuali Disertai Dengan Muhrimnya Rasulullah saw bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya." (Muttaqqun 'alaih) Namun, hal ini tidak terbatas pada perjalanan yang dilakukan selama sehari semalam. Rasulullah saw bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya.“ Lalu seorang sahabat berkata kepada Beliau, "Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintah untuk turut serta dalam peperangan ini dan itu." Rasulullah saw kemudian berkata, "Kembalilah dan berhajilah bersama isterimu."

Menurut bahasa, pakaian adalah barang yang dipakai (baju, celana, dsb) yang menunjukkan identitas diri manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang beradab. Pakaian juga merupakan penutup tubuh untuk memberikan proteksi dari bahaya asusila, memberikan perlindungan dari sengatan matahari dan terpaan hujan, sebagai identitas seseorang, sebagai harga diri seseorang, dan sebuah kebutuhan untuk mengungkapkan rasa malu seseorang. Dahulu, pakaian yang sopan adalah pakaian yang menutup aurat, dan juga longgar sehingga tidak memberikan gambaran atau relief bentuk tubuh seseorang terutama untuk kaum wanita. Sekarang orangorang sudah menyebut pakaian seperti itu sudah dibilang kuno dan tidak mengikuti mode zaman sekarang atau tidak modis. Menurut ajaran Islam, berpakaian adalah mengenakan pakaian untuk menutupi aurat, dan sekaligus perhiasan untuk memperindah jasmani seseorang. Sebagaimana ditegaskan Allah Swt, dalam firman-ya: Artinya : “Wahai anak Adam! Susungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagaimu tetpi takwa itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalui ingat.” (Q.S. Al-A’raf:26)

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: . ( ) Artinya : “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, yaitu 1) kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam, 2) perempuan-perempuan yang berpakaian, tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka itu tidak bisa masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga itu dapat tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR Muslim) Maksud dari hadits ini, yaitu sebagai berikut : 1. Maksud kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi ialah perempuan-perempuan yang suka menggunakan rambut sambungan (cemara dalam bahasa jawa), dengan maksud agar rambutnya tampak banyak dan panjang sebagaimana wanita lainnya. Selanjutnya, yang dimaksud rambutnya seperti atau sebesar punuk unta adalah sebutan bagi wanita yang suka menyanggul rambutnya. Kedua macam cara tersebut (memakai cemara dan menyanggul) termasuk perkara yang tecela dalam Islam 2. Mereka dikatakan berpakaian karena memang mereka menempelkan pakaian pada tubuhnya, tetapi pakaian tersebut tidak berfungsi sebagai penutup aurat. Oleh karena itu, mereka dikatakan telanjang. Pada zaman modern seperti sekarang ini, amat banyak manusia (perempuan) mengenakan pakaian yang amat tipis sehingga warna kulitnya tampak jelas dari luar. Sementara itu banyak pula perempuan yang memakai pakaian relatif tebal, namun karena sangat ketat sehinga bentuk lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kedua cara berpakaian seperti itu (terlampau tipis dan ketat) termasuk perkara yang dilarang dalam Islam.

Adab Berpakaian dalam Islam yaitu : 1. Harus memperhatikan syarat-syarat pakaian yang islami, yaitu yang dapat menutupi aurat, terutama wanita

Adab Berpakaian dalam Islam yaitu : 2. Pakailah pakaian yang bersih dan rapi, sehingga tidak terkesan kumal dan dekil, yang akan berpengaruh terhadap pergaulan dengan sesama 3. Hendaklah mendahulukan anggota badan yang sebelah kanan, baru kemudian sebelah kiri 4. Tidak menyerupai pakaian wanita bagi laki-laki, atau pakaian laki-laki bagi wanita 5. Tidak meyerupai pakaian Pendeta Yahudi atau Nasrani, dan atau melambangkan pakaian kebesaran agama lain 6. Tidak terlalu ketat dan transparan, sehingga terkesan ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya atau mempertontonkan kelembutan kulitnya

