advertisement

16.vina serevina sri hayati

67 %
33 %
advertisement
Information about 16.vina serevina sri hayati

Published on March 13, 2014

Author: vinaserevina

Source: slideshare.net

advertisement

1 EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PRINSIP, TEKNIK, DAN BENTUK PENILAIAN BERBASIS KELAS Dosen : Dr. Ir. Vina Serevina Mahasiswa S2 : Sri Hayati 7836130840 PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2014

2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penilaian merupakan istilah yang umum danmencakup semua metode yang dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik dengan cara menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik.Dalam Kurikulum Berbasis Kelas (KBK) yang terdapat padaKurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP) menggunakan sistem Penilaian Berbasis Kelas (PBK) atau yang disebut juga dengan penilaian kelas. Beberapa pendapat tentang PenilaianBerbasis Kelas (PBK) atau penilaian kelas yaitu menurut Abdul Majid(2012)mengatakan bahwa “Penilaian Berbasis Kelas adalah suatukegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasitentang hasil belajar peserta didik pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatanbelajar mengajar”. Dr. Wina Sanjaya (2012)mengatakan bahwa “Penilaian Berbasis Kelasmerupakan bagian integral dalam proses pembelajaran yang dilakukansebagai proses pengumpulan data, pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh peserta didik untuk menetapkantingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukandalam kurikulum dan sebagai umpan balik perbaikan prosespembelajaran”. Sedang menurut Darwin Syah(2013)“Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalahsuatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentanghasil belajar peserta didik dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian,pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten”. Jadi Penilaian BerbasisKelas (PBK) adalah suatu pengumpulan,pelaporan dan penggunaan informasi tentang proses dan hasil belajar pesertadidik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaanberkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat dan konsisten, sertamengidentifikasi pencapaian kompetensi yang telah ditentukan padakurikulum yang ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, Penilaian Berbasis Kelas (PBK).

3 Peran gurusangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilaikeberhasilan dan kegagalan peserta didik. Jenis penilaian yang dibuat oleh guru harusstandar validitas dan realibilitas, agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itu, kompetensi profesional bagi guru merupakanpersyaratan penting dalam melakukan penilaian. B. Rumusan Masalah Pokok permasalahan dalam makalah ini adalah permasalahan dalam pendidikan yang terkait dengan prinsip, teknik dan bentuk penilaian berbasis kelas, selanjutnya akan diurai dalam beberapa sub-pokok bahasan, diantaranya : 1. Bagaimana prinsip, teknik, dan bentuk penilaian berbasis kelas? 2. Permasalahan apa saja yang terjadi dalam bidang pendidikan terkait dengan prinsip, teknik, dan bentuk penilaian berbasis kelas dan solusi apa yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut? C. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui prinsip, teknik, dan bentuk penilaian berbasis kelas. 2. Mengetahui permasalahan apa saja dalam pendidikan terkait prinsip, teknik, dan bentuk penilaian berbasis kelas serta mencari solusi dari permasalahan tersebut. 3. Melengkapi tugas untuk mata kuliah evaluasi dalam pembelajaran fisika.

4 BAB II PEMBAHASAN A. Prinsip Penilaian Berbasis Kelas Berdasarkan Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Sahih: berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. 2. Objektif: berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. 3. Adil: berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. 4. Terpadu: berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. 5. Terbuka: berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. 6. Menyeluruh dan berkesinambungan: berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. 7. Sistematis: berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 8. Beracuan kriteria: berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. 9. Akuntabel: berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

5 Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi, dengan Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas antara lain: 1. Valid: penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar peserta didik. 2. Mendidik: penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik. 3. Berorientasi pada kompetensi: penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. 4. Adil: penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender. 5. Terbuka: kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak. 6. Berkesinambungan: penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar pesert didik sebagai hasil kegiatan belajarnya. 7. Menyeluruh: Penilaian hasil belajar peserta didik meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan nilai sikap (afektif) yang direfeleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Penilaian dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar peserta didik. 8. Bermakna: Penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna, dan bisa ditindaklanjuti oleh semua pihak. B. Teknik Penilaian Berbasis Kelas Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004) mengemukakan teknik penilaian berbasis kelas, yaitu “tes tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilaian kerja peserta didik, penilaian sikap, dan penilaian portofolio”. 1. Tes tertulis: merupakan alat penilaian berbasis kelas yang penyajian maupun penggunaanya dalam bentuk tertulis. 2. Tes perbuatan: di lakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung yang memungkinkan terjadinya praktek. Pengamatan di lakukan terhadap perilaku peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung.