Adab Berpakaian dalam Islam yaitu : 7. Tidak terlalu berlebihan atau sengaja melebihkan lebar kainnya, sehingga terkesan berat dan rikuh menggunakannya, disamping bisa mengurangi nilai kepantasan dan keindahan pemakainya 8. Sebelum memakai pakaian, hendaklah berdoa terlebih dahulu, yaitu : Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian dan rezeki kepadaku tanpa jerih payahku dan kekuatanku”

Dzalim, yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya Aniaya Dikelompokkan Aniaya Diri Sendiri Yaitu berlaku dzalim kepada diri sendiri. Menurut Bahasa Arab : Aniaya Orang Lain Yaitu berlaku dzalim kepada orang lain dengan perkataan perbuatan, dll. Dan juga kepada tumbuhan dan hewan Menurut Istilah: “Zholim” yang berarti gelap,,aniaya, rugi, atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya Perbuatan yang melampaui batas terhadap jiwa, harta atau kehormatan orang lain dan menentang terhadap kebenaran

Firman Allah Tentang Perbuatan Dzalim : barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. Dzalim kepada Allah, dengan cara tidak mau melaksanakan perintah allah dan melaksanakan laranganNya. Contoh : meninggalkan shalat, puasa, zakat, dll. Dzalim kepada diri sendiri. Contoh : membiarkan diri sendiri tetap bodoh, miskin, malas, minum-minuman keras, bunuh diri, dll. Dzalim kepada makhluk lain atau alam sekitarnya, Contohnya : menebang pohon tanpa aturan, membuang sampah sembarangan, menyemb elih binatang dengan senjata tumpul, dan lainlain

1. Tolaklah kejahatan itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang berbuat jahat, balaslah dengan kebaikan. 2. Jika ada orang yang jahat kepada kita dengan perbuatannya dengan perkataannya atau dengan sesuatu yang lain maka balaslah hal itu dengan kebaikan. 3. Jika ia memutus hubungan persaudaraan atau pertemanan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. J 4. Jika ia mendzalimimu maka maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu janganlah engkau hiraukan. Dalam upaya menghindari perbuatan aniaya ini hendaknya kita memperhatikan hak-hak diri sendiri, hak orang lain, hak binatang, alam, dsb. Selain itu pula kita hendaknya takut kepada dosa, karena Allah swt telah melarang kita berbuat aniaya, atau berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Diskriminasi artinya memandang sesuatu tidak secara adil dan memperlakukannya pula secara pilih kasih Agar kita terhindar dari perbuatan diskriminasi ini perlu sekali memahami tentang hak-hak dan kewajiban seseorang.

Hasad secara Bahasa berarti iri atau dengki, jadi pengertian hasad adalah perasaan tidak senang saat melihat orang lain mendapat kenikmatan dan kebahagiaan. Sabda Nabi : Nabi bersabda : “Jagalah dirimu dari sifat hasad, karena sifat hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR. Abu Dawud). Maksud dari hadits ini adalah jika kita bersifat hasad, hal itu akan membuat kebaikan yang telah kita lakukan dihapus oleh Allah SWT. Hadits Nabi : Artinya: “Telah masuk ke tubuhmu penyakitpenyakit umat tedahulu, (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut.” (HR Ahmad dan Turmidzi)

Bahaya Hasad : • Menyebabkan hati tidak tenang karena selalu akan memikirkan bagaimana keadaan itu dapat hilang dari seseorang. • Menghancurkan persatuan dan kesatuan, karena biasanya orang yang hasud akan mengadu domba dan suka menfitnah • Menghancurkan kebaikan yang ada padanya. Cara menghindari hasad : • Mengetahui bahaya hasad. • Ridho dengan takdir Allah SWT. • Banyak bersyukur. Dengan menghindari hasad, kita mendapatkan banyak hal. Diantaranya adalah disayang Allah SWT, disukai orang banyak karena tidak irian, dan amal kebaikan kita tidak dihapuskan.