6 3. Pemberian tugas: di lakukan untuk semua mata pelajaran mulai dari awal kelas sampai dengan akhir kelas sesuai dengan materi pelajaran dan perkembangan paserta didik. 4. Penilaian proyek: adalah, penilaian terhadap tugas yang harus di selesaikan dalam waktu tertentu. Penilaian proyek di lakukan mulai dari pengumpulan, pengorganisasian, penilaian,hingga penyajian data. 5. Penilaian produk: Penilaian hasil kerja ( produk) pesrta didik adalah penilaian terhadap penguasaan keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk dan penilaian kualitas hasil kerja tertentu. 6. Penilaian sikap: dapat di lakukan berkaitan dengan berbagai objek sikap, seperti sikap terhadap proses pembelajaran , sikap terhadap materi pembelajaran, sikap terhadap materi pelajaran, sikap berhubungan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam diri peserta didik melalui materi tertentu. 7. Penilaian portofolio: merupakan penilaian berbasis kelas terhadap sekumpulan karya pesrta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang di ambil selama prosespembelajaran dalam kurun waktu tertentu, digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik dalam mata pelajarn tertentu. C. Bentuk Penilaian Berbasis Kelas Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004) mengemukakan Bentuk Penilaian Bebasis kelas, antara lain” kuis, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan, laporan kerja praktik atau laporan praktikum, dan response atau ujian praktik”. 1. Kuis: di gunakan untuk menanyakan hal-hal prinsip dari pelajaran yang lalu secarra singkat, bentuknya secara lisan singkat, dan dilakukan sebelum pelajaran dimulai. 2. Pertanyaan lisan di kelas: di gunakan untuk mengungkap penguasaan peserta didik tentang pemahaman konsep. 3. Ulangan harian: di lakukan secara periodik pada akhir pengembangan kompetensi. 4. Tugas individu: dilakukan secara periodik untuk diselesaikan oleh setiap peserta didik dalam waktu tertentu dan dapat berupa tugas rumah. 5. Tugas kelompok: digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok dalam upaya pemecahan masalah.

7 6. Ulangan semester: digunakan untuk menilaiketuntasan penguasaan kompetensi pada akhir program semester. 7. Ulangan kenaikan: digunakan untuk mengetahui ketuntasan peserta didik menguasai materi dalam satu ajaran. 8. Laporan kerja praktek atau laporan praktikum: digunakan untuk mata pelajaan yang ada kegiatan praktikumnya, seperti fisika, kimia, boilogi, dan bahasa. 9. Response atau ujian praktik: di gunakan untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya. Tujuanya untuk mengetahui penguasaan akhir, baik dari aspek kognitif maupun psikomotor. D. Permasalahan dalam Pendidikan dan solusinya 1. Permasalahan mengenai Prinsip Penilaian Berbasis Kelas. Permasalahan: Menurut Sujari (2010)(Sujari.2010.SMPN 97 Jakarta) yang berjudul “ Demi uang seorang guru menjual kepribadian “ . Salah seorang guru bidang studi olah raga dan kesehatan di salah satu SMP di Jakarta Timur meminta uang kepada peserta didik yang tidak ikut olah raga karena alasan sakit atau tidak membawa seragam olah raga sebesar Rp.5000,- setiap satu pertemuan. Kronologi : Guru yang berinisial Mister X tidak memberikan nilai tuntas pada beberapa orang peserta didik padahal nilai akan diisi ke dalam buku raport semester ganjil. Wali kelas mendapat informasi dari peserta didik tersebut bahwasanya mereka belum membayar uang sebesar Rp.5000,- setiap kali tidak hadir. Selain tidak hadir, peserta didik juga didenda denganalasan lain seperti tidak menggunakan pakaian olah raga. Padahal peserta didik tersebut adalah dari kalangan tidak mampu. Solusi : Tindakan yang dilakukan oleh Mister X tidak patut ditiru oleh guru lain karena dalam hal ini bisa dikatakan Mister X termasuk melakukan pungutan liar. Selain melanggar etika profesi Mister X telah melanggar prinsip penilaian berbasis kelas yaitu penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik.