Riya’ Dalam Niat Riya’ artinya memperlihatkan diri kepada orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan, tulisan ataupun sikap perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah. Riya’ itu bisa terjadi dalam niat, ketika melakukan pekerjaan atau setelah selesai melakukan suatu pekerjaan. Riya’ dalam niat, yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan untuk mendapat pujian, sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan karena Allah. Padahal niat itu sangat menentukan nilai dari suatu pekerjaan. Nabi Muhammad SAW bersabda: … Artinya: “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR Muslim) Riya’ Dalam Perbuatan Riya’ dalam perbuatan ini, misalnya ketika mengerjakan shalat dan bersedekah. Orang riya’ ini dalam mengerjakan shalat biasanya dai memperlihatkan kesungguhan, kerajinan dan kekhusyukannya jika dia berada di tengah-tengah orang atau jamaah. Sehingga orang lain melihat dia berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya. Orang yang riya’ dalam shalatnya akan celaka diakhirat nanti. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Maun ayat 4-7: “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, . orang-orang yang berbuat riya’], dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al Maun : 4-7)

Bahaya Riya’ : • Selalu merasa tidak puas, sakit hati, ketika orang lain tidak menyanjungnya dan berterimakasih. • Diolok-olok dan dicaci oleh orang yang telah dibantu atau memberinya dengan riya’ itu. Cara Menghindari Riya’ : • Selalu senantiasa berbuat ikhlas, tanpa ingin di pandang orang lain sebagai orang yang baik, dan rajin beramal dan biarlah Allah SWT yang menilai dan membalas segala amal perbuatan kita. • Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT agar terhindar dari perbuatan riya. Menjadi orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT.

Add a comment

Related presentations

Related pages

Cemerlang: Adab-adab Dalam Islam. - abubasyer.blogspot.com

Berkongsi pengalaman dan pengetahuan..Bekalan untuk para pendakwah. Labels). (1) Adab Bercakap Dalam Islam (1) Adab bersukan (1) Adab majlis (1)
Read more

Adab (Islam) - Wikipedia

Adab (Islam) Part of a series on: Islamic jurisprudence (fiqh) Economic. History ... Kitab Al Adab Al Mufard p.29 Qahwama.com [permanent dead link] See also
Read more

Adab Pergaulan Dalam Islam - YouTube

An Atheist asked a good question then argued and challenged Dr Zakir Naik BUT GREAT REPLIES - Duration: 25:00. Usama Suhail 1,973,242 views
Read more

ADAB-ADAB DI DALAM ISLAM

Menurut bahasa Adab memiliki arti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. M. Sastra Praja menjelaskan bahwa, adab yaitu tata cara hidup, ...
Read more

(7) ADAB BERJIRAN MENURUT ISLAM - aminhusain85.blogspot.com

Dan di dalam riwayat lain disebutkan, ... (12) ADAB BERDOA MENURUT ISLAM (13) ADAB MENUNTUT ILMU DALAM ISLAM (14) 10 HADITH KEDUDUKAN IBUBAPA DALAM ISLAM;
Read more

(8) ADAB BERCAKAP MENURUT ISLAM - aminhusain85.blogspot.com

Oleh kerana kita semua tak nak binasa ‘di sana’ nanti akibat mulut kita, jom belajar adab bercakap. 1) ... (13) ADAB MENUNTUT ILMU DALAM ISLAM
Read more

13 Adab dalam Berdoa - konsultasisyariah.com

13 Adab dalam Berdoa Pertanyaan: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz, di sini saya ingin bertanya tentang permasalahan adab-adab dalam berdoa,
Read more

Adab dalam berdoa - YouTube

Berdo'a Saat Sujud, Lebih Baik Dalam Hati Atau Diucapkan ?? - Ustadz Khalid Basalamah (Tanya Jawab) - Duration: 3:13. Muhammad Dan Islam 22,349 ...
Read more