8 Solusi untuk permasalahan ini adalah : 1. Mengadakan pengarahan kepada guru agar menjadi guru yang profesional dan tidak tergoda oleh uang. 2. Mengadakan pertemuan secara rutin untuk membicarakan nilai atau ada buku jurnal penilaian peserta didik. 3. Kepala sekolah memantau guru-guru yang mengajar terutama pelajaran yang dipraktekkan. 2. Permasalahan mengenai teknik penilaian berbasis kelas. Permasalahan: Masalah ini terjadi pada salah satu SMA di Jakarta Pusat.Sri (2012) (Sri.2012.SMPN 97 Jakarta). Salah seorang peserta didik merasa dirugikan karena ternyata nilai akhir yang ada di raport hanya diambil dari nilai kognitif saja, padahal nilai psikomotor dan afektif yang dia peroleh amat baik. Kronologi Lutfi adalah salah satu peserta didik kelas X di SMA tersebut. Lutfi masuk melalui seleksiDANEM dengan nilai rata-rata 8,85, dia masuk kae SMA tersebut atas kemauan sendiri. Awal masuk Lutfi sudah bercita-cita ingin masuk kelas IPA. Karena cita-cita tersebut Lutfi rajin belajar, bahkan sering diskusi dengan alumni sekolah tersebut yang sudah berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Hasil psikotest 2 kali yang diadakan di SMA tersebut Lutfi disarankan masuk ilmu-ilmu fisik sesuai cita- citanya dari masih duduk di SMP, hal ini membuat Lutfi makin semangat belajar. UB (ulangan bersama) yang diadakan sekolah Lutfi ikuti dengan baik, dengan nilai kognitif , afektif, dan psikomotor yang diperoleh dia berharap dapat kelas IPA di kelas XI nanti, akan tetapi alangkah kecewanya Lutfi setelah raport diterima ternyata dia dapat di kelas IPS yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Setelah dilihat nilai raport dan bertannya pada wali kelas serta kurikulum ternyata nilai yang diperhitungkan hanya nilai kognitif saja. Lutfi berusaha bertanya kepada kepala sekolah, tetapi dicegah oleh kurikulum, yang katanya kepala sekolah tidak tahu apa- apa tentang nilai. Akhirnya dengan berlinang air mata dan memendam kekecewaan Lutfi masuk di kelas IPS, dan yang lebih kecewa lagi orang tua Lutfi karena baik ayah dan ibunya adalah sarjana tekhnik dan sarjana fisika, apalagi Lutfi diharapkan dapat masuk AKABRI dari kelas IPA.

9 Solusi : Kejadian di atas sebenarnya tidak musti terjadi jika pihak sekolah konsekwen dengan teknik penilaian pendidikan yang ada, bahwa semua peserta didik dinilai kognitif, afektif, maupun psikomotornya secara keseluruhan. Solusi untuk permasalahan ini adalah : 1. Perlunya keterbukaan dalam penilaian yang ditetapkan di sekolah. 2. Nilai yang diperoleh peserta didik seharusnya ditentukan dari nilai kognitif, afektif, dan psikomotor. 3. Kepala sekolah seharusnya mengetahui penilaian yang ditetapkan di sekolahnya. 4. Tahun 2014 sekarang, seleksi masuk kelas (IPA atau IPS) untuk jenjang SMA dilaksanakan pada awal masuk SMA. 3. Permasalahan mengenai bentuk penilaian berbasis kelas. Permasalahan: Masalah ini tidak terjadi sekali tetapi bahkan hampir tiap tahun di salah satu SMP Negeri di Jakarta Timur Detya (2013) (Detya.2013.SMPN 97 Jakarta). Masalahnya adalah” mengkatrol nilai” supaya peserrta didik dapat naik kelas dengan nilai yang diperoleh setelah di katrol (dinaikkan) oleh guru atau wali kelas Kronologi : Sebelum kenaikkan kelas biasannya diadakan rapat pleno kenaikkan kelas. Pada saat rapat dibahas peserta didik yang bermasalah dengan nilai kognitif,nilai sikap(afektif), atau nilai praktek(psikomotor) contohnya untuk pelajaran olah raga dan kesehatan, bahkan ada peserta didik yang nilainya tidak tuntas lebih dari lima pelajaran. Dalam hal ini siapakah yang akan disalahkan. Tidak ada yang salah, ini sudah biasa terjadi pada sekolah-sekolah reguler. Pada saat itu kepala sekolah sebagai pimpinan akan memberikan kebijakan- kebijakan bagi peserta didik yang bermasalah, dan biasanya kebijakan tersebut sangat menguntungkan peserta didik karena nilai yang kecil akan ditambah dengan mudah secara cuma-cuma sehingga peserta didik tersebut dapat naik kelas, setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang bijak. Ada beberapa guru yang tidak setuju, karena sangat tahu kemampuan si peserta didik tersebut, hal ini menimbulkan terjadinya diskusi yang cukup panjang untuk mendapatkan kata sepakat antara kepala sekolah, wali kelas, guru yang setuju dan yang tidak setuju.

10 Solusi : Pendidikan di Indonesia untuk pendidikan dasar, adalah wajib belajar 9 tahun, oleh karena itu peserta didik yang menempuh pendidikan di tingkat SD dan SMP diusahakan tidak ada yang tinggal kelas. Bagi peserta didik yang nilai ulangannya tidak tuntas harus mengikuti remedial sampai nilainya tuntas, maka pada saat terjadi rapat pleno kenaikan kelas tidak ada peserta didik yang bermasalah sehingga tidak terjadi selisih pendapat antara kepala sekolah, wali kelas, dan guru. Solusi yang ditawarkan adalah: 1. Jika ada peserta didik yang hasil ulangannya belum tuntas, sebaiknya diadakan remedial-1, remedial-2 dst hingga tuntas. 2. Menentukan KKM sesuai kemampuan minimal peserta didik. 3. Jika waktu di sekolah tidak mencukupi, peserta didik dapat diberi tugas rumah sebagai remedial.

11 BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1). Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas menurut Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan sebagai berikut: 1. Sahih 2.Objektif 3.Adil 4. Terpadu 5. Terbuka 6. Menyeluruh dan berkesinambungan 7. Sistematis 8. Beracuan kriteria 9. Akuntabel 2). Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas menurut Depdiknas (2002) antara lain: 1.Valid 2.Mendidik 3.Berorientasi pada kompetensi 4.Adil 5.Terbuka 6. Berkesinambungan 7. Menyeluruh 8. Bermakna 3). Teknik penilaian berbasis kelas menurut Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004) yaitu : 1. Tes tertulis 2. Tes perbuatan 3. Pemberian tugas 4. Penilaian proyek

12 5. Penilaian produk 6. Penilaian sikap 7. Penilaian portofolio 4). Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004) mengemukakan Bentuk Penilaian Bebasis kelas, antara lain 1. Kuis 2. Pertanyaan lisan di kelas 3. Ulangan harian 4. Tugas individu 5. Tugas kelompok 6. Ulangan semester 7. Ulangan kenaikan 8. Laporan kerja praktek atau laporan praktikum 9. Response atau ujian praktik 5). Jadilah guru yang profesional jangan mudahberubah karena uang yang tidak seberapa yang dapat mengurangi citra guru pada masyarakat. 6). Kerjakan tupoksi guru sebagaimana mestinya sehingga peserta didik tidak merasa dirugikan.

13 DAFTAR PUSTAKA Remaja Rosdakarya.Remaja Rosdakarya. http://www.Eez_Cyank.penilaianhasilbelajar.com. http://asyahban.blogspot.com/2012/01/penilaian-berbasis-kelas.html Depdiknas, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Depdiknas, 2002. Ringkasan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah, Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Hasan Chalijah, 1994. Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Penerbit : Al-Ikhlas Surabaya Afdee. 2007. Kegagalan Guru dalam Melakukan Evaluasi.http://re- searchengines.com/afdhee5-07-2.html Eny Suryaningsih. 2013. Manfaat, Fungsi dan Prinsip Penilaian Kelas. http://suryaningsih2020.blogspot.com/2013/01/manfaat-fungsi-dan-prinsip- penilaian.html Abdul Majid.2012. http//anaksahabat.wordpress.com/2012/04/26/penilaian-berbasis-kelas. Dr. Wina Sanjaya.2012.http//id.shvoong.com/.../2202928-pengertian-penilaian-berbasis- kelas Darwin Syah. 2013.Pengertian penilaian berbasis kelas. http:// Id.shvoong.com Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004). ml.scribd.com/doc/151439004/PENILAIAN-BERBASIS-KELAS

Add a comment

Related pages

16.vina serevina sri hayati - Documents - dokumen.tips

Share 16.vina serevina sri hayati.
Read more

16.vina serevina sri hayati - Documents

1. EVALUATION OF LEARNING IN PHYSICS PRINCIPLES, TECHNIQUES, AND FORM CLASS-BASED ASSESSMENT PART-2 Lecturer: Dr. Ir. Vina Serevina Student: Sri Hayati ...
Read more

16.vina serevina sri hayati - Documents - docslide.us

16.vina serevina sri hayati. by vinaserevina. on Dec 24, 2014. Report Category: Documents
Read more

11.vina serevina habibah warta - Documents

Share 11.vina serevina habibah warta. ... 16.vina serevina sri hayati Habibah Etomidate Emulsion Ampoule Comments. RECOMMENDED. Habibah Etomidate Emulsion ...
Read more

Hayatı | LinkedIn

16.vina serevina sri hayati. 117 Views. isroi. Pestisida Organik dan Hayati oleh Prof. Dr. Agus Kardinan. 1 View. ChiaraSeong. BIOLOGI SMA X "Ruang lingkup ...
Read more

6.vina serevina roni jarlis - Documents - DOKUMEN.TIPS

6.vina serevina roni jarlis; Download. of 16
Read more

14.vina serevina fandi - Documents - dokumen.tips

14.vina serevina fandi. by vinaserevina. on Dec 07, 2014. Report Category: Documents. Download: 0 Comment: 0. 129. views. Comments. Description .
Read more